Cerita yang mengisahkan perjalanan anak-anak dari keluarga Farda yang kini mulai beranjak tumbuh besar seiring berjalannya waktu dengan cita-citanya masing-masing.
"Alan mawu adi towok ampan, bial bica ekat-ekat wewek antik"
Alan Listyo Farda.
"Membuat bunda bahagia di masa tuanya adalah impianku"
Arnold Listyo Farda.
"Menjadi anak penurut dan selalu ada untuk keluarga"
Anara dan Abella Listya Farda.
Bagaimana mereka bisa menjaga persaudaraan disaat segala permasalahan terus datang? Apalagi dengan perubahan salah satu sifat saudaranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesal
Arnold yang tadinya mau mandi, kini malah dirinya duduk kembali bersama kedua saudaranya. Mereka memilih untuk menunggu Papa Nilam juga dokter yang tadi memeriksa Abel. Tak berapa lama mereka menunggu, ternyata Abel yang kini terbaring lemah diatas brankar rumah sakit itu dikeluarkan dari ruang IGD.
Arnold, Anara, dan Alan langsung saja berdiri kemudian berjalan mengikuti brankar milik Abel. Mereka diberi kode pada salah satu perawat untuk mengikutinya. Ternyata Abel dipindahkan kedalam ruang rawat inap biasa setelah menjalani operasi tadi. Sesuai arahan Papa Nilam yang mengurusi semuanya, Abel dipindahkan dalam ruang VIP.
"Om, boleh Arnold tanya?" tanya Arnold pada ayah dari sahabatnya itu.
"Boleh. Tanya apa?" tanyanya sambil tersenyum.
Setelah dari ruang dokter tadi, Papa Nilam langsung menyusul ketiga bocah kecil yang kini tengah berada di ruang rawat inap kakaknya. Terlihat sekali kalau ketiganya begitu murung dan sedih karena melihat salah satu saudaranya terbaring lemah diatas brankar rumah sakit.
Untuk barang-barang ketiganya, tadi sudah dibantu perawat untuk memindahkannya kedalam ruangan ini. Setelah memastikan kedua saudaranya duduk anteng disamping brankar Abel, Arnold segera mendekat kearah Papa Nilam yang hanya berdiri didekat pintu.
"Bagaimana keadaan Kak Abel? Kalau dokter harus memanggil orang dewasa untuk membicarakan hal ini, pasti keadaannya mengkhawatirkan," tanya Arnold dengan raut khawatirnya.
"Kakakmu harus butuh perawatan intensif di rumah sakit. Biar nanti om yang beritahu orangtuamu agar memutuskan segala sesuatunya," ucap Papa Nilam penuh teka-teki.
Papa Nilam yang memang mengetahui semuanya pun ragu untuk memberitahukan semuanya kepada Arnold. Pasalnya Arnold masih dibawah umur yang sepertinya kurang cocok mendengarkan berita yang seperti ini. Ia paham kekhawatiran anak sahabatnya ini, tapi dia juga harus memikirkan kondisi psikis Arnold.
Apalagi ia juga masih bingung harus bagaimana menyampaikan tentang kondisi Abel kepada keluarganya nanti. Ia yang mendengarnya saja sudah pusing dan bingung harus melakukan apa. Ia masih ingat mengenai penjelasan dokter tadi tentang kondisi Abel.
"Sebenarnya saya tak boleh memberitahukan kondisi pasien kepada oranglain selain keluarganya. Namun saya terpaksa melakukan ini karena tak ada orang dewasa yang menemani pasien. Jadi begini, saya minta tolong untuk segera hubungi keluarganya atau orangtuanya. Operasi pada kepalanya yang memang ada pendarahan diotaknya memang berjalan lancar, namun kita harus melihat bagaimana efeknya setelah pasien sadar," ucap dokter itu.
"Kita terpaksa melakukan tindakan ini dengan cepat karena kondisinya yang memang memprihatinkan. Kami tadi meminta persetujuan guru dan salah satu saudaranya yang ada disini." lanjutnya.
Tadi memang Arnold yang masih bisa berpikiran secara jernih itu sudah dimintai persetujuan mengenai tindakan yang akan dilakukan. Arnold menyerahkan dan mempercayakan semua tindakan yang terbaik pada dokter walaupun bocah laki-laki itu bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Itu penyebab sebenarnya apa, dok? Kok sampai ada pendarahan pada otaknya," tanya Papa Nilam.
Papa Nilam cukup shock mendengar penjelasan dari dokter itu. Ia memang belum tahu mengenai penyebab dari kecelakaan Abel ini terlebih kondisi Arnold dan Anara yang masih belum bisa diajak bicara lebih banyak.
"Sepertinya ada pukulan benda keras pada kepalanya. Saya menduga kalau gadis ini mengalami pembullyan di sekolah," jawab dokter itu.
Papa Nilam tentunya tak habis dengan semua itu. Pasalnya sekolah itu sudah sejak awal menjadi tempat Abel menempuh pendidikannya dan selama ini tak pernah terjadi pembullyan seperti ini. Anaknya yang sekolah disana saja sampai saat ini aman-aman saja.
Papa Nilam akhirnya meminta pada dokter agar menyiapkan semua dokumen rekam medis dan melakukan visum pada Abel. Ia akan membantu keluarga sahabatnya agar Abel mendapatkan keadilan disini. Apalagi ia punya hutang budi banyak kepada keluarga Andre.
"Apa tidak ada jawaban lain selain itu, om? Arnold sudah besar. Seharusnya orang dewasa tidak menutupi keadaan Kak Abel dari aku. Apalagi dalam kondisi seperti saat ini yang mungkin orangtua kita sedang sibuk mengurus nenek dan kakek yang kecelakaan," ucap Arnold sedikit kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Papa Nilam.
Papa Nilam yang sedari tadi melamun pun langsung saja menatap kearah Arnold yang wajahnya kesal. Bukan karena mendengar kekesalan Arnold melainkan ucapannya mengenai kecelakaan nenek dan kakeknya.
"Nenek dan kakekmu kecelakaan?" tanya Papa Nilam tanpa menggubris kekesalan Arnold.
"Ya." ketus Arnold yang langsung berjalan kearah sofa yang ada di ruangan itu.
Papa Nilam hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena Arnold bertambah kesal padanya. Padahal dia memang hanya fokus dan menangkap tentang kecelakaan yang menimpa nenek juga kakeknya itu. Pantas saja Andre dan Nadia sudah dihubungi.
"Om, keluar sebentar untuk belikan kalian cemilan. Sekalian mau cari keberadaan orangtua kalian," ucap Papa Nilam yang kemudian pergi keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban dari Arnold.
Anara dan Alan yang sedari tadi duduk disamping Abel pun kini memilih mendekat kearah Arnold yang terduduk lesu pada sofa. Alan langsung memeluk abangnya yang terlihat sekali kalau tengah banyak pikiran.
"Angan mikil anyak-anyak, abang. Anti talo cakit, Alan ingung," ucap Alan dengan tatapan sendunya.
Arnold yang mendengar ucapan Alan itu tentunya merasa terharu. Ia tahu kalau adiknya itu sekarang tengah kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih melihat kakaknya yang terbaring lemah dengan kepala yanh dibalut perban putih.
"Iya, ini abang nggak mikir banyak-banyak kok. Lebih baik Alan tiduran disini, pasti capek sekolah lalu kesini," ucap Alan sambil menepuk pahanya.
Alan menganggukkan kepalanya kemudian ia merebahkan tubuhnya diatas sofa dengan paha Arnold sebagai bantalannya. Sedangkan Anara yang melihat hal itu juga ikut mendekat kearah Arnold kemudian memeluknya dari samping.
"Untuk saat ini, hanya ada kita bertiga yang saling menguatkan pada kondisi seperti ini. Maafkan kakak yang seharusnya sudah bisa jadi pelindung atau penjaga kalian namun malah tak bisa melakukan apa-apa," ucap Anara dengan tatapan bersalah.
Tentunya Anara merasa bersalah kepada Arnold yang malah bisa berpikir jernih dan bersikap dewasa dalam kondisi seperti ini. Padahal ia yang umurnya lebih tua seharusnya bisa menjadi pelindung dan penjaga untuk kedua adiknya yang kini sedang pusing.
"Kita saling menjaga. Bukan hanya salah satu, tapi semuanya. Ingat kata bunda, kita harus selalu bersama dan akur agar semua masalah bisa terpecahkan dengan baik." ucap Arnold dengan yakin.
Anara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Mereka kini harus dituntut menjadi dewasa pada saat kondisi orangtuanya sedang tidak ada disini. Tanpa mereka sadari, ada Papa Nilam yang tadinya akan masuk dalam ruang rawat inap Abel namun diurungkan niatnya karena mendengar ucapan dari dua bocah kecil yang mengharukan itu.
pergi yg jauh Alan biar papa Andre nambah migren/Facepalm/