Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Lampu remang-remang di sebuah bar eksklusif di sudut Jakarta Pusat menjadi saksi bisu pertemuan dua pria yang dipenuhi dendam.
Asap cerutu mahal mengepul di udara, berbaur dengan aroma alkohol yang menyengat.
Dimas menyesap wiskinya, matanya berkilat licik saat menatap Pak Handoko yang tampak masih emosional setelah pengusiran dari rumah keluarga Surya.
"Baskara memang sombong, Pak Handoko," hasut Dimas dengan nada suara yang rendah namun provokatif.
"Dia pikir dia bisa mengabaikan Bella dan harga diri Anda hanya demi wanita itu. Tanpa modal Anda, Grand Mahameru memang bisa goyah, tapi Baskara masih punya nama besar. Kecuali, wanita yang menjadi sumber kekuatannya itu hilang."
Pak Handoko mengepalkan tangannya di atas meja kayu ek.
"Dia menghina putriku. Dia pikir wanita itu lebih berharga daripada stabilitas bisnis kami?"
Dimas mencondongkan tubuhnya, suaranya kian licin.
"Swari adalah titik lemahnya. Kalau Swari tidak ada di sisinya besok pagi saat operasi, Baskara akan hancur. Dia tidak akan fokus pada bisnis, dan saat itulah Anda bisa masuk untuk mengambil alih segalanya."
Pak Handoko terdiam sejenak, menimbang risiko. Namun, bayangan wajah Bella yang menangis histeris tadi sore membuatnya kehilangan akal sehat.
Ia mengangguk pelan, sebuah tanda kesepakatan yang mematikan.
"Baskara harus belajar bahwa tidak ada orang yang bisa menginjak-injak Handoko dan melenggang pergi begitu saja," desis Pak Handoko.
Ia segera merogoh ponselnya dari saku jas. Dengan jemari yang dingin, ia menghubungi kepala keamanan pribadinya.
"Halo. Pergi ke Rumah Sakit tempat Swari dirawat sekarang. Lakukan dengan bersih saat jam pergantian jaga perawat. Aku mau wanita itu hilang sebelum matahari terbit besok. Jangan biarkan Baskara tahu siapa pelakunya," perintah Pak Handoko dengan nada tanpa ampun.
Dimas tersenyum puas di balik gelas wiskinya. Ia tahu bahwa rencananya untuk merebut kembali Swari kini mendapatkan bantuan dari tangan yang jauh lebih kuat.
Sementara itu di rumah sakit, Baskara baru saja terlelap di sofa sempit di samping ranjang Swari, tangannya masih menggenggam jemari Swari dengan erat.
Ia tidak menyadari bahwa di luar sana, beberapa bayangan hitam mulai bergerak menuju lantai VIP, mengintai keamanan yang mulai lengah.
Suasana sunyi di lantai VIP rumah sakit itu mendadak mencekam saat jarum jam menunjukkan pukul dua pagi.
Dua pria berpakaian serba hitam bergerak lincah, melumpuhkan penjaga di lorong dengan gas pelumpuh sebelum menyelinap masuk ke kamar Swari.
Baskara yang kelelahan setelah berhari-hari berjaga, jatuh tertidur sangat dalam di sofa.
Efek stres dan kelelahan membuatnya tidak menyadari gerakan halus di samping ranjang.
"Sssst... diam!" bisik salah satu penculik sambil menekan kain berisi kloroform ke hidung dan mulut Swari.
"MMMMPPHH!"
Mata Swari membelalak lebar dalam kegelapan. Ia mencoba meronta, tangannya yang terinfus menggapai-gapai ke arah sofa tempat Baskara berada.
Ia ingin meneriakkan nama pria itu, ingin membangunkan pelindungnya, namun zat bius itu terlalu kuat.
Hanya dalam hitungan detik, tubuh Swari yang memang sudah lemah pasca serangan infeksi itu lunglai sepenuhnya.
Dengan sigap, mereka mencabut paksa selang infus Swari hingga darah segar menetes di lantai, lalu menggotongnya keluar menuju lift barang yang sudah disabotase.
Beberapa menit kemudian, di sebuah gudang tua yang tersembunyi di pinggiran kota, sebuah mobil van hitam berhenti dengan decit ban yang kasar.
Dimas sudah berdiri di sana, menunggu dengan senyum kemenangan yang menjijikkan.
Saat pintu van terbuka dan memperlihatkan sosok Swari yang terkulai lemas dalam balutan baju rumah sakit, mata Dimas berkilat penuh obsesi.
Ia melangkah mendekat, lalu duduk di samping tubuh Swari yang diletakkan di atas sebuah dipan tua.
Dengan ujung jarinya yang dingin, Dimas membelai rambut Swari yang berantakan, menyelipkan helaiannya ke belakang telinga.
"Akhirnya kita kembali bersama, 'Adik Kecil'," bisik Dimas dengan nada yang membuat bulu kuduk meremang.
"Baskara mungkin punya uang, tapi aku punya kamu sekarang. Besok pagi, saat dia mencarimu untuk operasi, dia hanya akan menemukan tempat tidur kosong dan hancur berkeping-keping."
Dimas menghirup aroma rambut Swari dengan dalam.
"Siapa yang akan menyangka, Pak Handoko yang terhormat mau membantuku membawamu kembali ke pelukanku."
Baskara tersentak bangun saat mendengar suara monitor jantung yang berbunyi tit... tit... tit... panjang karena kabel sensornya terputus.
Ia melompat dari sofa, matanya menyapu ranjang yang kosong dan bercak darah di lantai.
"SWARI!!!" teriakan Baskara menggelegar, meruntuhkan keheningan rumah sakit.
Gandi menerjang masuk ke dalam kamar setelah mendengar teriakan Baskara.
Matanya langsung tertuju pada ranjang yang kosong dengan sprei yang berantakan dan tetesan darah segar dari selang infus yang tercabut paksa.
Baskara berdiri mematung di tengah ruangan. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang meledak-ledak.
Ia mencengkeram erat kedua tangannya hingga buku-bukunya memutih dan kuku-kukunya hampir menembus kulit telapak tangannya sendiri.
Aura di sekitar Baskara mendadak menjadi sangat dingin dan mematikan.
"Gandi! Yudha!" suara Baskara rendah namun penuh penekanan yang mengerikan.
"Kerahkan seluruh unit keamanan BSG. Tutup semua akses keluar kota. Hubungi kapolda sekarang juga! Aku ingin setiap jengkal tanah di Jakarta ini diperiksa. Jika sampai rambut calon istriku hilang satu helai saja karena keteledoran kalian... kalian tahu apa akibatnya!"
"Baik, Tuan! Kami sudah mulai melacak rekaman CCTV lift barang!" jawab Gandi sigap sebelum berlari keluar.
Baskara memukul dinding rumah sakit hingga tangannya berdarah.
"Siapa pun yang melakukannya, aku akan memastikan mereka memohon untuk mati di tanganku!"
Sementara itu di gudang tua Swari perlahan membuka matanya.
Pandangannya kabur, dan hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang luar biasa hebat dari dada kirinya.
Tumor yang meradang itu seolah meledak karena pengaruh obat bius yang keras dan posisi tidurnya yang tidak nyaman.
"Sssshhh... akh!" rintih Swari, mencoba memegang dadanya yang nyeri.
"Sudah bangun, Sayang?" suara Dimas terdengar sangat dekat.
Swari tersentak. Ia melihat Dimas duduk di kursi di depannya, menatapnya dengan tatapan lapar.
Kesadarannya kembali pulih sepenuhnya saat ia menyadari ia berada di sebuah tempat yang kotor dan dingin.
"Mas Dimas? Kamu gila!" desis Swari.
Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya sangat lemah.
"Aku memang gila karena kamu, Swari," jawab Dimas sambil melangkah mendekat.
Ia mencoba menyentuh pipi Swari, namun dengan sisa kekuatannya, Swari menepis tangan itu dengan kasar.
"Jangan sentuh aku! Baskara akan membunuhmu kalau dia tahu!"
"Baskara tidak tahu apa-apa, Swa. Saat ini dia pasti sedang menangis seperti pecundang di rumah sakit," Dimas mencengkeram rahang Swari, memaksanya menatap mata obsesifnya.
"Setelah ini, kita akan pergi jauh. Kamu, aku, dan anak-anak itu—walaupun sebenarnya aku ingin membuang anak haram itu ke panti asuhan."
Mendengar kata "anak haram", amarah Swari memuncak.
Meskipun dadanya terasa seperti ditusuk-tusuk besi panas, ia berhasil meludahi wajah Dimas.
"Mereka bukan anak haram! Mereka anak Baskara Surya! Dan kamu hanyalah sampah yang tidak akan pernah bisa memilikiku!"
Dimas mengusap ludah di wajahnya dengan kemarahan yang meluap.
Ia mengangkat tangannya, hendak menampar Swari yang sedang sakit.
"Beraninya kamu—"
"Lakukan saja!" tantang Swari dengan napas tersengal.
"Bunuh aku sekarang. Karena itu lebih baik daripada harus melihat wajahmu yang menjijikkan!"
Tepat saat itu, ponsel Dimas bergetar. Sebuah pesan dari Pak Handoko masuk:
"Baskara sudah mulai melacak. Cepat pindahkan dia ke lokasi kedua!"
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor