NovelToon NovelToon
Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:512.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Oot Nasrudin

Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]

Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?


Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Tak) Biasa

...☕🍜Seringkali kita ragu, ragu untuk berbagi tentang kisah yang kita punya pada orang lain. Pada orangtua, keluarga, saudara, atau bahkan pada pasangan sendiri. Semua itu karena kita takut kecewa, bukan? Kita terlalu takut jika respon mereka tak sesuai dengan yang kita harapkan🍜☕...

Di ruang kamar dengan nuansa serba gelap dan cahaya lampu yang temaram, seorang pria berbaring dengan perasaan gusar.

Berkali-kali mengerang, mengacak-acak rambutnya yang gondrong. Sikapnya kali ini benar-benar tak pantas dengan wajahnya yang ditumbuhi rambut-rambut halus di bagian dagu.

Jambang itu, rupanya hanyalah hiasan untuk wajahnya yang tak bisa dipungkiri memang tampan. Tapi, sama sekali tidak menunjukkan sikap kedewasaan.

Benar memang, baru kali ini ia merasakan suatu ketertarikan pada seorang wanita. Suatu perasaan yang akhirnya menggiring dia menjadi seperti ini.

Payah sekali, Si Bujang Lapuk ini. Baru seperti ini saja sudah seperti seekor ikan yang terdampar di pesisir pantai.

Padahal dia belum mengutarakan perasaan apa-apa pada gadis itu. Jangankan mengutarakan perasaan, punya kontak untuk komunikasi saja dia belum punya.

Memang bukan main kalau sudah menyangkut perasaan. Segalanya serba dilebih-lebihkan.

Sebab, perasaan adalah soal perasaan itu sendiri. Tidak bisa disamakan dengan soal matematika, yang apabila satu ditambah satu, maka, jawabannya sudah pasti sama dengan dua. Tidak! Sungguh lebih rumit dari itu.

Lihatlah, kelakuan Si Bujang Lapuk! Bukan siapa-siapa gadis itu tapi sudah merasa yang paling kecewa.

Grasak-grusuk di dalam kamar, pikiran tak tenang, plintat-plintut tak jelas. Gonta-ganti posisi tetap saja mata tak bisa terpejam.

Bukankah pagi tadi Si Bujang Lapuk itu bersiul-siul riang karena sudah menunaikan permintaan maaf?

Siapa suruh dia masih kepo pada gadis itu. Alhasil harapan bisa tidur nyenyak tinggallah harapan semata.

Malam ini, justru lebih ironis dari malam kemarin. Bujang yang selalu bangga dengan kegantengannya itu sama sekali tidak bisa terpejam barang sejenak, hingga waktu subuh hampir tiba.

Perasaannya yang payah itu, membawa dirinya melangkah pergi ke tempat gadis itu berada. Ia memacu mobilnya dengan cepat, lalu memarkirkannya di pinggir jalan dekat mulut gang kontrakan Maira.

Kini, Bujang itu tengah berdiri di depan pintu gadis itu. Tangannya urung mengetuk, ketika telinganya mendengar samar-samar suatu bacaan dilantunkan dari dalam.

Juan mematung. Lututnya mendadak lemas. Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok. Mendengar lantunan indah yang dia tidak mengerti entah bacaan apa yang terdengar sangat merdu itu.

Suara itu jelas milik Maira. Tapi, apa yang sedang ia baca? Dalam kondisi tubuh yang mendadak lemah, Juan berusaha mendengar dengan seksama apa yang sedang dibaca oleh Maira.

Sejak ada Maira di kehidupannya, entah mengapa segala sesuatu yang berhubungan dengan gadis itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Juan.

Ia pasrah dan menghanyutkan diri dalam suara lembut Maira. Ia tak begitu mengacuhkan bacaannya. Namun, suara Maira mampu membuat dirinya menjadi lebih tenang.

Suara adzan subuh menyentuh telinga. Bacaan Maira pun sudah tak terdengar lagi. Bujang yang tengah bersandar pada dinding kontrakan Maira itu tersadar. Akalnya masih cukup untuk berpikir.

Ia segera beranjak meninggalkan kontrakan sebelum para penghuninya terbangun.

Pagar masuk halaman kontrakan masih belum dibuka, gemboknya masih menggantung. Terpaksa ia memanjat pagar setinggi dua meter itu lagi.

Nasib baik sedang berpihak pada Si Bujang Lapuk. Padahal salah satu penghuni kontrakan biasanya sudah terbangun membuka gembok pagar sebelum subuh tiba.

Kali ini, Juan benar-benar beruntung. Mungkin semesta turut bersimpati pada Bujang yang tengah bersusah hati ini, tak dapat tidur nyenyak lantaran perasaan yang baru pertama kali ia rasakan pada seorang wanita.

Ia memacu mobilnya kembali ke rumah. Membawa perasaan yang ia sendiri masih belum begitu mengerti.

***

Sudah dua pagi ini, Juan duduk di kursi makan lebih cepat dari biasanya. Prischilla menuruni anak tangga dengan santai, sudah tak panik lagi seperti kemarin. Ia yakin, jam tangannya tidak pernah salah.

Begitu juga Maria. Wanita paruh baya itu sudah tak heran lagi melihat bujangnya duduk lebih awal.

Ia melakukan perannya sebagai seorang Ibu seperti biasa. Menyiapkan sarapan untuk putra dan putrinya. Menuangkan cairan putih pada 3 gelas, mengoles roti dengan selai.

Mereka melalui sarapan tanpa banyak bicara. Juan sendiri tampak ingin segera menyelesaikan sarapannya.

Bahkan, wanita paruh baya yang sejak dua tahun terakhir pensiun dari pekerjaannya itu, tak sempat bicara mengenai rencananya yang hendak pergi ke tempat Maira untuk mengambil baju pesanannya.

Juan sudah pergi ke kantor. Mobil jemputan sekolah Chilla pun sudah datang.

Maria termenung sendirian di ambang pintu, menyaksikan satu persatu anaknya pergi. Rambutnya yang sudah setengah beruban itu, tertiup angin pagi.

Namun, angin pagi itu masih kalah sejuk dengan perasaan yang ada di dalam dada Maria. Meski ia berusaha untuk bersikap biasa saja, naluri seorang Ibu pada anak tetaplah ada.

Sekalipun tidak ada kalimat yang diungkapkan, walaupun tidak ada sepatah kata yang tersampaikan. Maria tahu, putranya sedang tidak baik-baik saja.

Pagi tadi, ia tahu Juan pergi.

***

Siang kali ini terasa terik, panasnya menyentuh angka 35°C. Sepertinya cuaca sudah mulai memasuki musim panas. Udaranya membuat gerah.

Gadis pemilik lesung pipit itu kini mengenakan setelan gamis berwarna peach. Menambah kesan lebih anggun pada pesonanya yang memang sudah anggun dan manis.

Ia tengah menikmati secangkir kopi di kursi tempat biasa ia menjahit. Sesekali mengecek layar gawainya. Siang ini ia sudah punya janji, yaitu dengan pemilik dress brokat berwarna merah yang sejak semalam melekat di tubuh manekin.

Cairan hitam itu kini sudah tandas hingga ampas. Maira memindahkan ke belakang—bertepatan dengan sebuah mobil berwarna biru menepi di depan kontrakannya.

Tampak seorang wanita paruh baya mengenakan atasan berwarna merah, dipadukan dengan rok span warna hitam yang panjangnya mencapai bawah lutut. Rambutnya disanggul, membuatnya terlihat lebih bersahaja.

Ia tidak sendiri, di sampingnya ada anak remaja berseragam sekolah dengan rambut diikat ekor kuda.

Mereka berjalan memasuki teras kontrakan Maira. Gadis itu cekatan menyambut kedatangan tamunya.

"Selamat siang," sapa Maira, hangat.

Wanita paruh baya itu membalas sambutan Maira dengan hangat juga. Anak remaja di sampingnya tersenyum, kelopak matanya menyipit, cantik sekali. Maira senang melihatnya.

Mereka saling berjabat tangan.

Seraya berjabat tangan, wanita paruh baya itu memperkenalkan anak remaja yang membersamainya.

"Kenalkan, ini Prischilla putri saya ...."

"Prischilla ...." Remaja itu memperkenalkan diri.

"Khumaira ... panggil saja Kak Maira, yaa ...." Maira tersenyum hangat.

Remaja itu mengangguk, bibirnya masih mengulas senyum. Maira segera mempersilakan tamunya masuk.

Ia segera menunjuk dress berwarna merah yang melekat di tubuh manekin. Wanita paruh baya itu terlihat senang melihat hasil dress pesanannya.

Hari ini wanita itu sedang memakai baju warna merah sama seperti dress yang baru jadi itu. Sepertinya warna merah adalah warna favoritnya.

Sebelum Ibu Maria dan Chilla pulang, mereka berbincang-bincang hangat dengan Maira.

Maira tampak senang berkenalan dengan Chilla. Begitupun sebaliknya. Mulanya remaja itu memang seperti biasa, sulit didekati.

Namun, dengan keriangan Maira yang sedikit agresif terus mengajak ia berbicara, akhirnya Chilla berhasil diluluhkan.

Mamanya sedang menumpang toilet di belakang. Lumayan lama, lebih dari lima menit. Mungkin buang air besar.

Dalam waktu itulah Maira dan Chilla mulai terlihat akrab. Chilla berhasil terpancing untuk menceritakan tentang sekolahnya. Tentang bagaimana ia selalu disiplin. Dari berangkat sekolah, kegiatan belajar di dalam sekolah, hingga pulang.

Jelas menunjukan sekali bahwa remaja itu adalah anak yg baik dan teladan. Sebenarnya ceritanya tidak begitu menarik karena yang diceritakan hanya seputar itu saja.

Namun, Maira mendengarkan dengan senang hati. Dengan bibir senantiasa mengulas senyum, dan mata sesekali berbinar mendengar keteladanan yang diceritakan oleh remaja itu.

Respon Maira yang demikian, membuat Chilla nyaman untuk bercerita. Bahkan, ia sempat menceritakan mengenai kepanikannya di pagi hari saat hendak sarapan. Menceritakan betapa leganya ketika tahu bahwa dia tidak terlambat, melainkan kakaknya yang tak biasa bangun kepagian.

Maira sedikit tergelak mendengar cerita Chilla di bagian itu. Chilla tersipu. Entah mengapa ia merasa senang, namun, masih malu-malu mengekspresikannya.

Tak lama Ibu Maria sudah selesai dari hajatnya. Senyumnya mengembang, sempat menyaksikan keakraban putrinya dengan Maira.

Tentu ini hal yang tak biasa ia lihat. Putrinya yang ia kenal sulit beradaptasi dengan orang lain, tapi, dengan Maira mengapa cepat sekali akrabnya?

Sorot matanya masih sedikit tak percaya. Ibu Maria mengelus kepala putrinya. Ia merasa senang. Senyumnya semakin mengembang, namun, tetap bersahaja.

Sayangnya keakraban mereka tak bisa lama-lama. Ibu Maria masih merasa segan jika berada di tempat Maira terlalu lama. Ia pun tahu Maira hendak pulang kampung, barangkali Maira akan sibuk untuk bersiap-siap.

Akhirnya mereka pun pamit. Mengakhiri pertemuan hari ini. Taksi BurungBiru pesanan Ibu Maria sudah sampai di halaman kontrakan.

Maira mengantar mereka hingga teras. Menunggu tamunya masuk ke dalam kendaraan roda empat itu.

Kaca mobil terbuka. Chilla menyembulkan kepala, melambai riang pada Maira.

Maira membalas tak kalah riang.

Mobil itu melaju perlahan, keluar dari halaman kontrakan.

Maira kembali masuk. "Manis sekali anak itu, senangnya kalau punya adik perempuan," gumamnya dalam hati.

***

1
matcha
duuh mbk Maira ini kalem2.. sindirannya kyk sabetan pisau.. wkwkwk
Santi Herman
bagus
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Cancer
😄 aku suka gaya maira
hoomano1D
bukan meminang cucu kali thor,
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
hoomano1D
maaf ya thor, gw adalah golongan pembaca yg selalu bahagia. kalo gak bahagia, gw udh uninstall apk nt ini
hoomano1D
yg janji gw ada bukunya. emang keren
hoomano1D
umbel sing kuning keijoan kayane
hoomano1D
hmmm.,
malah curcol
hoomano1D
eh, bukannya punten yak?
hoomano1D
gw anggota klub tinggal baca aja nggak usah protes
hoomano1D
ganti namanya:
calon author famous
ASA
Part ini sungguh 🥺🥺🥺
ASA
masih betah di sini
Hamano Michiyo
wahh thor,,gimana caranya nyusun kata2 sebagus itu??bisa baginya ilmunya gak thor?
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
ApriL
sukaa 🥰🥰 auto pencet favorit..
gulaJawa🐏
hiyayyay baca lagi di tahun 2022,
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺

kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.

ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗
Ani Dyah
masih kurang "kue satu" oleh2nya 👍
Ani Dyah
kota beriman....kebumen kah? 😀😀
Pocut
Jakaaaaa...😢😢😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!