NovelToon NovelToon
Istri Bodoh Tuan Mafia

Istri Bodoh Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Mafia / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 RINDU

Seyna tiba-tiba menoleh ke arahnya, membuat Kael sontak memalingkan wajah dengan cepat. Wajahnya sedikit memanas, dan ia berpura-pura batuk kecil untuk menutupi rasa kikuknya.

"Kenapa, Kak Kael? Wajah kakak merah, apa kakak sakit lagi?" tanya Seyna dengan polosnya sambil memiringkan kepala.

Kael langsung menegakkan duduknya, memalingkan wajahnya kesegala arah agar tidak menatap ke arah wajah itu yang hanya berjarak sejengkal.

"Nggak… nggak apa-apa. Aku cuma…cuma.. kepanasan."

Zidan yang duduk di kursi kemudi nyaris menahan tawa, tapi memilih diam karena tahu Kael akan memarahinya kalau ikut campur. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Mobil melaju melewati jalanan yang sedikit sepi, di sisi kanan mereka terhampar area makam yang disinari lampu temaram. Seyna menatapnya lama, lalu tiba-tiba menunjuk ke arah sana.

"Kak Kael…" panggilnya pelan.

"Hm?"

"Aku mau ketemu Mama sama Papa…" ucap Seyna lirih sambil masih menatap ke arah makam itu. Suaranya lembut, tapi ada nada sendu yang membuat Kael langsung menoleh.

Tatapan polos gadis itu kini berubah seperti ada kesedihan yang dalam di balik tatapan matanya yang coba ia sembunyikan lewat senyuman.

Kael spontan menatap ke arah depan.

"Berhenti di sini," ucapnya cepat dan tegas.

Zidan menatap lewat kaca tengah, sedikit ragu.

"Kita berhenti di depan makam, tuan?"

"Iya. Berhenti sekarang," tegas Kael.

Zidan menepi perlahan ke pinggir jalan. Begitu mobil berhenti, Seyna langsung membuka pintu tanpa menunggu izin, lalu melangkah pelan ke arah makam dengan langkah kecilnya. Kael hanya bisa menatap punggung Seyna yang perlahan menjauh, bayangannya menari di bawah cahaya remang lampu jalan. Ada sesuatu dalam langkah itu sebuah kesepian yang bahkan bisa terasa sampai ke dadanya. Ia pun membuka pintu, hendak menyusulnya.

Seyna mendekat ke arah dua makam yang dipenuhi oleh bunga bunga lalu bersimpuh di depannya, memegang batu nisan yang dingin. Kael segera mendekat dan ikut jongkok di samping Seyna.

"Ma...Pa..seyna kangen," ucap gadis itu lirih.

Kael yang medengar entah kenapa merasakan sakit yang sama yang dirasakan oleh Seyna. Karl juga kehilangan kedua orang tuanya sejak masih kecil, yang membuatnya paham atas kesepian yang juga dilalui gadis di sampingnya itu.

Seyna hanya mengelus elus nisan itu, tetapi di dalam hatinya ia bergumam, " Mama...Papa Seyna bakal balas dendam atas kematian mama dan papa yang dikarenakan dua manusia keji itu."

Seyna hanya menatap pria di sebelahnya lewat ekor matanya, "Dan pria di sampingku ma..pa..akan membantuku membalas dendam dengan keluarga darma."

Seyna segera menangis terisak agar Kael semakin iba dengan kesedihannya. Melihat Seyna yang menangis Kael segera mengelus punggung gadis itu mencoba menenangkan, Seyna yang merasa punggungnya di elus segera mendekat ke arah Kael dan memeluknya.

"Kak...Seyna kangen sekali dengan mama dan papa," ucapnya lirih di pelukan Kael.

Kael yang kaget bingung ingin membalas pelukan Seyna atau tidak, dan tanpa sadar ia membalas pelukan gadis itu sambil mengelus rambutnya.

"Sudah lah jangan menangis, semua manusia pasti akan pergi juga," ucap Kael lirih.

Mendengar itu Seyna segera mendongakkan kepalanya menatap ke arah kedua bola mata Kael lekat lekat.

"Tapi kakak ga bakal tinggalin Seyna, kayak mama dan papa kan?"tanya Seyna raut wajahnya tampak sedih.

Kael hanya terdiam, seolah bingung ingin merespons apa pertanyaan gadis itu.

"Kakak janji kan?ga akaan tinggalin Seyna?"tanya Seyna sekali lagi.

Kael hanya menatap gadis di hadapannya yang terlihat begitu rapuh, lalu buru buru mengangguk.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, tapi soal janji aku belum bisa," ucap Kael pelan.

Seyna hanya tersenyum kecil lalu kembali memeluk Kael dengan erat, di dalam hatinya ia berkata lirih.

"Akan aku pastikan kau selalu ada di sisiku, tuan Kael Adikara."

Seyna sekarang sudah berada di kamarnya, menatap ke arah luar balkon memandangi bintang bintang yang hari ini tampak indah.

"Akan kah, aku bisa bahagia walau sebentar?"tanya lirih seolah sedang bertanya ke arah bintang bintang yang bertaburan dilangit malam.

Keheningan itu tidak berlangsung lama. Pintu kamarnya dibuka paksa. Reni dan Dirga menerobos masuk dengan wajah yang dipenuhi amarah, masing-masing membawa tongkat kayu tebal. Di belakang mereka, Alisha berdiri sambil menyilangkan tangan, senyumnya naik sebelah senyum puas yang jelas bukan milik seseorang yang waras.

"Lihat saja balasanku atas perbuatanmu," ucap Alisha.

Seyna belum sempat berdiri ketika, Tongkat yang dibawa Reni menghantam punggungnya dengan keras.

"Aaakh!" tubuh Seyna langsung jatuh terpelanting ke lantai, napasnya tercekat. Rasa sakit langsung menjalar ke arah tubuhnya.

"Dasar anak sialan!" bentak Reni, mengangkat lagi tongkatnya.

 "Berani-beraninya kau mempermalukan keluarga Damar di depan tamu penting!"

Pukulan kedua menghantam pinggang Seyna, membuatnya menggeliat kesakitan. Seyna merangkak mundur, tubuhnya gemetar hebat, sementara Alisha hanya memiringkan kepala sambil tersenyum kecil.

Dirga lalu maju, mencengkeram rambut Seyna dan menariknya kasar hingga wajah gadis itu terangkat.

"Mana surat wasiat Kakek?" desis Dirga, napasnya kasar, matanya tajam penuh amarah.

Rambut Seyna hampir tercabut dari kulit kepalanya, matanya panas, pandangannya kabur.

Seyna membuka mulut, ingin bicara, tetapi suaranya tidak keluar. Ia hanya menatap Dirga, tatapannya kosong tetapi jelas tidak mengisyaratkan ketakutan. Karena tidak segera mendapat jawaban, Dirga mendorong kepala Seyna dengan brutal, yang membuat pelipis Seyna membentur sudut meja dengan suara keras.

Sejenak dunia berhenti bagi Seyna, Seyna langsung merasakan pusing yang luar biasa. Lalu dari arah pelipisnya darah mulai menetes. Merembes dari pelipisnya, mengalir ke pipi, menodai lantai kayu. Semua orang disana membeku, terutama Reni dan Dirga yang melohat keponakannya sudah terbaring lemah.

Alisha, yang tadinya tersenyum sinis, langsung melangkahkan kakinya untuk mundur.Wajah pucat Seyna membuat semuanya terasa seperti melewati batas yang tidak seharusnya mereka sentuh.

"Kamu yang dorong dia terlalu keras!" seru Reni panik.

"Kamu yang mulai mukul dia duluan!" Dirga membalas dengan nada tinggi. Panik mulai menyusup ke wajahnya.

Mereka saling tuduh, suara mereka meninggi, tetapi Seyna tidak lagi menangkap kata-kata itu. Pandangannya mulai gelap, napasnya pendek, tubuhnya melemas.

"Cepat panggil pelayan!" bentak Reni panik, suaranya pecah.

Beberapa pelayan buru buru masuk, Risa yang melihat Seyna yang berdarah buru buru masuk dan lari.

"Nona sadar.." ucap Risa sambil menangis.

"Bawa dia ke rumah sakit sekarang! Jangan sampai ada yang tahu apa yang terjadi!"

Beberapa pelayan buru buru membantu Risa menggotong tubuh Seyna, wajah mereka shock melihat darah di lantai dan tubuh Seyna yang tak berdaya.

Saat Seyna diangkat, kepalanya terkulai di bahu salah satu pelayan. Darahnya menetes sepanjang langkah keluar kamar.

.....

MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH

Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!

1
Bu Dewi
seru, lnjut lagi kak.. hehehhehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!