Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika seorang wanita menjadi istri ke 2?
Seorang pelakor?
Seorang wanita perebut suami orang?
Lalu bagaimana jika pernikahan itu berlandas keterpaksaan, dari seorang gadis berparas cantik dan baik bernama Isna Happy Puspita berusia 22 tahun, yang harus memilih diantara kesulitan hidup yang dia jalani, dan menerima sebuah penawaran dari seorang wanita elegan dan dewasa bernama Kartika Ratu berusia 43 tahun, untuk menjadi istri ke 2 suaminya yang tampan dan kaya raya, Krisna Aditya berusia 34 tahun.
Bagaimana kehidupan selanjutnya gadis itu, yang malah membuat suaminya jatuh cinta padanya?
Akankah dia bahagia?
"Salahkah bila aku jatuh cinta lagi? dan dosakah ketika aku menghianati perasaanmu, yang jelas itu ku labuhkan pada wanita pilihanmu, yang kini jadi istriku?" Krisna
"Bolehkah aku juga menyukainya? mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya? aku tidak merebutnya, tapi kau yang menawarkannya?" Isna
"Kau hanya boleh menyentuhnya dengan tubuhmu, tapi bukan hatimu. Bagaimanapun aku serakah apapun alasanku. Aku menginginkan semua cinta untukku sendiri, dan benci untuk berbagi." Kartika
follow IG @Syalayaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Bersikap baik
Dibaca pelan biar nggak bingung, alurnya maju mundur ^_^
Happy Reading …
🐦🐦🐦
Villa Puri Indah, 07:00 malam.
Tampak meja makan yang berukuran sedang tersaji beberapa hidangan. Semua masakan yang jujur saja, Isna baru sekali mencicipinya. Sampai dia sendiri tidak paham bagaimana cara memakannya. Terlalu banyak hiasan yang menyertai makanan di atas piring Saat ini, Isna sedang makan malam bersama Krisna untuk pertama kalinya.
Gadis itu mengambil asal makanan yang tersaji di atas meja dan melahap sampai habis. Tanpa Krisna sadari ada seulas senyuman yang hadir dari sudut bibirnya. Wisnu hanya memandang dari kejauhan interaksi keduanya dengan raut wajah sukar ditebak.
“Kamu juga memakan garnishnya?” tanya Krisna seolah mengejek Isna yang memakan irisan tomat cherry yang tersemat pada gelas minuman jus milik gadis itu.
“Kenapa? Bukankah ini aman untuk dimakan?” tanya Isna polos menatap sejenak Krisna. Mereka duduk berhadapan menghadap pada meja.
“Keluargamu tidak pernah mengajakmu makan di luar?” tanya Krisna lagi sambil menyesap minuman anggurnya.
“Saya ini hanyalah anak tiri. Apa Anda tidak pernah mendengar cerita tentang kepedihan hidup seorang anak tiri?” tanya Isna masih menikmati makanan dan hanya menoleh sekilas.
"Aku tidak mungkin meminta maaf padanya. Tidak mungkin," batin Krisna sambil memandang Isna sejenak.
“Anda tidak makan? Bagaimana kalau Wisnu ikut bergabung di sini? Saya tidak akan mampu menghabiskan semuanya.”
Isna memandang ke arah Krisna dan Wisnu secara bergantian. Wisnu segera menunduk dengan perasaan yang sungguh gusar. Ia heran, mengapa Nona Kecil itu selalu mau melibatkannya dan tidak mengabaikannya saja. Wisnu menggerutu sendiri dalam hati.
Krisna menatap Isna dengan tatapan masam, dia merasa permintaan Isna sudah sangat kelewatan. Ingin mengajak seorang pengawal untuk makan bersama? Krisna merasa ide itu sangat konyol.
“Kalau kau tidak bisa menghabiskan, buang saja!” Krisna menjawabnya dengan ketus, wajahnya menampakkan penolakan.
“Eh, jangan! Rezeki tidak boleh disia-siakan,” protes Isna sambil mengibaskan tangan.
“Kalau begitu habiskan. Lihat tubuhmu itu? Sudah saatnya menambah lemak,” ejek pria itu memandang lurus ke arah tubuh Isna.
Sesaat Isna memandang tubuhnya sendiri dengan lesu kemudian beralih menatap Krisna yang memberinya cibiran tipis pada bibirnya.
"Hina terus ... hina saja terus." Isna merutuk kesal dalam hati.
“Aku akan memakan semuanya, biar kau puas!” desis Isna memicingkan matanya dengan bibir mengerucut ke depan.
Krisna menahan gelak tawa dengan meneguk minuman di depannya lagi. Sungguh pemandangan yang membuatnya cukup terhibur.
Apa seperti ini, rasanya ketika berhubungan dengan wanita yang jauh lebih muda?
Batin Krisna ingin sekali tertawa saat melihat Isna yang dengan lucu mencoba untuk menghabiskan seluruh makanan di hadapannya.
“Buahnya juga, habiskan!” tambah Krisna masih mengulum bibir untuk menahan tawanya agar tidak terlepas.
“Heh?”
Isna menelan dengan susah payah makanan di dalam mulutnya sampai kedua bola matanya membulat sempurna saat tangan Krisna menyodorkan keranjang berisi buah-buahan ke arahnya. Dengan napas tercekat dan mulut penuh makanan, dia menatap polos ke arah Krisna yang malah memberinya gelak tawa. Sebenarnya Isna cukup geram, tapi lebih kesal lagi saat gadis itu beralih menatap Wisnu, ternyata keadaannya sama saja. Pria itu juga samar terdengar ikut menertawainya.
"Hei, Wisnu ... apa kau juga menertawaiku? Apa kau sudah bosan hidup nyaman!" batin Isna bersungut-sungut malu.
Isna menelan makanannya dan beralih mengambil gelas yang berisi air putih. Berbeda dengan yang ada di depan Krisna.
“Kenapa air punyaku berwarna bening?” tanya Isna menatap remeh ke arah Krisna.
“Kau masih di bawah umur untuk meminumnya,” jawab Krisna asal.
“Aku sudah dua puluh dua tahun," protes Isna mengepal jemari.
“Tunggu kau menikah dulu, baru kau boleh minum,” elak Krisna tidak mau membagi.
“Selain jahat, ternyata kau juga pelit,” ejek Isna meminum lagi air putihnya.
“Siapa yang menyuruhmu berbicara santai begitu padaku, hum?” protes Krisna mendapati Isna dari tadi memanggil dengan sapaan 'kau' padanya.
“Maaf. Ketika marah saya sering kehilangan akal,” jawab Isna menunduk dan kembali serius untuk menghabiskan makanannya.
Krisna menghela napas lalu menyandarkan bahunya pada sandaran kursi. Ia memandang Isna dengan pikiran aneh yang mulai berdesir di dalam hatinya.
“Cepat habiskan makananmu, aku akan menemanimu jalan-jalan!” perintah Krisna sambil melipat tangannya ke arah dada, ia masih saja betah menatap Isna.
“Apa Anda sudah salah minum obat?” tanya Isna melirik ke arah Krisna sambil meneguk minuman dan mengambil apel.
“Apa maksudnya? Kau mau kurang ajar lagi?” balas Krisna dengan wajah masam. Isna mengerucutkan bibir isyarat mencibir.
“Aku mau makan buah apel.” Isna pun memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
“Makan saja. Kenapa harus lapor,” sahut pria itu sedikit ketus.
“Tanganku.” Isna meringis, tangannya tergerak ke atas agar terlihat oleh Krisna. Tidak lupa ia mengerlingkan sebelah matanya dengan usil. "Aku tidak bisa mengupas sendiri, Tuan Krisna,” terang Isna memberi alasan masuk akal sambil memberi senyuman manis ke arah Krisna.
Krisna mendengus, ia pun menegakkan tubuhnya dengan melepaskan dekapan tangan di dadanya lalu segera mengambil pisau yang berada di dalam keranjang buay. Pria itu mengambil satu buah apel merah dari sana dan mengupasnya dengan trik yang membuat Isna terkesima.
“Wow! Ternyata Anda sangat keren, Tuan Krisna,” puji Isna dengan mata berbinar. Gadis itu bahkan mengacungkan dua jempolnya ke arah Krisna dengan senyuman yang lebar. Melihat ekspresi kepolosan yang ditunjukkan Isna, Krisna pun mau tidak mau akhirnya ikut tersenyum juga.
"Ck, tidak kusangka! Nona kecil itu memang jago mengerjai orang. Tuan Krisna, apa Anda tidak sadar kalau dia sedang mengerjai Anda?" batin Wisnu menahan tawanya dengan menundukkan kepala.
Sekilas, tampak Isna memberi tatapan mata mengerling usil ke arah Wisnu. Gadis itu mencibirnya ketika mereka beradu pandang. Isna menunjukan senyuman kemenangan yang jelas terlihat di wajah cantiknya.
****((((()))))****
Sementara itu, Di kantor Baratha Group.
Seno selesai memimpin rapat dan bersiap menuju mobil. Dia saat ini sudah ada di depan gedung kantornya. Hari sudah menunjuk pukul 07:49 malam, diliriknya para pengawal pribadinya menundukkan kepala hormat padanya hingga ponselnya berbunyi beberapa kali berhasil membuatnya mau mengecek benda itu.
“Tuan Seno, malam ini tuan Krisna memutuskan akan menginap di Villa,” ungkap pria dari seberang telpon, suara Wisnu.
“Ehm, baiklah. Pastikan saja tuan Krisna aman selama berada di sana.”
“Baik, Tuan.”
Sambungan telepon terputus dan Seno melanjutkan langkahnya mendekati mobil hingga sinar begitu menyilaukan datang menghujam pandangan matanya. Melihat kejadian itu, empat pengawalnya pun segera merangsek mendekati Seno yang masih diam berdiri. Mereka semua bersiap dengan bidikan senjata api di tangan.
Seno menutupi matanya dari pantulan cahaya yang berasal dari mobil yang datang dengan telapak tangannya. Dia masih terlihat tenang dengan posisi tubuh yang kokoh berdiri. Dia turunkan kembali tangannya ketika sinar mobil itu menurun dan mematikan lampu tepat di hadapannya.
Empat orang pria terlihat turun dari dalam mobil dan berjalan mendekat ke arah Seno. Semua pengawal Seno segera membuat formasi antisipasi serangan untuk melindungi Seno. Senjata api pun mengarah kepada empat orang yang bergerak maju ke arah mereka berlima.
Tampak jelas seringai dari bibir pria bertubuh tinggi sama dengan Seno, tetapi posturnya sedikit lebih gempal dengan raut wajah tegas dan garang dengan berkulit cokelat keemasan. Pria itu mendekat dengan langkah yang congkak.
“Senopati Arka!" panggil pria itu seraya tertawa dengan sorotan mata memicing tajam. Suaranya berat menampilkan kengerian bagi yang mendengar.
“Tony Darkson, Si Tua Bangka,” balas Seno membalas dengan senyuman menyeringai.
Mereka, kedua orang itu saling menatap penuh gengsi. Tidak ada yang mau mengalah sama sekali untuk berhenti beradu ketajaman mata.
“Baiklah, kali ini aku mengalah,” cetus Tony kemudian. Pria itu menunduk sambil terkekeh pelan.
“Ada perlu apa sampai kau berani menapakkan kaki ke kantor Baratha grup?” Seno memberi warna tidak suka dengan kedatangan Tony ke area bisnis Krisna.
Tony tergelak sambil memainkan pistol di tangannya dan mulai berjalan mendekat. Namun, pengawal Seno yang bertambah menjadi dua belas orang pun membuatnya mengurungkan niat dan berhenti dengan gerak kepala mengejek Seno. Seno masih bergeming dengan santai.
“Aku mau menjemput wanitaku. Jadi, aku minta izin padamu,” ucapnya kemudian sambil memiringkan kepala, pria itu mengulas senyuman misterius.
“Wanita mana yang kau maksud?” Seno berdecak, memutar kata-katanya.
“Wanita yang saat ini kalian sembunyikan!” jawab pria itu tegas. Raut wajahnya tampak menggelap.
“Maaf, silahkan kembali. Sebelum pengawalmu babak belur meregang nyawa di sini. Apa kemarin itu belum cukup untukmu?” jawab Seno masih santai memandang.
“Aku memang akan kembali karena ku akan menunggu gadis itu di rumah,” jawab pria itu kembali menyeringai.
Dengan tatapan mata yang menghujam, disertai tawanya yang membahana, Tony membalikkan badannya dan berjalan. Seno segera memutar otaknya, mencoba memahami seringai ancaman dari Tony.
“Aku mengirimkan anak buahku ke sana. Aku mendapatkan misi khusus dari mawar hitamku,” lontar Tony lagi sambil menoleh ke arah Seno yang masih berdiri di tempatnya, memandang diam pada Tony yang terkekeh.
“Aku memberi kejutan untukmu. Kalau aku tidak bisa membawanya, setidaknya aku akan merusak rencanamu,” ucapnya lagi sambil memicingkan mata dan berjalan ke arah mobilnya.
"Shitt!" Seno mengumpat kesal. Segera menyadari bahwa kedatangan Tony hanya untuk mengalihkan waktunya sejenak.
“Bawa semua pengawal andal ke Villa puri Indah sekarang! Nona Isna dan tuan Krisna dalam bahaya!” teriak Seno ke arah pengawal yang ada disampingnya.
"Baik, laksanakan!"
Semua pengawal segera bersiap dan memberi komando pada rekan satu tim berserta bawahannya. Mereka bergerak cepat.
Dada Seno naik turun menahan napas geram. Dia tidak menyangka, Tony akan senekat ini. Dia langkahkan kakinya ke arah mobil dengan ponsel menempel di telinganya, tetapi sayang tidak ada respon pada panggilannya.
“Sial! Wisnu kau di mana!” Dia mengumpat kesal sambil memasuki mobil. Seno pun segera memutar setir kemudi untuk meninggalkan area Baratha Grup.
Sesekali Seno mengedar pandangan ke arah jalanan dengan nada ponsel masih belum mendapat tanggapan.
“Ada apa?” tanyanya kemudian saat panggilan masuk ke ponselnya.
“Tuan, Lapor. Di dalam Casino Crown terjadi kerusuhan dan menyebabkan kebakaran,” lapor orang itu dengan nada tersengal.
“Urus itu! Aku akan ke sana!” teriak Seno semakin kesal.
Tony, kau benar-benar cari mati!
Seno memutar arah mobilnya dengan tiba-tiba hingga membuat kekacauan lalu-lintas di sekitarnya. Namun, dia tidak peduli dan memilih melanjutkan perjalanannya meskipun banyak umpatan yang dia terima dari pengemudi mobil lain.
"Tuan, saya harap Anda bisa menjaga diri Anda dan Nona dengan baik," batin Seno dengan tangan mencengkram setir dengan kuat.
*******
Hai Readers …
Jangan bosan membaca ya …
Berikan dukunganmu dengan ketik Like, Komen, Rate dan juga Vote biar aku tambah semangat.
Terima kasih ^_^
With Love ~ Syala Yaya