Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Minggu pagi seharusnya menjadi waktu suci bagi Mori. Waktu di mana dia bisa tenggelam di balik selimut, membaca buku tanpa gangguan bel sekolah, dan terbebas dari pemandangan wajah Lian yang menyebalkan. Namun, takdir berkata lain saat Mamanya, Bu Sarah, tiba-tiba masuk ke kamar dengan semangat empat lima.
"Mori, ayo bangun! Temenin Mama ke mall. Ada diskon peralatan dapur, terus Mama juga mau cari kado buat tante kamu," ujar Mama sambil menarik gorden kamar.
Mori mengerang, menutupi wajahnya dengan bantal. "Ma... hari ini kan hari istirahat sedunia buat Mori."
"Nggak ada istirahat-istirahat! Kamu udah seminggu di sekolah terus, kurang jalan-jalan. Cepet mandi, sepuluh menit Mama tunggu di mobil!"
Dengan langkah gontai dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Mori akhirnya pasrah. Dia hanya mengenakan oversized t-shirt putih, celana kulot jeans, dan rambut yang dicepol asal. Tanpa makeup, hanya sedikit lipbalm. Dia pikir, toh cuma ke mall, nggak bakal ketemu siapa-siapa yang harus gue impresi.
Namun, Mori lupa satu hukum alam: saat lo tampil paling gembel, di situlah lo bakal ketemu orang yang paling nggak ingin lo temuin.
Setelah dua jam menemani Mama keliling rak piring dan panci, mereka akhirnya berhenti di sebuah gerai sepatu olahraga. Mama ingin mencari sepatu jalan yang empuk. Mori duduk di bangku tunggu, sibuk menatap ponselnya dengan ekspresi bosan.
"Mori, yang ini bagus nggak?" tanya Mama sambil mengangkat sebuah sepatu lari warna pink terang.
Belum sempat Mori menjawab, sebuah suara yang sangat ia kenal—suara yang biasanya ingin ia blokir dari pendengaran—terdengar tepat di belakangnya.
"Warna itu bagus, Tante. Tapi kalau buat jalan lama, yang solnya lebih tebal ini jauh lebih nyaman di kaki."
Mori membeku. Kepalanya perlahan menoleh, dan benar saja... di sana berdiri Lian. Cowok itu terlihat sangat berbeda dari biasanya. Dia mengenakan kaos polo hitam yang rapi, celana pendek chino, dan rambut yang ditata sangat klimis. Nggak ada jari tengah, nggak ada gaya tengil lapangan basket.
Lian sedang tersenyum—senyum yang sangat, sangat manis. Tipe senyum "menantu idaman" yang bikin para ibu langsung luluh.
"Eh? Kamu temannya Mori ya?" tanya Mama Mori, matanya langsung berbinar melihat cowok setampan Lian.
Lian mengangguk sopan, bahkan dia sedikit membungkuk. "Iya, Tante. Saya Lian, teman sekelas Mori. Tadi nggak sengaja liat Mori duduk di sini, jadi saya mampir buat sapa."
Mori berdiri dengan muka datar, tangannya bersedekap. "Nggak usah sok tau soal sepatu deh. Ma, ayo cari di toko lain aja."
"Lho, Mori! Kok gitu sama temennya? Nak Lian ini pinter lho, dia bener, yang ini solnya lebih empuk," bela Mama. Beliau lalu menatap Lian dengan antusias. "Kamu ke sini sama siapa, Nak Lian?"
"Sama Mama juga, Tante. Tapi Mama lagi di toko sebelah. Saya tadi liat ada cewek cantik lagi bingung pilih sepatu, ternyata Mamanya Mori. Pantesan Morinya cantik, Mamanya aja kayak masih umur tiga puluhan," puji Lian tanpa berkedip.
Mori ingin muntah di tempat. Gila, ini orang red flag-nya udah level dewa. Pinter banget cari muka!
Sialnya, keramahtamahan Mama Mori tidak berhenti di situ. Entah apa yang merasuki Bu Sarah, beliau malah mengajak Lian untuk makan siang bareng di food court. Dan yang lebih gila lagi, Lian langsung mengiyakan tanpa ragu.
"Wah, kebetulan banget Tante. Saya juga lagi laper. Maaf ya Mori, gue jadi ganggu waktu family time lo," kata Lian sambil melirik Mori dengan tatapan mengejek yang terselubung di balik wajah polosnya.
Di meja makan, Mori benar-benar menjadi "obat nyamuk" paling cuek sedunia. Dia sibuk mengaduk jus jeruknya tanpa selera, sementara Lian dan Mamanya asik mengobrol seolah sudah kenal sepuluh tahun.
"Lian ini di sekolah gimana, Nak? Mori sering cerita tentang kamu nggak?" tanya Mama sambil menyuap mi ayamnya.
Lian melirik Mori yang sedang menatap ke arah lain. "Mori sih orangnya pendiam banget, Tante. Tapi dia pinter. Saya sering minta diajarin Kimia sama dia. Meskipun kadang dia galak, tapi saya tau dia aslinya baik banget."
Mori langsung menoleh, matanya melotot. "Kapan gue ajarin lo Kimia? Yang ada lo yang ngerusak tabung reaksi gue!"
Mama Mori tertawa. "Tuh kan, Lian. Mori kalau udah digoda emang suka sensi. Kamu yang sabar ya temenan sama dia."
Lian tersenyum penuh kemenangan. Dia menggeser piring kecil berisi siomay ke hadapan Mori. "Dimakan, Mor. Tadi kata lo laper pas di toko sepatu. Nanti sakit maag lho."
"Gue nggak bilang laper," desis Mori pelan agar tidak terdengar Mamanya. "Dan jangan sok perhatian. Gue tau lo cuma mau cari muka depan Nyokap gue."
Lian mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Mori saat Mama sedang sibuk menerima telepon. "Emang. Dan kayaknya gue berhasil, kan? Nyokap lo lebih suka sama gue daripada lo sekarang."
Mori hanya membalas dengan tatapan "ingin membunuh". Dia bener-bener heran, kok ada manusia sesempurna ini dalam memalsukan kepribadian. Tadi di lapangan basket dia ngacungin jari tengah, sekarang di depan orang tua dia kayak malaikat tanpa sayap.
Setelah selesai makan, Lian bahkan bersikeras membawakan belanjaan Mama Mori sampai ke parkiran.
"Makasih banyak ya, Lian. Kapan-kapan main ke rumah ya, Tante masakin rendang," ujar Mama Mori sambil masuk ke mobil.
"Siap, Tante! Nanti saya tagih janji rendangnya," jawab Lian sopan.
Begitu Mama masuk ke mobil dan menutup pintu, wajah "malaikat" Lian langsung berubah kembali menjadi Lian sang playboy tengil. Dia bersandar di pintu mobil Mori, menghalangi Mori yang mau masuk.
"Gimana, Mor? Hari Minggu lo jadi makin seru kan ketemu gue?" tanya Lian sambil menaikkan sebelah alisnya.
Mori menatapnya dingin. Dia mendekat ke arah Lian, bikin Lian sempat mengira Mori bakal melakukan sesuatu yang romantis. Tapi Mori justru membisikkan sesuatu di telinganya dengan nada yang bikin merinding.
"Lian, denger ya. Lo boleh tipu seluruh dunia pake muka manis lo itu. Lo boleh bikin Nyokap gue suka sama lo. Tapi buat gue, lo tetep cowok yang dicium Alina di lapangan kemarin. Bau sampah yang ditutupin parfum mahal itu tetep bau sampah. Minggir."
Mori mendorong bahu Lian dengan kasar dan masuk ke dalam mobil, membanting pintunya keras-keras.
Lian berdiri di parkiran, melihat mobil Mori yang menjauh. Dia menyentuh bahunya yang tadi didorong Mori. Bukannya marah, dia justru tertawa kecil.
"Bau sampah, ya?" Lian bergumam. "Oke, Mori. Gue bakal liat berapa lama lagi lo bisa nahan diri buat nggak terbiasa sama 'bau sampah' ini."
Di dalam mobil, Mama Mori nggak berhenti memuji Lian. "Duh, Mori. Temen kamu itu sopan banget ya. Ganteng lagi. Kamu kok judes banget sih sama dia?"
Mori memasang earphone-nya kencang-kencang. Dia nggak mau dengar satu kata pun tentang Lian lagi. Di kepalanya, dia sudah menyusun rencana: besok di sekolah, dia harus benar-benar membuat batasan yang lebih tinggi. Karena ternyata, Lian jauh lebih berbahaya kalau sudah berani mendekati keluarganya.
Radar Mori sekarang nggak cuma berbunyi, tapi sudah berteriak: DEFCON 1. BAHAYA TOTAL.
?