Gus Shabir merasa sangat bahagia saat ayah Anin datang dengan ajakan ta'aruf sebab dia dan Anin sudah sama-sama saling menyukai dalam diam. Sebagai tradisi keluarga di mana keluarga mempelai tidak boleh bertemu, Gus Shabir harus menerima saat mempelai wanita yang dimaksud bukanlah Anin, melainkan Hana yang merupakan adik dari ayah Anin.
Anin sendiri tidak bisa berbuat banyak saat ia melihat pria yang dia cintai kini mengucap akad dengan wanita lain. Dia merasa terluka, tetapi berusaha menutupi semuanya dalam diam.
Merasa bahwa Gus Shabir dan Anin berbeda, Hana akhirnya mengetahui bahwa Gus Shabir dan Anin saling mencintai.
Lantas siapakah yang akan mengalah nanti, sedangkan keduanya adalah wanita dengan akhlak dan sikap yang baik?
"Aku ikhlaskan Gus Shabir menjadi suamimu. Akan kuminta kepada Allah agar menutup perasaanku padanya."~ Anin
"Seberapa kuat aku berdoa kepada langit untuk melunakkan hati suamiku ... jika bukan doaku yang menjadi pemenangnya, aku bisa apa, Anin?"~Hana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Belas
Hana berdiri dari berlututnya. Memandangi Anin dengan wajah memelas. Gadis itu membawa aunty-nya duduk.
"Katakan saja apa yang Aunty inginkan?"
"Aku ingin kamu tidak berada di dekat aku dan Gus Shabir. Jika ada acara keluarga besar berkumpul, aku mau kamu menjaga jarak darinya," pinta Hana.
Anin menarik napas berat. Dalam hatinya bertanya, apakah sang tante telah mengetahui perasaan suaminya dan juga dirinya.
"Kenapa ...?" tanya Anin. Dia ingin jawaban pasti dari semua permintaan sang tante.
"Karena Gus Shabir mencintai kamu. Selama pernikahan kami dia selalu bersikap dingin karena tak pernah mencintaiku. Aku mohon padamu, jika kamu memang menyayangiku, jangan pernah tampakan wajahmu dihadapanku dan Gus Shabir," pinta Hana.
Anin sangat terkejut dengan pengakuan aunty-nya itu. Dia menarik napas dalam.
"Berarti aunty sudah tahu semuanya?" tanya Anin dengan suara pelan.
Pertanyaan Anin kali ini membuat Hana yang terkejut. Dia pikir Anin tidak tahu jika Gus Shabir menyukainya.
"Jadi kamu tahu kalau Gus Shabir mencintaimu? Kenapa kamu tak katakan padaku, Anin? Biar aku tak meneruskan pernikahan ini. Jika telah menikah, aku tak mungkin mundur. Apa yang akan orang-orang katakan jika aku berpisah secepat ini. Apa kamu juga mencintai Gus Shabir?" tanya Hana.
Anin hanya diam, tak mau membalas pertanyaan sang aunty. Cukup dia dan Kak Syifa saja yang tahu perasaannya pada Gus Shabir.
"Anin, apa aku ini jahat? Kenapa aku diberikan cobaan seberat ini? Sedangkan kamu diberi semua kelebihan yang diinginkan semua gadis. Kamu cantik, lahir dari keluarga Cemara. Pintar dan banyak disayangi keluarga. Dan satu lagi, kamu dicintai oleh pria yang diimpikan semua wanita. Kenapa satu saja kelebihan kamu tidak diberikan padaku?" tanya Hana.
"Aunty, aku juga tak pernah meminta semua ini. Jika Allah memberikan sesuatu kelebihan yang tak aku minta, aku hanya bisa mengucapkan syukur setiap saat. Dan jika aunty bertanya kenapa semua yang dia padaku tidak ada pada aunty, aku harus jawab apa? Semua sudah ada di garis takdir kita. Sebagai mahluk ciptaan-Nya kita hanya bisa menerima semua ini."
"Aku rasa ini tidak adil. Selama ini aku bisa menerima cobaan yang Allah berikan, tapi soal cinta, aku lemah, dan belum bisa ikhlas. Anin, aku mohon, jangan rebut Shabir dariku. Hanya dia yang aku punya. Aku mohon jauhlah darinya agar dia bisa mencintaiku. Kamu memiliki banyak kelebihan dariku, pasti mudah bagimu mendapatkan cinta dari pria mana pun. Apa yang harus aku lakukan agar kamu menjauh dari hidupnya Shabir?" tanya Hana lagi.
"Aunty tidak perlu melakukan apa pun. Percayalah ini yang terakhir aku ada dihadapan Gus Shabir. Jika ada Aunty dan suamimu, aku akan pergi menjauh bahkan sejauh mungkin. Detik ini juga aku akan pergi. Maaf jika kehadiranku saat ini membuat Aunty merasa tidak nyaman. Aku hanya berdoa semoga aunty bahagia. Dengan kepergian aku dari hidup aunty, semoga apa yang Aunty inginkan bisa terkabul," ucap Anin.
Tanpa menunggu jawaban dari Hana, dia pergi. Bohong jika tak ada rasa sakit di hati Anin. Dia merasa ini juga tidak adil. Kenapa dia yang disalahkan atas kejadian ini? Apakah aunty-nya tidak tahu, jika dia juga korban? Dia juga harus membuang rasa cintanya sebelum semua berkembang. Dia harus mengikhlaskan sebelum memiliki.
Air mata Hana jatuh membasahi pipinya. Dia juga sebenarnya berat mengatakan semua itu. Entah apa yang akan Anin katakan pada kedua orang tuanya tentang kepergiannya dari acara ini. Tapi semua harus dia lakukan untuk dapat merebut cinta sang suami. Jika Anin masih terlihat di depan mata suaminya, tak akan pernah pria itu bisa melupakan cintanya. Dia harus egois kali ini. Bukankah dia yang lebih berhak atas diri Gus Shabir dan juga cinta pria itu. Dia istri sahnya.
"Maaf Anin, kali ini kamu harus sedikit terluka. Selama ini kamu sudah memiliki segalanya. Hanya kali ini saja kamu berkorban. Aku rasa semua juga tak akan sulit. Kamu dan Shabir bukan pasangan kekasih. Aku tidak memisahkan kalian, hanya takdir yang tidak berpihak, bukan? Sebagai istri sah, apa pun akan aku lakukan untuk keutuhan rumah tanggaku. Jika kamu menjauh, akan lebih mudah bagiku mendekati Gus Shabir. Terbukti malam itu kami hampir berhubungan. Saat aku dan Gus Shabir sudah saling jatuh cinta, aku akan datang padamu, meminta kau kembali hadir seperti dulu lagi. Ini hanya sementara saja, Anin. Semoga kamu mengerti," gumam Hana dalam hatinya.
Tanpa mereka sadari, hanya karena pria mereka saling menyakiti dan melukai.
Anin beralasan pusing, saat meminta izin pulang. Ghibran dan Aisha percaya karena putrinya memang baru saja datang dari luar kota. Syifa yang melihat kepergian Anin, merasa curiga. Apa lagi dia sempat melihat Anin berdua Hana sedang mengobrol tadinya.
Anin pulang di antar supir. Dalam mobil tangisnya pecah. Dia tidak menyangka hanya karena seorang Gus Shabir memutuskan hubungannya dengan tantenya.
"Ya Allah caramu mendewasakan aku begitu hebat, sehatkanlah aku, lapangkanlah hatiku, perkuat lagi bahuku, perluas lagi rasa syukurku, jadikanlah aku seikhlas-ikhlasnya manusia, atas apa yang engkau kehendaki. Ya Allah, tolong jangan buat aku mencintai mahluk-Mu yang salah lagi. Matikan perasaanku untuk siapa pun, kecuali untuk dia yang benar-benar ditakdirkan untuk ku," gumam Anin sambil menghapus air matanya.
...----------------...
Selamat Sore. Happy Weekend. Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini. Terima kasih.
kurang slg memahami
gk da manusia yg sempurna
tp cinta yg menyempurnakan.
bukan cr siapa yg salah di sini
tp jln keluar bgaimna mmpertahankan pernikahan itu sendiri.
Coba lebih memahami dari bab" sebleumnya , Anin bilang kalau kasih sayang aisha trhdp Anin dan Hana itu sama ,jika Anin dibelikan mainan maka Hana pun turut dibelikan.memang dalam hal materi oleh Gibran dan Aisha mereka tidak membedakan ,tetapi dalam hal kasih sayang mereka tetap membedakan ,bahkan Syifa juga pernah bilang kalau dia lebih sayang Anin drpda Hana .Nah poiinnya adalah kenapa Hana bersikap seperti itu terhadap Anin ,karena dia belum pernah merasakan kasih sayang yang begitu besar dari orang terdekatnya .Jadi wajar saja semenjak dia menikah dia mempertahankan suaminya karena hanya dia yang memiliki ikatan paling dekat dengan Hana . Hana hanya ingin ada seseorang yang mencintai ,menyayanginya dengan besarnya ,maka dari itu dia mepertahnkan suaminya .
Hana memiliki trauma akan dkucilkan oleh orang" disekitarnya .
yang melamar kan Hana duluan 😃