Pernikahan yang awalnya didasari rasa saling cinta, harus berakhir karena sang istri yang tak kunjung hamil selama 3 tahun pernikahan.
Benarkah sang istri yang mandul?
Setelah itu mantan suami masih datang mengganggu saat mantan istri membuka hati pada pria lain. Siapakah yang akan dia pilih?
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binti Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Telat (lagi)
****
Setelah dokter Andreas pergi Yulia minta izin pada ibunya untuk menebus obat.
Ya Alloh, alamat telat lagi aku. Udah jam segini. Gini amat ya hidup gue! Keluh Yulia.
Astaghfirullahaladzim!
Sambil berjalan Yulia mengelus dada. Untung apotik tak jauh dari rumahnya.
"Alhamdulillah, ternyata obatnya tak mahal mahal amat. Aku udah deg degan tadi!" ucap Yulia bermonolog sambil mengamati kresek transparan kecil yang berisi obat resep dari dokter Andreas untuk ibunya.
Andai aja aku dulu milih dokter Andreas, mungkin hidupku gak akan begini.
"Astaghfirullahaladzim." lagi lagi Yulia berucap istighfar. Pikirannya melayang layang kemana mana. Ngehalu tak jelas.
Yulia terus berjalan cepat, ia belum sempat mandi dan peluh sudah membanjiri punggung dan dahinya. Rasanya ia saat ini telah sport lari puluhan kilometer.
"Buu!" panggil Yulia sambil membuka pintu kamar sang ibu. Lalu mengambil salah satu obat berbentuk sirup.
"Ini diminum dulu, Bu! tiga puluh menit sebelum makan. Buat meredakan rasa mual ibu." diminumkannya obat itu pada ibunya. Semriwing. Enak di tenggorokan dan di lambung.
"Bu, tadi aku belikan sekalian buat sarapan. Kalau Yulia kerja, ibu istirahat di kamar aja ya? nanti waktu istirahat Yulia tengok ibu." tawar Yulia. Ia harus kerja.
"Iya, Yul. Kamu kerja aja. Gak usah khawatirkan ibu. Letakkan dimeja saja yang buat sarapan ibu. Nanti ibu ambil sendiri. " Ibu begitu pengertian. Ia tahu anaknya sangat membutuhkan pekerjaan dan untuk Yulia yang gak pernah kuliah akan sangat sulit mendapatkan pekerjaan.
Yulia segera berkemas, mandi lalu berangkat kerja. Sudah telat sepuluh menit.
"Bu, Yulia berangkat dulu. Assalamu'alaikum!"
"Waalaikum salam."
Tak sempat sarapan, hanya minum air putih. Wusshhhh! Yulia berjalan dengan cepat. Harusnya ia sampai dalam lima belas menit. Namun ia hanya membutuhkan waktu sembilan menit untuk berjalan dari rumahnya sampai swalayan.
"Maaf, mbak Fani. Aku telat lagi."
Ucap Yulia terengah engah.
Jedarrr!
Ia tak menyadari si bos sedang jongkok entah mencari apa diruang kasir. Dan saat si bos berdiri, Yulia seperti maling yang ketangkap basah sedang nyolong jemuran. Apalagi mata elang lelaki itu menatapnya tajam lalu melirik jam dinding.
"Kamu telat dua puluh menit." ucapnya dingin tanpa ekspresi.
"Iya, Pak! Maaf. Ibu saya sakit, jadi saya harus merawatnya dulu!" Harus segera diberitahu alasannya telat.
Siapa tahu gak jadi marah dan gak kena sangsi.
"Memang yang serumah sama kamu gak ada ya, Yul?" tanya mbak Fani. Untung pembeli masih sepi. Masih memilih milih mengisi keranjang dorongnya dan belum ada yang ke meja kasir. Yulia menggeleng.
"Terus kamu tinggal kerja siapa yang nemenin ibu kamu?" tanya mbak Fani lagi. Ah, Andai bosnya adalah mbak Fani. Karyawan pasti enjoy.
" Ibu cuman sama aku mbak. Aku sudah siapin buat sarapan sama obatnya, tinggal ambil. Terus tadi aku juga bilang sama ibu, gak boleh kemana mana. Biar cepat sembuh."
"Nanti waktu istirahat saya pulang ya, Pak!" beralih ke bos jutek Romi.
"Mau nengok ibu saya!" lebih baik minta izin sedari awal.
"Hmmm!"
Mbak Fani tersenyum dengan jawaban si bos yang sambil berlalu keluar ruangan kasir. Ekor mata Yulia mengikuti kearah si bos pergi.
Jawab iya atau tidak aja bisa gak sih? Sakit gigi ya kamu bos?Yulia.
"Iya, Yulia. Kamu boleh pulang." seperti tahu apa yang di batin Yulia, mbak Fani memberi jawaban jelas.
"Gak usah khawatir, si bos gak bakal marah kalau mengenai ibu. Ia begitu sayang sama ibunya, jadi ia akan marah jika ada orang yang menyia nyiakan ibunya." terang mbak Fani yang membuat Yulia mengangguk paham dan ber-oh ria.
"Ya udah kamu kerja sana. Nanti si bos balik kamu di bentak lagi!" Yulia mengangguk dan mengucap terimakasih.
Entah mengapa hari ini Yulia sulit sekali konsentrasi. Ia terus teringat ibunya di rumah. Apakah ibunya baik baik saja, sudah minum obatnya apa belum? Ia melihat jam dinding.
10.34
Karena sedang sepi, Ia lalu pergi ke tempat dimana tasnya berada. Tas ia letakkan ditempat khusus barang barang karyawan.
"Risma, aku telpon ibuku sebentar ya?" pamitnya pada teman sesama karyawan. Risma mengangguk.
"Assalamu'alaikum, Bu! Gimana keadaan ibu?" setelah dua kali panggilan, baru ibu menjawab telponnya.
"Ibu tidur Yul, gak dengar telpon kamu. Mungkin pengaruh obatnya." Yulia lega bisa mendengar suara ibunya.
"Maaf ya Bu! Ibu sakit tapi malah Yulia tinggal kerja! Gimana lagi, Yulia butuh kerjaan. Kita gak bisa bergantung sama siapapun ibu! Gak ada yang bisa kita mintai biaya. Ibu juga harus banyak istirahat. Agar cepat pulih."
Terjeda sejenak perkataan Yulia. Mendengarkan perkataan di seberang telpon.
"Iya, Bu. Yulia bakal jaga kesehatan. Ibu gak usah kuatir. Ibu gak usah berpikir yang macam macam. Ya udah Bu, Yulia kerja lagi ya! Assalamu'alaikum."
Telpon telah diakhiri. Yulia lega mendengar suara ibunya. Saat ia mau keluar ruangan, tiba tiba perutnya bunyi.
Kruuuk kruuuk!
"Aduh nih cacing pada berontak. Gak bisa diajak kerjasama. Gak sempat sarapan juga tadi. Masih dua jam lagi cacing. Diem dulu napa!" keluh Yulia memegangi perutnya. Dan beranjak keluar ruangan. Ia tak menyadari seseorang berdiri di balik tembok mendengat percakapan dengan sang ibu dan keluhannya tadi. Ia berjalan cepat menuju tempat semula.
"Gimana keadaan ibumu, Yul?" tanya Risma sambil menyusun shampo botol di rak.
"Alhamdulillah, sedang istirahat. Aku tadi mikir dan kuatir ibu lupa minum obat, ternyata tidak. Tapi nanti jam istirahat aku pulang. Mau nengok ibu dulu. Kasihan cuman sendiri di rumah.
"Memang kamu gak punya saudara yang bisa kamu mintai tolong jaga ibumu Yul?" tua mendesah.
"Aku punya kakak laki laki, udah berkeluarga punya anak satu. Keadaannya gak beda jauh dari aku Ris, hidup pas pasan. Anaknya sekolah, gak tega aku ngerecokinnya. Mana ibu gak begitu dekat sama menantu sendiri." curhat sekaligus keluhan Yulia sampaikan pada Risma. Namun tak lama kemudian ia beristighfar kali ketiga hari ini.
" Astaghfirullahaladzim."
"Ada apa Yul?"
"Ehehe, gak apa apa Ris, aku cuma gak habis pikir, sehari ini kerjaku ngeluh mulu. Mungkin itu makanya nikmatku hari ini berkurang. Kan disebut juga dalam Kitab suci, kalau kita pandai bersyukur, maka nikmat kita akan terus bertambah berkali lipat. Tapi kalau kita mengkufuri nikmat, maka adzab yang pedih yang menanti kita." urai panjang lebar Yulia.
"Oooh, kirain apaan. Iya Ustadzah. Aku juga lagi banyak bersyukur nih, suami aku sekarang punya kerjaan tetap. Gak serabutan lagi. Yah, meskipun penghasilan gak seberapa, perlu disyukuri juga kan itu? Alhamdulillah. " Yulia mengangguk paham.
"Kamu beruntung Risma, suami kamu sayang, walaupun penghasilan tak berapa. Itu lebih membahagiakan daripada punya penghasilan besar, tapi kurang kasih sayang sama keluarga. Kamu patut bersyukur." nasehat Yulia pada temannya. Teringat dirinya sendiri. Wahyu tak ada kurang dalam hal keuangan. Tapi kasih sayang dan cinta yang malah hilang.
Mereka lalu terdiam sambil meneruskan bekerja. Hingga sebuah suara cempreng anak kecil memanggil Yulia.
"Tante Yulia!"
\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung....
Jangan lupa tinggalin jejak kawan. Komen, **like dan Giftnya yah,,. Mawar yang harum, atau kopi yang manis semanis authornya. Hehehe.
Reader: Week! berasa mau muntah aku Thor. Denger narsis kamu.... Anak siapa sih?
Author: Anaknya yang ngelahirin lah...siapa lagi**...
kok beda lagi?