NovelToon NovelToon
Cinta Sendirian

Cinta Sendirian

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri / Romansa Fantasi / Kehidupan alternatif / Romansa
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Tara Yulina

Aira Nayara seorang putri tunggal dharma Aryasatya iya ditugaskan oleh ayahnya kembali ke tahun 2011 untuk mencari Siluman Bayangan—tanpa pernah tahu bahwa ibunya mati karena siluman yang sama. OPSIL, organisasi rahasia yang dipimpin ayahnya, punya satu aturan mutlak:

Manusia tidak boleh jatuh cinta pada siluman.

Aira berpikir itu mudah…
sampai ia bertemu Aksa Dirgantara, pria pendiam yang misterius, selalu muncul tepat ketika ia butuh pertolongan.

Aksa baik, tapi dingin.
Dekat, tapi selalu menjaga jarak, hanya hal hal tertentu yang membuat mereka dekat.


Aira jatuh cinta pelan-pelan.
Dan Aksa… merasakan hal yang sama, tapi memilih diam.
Karena ia tahu batasnya. Ia tahu siapa dirinya.

Siluman tidak boleh mencintai manusia.
Dan manusia tidak seharusnya mencintai siluman.

Namun hati tidak pernah tunduk pada aturan.

Ini kisah seseorang yang mencintai… sendirian,
dan seseorang yang mencintai… dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tara Yulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua hati terikat

“Aira!” teriak Elara, ibu Aksa.

Perawat pun segera berdatangan, membantu mengangkat tubuh Aira ke dalam ruang IGD. Bilik tempat Aira ditangani berada berdampingan dengan bilik Aksa, hanya dipisahkan oleh tirai gorden panjang.

Tak lama kemudian, dokter datang menangani Aira.

“Bagaimana keadaan Aira, Dok?” tanya Elara cemas.

“Aira butuh penanganan cepat. Dia harus segera diinfus, kondisinya sangat lemah,” ujar dokter dengan nada serius.

Dokter langsung menekan tombol di sisi ranjang untuk memanggil perawat.

Tak menunggu lama, perawat datang menghampiri.

“Ada apa, Dok?”

“Persiapkan infus. Segera,” perintah dokter.

“Baik, Dok,” jawab perawat sambil cepat menyiapkan peralatan infus.

“Ibu dan adik, mohon keluar sebentar,” ujar dokter kepada Elara dan Azura.

Keduanya mengangguk dan melangkah keluar dari ruang IGD.

Saat berjalan menjauh, Azura berbicara pelan pada ibunya.

“Ibu, kak Aira sampai pingsan karena segitu khawatirnya sama Abang,” ujar Azura lirih.

“Kamu benar, Sayang,” jawab Elara.

“Ibu setuju nggak kalau kak Aira pacaran sama Abang?” tanya Azura polos.

Elara menelan ludah. Hatinya bergetar, tak ingin keduanya semakin terikat.

“Azura, sayang… kita nggak usah bahas itu dulu, ya. Sekarang fokus kita kesembuhan Abang dan kak Aira supaya cepat sadar,” ujar Elara lembut.

Azura mengangguk setuju.

Elara kemudian melihat Galih dan menghampirinya.

“Galih, ibu mau bicara sebentar.”

“Baik, Bu,” jawab Galih.

Keduanya menepi sedikit dari keramaian.

“Apa yang sebenarnya terjadi dengan Aksa, Galih? Ibu sangat khawatir,” ujar Elara dengan suara bergetar.

“Ini soal hati, Bu,” jawab Galih jujur.

“Maksud kamu?” Elara menatapnya bingung.

“Aksa kesulitan menjauh dari Aira, Bu. Apalagi saat melihat Aira berjalan dengan cowok lain,” ucap Galih apa adanya.

Elara terisak.

“Ini salah ibu, Galih. Ibu tidak tahu kalau perasaan mereka sudah sedalam ini. Ibu yang meminta Aksa menjauhi Aira…”

“Bu, ibu tidak salah,” potong Galih pelan. “Ibu melakukan ini demi kebaikan Aksa dan Aira. Galih tahu… antara manusia dan siluman bayangan tidak boleh saling berhubungan.”

“Tapi keadaannya jadi seperti ini, Galih. Ibu nggak tega melihat Aksa dan Aira sama-sama terpuruk,” ujar Elara lirih.

“Keputusan ibu sudah benar. Jangan sampai Aksa mengungkapkan perasaannya pada Aira. Menjauh adalah satu-satunya solusi, Bu.”

“Ibu bingung harus bagaimana…” suara Elara nyaris tak terdengar.

“Bu, ini pertama kalinya Aksa jatuh hati sedalam ini. Wajar kalau dia sampai seperti ini. Suatu hari nanti Aksa akan terbiasa sendiri dan perlahan melupakan Aira. Ibu harus percaya, semua ini demi kebaikan mereka berdua,” ujar Galih meyakinkan.

Elara mengangguk lemah.

“Terima kasih, Galih.”

Di balik tirai gorden yang memisahkan dua bilik itu, suara alat medis berdetak pelan.

Aksa masih terbaring tak sadarkan diri. Namun kelopak matanya bergerak samar, seolah hatinya gelisah meski tubuhnya diam.

Sementara itu, di bilik sebelah, jarum infus menembus punggung tangan Aira. Wajahnya pucat, napasnya tipis.

Perawat memeriksa tekanan darahnya dengan cepat.

“Tekanannya turun lagi, Dok,” ujar perawat dengan nada khawatir.

Dokter mengernyit. “Naikkan cairannya. Jangan sampai dia syok.”

Di luar, Elara yang baru saja duduk di bangku ruang tunggu tiba-tiba merasakan dada sesak. Entah kenapa, perasaannya tidak tenang sejak Galih mengatakan itu… soal hati.

Lalu—

“Bu!” teriak seorang perawat dari arah IGD. “Mohon ke sini sebentar!”

Elara berdiri terlalu cepat hingga nyaris kehilangan keseimbangan. Azura refleks memegang lengannya.

“Ada apa, sus?” suara Elara gemetar.

“Kondisi Aira belum stabil. Detak jantungnya sempat melemah beberapa detik tadi.”

Azura terbelalak.

“Lemah… maksudnya gimana sus?,selamatin dua orang yang berharga sus bilang sama dokternya.”

Dokter keluar menyusul. Tatapannya serius, membuat udara di sekitar terasa berat.

“Aira mengalami kelelahan fisik dan tekanan emosi yang cukup berat. Kalau terlambat ditangani, kondisinya bisa lebih buruk.”

Elara menutup mulutnya.

Matanya berkaca-kaca.

“Semua ini… karena Aksa,” bisiknya tanpa sadar.

Di saat yang sama—

monitor di bilik Aksa berbunyi beep… beep… lebih cepat dari sebelumnya.

Perawat berlari masuk.

“Dok! Detak jantung pasien Aksa meningkat!”

Galih yang berdiri tak jauh langsung menegang.

“Aksa…?”

Dokter menoleh cepat.

“Dia bereaksi. Sepertinya ada rangsangan emosional.”

Tirai gorden di antara dua bilik itu bergoyang pelan…

seolah menjadi batas tipis antara dua hati yang sama-sama terluka.

Dan tanpa ada yang menyadari—

Aksa menggenggam sprei dengan kuat, bibirnya bergerak lemah.

“aira…”

Satu nama itu lolos pelan, nyaris tak terdengar.

Namun cukup untuk membuat ketegangan di ruang IGD meledak dalam diam.

Karena saat Aksa mulai sadar…

rahasia yang selama ini dipaksa untuk dipendam, perlahan tak bisa lagi ditahan.

Di balik tirai gorden yang hanya berjarak beberapa langkah, tubuh Aksa terbaring kaku di atas ranjang IGD. Monitor jantung di sampingnya berbunyi pelan, ritmenya tidak stabil. Setiap detik terasa menyesakkan.

Tanpa sengaja, Aksa membuka mata sedikit.

Pandangan kaburnya menangkap bayangan putih tirai yang bergoyang pelan. Samar-samar, ia mendengar suara langkah tergesa, suara perawat, dan… suara yang begitu ia kenal.

Nama itu.

“Aira…”

Suara Aksa sangat lirih, nyaris tak terdengar, namun monitor jantungnya tiba-tiba menunjukkan perubahan ritme.

Perawat yang berjaga langsung menoleh. “Dok, denyut jantung pasien meningkat.”

Dokter mendekat cepat. “Tenang, Pak. Jangan banyak bergerak.”

Namun Aksa justru berusaha menggerakkan jarinya, seolah ingin meraih sesuatu di balik tirai itu. Napasnya memburu.

“Aira… jangan pergi…”

Di bilik sebelah, jarum infus akhirnya menembus pembuluh darah Aira. Cairan bening mulai mengalir perlahan ke tubuhnya yang pucat.

“Aira, dengar saya,” ujar dokter lembut namun tegas. “Kamu harus bertahan.”

Kelopak mata Aira bergetar. Dadanya naik turun dengan napas yang tidak teratur. Lalu… setitik air mata lolos dari sudut matanya, meski ia belum sepenuhnya sadar.

Monitor di samping ranjangnya ikut berbunyi.

“Dok, tekanan darahnya turun,” lapor perawat.

Dokter mengernyit. “Tambahkan cairan. Cepat.”

Di luar ruangan, Elara yang duduk di kursi tunggu tiba-tiba meremas dadanya sendiri. Hatinya terasa sesak tanpa alasan yang jelas.

“Bu… kenapa ibu kelihatan pucat?” tanya Azura cemas.

Elara menggeleng pelan. “Ibu… ibu ngerasa nggak enak, Zur.”

Galih yang berdiri tak jauh dari mereka ikut menoleh. Wajahnya menegang saat mendengar bunyi monitor yang bersahutan dari dua bilik IGD sekaligus.

“Bu,” suara Galih menurun, “kayaknya… perasaan mereka saling terhubung.”

Elara menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Galih… apa yang sebenarnya terjadi?”

Galih terdiam sesaat, lalu berkata lirih, “Kadang, ketika dua hati terlalu dalam saling terikat, jarak dan larangan justru jadi luka paling berbahaya.”

Tiba-tiba pintu IGD terbuka.

Seorang perawat keluar dengan wajah serius. “Ibu Elara… mohon doanya. Kondisi Aksa dan Aira sama-sama tidak stabil.”

Kalimat itu seperti petir.

Elara berdiri terguncang, kakinya hampir tak kuat menopang tubuhnya. “Dua-duanya…?” suaranya gemetar.

Perawat mengangguk pelan.

Di balik dua tirai itu, dua jiwa sama-sama berjuang di antara sadar dan tidak, sama-sama memanggil satu nama dalam hati—tanpa tahu, apakah takdir masih memberi mereka kesempatan… atau justru sedang bersiap merenggut salah satunya.

Elara menangis, tak menyangka semuanya akan berujung seperti ini. Dadanya sesak, napasnya tertahan oleh rasa takut yang tak mampu ia sembunyikan.

“Galih… ibu janji. Ibu tidak akan melarang Aksa untuk dekat dengan Aira,” ucapnya terbata. “Yang terpenting sekarang, Aira dan Aksa sadar. Itu saja yang ibu mau…”

Galih menghela napas panjang, sorot matanya penuh kehati-hatian.

“Bu, Galih paham perasaan ibu,” katanya pelan. “Tapi ibu juga harus berpikir dengan akal dan logika. Kalau ibu mengizinkan mereka dekat, bagaimana jika suatu saat Aksa terbawa suasana dan mengungkapkan isi hatinya? Aksa bisa lenyap dari dunia ini… dalam sekejap.”

Elara terdiam. Tangannya gemetar, air mata kembali jatuh tanpa bisa ia cegah.

“Galih… ibu tidak mau kehilangan Aksa,” gumamnya lirih. “Ibu cuma punya Aksa di dunia ini…”

“Ibu tenang, ya,” ucap Galih mencoba menenangkan. “Galih akan membuat Aksa menjauh dari Aira secara perlahan. Tanpa paksaan, tanpa luka yang terlalu dalam.”

Namun…

apakah dua hati yang telah saling terikat sedalam itu benar-benar bisa dipisahkan begitu saja?

1
Tara Yulina
Karya ini menurutku sangat menarik dan menyenangkan untuk dibaca. Alurnya mengalir, konflik dan emosi tokohnya terasa nyata, membuat aku mudah ikut merasakan apa yang dialami Aira. Karakter-karakternya kuat dan relatable, masing-masing punya keunikan dan perkembangan yang jelas. Cerita ini juga berhasil membuat pembaca penasaran ingin tahu kelanjutan tiap bab.
Aku merekomendasikan karya ini bagi siapa saja yang suka cerita percintaan yang emosional, penuh konflik hati, dan karakter yang realistis. Bagi aku, Cinta Sendirian adalah karya yang layak dibaca dan bisa mendapatkan bintang 5.
Kama
Penuh emosi deh!
Tara Yulina: haloo terimakasih sudah berikan pendapat mu, jangan lupa untuk lanjut baca mungkin kamu akan menemukan ketenangan 💪
total 1 replies
Elyn Bvz
Bener-bener bikin ketagihan.
Tara Yulina: terimakasih jangan lupa lanjut ya 🫶🏻
total 1 replies
Phone Oppo
Mantap!
Tara Yulina: haloo terimakasih sudah berpendapat, jangan berhenti disini masih panjang kisah antara Aira dan aksa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!