Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Kiandra menggenggam tangan kecil Zayyan erat-erat saat mereka menuruni anak tangga rumah. Wajahnya berusaha tetap tenang, meski dadanya terasa sesak oleh berbagai pikiran yang saling berdesakan. Pagi itu terasa berbeda, udara seolah lebih berat, dan langkahnya pun terasa lamban.
“Mommy, hali ini kita mau ke mana?” tanya Zayyan polos, menatap ibunya dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.
Kiandra tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegundahan di balik ekspresi lembutnya. “Kita akan ke kantor daddy, sayang,” jawabnya pelan.
Zayyan langsung menghentikan langkahnya sesaat. Keningnya berkerut, jelas kebingungan dengan jawaban itu. “Kan daddy cedang pelgi, Mommy. Untuk apa kita ke cana?” tanyanya lagi, nada suaranya terdengar semakin penasaran.
Kiandra menarik napas panjang. Anak ini terlalu cerdas untuk usianya. Sekali ia mulai bertanya, ia tak akan berhenti sampai mendapatkan jawaban yang masuk akal menurut pikirannya sendiri. Namun, ada hal-hal yang belum siap ia jelaskan pada Zayyan, hal-hal yang bahkan sulit ia terima sendiri.
“Jangan banyak tanya dulu, ya, sayang. Ada yang perlu Mommy urus di kantor daddy.” ucap Kiandra lembut sambil mengelus rambut putranya.
Zayyan terdiam sejenak, menatap wajah ibunya seolah mencoba membaca sesuatu dari sana. Akhirnya ia mengangguk kecil, memilih patuh meski rasa ingin tahunya belum terpuaskan.
Mereka pun melangkah keluar rumah. Sinar matahari pagi menyambut mereka, namun tak mampu menghangatkan hati Kiandra. Setelah masuk ke dalam mobil, Kiandra menutup pintunya. Sopir segera melajukan kendaraan menuju perusahaan Mahendra, tempat di mana banyak pertanyaan Kiandra mungkin akan menemukan jawabannya.
Sepanjang perjalanan, Kiandra menatap kosong ke luar jendela. Gedung-gedung tinggi berlalu satu per satu, seakan tak berarti. Di dalam kepalanya, potongan-potongan informasi yang ia kumpulkan kembali berputar, pesan singkat yang mencurigakan, foto-foto yang menusuk hati, serta kebohongan kecil yang perlahan membentuk luka besar.
Tangannya mengepal tanpa sadar. Ia tidak datang ke sana untuk membuat keributan, apalagi menyeret Zayyan ke dalam masalah orang dewasa. Ia hanya ingin kejelasan. Ia ingin tahu seberapa jauh pengkhianatan itu terjadi, dan siapa saja yang terlibat di dalamnya.
“Satu per satu akan aku usut,” batin Kiandra, rahangnya mengeras hingga terasa nyeri. Ada amarah yang tertahan rapi di balik wajahnya yang tenang, ada luka yang tak ia pamerkan, namun terus berdetak di dadanya seperti bom waktu.
Kasus perselingkuhan suaminya tak akan ia biarkan menggantung tanpa jawaban. Kiandra bukan perempuan lemah yang akan menangis lalu menyerah. Ia akan memperjuangkan pernikahannya demi Zayyan, demi masa depan sang putra yang masih terlalu kecil untuk memahami arti pengkhianatan.
Namun satu hal yang pasti, siapapun yang terlibat, tanpa terkecuali akan menerima hukuman setimpal. Ia tidak akan mengotori tangannya dengan kebodohan, tapi ia juga tidak akan memberi maaf pada pengkhianatan.
Mobil yang ditumpanginya melaju perlahan menembus kemacetan ibu kota. Klakson bersahutan, panas aspal seolah menekan emosi yang sejak tadi ia kendalikan.
Kiandra menatap keluar jendela, pantulan wajahnya di kaca terlihat tenang, matanya menyimpan tekad yang tak bisa dipatahkan.
Zayyan duduk manis di sampingnya, sesekali memainkan jari-jari mungilnya di ujung tas sang ibu, menjadi satu-satunya alasan Kiandra masih bisa bernapas normal.
Akhirnya, mobil itu berhenti di depan gedung megah bertuliskan Mahendra Group. Bangunan tinggi menjulang dengan kaca-kaca berkilau, simbol kesuksesan yang selama ini suaminya banggakan, dan kini juga menjadi saksi bisu dari kebohongan suaminya.
Penjaga keamanan segera membukakan pintu mobil begitu Kiandra turun. Pria itu membungkuk hormat, sikapnya penuh respek.
“Selamat pagi, Nyonya Kiandra.”
“Pagi,” jawab Kiandra singkat, suaranya lembut namun berwibawa.
Ia menggenggam tangan Zayyan, lalu melangkah masuk ke dalam gedung. Langkahnya pelan namun pasti, hak sepatunya beradu pelan dengan lantai, menciptakan irama yang seolah menegaskan kehadirannya. Beberapa karyawan yang berpapasan menunduk hormat, ada pula yang diam-diam melirik, menyadari aura berbeda yang dibawa wanita itu hari ini.
Ting
Lift terbuka.
Kiandra dan Zayyan masuk, pintu tertutup perlahan. Angka-angka di panel menyala, bergerak naik menuju lantai atas menuju ruang kerja suaminya, tempat banyak kebohongan mungkin dirancang.
“Ting….”
Pintu lift terbuka. Lorong lantai eksekutif terasa sunyi, hanya terdengar dengungan pendingin ruangan. Kiandra melangkah menuju ruang suaminya. Tangannya terhenti sejenak di gagang pintu, mendapati pintu itu tidak terkunci. Hatinya mencelos sesaat, lalu kembali mengeras.
Ruangan itu masih rapi, aroma khas parfum Adam samar tercium, menusuk inderanya dan mengaduk perasaan yang berusaha ia kubur. Kiandra menunduk, berjongkok di hadapan putranya.
“Zayyan main di sini dulu ya, sayang. Mommy mau ke ruangan Om Pandu sebentar,” ucapnya lembut sambil mengeluarkan mainan dan camilan dari tas.
Zayyan mengangguk patuh. “Iya, Mommy,” jawabnya polos.
Anak itu duduk di atas karpet berbulu, sibuk dengan mainannya, tak menyadari badai yang sedang dikumpulkan ibunya di luar ruangan ini.
Kiandra menatap putranya yang anteng dengan mainannya, setelah di rasa aman dia punya meninggalkan putranya seorang diri.
Pintu ruangan suaminya ia tutup secara perlahan, nyaris tanpa suara, seolah takut mengusik sesuatu yang belum siap ia hadapi. Helaan napas Kiandra terdengar berat ketika punggungnya bersandar sesaat pada daun pintu yang telah tertutup rapat. Dadanya naik turun tak beraturan, mencoba menenangkan gejolak yang sejak tadi bergemuruh di dalam hati.
Lorong di lantai itu terasa sunyi dan dingin. Tak ada lalu lalang karyawan, tak ada suara mesin fotokopi atau derap langkah sepatu yang biasanya memecah kesibukan jam kerja. Di sepanjang lorong itu, hanya ada dua ruangan yang berdiri berhadapan, ruangan Pandu dan ruangan Adam. Keheningan itu justru membuat langkah Kiandra terdengar semakin jelas di telinganya sendiri.
Dengan langkah anggun dan tenang, Kiandra berjalan menuju ruangan Pandu. Tatapannya sesekali menyapu sekitar, memastikan tak ada siapa pun yang memperhatikannya.
Saat sudah berdiri tepat di depan pintu berwarna cokelat tua itu, Kiandra mengangkat tangannya.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia mengetuk pintu beberapa kali, memberi jeda di antara ketukan, berharap ada jawaban dari dalam. Namun tak ada suara yang menyahut. Hanya keheningan yang kembali menyambutnya, membuat kening Kiandra sedikit berkerut. Hatinya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan.
Akhirnya Kiandra mencoba membuka pintu ruangan tersebut.
Klek….
Pintu itu terbuka dengan mudah. Ternyata ruangan tersebut tidak dikunci oleh pemiliknya.
Kiandra menghela napas pelan, entah lega atau justru semakin waspada. Tanpa berpikir panjang, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu, lalu menutup kembali pintunya dari dalam.
Ruangan Pandu tampak rapi, terlalu rapi untuk ukuran seseorang yang sering lembur. Meja kerja tertata bersih, beberapa map tersusun sejajar, dan laptop terletak di tengah meja seolah baru saja ditinggalkan.
Kiandra berjalan mendekat, lalu duduk di kursi kerja Pandu. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya, kemudian memainkannya.
Namun di balik sikap tenangnya, pikirannya terus bekerja. Setiap sudut ruangan itu ia perhatikan diam-diam.
Ceklek.....
Tiba-tiba pintu itu terbuka dari luar.
Deg....