Karin Emira Brisia adalah seorang gadis berusia 21 tahun yang ceria. Namun di malam itu, hidupnya hancur seketika saat bertemu dengan CEO yang dingin.
CEO itu menyeretnya ke sebuah kamar dan mengambil sesuatu yang paling berharga darinya. Akhirnya, Karin di usir dari rumahnya sendiri dan melakukan kawin kontrak.
Ig : @reinata_r
Untuk readers tersayang
Jangan lupa boom like dan vote nya yah, dan masukkan ke list favorite kalian. Selalu beri dukungan buat author yah...
Gomawo chingu 💞💞💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Menyebalkan
Happy reading~••••••
Marcel bangkit dari sofa yang ia duduki, melajukan kakinya ke arah ranjang dan memungut pakaian yang sudah Karin siapkan, kemudian membalutkannya ke tubuh atletis miliknya.
" Aku akan keluar dulu " Ucap Karin.
Sesegera mungkin Karin beranjak menuju pintu yang terletak di samping kirinya, mempercepat langkahnya agar selamat dari pemandangan yang bisa saja membuat jantungnya ingin melompat keluar.
" Jangan berani-berani keluar dari kamarku... "
Suara menggelegar itu bagai bom atom yang meledak di dalam kepalanya, membuat syaraf otaknya mati hingga memaksanya menghentikan langkah saat telah berhasil menggenggam knop pintu. Ia hanya perlu memutarnya untuk bisa keluar dari ruangan pengap itu, tapi entah kenapa tangannya seolah kehilangan tenaga tak mampu memutarnya setelah sebuah ancaman melayang bebas ke arahnya.
Bukankah dia seharusnya menyuruhnya keluar karena harus mengganti pakaian? Itulah yang dipikirkan Karin.
Sontak Karin memutar badannya menghadap Marcel, ingin protes meminta penjelasan dengan larangan gila Marcel.
Seketika matanya membulat penuh saat mendapati Marcel telah menyibak jubah mandinya. Membuat Karin sontak mengalihkan pandangannya menghadap pintu.
" Sial, lagi-lagi pemandangan itu yang kulihat. Apa dia tidak malu mempertontonkannya..." Batin Karin mendengus kesal.
" Bisakah aku keluar? " Karin memelas dengan wajah yang masih setia menghadap pintu. Jangan sampai ia naksir dengan pintu itu karena sudah menatapnya lama, ia masih seorang manusia waras yang hanya menyukai lawan jenis yang masih bernyawa, bukan benda mati yang tak mampu bergerak sendiri layaknya pintu didepannya.
" Tetap ditempatmu... "
" Apa dia benar-benar gila, ingin aku melihat tubuhnya dan bersorak takjub melihatnya? Hahaha... Jangan mimpi... "
Karin hanya diam mematung, membuat wajahnya setia menatap pintu yang tertutup tanpa bisa berkutik sedikitpun. Membuat Marcel yang melihatnya bersorak ria dalam hatinya.
Cih.... beraninya dia menggangguku. Akan ku buat kamu kapok dan segera menyesalinya...
~Marcel
" Berbalik... " Titah Marcel.
Apa... Apa maksudnya berbalik? Apa dia sudah memakainya, atau....malah ingin menyuruhku memakaikan pakaian untuknya. Ahhhh, benar-benar kacau... "
~Karin
" Hei..... " Marcel meninggikan suaranya, membuat Karin yang masih setia dalam lamunannya seketika tergeragap.
" Apa... Apa sudah tertutup? " Tanya Karin dengan makna yang ambigu.
" Hah, apa yang tertutup? Benar-benar gila. Ternyata pikiranmu itu sangat kotor, cucilah nanti otakmu yang kotor itu dengan detergen hingga berbusa "
Karin membalikkan badannya dengan kesal, menggertakkan giginya menahan semua amarah yang sudah menggunung setinggi gunung Everest. Ingin rasanya mulutnya mencaci maki laki-laki itu dengan lantangnya, tapi mulutnya bahkan sudah kehilangan haknya, membuatnya hanya bisa memaki dalam hati dan mengikuti semua perintahnya.
" Pakaikan dasi... "
Karin melangkahkan kakinya menuju ranjang, memungut dasi yang masih bertengger di atasnya dan berjalan mendekati Marcel yang sedang berdiri tegak dengan tangan yang sibuk mengkancingkan lengan bajunya.
Karin mulai mengalungkan dasi itu ke leher Marcel. Karena tubuhnya yang hanya sebatas pundak Marcel, membuatnya harus menjinjitkan kaki mungilnya dan mendongakkan kepalanya agar mampu menjangkau leher pria tinggi didepannya.
Tanpa disadarinya, Marcel mulai menatap wajah Karin yang tepat berada di bawah wajahnya. Tampak gadis itu tengah serius melilitkan dasi di lehernya dengan semburat wajah yang sepertinya kesulitan dan menahan lelah.
Benar saja, Karin memang sudah lelah dengan posisinya saat ini. Tangannya mulai kebas karena harus menggantung di udara tanpa penyangga, kepalanya juga pegal karena terus mendongak ke atas, apalagi kakinya yang harus setia menjinjit menopang tubuhnya untuk menjangkau lehernya.
" Tidak bisakah menunduk sedikit, kepalaku mulai pegal karena terus mendongak... " Karin memelas.
" Pakaikan saja, jangan banyak bicara... " Sahut Marcel tak peduli.
Dasar anjing gila, bukankah dia terlalu kejam membalasku seperti ini....
~Karin
Marcel yang sudah siap dengan balutan jas nya segera menuju ruang makan di buntuti Karin. Disana, terlihat pak Li dan Reihan yang sudah menunggu mereka untuk turun dari ruangannya.
" Selamat pagi tuan, nona " Sambut Pak Li dan Reihan serentak.
" Tuan, apa yang kalian lakukan selama itu? Mengapa lama sekali, bukankah ini sudah telat untuk berangkat ke kantor " Batin Reihan dengan wajah pasrah.
Marcel dan Karin pun segera duduk di bangkunya masing-masing untuk memindahkan semua makanan yang terlihat sangat lezat itu kedalam perutnya yang sudah kosong melompong.
Karin memindahkan makanan itu ke atas piringnya, kemudian menyendokinya dan memasukkannya ke dalam mulut yang sudah dipenuhi air liur. Karin mengunyahnya dengan irama cepat, entah karena doyan atau rakus, gadis itu terlihat seperti sudah tak makan bertahun-tahun dengan kunyahan cepatnya.
Sedang Marcel masih mematung di kursinya, ia menyilangkan tangannya dan menatap Karin sinis. Karin yang merasa di perhatikan pun memelankan kunyahannya yang sebelumnya ia percepat, mendongakkan kepalanya pada Marcel dengan tatapan penuh tanya.
" Kamu lupa tugasmu? " Lirih Marcel mulai mengintimidasi.
Karin masih memutar otaknya, masih belum menemukan tugasnya diantara banyaknya poin-poin tugas yang berusaha diingatnya. Makanan lezat itu berhasil merenggut semua perhatiannya hingga melupakan semua tugasnya.
" Makananku... "
Marcel memberi kata kunci, Karin yang cepat tanggap langsung membulatkan mulutnya setelah mengingat tugasnya. Segera ia mengambil nasi lengkap dengan lauk pauknya dan menaruhnya ke piring Marcel yang masih kosong.
Bahkan anak kecil saja bisa melakukannya, kenapa dia selalu ingin merepotkan orang lain.
~Karin
____________
Hi readers tersayangku...
Maaf karena baru bisa update lagi yah...
Selalu dukung author agar tambah semangat buat update
Love You All💞💞💞
tapi cba penulisan nya jangan kbnyakan nya 🙏🙏🙏