Sebuah kenyataan hidup yang sangat pilu dan menyakitkan membuat sebagian orang mengalami kejadian trauma yang sulit dilupakan. Namun, tidak semua orang merasa bahagia menikmati hidupnya yang penuh luka yang membekas di hati mereka.
Kebahagiaan yang diimpikan telah sirna oleh kenyataan pahit yang mereka alami. Disini, akan dibahas dalam sebuah novel LUKAS yang akan menguras emosi dan air mata.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Jangan lewatkan update terbaru dari perjalanan kehidupan yang penuh pilu ini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Kembali
Dimas pun menemani Aqila makan di luar hotel dimana waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Semua orang masih terlelap dan hanya beberapa karyawan cleaning service yang bangun pagi untuk membersihkan lantai.
Kebetulan ada warung yang buka 24 jam di sekitar hotel. Dimas dan Aqila memesan ayam goreng dan teh hangat. Keduanya terdiam saat suasana warung itu terlihat sepi dan hanya pemilik warung dan anaknya yang mencari rezeki di pagi hari demi sesuap nasi.
"Kalian bukan orang sini ya, Tuan? Anaknya manis, pasti mirip seperti ibunya," tanya pemilik warung itu ramah.
"Iya, Bu. Kami bukan orang sini. Kebetulan liburan saja disini," jawab Dimas seraya mengunyah makanannya.
Aqila terbatuk-batuk saat mendengar perkataan Ibu tersebut. Mereka menganggap seperti Ayah dan anak. Walau, pada dasarnya memang benar seperti itu yang seharusnya. Namun, kenyataannya Aqila dan Dimas adalah sepasang kekasih yang usia mereka terpaut jauh.
Selesai makan, Dimas dan Aqila segera kembali ke hotel karena pagi hari ini akan ada pertemuan kembali dengan klien untuk tanda tangan kontrak kerjasama. Setelah itu, siangnya mereka kembali pulang Jakarta.
Waktu cepat berlalu. Dimas pergi menemui klien dan Aqila lagi-lagi sendirian di hotel. Tetapi, dirinya mengemasi barang-barang karena akhirnya kembali ke rumah setelah dua hari tidak bertemu kedua orang tua dan kakaknya.
*
Di tempat berbeda. Davina merasa kecewa dan marah karena suaminya mengajak Aqila ke luar kota tanpa pemberitahuan dirinya. Beruntung Clarissa memberitahu perihal tentang Aqila yang bersama Dimas.
"Pantas saja, Aqila tidak terlihat sejak kemarin. Ternyata, pergi dengan Mas Dimas. Awas saja kamu Aqila. Akan kuhukum kamu atas ketidak adilan ini." kata Davina dengan mata menyorot tajam.
Davina bersyukur karena Clarissa mau memberitahu padanya tentang gadis kampung yang seenaknya saja pergi dengan suaminya.
Bayu yang mendengar, bahwa Aqila pergi bersama dengan kakaknya merasa marah dan kecewa tidak bisa menikmati ataupun berbuat jahat kepada Aqila. Disaat sedang berpikir, dirinya memiliki rencana terhadap kakaknya.
"Hahaha, aku punya ide menarik untukmu kakakku Dimas. Lihat saja nanti waktunya akan tiba!" Bayu tersenyum licik dengan wajahnya yang memerah karena sudah tidak sabar menunggu kejadian itu akan terlaksana.
*
Kembalinya Dimas dari restoran setelah bertemu klien. Akhirnya kesepakatan terjalin dan perusahaan semakin maju berkat investasi dari orang tersebut.
Dimas mampir membeli oleh-oleh untuk keluarga Aqila. Sampai di hotel, Dimas turun dari mobil dan masuk ke hotel menuju kamar dengan menenteng beberapa kantong kresek yang dibelinya di supermarket tadi.
Ting tong
Pintu terbuka, Aqila mengambil kantong kresek dari tangan Dimas.
"Apa ini, Mas Dimas?" tanya Aqila seraya meletakkan banyak kantong kresek di kasur.
"Oleh-oleh untuk keluargamu, Sayang," ucap Dimas memeluk Aqila dari belakang.
Aqila berhenti melihat dan berbalik menghadap ke Dimas. "Kenapa banyak sekali? Seharusnya sisakan untuk Nyonya Davina, Clarissa dan Kak Ervin." kata Aqila dengan mode manjanya.
"Tidak perlu. Davina sudah mendapatkan apa yang diinginkannya dari Bayu begitu juga Clarissa. Aku sudah muak dengan mereka, Aqila," ujar Dimas menahan emosinya di depan gadis itu.
Aqila tak mampu membantah apa pun apa yang dikatakan Dimas. Dirinya sedang merasakan pelukan hangat lelaki itu. Aqila menjadikan harum khas Dimas sebagai candu.
"Iya, Mas. Aku tahu, kamu merasakan luka yang teramat dalam selama puluhan tahun dan dibayang-bayangi oleh sikap mereka padamu." kata Aqila dengan mata terpejam.
"Kamu memang bisa diandalkan, Aqila. Aku tahu kamu sebenarnya cerdas. Tetapi kamu selalu menonjolkan kepolosanmu selama ini." Dimas berkata seraya menoel hidung mancung Aqila.
Aqila tersenyum mendengar pujian dari lelaki itu. Kemudian, Dimas segera mandi karena sesuai perjanjian hari ini adalah batas waktu dirinya harus check out dari hotel.
Beberapa saat kemudian, Dimas keluar kamar mandi dan Aqila menata kantong kresek tersebut untuk dijadikan satu agar tidak membawa banyak barang saat keluar hotel nanti.
Selesai berpakaian rapi, keduanya mengunci kamar hotel dan masuk lift menuju lantai dasar
Ting
Pintu lift terbuka, Dimas melangkah lebih dulu dan Aqila mengikutinya dari belakang. Dimas menyerahkan kunci kamar dan berterima kasih atas pelayanannya selama menginap disini.
"Selamat jalan Tuan dan hati-hati selama dalam perjalanan. Terimakasih." kata pegawai tersebut tersenyum ramah.
Dimas mengangguk dan melangkah pergi keluar hotel menuju mobil yang telah terparkir di depan. Aqila meletakkan tas dan barang bawaannya di bagasi belakang mobil. Keduanya masuk dan Dimas segera melajukan kendaraan menuju rumah istananya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Selama perjalanan, Aqila tertidur saat mendengar lantunan lagu yang dinyalakan oleh Dimas. Hanya kesunyian dan suara deru kendaraan mobil yang lewat menemani Dimas yang mengemudi.
Dimas menoleh pada Aqila yang tampak terbentur kaca mobil saat tidur. Lalu, mobil berhenti di pinggir jalan untuk menurunkan jok kursi, agar Aqila bisa tidur dengan posisi yang nyaman.
"Begini kan lebih baik." Dimas tersenyum dan melanjutkan perjalanannya kembali yang masih panjang.
Setelah 2,5 jam melakukan perjalanan panjang, Dimas akhirnya sampai di rumah besar dan satpam membuka gerbang tersebut menggunakan remot. Tampak, dua satpam memberi hormat pada mobil majikannya setelah dua hari dinas di luar kota.
"Wah, apakah Pak Dimas tahu ya, kejadian dua hari ini? Bu Davina dan Pak Bayu sering keluar bersama akhir-akhir ini. Mereka tampak serasi dan aku sering melihat mereka bercumbu ria saat berada di mobil," ucap Pak Paijo pada temannya yang telah bekerja lama sebagai satpam di rumah itu.
"Sstt. Ngawur kamu Paijo. Kalau sudah tahu seperti itu, lebih baik diam saja. Kita hanya rakyat kecil mencari kerja demi keluarga kita," ujar Somad yang berkata dengan bijak.
"Heleh. Sok bijak kamu Somad. Padahal kamu sendiri juga kepo lo," sambung Paijo yang duduk menyesap kopinya yang baru diantar Bu Dalia.
Bu Dalia berlari setelah melihat kepulangan anaknya. Aqila pun memeluk ibunya erat karena rasa rindunya yang besar.
Dimas tersenyum dan meminta Aqila untuk membawa oleh-oleh dan juga tas miliknya ke belakang. Dimas hanya membawa tas koper dan juga tas kerja yang menempel di lengannya.
"Oh, darimana saja, Pa. Ngapain saja dengan Aqila berdua di luar kota. Kalian berkencan?" tanya Davina dengan mata melotot tajam berdiri di dekat pintu yang baru dibuka oleh Dimas.
"Mama. Sudahlah. Papa capek baru saja pulang dinas luar kota. Bukannya disambut dengan senyuman malah omelan yang kuterima." Dimas lelah bila harus berdebat dengan Davina saat ini.
"Kenapa? Papa masih mau mengelak bahwa kenyataannya benar adanya, kalau Papa pergi berdua dengan Aqila. Mama, lihat dengan mata kepala sendiri. Kalau Aqila baru saja keluar dari mobil dengan Papa."
"Katakan, Pa. Kalian berdua dinas keluar kota atau hanya liburan?" cerca Davina menanyakan hal itu karena sudah tidak sabar ingin menghukum Aqila disaat waktu yang tepat.
lanjutin aja laaah 😎🤫🥺
heeeemmm mau alasan apalagi neeeh
yaakiiiiin neeeh 🫣🫣🏃🏃
ntar temen arisannya mengira jika Bayu lah suami Davina donk 👉👈
padahal sepasang kekasih itu akan seneng banget jika kekasihnya selalu berada di sampingnya
lha klo kamunya wafat, lalu yang menjaga Aqila siapa donk ???
eeeeiiiiitttssss tapi kamu kan masih terikat dengan pernikahan ya, lalu jaga Aqila gak bisa maksimal deeeh
kamu doa aja supaya Aqila selalu dalam lindungan Allah
aamiin ya rabbal alamiin
ternyata kena prank ama Kak Dina deeeeh
huuuuuuffttttt syukurlah jika itu semua hanya mimpi belaka
semula dirinya yang ingin membunuh Dimas eeeh ini malah dia sendiri yang wafat 👉👈
ada apa ini sebenarnya???
kenapa ada adegan tusuk menusuk seeeh....
Idul Adha kan masih lama tuuuh 🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃🏃
dan Aqila yang sedang dalam posisi membawa pisau 😱😱😱😱
karena percuma aja, ikutan ajang kumpul-kumpul eeeh gak membawa pada kebaikan
kapan ya, Dimas akan mergoki Davina ama Bayu