Balas dendam seorang perempuan muda bernama Andini kepada mantan suaminya yang pergi karena selingkuh dengan janda muda kaya raya.
Tapi balas dendam itu tidak hanya kepada mantan suaminya, melainkan ke semua lelaki yang hanya memanfaatkan kecantikannya.
Dendam itu pun akhirnya terbalaskan setelah Andini membunuh dan memutilasi semua pria yang coba memanfaatkannya termasuk mantan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tresna Agung Gumelar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Andini pun langsung masak di temani Indra di dapur. Mereka saling bercanda dan mengobrol, Indra senang sekali berada di dekat Andini, kadang dia usil kepada Andini dengan menciumnya secara diam-diam.
Di suatu waktu, Indra yang penasaran dengan kondisi belakang rumah Andini mencoba untuk mengintip lewat jendela dapur. Tapi dengan panik Andini langsung melarangnya
"Dra, jangan!"
"Jangan apanya Din?, orang cuma mau melihat saja."
Indra pun hanya melihat sebentar karena sedikit kaget dengan larangan Andini.
"Jangan lihat-lihat ke situ ah, serem tau. Aku saja semenjak tinggal di sini belum pernah menginjak tanah di belakang."
"Hmm. Lagian kasih lampu kek. Gimana nggak serem coba. Nanti aku pasangin lampu ya kalo mampir lagi ke sini."
"Nggak usah ah, biarkan gitu saja."
"Aneh kamu ini. Tapi aku lihat kayanya ada cangkul di belakang. Itu punya kamu?."
Indra yang penasaran kembali mengintip membuka sedikit gorden jendela.
"Em bukan. mana punya aku cangkul, semenjak aku di sini memang sudah ada nggak tahu punya siapa, lagian jelek cangkulnya juga sudah berkarat."
"Lah itu kamu tau sudah berkarat, katanya belum pernah ke belakang."
"Em, maksudnya kalau siang kelihatan dari sini juga kalau cangkul itu sudah berkarat. Sudah ah tutup gordennya, sini bantuin aku masak lagi."
Indra yang sedikit terheran karena kegugupan Andini hanya bisa menghela nafas, Indra belum merasa ada yang aneh di sini dan menganggap biasa saja.
"Hmmm. Yaudah lah, mungkin punya orang yang tinggal di sini sebelum kamu."
"Iya mungkin Dra."
Singkat cerita masak pun selesai, walaupun seadanya karena waktu juga sudah mepet sekali.
"Dra gerah ih aku, aku mau mandi dulu ya, kamu tunggu di ruang tengah saja!"
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya, udah laper loh aku"
Ucap Indra sambil memegang perutnya.
"Hmmm iya sebentar ko, paling sepuluh menit, janji deh."
"Yaudah, aku bawain ke tengah rumah ya makannya."
"Oke sayangg makasih ya udah mau bantuin."
"Iya sama-sama. Cepetan sana ah!"
"Iya ih ini mau mandi ko."
Indra pun setelah menyiapkan semuanya di meja, dia duduk di sofa sambil bermain handphone.
Sekitar 15 menit Andini telah selesai mandi dan sudah mengganti bajunya dengan baju lengan terbuka.
Indra pun tak bisa mengalihkan pandangannya kepada Andini.
"Kamu gak dingin apa pake baju kaya begitu?"
"Gerah tau Dra, nggak papa kan?"
"Hmmm.. Nanti ganti ah, aku nggak suka."
"Hmm iya deh. Abis makan tapi ya. Kasian kan kamu udah laper katanya."
"Hmm iya yaudah."
"Ayo sayang kita makan!"
Ucap Andini sambil menyendok nasi untuk Indra.
Akhirnya mereka pun menikmati makan malam sambil mengobrol.
"Hmmm enak juga masakan kamu Din."
"Masa?, padahal seadanya loh ini. Soalnya kan buru-buru masaknya."
"Justru itu karena sederhana tapi terasa sangat nikmat sekali."
"Bisa aja ah, mungkin karena sama aku makannya jadi terasa nikmat."
"Em, bisa jadi sih."
"Huh dasar. Nanti nambah ya makan yang banyak!"
"Iya Din, laper banget aku."
"Aduh kasihan kekasihku ini."
Singkat cerita makan pun selesai.
Indra membantu Andini membereskan semuanya, Bahkan membantu Andini mencuci piring di dapur.
Setelah selesai membantu, Indra di sini masih penasaran dengan keadaan di belakang, karena semenjak tinggal di daerah sini, dia belum tahu keadaan di belakang rumah Andini seperti apa. Dia mencoba kembali untuk mengintip lewat gorden, Tapi Andini langsung memegang tangan Indra dari belakang.
"Indra" Desah Andini sambil memegang tangannya yang ada di kain gorden.
"Astaghfirullah. Kaget aku"
"Kamu ini ya terus aja ngintipin ke situ. Udah ah ayo kita ke depan."
"Hmm. Iya iya."
Indra pun tak jadi untuk mengintip area belakang tersebut dan menuruti apa yang Andini bilang untuk ke tengah rumah.
Kini mereka berdua sudah berada di tengah rumah dan duduk berdampingan di atas sofa.
"Din, itu ngomong-ngomong kamu gak pusing apa keramas malem-malem begitu?"
"Enggak ko, aku gerah tahu aslian tadi."
"Hmmm kamu ini, yaudah ganti baju gih sana ah."
"Hmm. Males Dra, lagian gerah tau."
"Hmmmmm, ayo ah sana!"
"Ih nggak mau ah aku ingin meluk kamu saja kangen emmmmmm."
Andini malah menggoda Indra, dengan memeluknya dan menempelkan rambutnya yang masih basah di bibir Indra.
"Din kamu yaa, basah ih rambut kamu ini."
"Hmmm, tapi wangi kan?"
"Wangi sih, tapi basah tau kena mukaku."
"Biarin ah, Dra aku kangen."
Ucap manja Andini sambil meletakkan tangan kanannya nya di leher Indra.
"Iya kan aku ada di sini Din, masa masih saja bilang kangen."
"Hmm lagian kamunya diem saja. Peluk aku ke."
Andini berkata dengan muka sedikit judes.
"Masa pakaian kamu kaya begini aku disuruh meluk, enggak ah, nanti aku kebawa-bawa coba."
"Hmm. Yaudah deh aku ke kamar saja mau ganti baju, gak asyik kamu."
"Ehh jangan, jangan udah di sini saja, ngambekan dasar."
Indra pun menarik Andini yang hendak pergi ke kamar. tetapi Andini malah terjatuh ke pelukan Indra dan mereka jadi saling menatap.
"Din?. Emmhh."
Indra pun tak bisa menahannya karena malam ini Andini harum dan seksi sekali memakai baju dengan lengan terbuka dan belahan dada yang sedikit terlihat, Andini juga memakai celana pendek dan tipis.
Indra langsung menciumi bibir Andini,
"Dra tunggu, kok jadi gini?"
Andini melepaskan ciumannya, padahal dia hanya bercanda dan berpura-pura menolak.
"Lagian kamu menggodaku terus Din."
"Hmm. Di kamar saja yuk, jangan di sini, sempit ah kalau di sofa."
"Hmmmm."
Tanpa ragu, Indra pun langsung menggendong Andini ke dalam kamar. Dan menjatuhkannya ke kasur, hingga Andini posisinya telentang sekarang.
Dengan nafsu yang semakin memuncak, Indra langsung menindih Andini sambil menciumi bibirnya.
Andini hanya bisa pasrah karena sebenarnya dia sangat senang sekali sudah berhasil memancing Indra kembali untuk melakukan ini.
Kemudian kejadian indah itu terjadi kembali di kamar Andini. Mereka melakukannya dengan penuh rasa cinta.
bisa saja. semangat./CoolGuy/
padahal di simpan disitu terus.
selama saya di perantauan, sakit di paksain sehat, lapar di paksain kenyang, ngantuk di paksain semangat,ada masalah di pendam, uang yang gak cukup di cukupin, dan berbagai hal lain./Frown/
tapi walaupun begitu saya mendukung Andini bijak, dan jujur tapi tidak terkejut juga karena alasan nya sama dengan saya.
tapi kecepetan alurnya, moga aja bisa sampe ratusan Bab./CoolGuy/
setelah di pikir-pikir Bab nya emang makin dikit, ya