Berawal perkemahan yang diadakan oleh sekolah membuat anak-anak terpilih memiliki kekuatan aneh.
Saat perkemahan berlangsung mereka tersesat karena disebabkan oleh kejahilan seseorang dan hal itu membuat mereka menjadi masuk ke sebuah gua hanya untuk berteduh. Rasa penasaran mereka yang tinggi membuat mereka memasuki gua hingga bagian terdalam dan menemukan sebuah danau tersembunyi di dalam gua.
Karena sesuatu, mereka tak sengaja masuk ke danau dan secara tiba-tiba membuat mereka memiliki kekuatan
Mampukah mereka mengendalikan kekuatan itu? Atau malah sebaliknya, hal itu menjadi bumerang bagi mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
"Mengapa tidak bilang kalau Airin terluka parah hingga seperti ini".
Aaron berdiri di depan ruang rawat inap milik Airin bersama Rasya dan teman-temannya. Mereka terkejut mendengar teriakan kesakitan milik Airin.
Semua orang yang ada di dalam ruangan rawat Airin terdiam. Mereka terkejut dengan kehadiran Aaron dengan teman-temannya yang mendadak itu. Mereka belum siap mengatakan mengenai kondisi Airin.
"Semuanya diam saja. Apakah Aaron tidak berhak tau kondisi Airin. Airin itu adik Aaron, saudara kembar Aaron. Aaron juga berhak tau kondisi Airin" Keluh kesah Aaron begitu tertuang saat ini, dirinya merasa gagal menjaga adiknya, dirinya marah karena keluarganya merahasiakan kondisi Airin kepadanya.
Fauzan mengerti perasaan Aaron. Namun, yang dilakukan mereka saat ini merupakan pilihan yang baik. Mereka ingin kondisi Aaron pulih terlebih dahulu baru menceritakan kondisi Airin. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Aaron mengetahui keadaan Airin di saat yang kurang tepat.
"Nak, papa dan yang lain bukannya tidak mau cerita. Kami hanya ingin kamu sehat dulu, baru kami akan menceritakan kondisi Airin..." Kalius mencoba menenangkan Aaron yang sedang marah
"Dek, kamu itu masih sakit. Kalau kamu sakit, bagaimana cara kamu mau ikut menjaga Airin disini?" tanya Adit. Dirinya tau bahwa kelemahan Aaron adalah Airin. Aaron selalu ingin menjaga Airin.
Aaron yang mendengar perkataan dari papa dan kakaknya pun diam. Dirinya mengerti maksud dari semua orang disini, tapi dirinya kesal karena tidak diberitahu mengenai kondisi Airin yang sebenarnya.
"Nak, kamu istirahat ke kamarmu lagi ya. Sana, kembali ke kamar bersama dengan teman-teman mu" ujar Kalius
Aaron diam, hanya mengangguk mengerti.
"Tolong jaga Aaron ya" pinta Kalius kepada Rasya dan teman-temannya
"Iya, om"
"Mau eyang atau opa antar, son" tanya Fauzan
"Tidak perlu eyang, kalian jaga Airin saja" Aaron termenung melihat Airin yang sedang tertidur.
Kemudian, Aaron berjalan pergi kembali ke ruang rawatnya. Rasya dan yang lainnya pun mengikuti Aaron di belakang.
Semua orang merasakan apa yang dirasakan Aaron. Mereka paham betul perasaan yang dirasakan Aaron, apalagi Aaron adalah saudara kembar dari Airin.
"Yusuf, lebih baik kamu ikuti Aaron" ujar Fauzan. Yusuf mengerti apa yang dipikirkan ayahnya pun segera menyusul Aaron
"Kak, tolong jaga anakku" ujar Kalius. Yusuf mengangguk mengiyakan, dirinya tau perasaan yang dirasakan Kalius saat ini.
Setelah kepergian Yusuf, ruangan kembali hening. Mereka memandang Airin dengan sedih.
"Nak, cepet sembuh ya. Papa tidak tega melihat kamu seperti ini" Kalius mengelus kepala Airin dengan lembut seolah-olah Airin adalah kaca yang rapuh dan mudah pecah.
"Papa tenang saja, Airin pasti sembuh dan berlari kesana kemari seperti sedia kala. Dan papa harus siap mengejar dirinya dan mengikutinya saat bermain nanti" canda Adit yang mencoba mencairkan suasana
"Kalau ngikutin Airin, opa kurang sanggup. Nanti pinggang opa encok lagi, dit" sahut Vigo
"Pakde juga tidak deh, dit. Kamu saja. Pakde takut remuk karena tingkah aktifnya Airin" sahut Yudha yang ikut candaan Adit
Kemudian Yudha melihat ke arah Fauzan yang hanya diam saja mendengarkan. "Tapi kalau eyang kamu sepertinya masih sanggup. Mantan anggota TNI pasti masih sanggul buat gendong cucunya perempuan bungsunya, ya kan yah?" ujar Yudha
Fauzan yang mendengar perkataan anak laki-laki bungsunya pun menjawab, " Bisa. Ayah masih sanggup gendong Airin. Gendong kamu aja ayah masih sanggup, mau coba Yudha"
Yudha yang mendengar jawaban dari ayahnya pun langsung terdiam. Yudha menelan ludah susah payah. Dirinya tau gendongan apa yamg dimaksud ayahnya.
"Tidak ayah, Yudha bisa jalan sendiri" elaknya
Semua orang tertawa melihat raut gelisah dari Yudha. Suasana di ruangan itu seketika sedikit demi sedikit mencair. Kalius yang melihat kakak iparnya menjadi bahan tertawaan lun hanya tersenyum kecil.
"Kamu lihat nak, mereka tertawa sedikit agar kamu tenang. Semoga kamu cepat sehat ya, sayang" batin Kalius
"Pa, aku ke ruangan Aaron dulu ya" ujar Kalius
"Ya udah, sana. Biar kami yang jaga Airin disini" ujar Vigo
Kalius mengangguk, kemudian pergi ke ruangan anak laki-laki bungsunya. Sebelum pergi dirinya melihat Airin, kemudian Adit.
"Kamu mau ikut, dit?" tanya Kalius
Adit yang di tanyai pun, diam berpikir. Kemudian mengangguk mengiyakan dan langsung berdiri di samping papanya, "Aku ikut pa. Adit belum ke ruangan Aaron"
...****************...
Aaron POV
Melihat kondisi adik sekaligus kembarannya sakit seperti itu, membuat Aaron sedih. Dirinya tak tega melihat adik yang disayanginya kesakitan seperti itu.
"Ron, boleh aku bertanya?" tanya Rasya
Aaron yang mendengar suara Rasya pun berhenti dan melihat ke arahnya
"Kamu mau tanya apa?"
"Apakah benar Airin pernah kecelakaan?" tanya Rasya
Aaron terkejut mendengar pertanyaan Rasya. Dirinya menanyakan peristiwa yang paling menyakitkan bagi keluarganya setelah kematian mamanya.
"Pernah, 8 tahun yang lalu. Tepatnya saat umur 10 tahun. Dia mau bermain ke taman bertemu dengan temannya, namun naas dia di culik. Namun saat mencoba kabur, dia tertabrak mobil. Memangnya kenapa?" Aku merasa, Rasya selalu mencari tau tentang Airin. Namun, aku tidak akan menghalangi Rasya jika Rasya mempunyai perasaan ke adikku asalkan Rasya tidak melakukan hal buruk kepada Airin.
"Kalian kembali saja ke kamar, aku ingin ke taman. Aku ingin sendirian saat ini" Kemudian pergi meninggalkan teman-temannya. Yang lain mengangguk mengerti dan memilih kembali ke kamarnya.
Taman Rumah Sakit
Duduk diam, memandang taman yang ramai dengan anak-anak yang berlarian. Memandang para perawat yang berlalu lalang. Bunga yang tumbuh cantik, menghibur suasana hatinya.
"Kenapa kamu tidak kembali ke kamar, Aaron" terdengar suara seseorang yang dikenalnya.
Terlihat, Yusuf duduk tepat di sampingnya.
"Hanya ingin mencari angin, Pakde"
"Gimana, kamu sudah tenang?"
"Lumayan" lirihku
"Baguslah, tapi pakde hanya menyarankan untuk kamu kembali ke kamar dengan segera. Takutnya papamu datang ke kamarmu, tapi malah kamunya menghilang. Bukankah dia akan panik?"
"Tunggu sebentar, pakde. Sebentar saja" pintaku
Yusuf menunggu, dirinya juga membutuhkan ketenangan setelah melihat apa yang terjadi kepada ponakan cantiknya.
Sudah cukup lama dirinya berada di taman, Yusuf melirik Aaron yang hanya duduk diam sejak tadi
"Ayo kembali" ajak Yusuf
Mendengar itu, aku hanya mengangguk. Lelah itu yang aku rasakan sekarang. Yang bisa aku lakukan saat ini hanya bisa berdoa, berdoa untuk kesembuhan adikku.
POV END
Kalius melihat Yusuf yang duduk tenang di bangku depan.
"Yusuf, bagaimana Aaron? Apakah dia tidur?" tanya Kalius yang baru saja datang
"Dia baru saja istirahat, kau mau masuk?
" Adit, masuklah" ujar Kalius. Kalius tau bahwa Adit ingin masuk ke ruangan adiknya.
"Bagaimana? Apakah dia sudah lebih baik?"
"Dia masih tidur, mungkin dosis obat penenangnya cukup tinggi"
"Setidaknya dia sudah baik-baik saja"
"Ya, kau benar"
"Guru-guru itu sudah di antar kembali ke perkemahan kan?"
"Kau tenang saja kak, semua sudah diurus sama ayah mertua" jelas Kalius
...****************...
Pagi ini begitu cerah, Aaron yang duduk diam di tempat tidurnya memandang ke arah Rasya yang sedari tadi diam memandang ke arah jendela.
"Kau mau ikut denganku? Aku ingin ke ruangan Arin" tawar Aaron
Rasya menoleh ke arah Aaron. Tersenyum, dirinya setuju untuk ikut bersama Aaron.
Selama perjalanan menuju ruangan Airin, Rasya diam. Dia ingin bertanya sesuatu, namun bingung bagaimana cara mengatakannya
Aaron yang melihat wajah kebingungan Rasya pun berkata, "Kau ingin menanyakan sesuatu?"
Rasya tersentak, dirinya tak menyangka Aaron menyadarinya. "Iya, aku ingin bertanya sesuatu?"
"Apa? Kau ingin bertanya tentang apa?"
"Apa saat kecelakaan yang menimpa Airin 8 tahun yang lalu membuatnya cedera di kepalanya?" tanya Rasya dengan pelan. Dirinya takut, pertanyaannya membuka luka lama milik Aaron
"Iya, luka yang cukup parah. Luka yang membuatnya tidur hampir satu tahun"
"Huaaa... Sakit.... sakit" teriak seseorang dari ruang rawat Airin
Brakk
Pintu ruangan Airin terbuka dengan keras. Terlihat Aaron dan Rasya berdiri di balik pintu.
"Apa yang terjadi?" Aaron terkejut melihat keadaan di ruangan itu
Di dalam ruang, terlihat Airin yang menangis sambil memegang kepalanya. Aaron yang melihat itu segera berlari mendekati Airin, begitu pula dengan Rasya
"Pakde, ini gimana? Kenapa Airin kesakitan seperti ini?" Aaron bingung harus melakukan apa.
RAWRRR
Terdengar suara geraman hewan binatang buas. Mendengar itu, Rasya bersikap waspada. Berbanding terbalik dengan Rasya, Aaron dan Yusuf bersikap tenang tanpa memikirkan geraman suara itu.
"Tenang saja, itu suara leluhur kami Rasya" ujar Yusuf
Rasya yang mendengar itu merasa terkejut. Dia tak menyangka bahwa dalam keluarga Aaron dan Airin memiliki semacam pelindung.
Tak lama, datanglah seekor harimau putih yang berjalan dengan wibawanya. Harimau itu mendekat ke arah Airin yang berteriak kesakitan. Harimau putih itu berubah menjadi sosok laki-laki yang tegas dengan pakaian khas seorang pendekar Jawa, begitu beribawa.
Rasya yang melihat itu merasa takjub dengan apa yang baru saja dia lihat. Merasa bahwa inj mimpi, dirinya menepuk lengannya sendiri. Aaron yang melihat tingkah Rasya pun hanya tertawa geli. Berbanding dengan Aaron, Yusuf merasa heran melihat Rasya. "Bagaimana mungkin dia bisa melihat sosok eyang Hadi" batin Yusuf
Eyang Hadi yang baru saja datang mendekat ke arah Airin dan menepuk kepala Airin dengan pelan. Seketika Airin menjadi tenang dan tidak berteriak kesakitan lagi.
Semua yang melihat itu tersenyum senang. Merasa lega melihat Airin yang tak berteriak dan merasakan sakit.
"Nduk, merasa lebih baik?" tanya Eyang Hadi
"Eyang, Arin merasa lebih baik" jawabnya dengan senyum tipis
Eyang Hadi mencium dahi Airin dengan lembut dan sayang. Merasa mengantuk, Airin pun tertidur kembali.
Kemudian eyang Hadi berjalan mendekat ke arah Aaron dan juga Rasya. Dirinya meniup pelan dahi Aaron dan mengelus pelan kepala Aaron, begitu juga dengan Rasya.
"Ada yang mau kau tanyakan, Yusuf?" ujar eyang Hadi
"Itu... Eyang, ada...."
"Dia bisa melihat bukan karena dia memilki kemampuan yang sama dengan keluarga kita. Ada hal lain yang membuatnya bisa melihatku. Kau tidak perlu khawatir"
"Dimana Fauzan? Seharusnya dia ada disini"
"Ayah pulang karena sebentar, begitu juga dengan yang lain. Hanya saya yang disini menjaga Airin dan Aaron" jelas Yusuf
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Yusuf" Kemudian Eyang Hadi pergi ke arah pojok ruang, diikuti dengan Yusuf.
Aaron dan Rasya lebih memilih mendekat ke arah Airin yang tertidur. Mereka melihat wajah tenang Airin, terlihat seperti putri yang sedang tidur.
"Besok kalian sudah boleh pulang kan?" tanya Yusuf
"Eh.. Eyang sudah pergi, pakde" tanya Aaron yang terkejut melihat Yusuf sudah berada di dekatnya
"Sudah. Baru saja pergi" ujarnya
"Iya, om. Saya dan yang lain besok baru bisa keluar dari rumah sakit" jelas Rasya
"Di jemput keluarga atau bagaimana?"
"Di jemput guru sekolah om, lebih tepatnya Pak Andi dan Pak Toni yang akan menjemput." jelas Rasya
"Syukurlah kalau begitu"
Hening, tak ada percakapan lagi dalam ruang tersebut. Mereka diam dengan pikiran masing-masing.
"Om, saya pamit dulu untuk kembali ke ruangan saya" pamit Rasya
"Oh iya silahkan.." Yusuf kemudian beralih ke Aaron "Kau juga tidak kembali?"
"Tidak, Aaron masih ingin disini"
"Kalau begitu, saya pamit. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam".
Dan perhatikan tanda baca dalam dialog ya.
kalo ada cerita dr tokoh lain, di luar tokoh utama, saranku kamu letakkan dipaling belakang.
perhatikan tanda baca dalam dialog ya
semangat kak