Alexandria Rigest tidak menyangka akan terjebak di antara baku tembak pendemo Sebagai jurnalis dia ingin mengupas tuntas sisi gelap prilaku oknum-oknum yang duduk di parlemen. Ketika terjadi demo serta baku tembak di salah satu gedung pemerintah, Alexa ikut terjaring. Dia sendiri diculik oleh beberapa orang yang berpakaian hitam- hitam dan disekap di ruangan bawah tanah. Alvaro Ady Mema, itu nama bos gangster yang menculiknya. Kehidupan Alexa di manipulasi dan Alexa menjadi budak nafsu Alvaro yang terkenal kejam tidak punya prikemanusiaan. Bisakah Alexa lepas dari cengkraman Alvaro? atau dia malah jatuh cinta kepada bos mafia itu?
****
Hallo readers yang selama ini sudah support aku, mampir ya...
jangan lupa kasi like, gift, vote dan favorit. Trimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANGISAN NYONYA FARIDA
Farida Ady Mema menginjakkan kaki nya di halaman rumah besar milik Alvaro. Wanita yang berumur 55 tahun itu, masih kelihatan awet muda dan sehat. Dia adalah Mama sambung Alvaro, karena mama kandung Alvaro sudah meninggal.
Farida menyayangi anak tirinya seperti layaknya ibu kandung. Dan dia juga merawat Ady Mema suaminya dengan telaten dan kasih sayang. Tidak ada alasan bagi Alvaro untuk membenci Farida, perintahnya selalu Alvaro turuti kalau masuk akal.
Sudah lama Farida tidak menjenguk anaknya. Inipun dia terpaksa datang karena calon besannya pak Alfredo mendesaknya supaya anak mereka segera dinikahkan.
Padahal Alvaro ogah menikah, apalagi Margareta, sangat benci pernikahan. Mereka berdua anak zaman sekarang yang suka hedon dan bebas. Baginya menikah, punya anak sangat merepot kan dan mengikat.
Sifat hedonis sangat lekat terlihat di keseharian Margareta. Maklumlah orang tuanya kaya raya, bersahabat baik dengan Papanya Alvaro. Keluarga Alvaro berhutang budi kepada Pak Alfredo.
Lima tahun yang lalu Pak Alfredo bertaruh nyawa membela Ady Mema. Waktu itu Ady Mema sedang jaya- jayanya. Usaha Ady Mema terdeteksi jual beli narkotika. Makanya Alvaro tidak mau main barang narkotika sekarang. Dia trauma melihat keadaan papanya ysng hampir terbunuh saat terjadi tembak menembak dengan polisi.
Waktu itu ketika terjadi penggrebegan, Pak Ady Mema berlari, akhirnya polisi menembak kaki Ady Mema, Alfredo yang ikut disitu, menembak mati Polisi itu. Peluru Polisi itu bersarang di kaki Ady Mema membuat satu kaki Ady mema lumpuh sampai sekarang.
Sebagai sahabat Alfredo membantu usaha Ady Mema yang sempat kolap, Akhir9nya perusahan kembali bangkit berkat campur tangan Pak Alfredo. Malah sekarang perusahan maju pesat dipegang oleh Alvaro.
"Selamat datang nyonya....." sambutan dari pelayan dan pengawal bergema serempak.
"Mama langsung ke ruang keluarga, sudah ada pelayan yang akan melayani Mama disana. Aku mau ke ruang kerja sebentar." kata Alvaro.
"Marchel antar nyonya..." perintah Alvaro kepada Marchel.
"Siap Tuan."
Sampai diruang keluarga sudah ada Maria, Viji dan kepala pelayan Ketty. Marchel keluar menuju dapur.
"Selamat datang nyonya, senang bisa bertemu dengan nyonya. Bagaimana khabarnya nyonya?" Maria menyambut Farida dengan ramah.
"Aku baik, kalian selama ini yang membantu Alvaro?" tanya Nyonya Farida duduk di sofa.
"Saya melayani beliau di tempat tidur, sedangkan Kitty adalah kepala pelayan dan Viji kerja di salon. Jika nyonya mau massage Viji yang menangani."
"Kalian kompak, aku senang melihatnya, semoga kalian bisa diajak kerja sama."
"Tapi kekacauan selalu ada semenjak ada tawanan baru yang bernama Alexa. Orangnya sombong, tidak peduli dengan kita-kita, dia maunya nempel terus sama Tuan." Maria mulai menghasut nyonya Farida.
"Anak dari gangster mana?"
"Dia orang miskin yang menjadi jurnalis dadakkan, membuat narasi tentang gembong mafia. Akhirnya Marchel marah dan menangkap wanita itu. Sampai disini dia terus melawan, Tuan, saya dan semua orang juga dimaki."
"Hebat sekali, dimana anak itu?"
"Nyonya bagaimana kalau saya pijitin kaki nyonya, mumpung disini ada Viji yang biasa massage." Maria berusaha mengalihkan perhatian nyonya Farida. Ngeri juga kalau Alexa datang terus membongkar kebobrokan mereka.
"Saya juga sudah siapin Nyonya makan kesukaan nyonya, kerang abalon dan sambal toro-toro." timpal Kitty mencari perhatian juga.
Sebagai kepala pelayan dia ingin juga disayang oleh Alvaro. Jangankan disayang di toleh pun tidak. Paling dia di pakai oleh pengawal yang iseng.
"Suruh Marchel dan Alvaro kesini, sudah tahu mamanya datang malah hilang." perintah nyonya Farida sambil mengepulkan asap rokoknya.
"Siap Nyonya.."
Mereka keluar bertiga takut kena semprot nyonya Farida yang judes.
"Pengawal panggil Marchel dan Tuan, Nyonya yang suruh." perintah Maria kepada kedua pengawal yang berada di depan pintu.
"Siap nona."
Mereka berdiri bertiga menunggu perintah dari Nyonya atau Tuan Alvaro. Maria bertahan demi tetap disayang Alvaro.
Alvaro dan Marchel akhirnya datang juga, dia tidak menoleh kepada tiga wanita yang berdiri mencari perhatian.
"Hallo Mama, ada apa memanggilku."
"Alfaro, mana gadis pengacau itu. Bukannya kalian langsung bunuh, malah dibiarkan berkeliaran disini menjadi pengacau." nyonya Farida langsung marah. Maria yang mendengar dari luar sangat senang, ternyata nyonya Farida terhasut.
"Siapa maksud Mama? Tidak ada pengacau, semua baik-baik saja." pungkas Alvaro heran.
"Marchel, apa kau ikut bohong. Berapa kau digaji oleh Alvaro, sehingga berani melawan perintahku." ketus suara Nyonya Farida.
"Saya tidak mengerti siapa maksud nyonya."
"ALEXA!!, bunuh dia karena Maria dan yang lainnya sudah berani dia maki- maki. Manusia seperti Alexa harus di lenyapkan, supaya jangan sok pintar dan sombong disini."
"Tapi Mama, dia tawananku. Jangan percaya kepada pelayanku." protes Alvaro kesel.
Siapa yang membuat ulah mengadu yang tidak-tidak. Baru tadi pagi dia membunuh Mika, gara-gara Maria mengadu bahwa Mika menjadi wanita pengganti Alexa. Tidak mungkin dia sekarang bunuh Alexa, belum juga dia cicipi. Alvaro tetap kukuh tidak mau mencari Alexa.
"Alvaro, apa istimewanya wanita itu sehingga kau membelanya. Marchel seret wanita itu kesini."
Mendengar Nyonya marah-marah terhadap Alvaro dan Marchel, Maria sangat senang. Dia cepat berlari ke ruang kerja Alvaro dan mencari Alexa.
"Alexa keluar dipanggil Alvaro." teriak Maria. Dia belum pernah ke ruangan kerja ini, jadi dia tidak tahu keberadaan Alexa.
Tiba-tiba Alexa sudah berdiri di belakangnya. Perasaan Alexa tidak enak. Tadi dia berantem dengan Alvaro, gara-gara Alvaro keceplosan mengatakan telah membunuh Mika. Belum selesai pertengkarannya Alvaro keburu di panggil Mamanya.
"Ada apa Maria?" sinis suara Alexa, ntah kenapa dia prontal kepada Maria.
"Cepat menghadap Nyonya, semua sudah tahu kebusukanmu, yang berani memakai pengganti saat melayani Tuan."
"Jadi kau yang mengadu kepada Tuan sehingga Mika dibunuh?" tanya Alexa geram. Dia tidak mengerti kenapa Maria senang sekali melihat teman mati. Dasar iblis!!.
"Kau tahu betapa besar peran ku disini. Aku gampang menghilangkan nyawamu."
"Aku tidak takut dengan iblis seperti kau." ketus Alexa.
"Kalau kau berani hadapi Nyonya Farida dan Alvaro."
"Aku tidak takut!!" Alexa berjalan keluar menuju ruang keluarga. Semua pelayan dan pengawal bersiap karena mendengar ribut-ribut. Apalagi yang ribut Nyonya besar. Mereka sudah tahu kalau ada ribut, akan ada orang terbunuh.
Maria tertawa senang. Dia bangga kepada kepintarannya mengambil peluang demi ambisinya. Perlahan dia keluar mengikuti Alexa yang bodoh. Hatinya bersorak melihat Alexa yang tidak lama lagi pasti ditembak.
"Permisi, ada yang mencariku?" suara merdu Alexa membuat semua menoleh ke ambang pintu. Semua kaget, dan terpana melihat Alexa yang sangat berani menghadap.
"Alexa kenapa keluar!!" seru Alvaro dan Marchel bersamaan.
"Maria menjemputku, katanya Nyonya besar memanggilku." kata Alexa sinis.
"Alexa...." suara Nyonya Farida tersekat. Tapi dia cepat menenangkan dirinya.
"Silahkan duduk Alexa, kau mau minum apa?"
"Aku disini tawanan Nyonya, jika tidak ada yang penting aku akan kembali ke kamar."
"Aku adalah Mamanya Alvaro, kamu harus tahu itu, tidak lama lagi Alvaro akan menikah dengan Margareta kekasihnya. Aku harap kau mengerti."
"Maksudmu apa nyonya, aku tidak peduli dia menikah dengan siapa, dan untuk apa. Karena aku tidak level dengan anakmu."
"Aku hanya mengingatkanmu saja supaya kau tidak merusak hubungan mereka."
"Nyonya Ida, aku korban broken home, saat lapar mengais makanan di sampah, karena aku anak yatim piatu. Aku sudah terbiasa melarat dan lapar, jadi jika kau mau menembak aku, silahkan. Aku tidak kasihan kepada jiwaku. Cepat atau lambat aku pasti mati."
"Alexa, maafkan aku..." air mata nyonya Farida bergulir jatuh. Alvaro dan Marchel heran melihat itu.
"Nyonya Ida, kau tidak usah terharu atau sedih mendengar omonganku, itu masalah kecil. Aku menjadi besar dan berpendidikan karena kebaikan orang di sekitarku."
Nyonya Farida tambah menangis mendengar kisah Alexa, dan tidak bisa berkata-kata. Alexa akhirnya keluar tanpa menunggu persetujuan mereka.
"Maaf Nyonya saya mau istirahat dulu." kata Alexa keluar. Dia melewatì Alvaro dan Marchel yang bengong melihat Alexa pergi.
****