Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Hotel Bintang Lima Diamond Nusantara malam ini benderang bagaikan istana dari negeri dongeng. Ratusan mobil mewah terparkir berjejer di halaman depan, menurunkan para tamu undangan yang terdiri dari jajaran elit bisnis, pejabat tinggi, dan tokoh-tokoh paling berpengaruh di seluruh ibukota.
Di dalam ballroom utama, lampu kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang memantul di atas lantai pualam. Alunan musik klasik dari orkestra profesional mengiringi obrolan para tamu yang saling berbisik sambil memegang segelas sampanye.
Topik utama mereka malam ini hanya satu: Kebenaran di balik kesembuhan Clara Herman dan sosok tabib misterius yang meruntuhkan Serigala Malam.
Tiba-tiba, alunan musik mereda. Pintu ganda kayu mahoni setinggi tiga meter di ujung ruangan terbuka perlahan.
Suasana ballroom seketika hening. Ratusan pasang mata menoleh secara serempak.
Di ambang pintu, Pak Herman melangkah masuk dengan senyum penuh wibawa. Namun, perhatian semua orang langsung tertuju pada dua sosok pemuda pemudi yang berjalan berdampingan tepat di belakang sang miliarder.
Clara tampil sangat memukau. Gaun merah marun berlapis sutra yang memeluk lekuk tubuhnya bergerak anggun seiring langkahnya. Wajahnya yang dulu selalu pucat pasi kini berseri-seri penuh rona kehidupan. Kecantikannya yang mekar sempurna membuat para pemuda pewaris perusahaan di ruangan itu menahan nafas.
Namun, kejutan terbesar justru datang dari pria yang lengannya sedang digandeng erat oleh Clara.
Bima berjalan dengan postur tegap yang memancarkan dominasi mutlak. Setelan jas hitam bespoke dengan potongan sempurna membalut tubuh atletisnya. Rambutnya disisir rapi namun menyisakan sedikit kesan liar. Sorot matanya setajam elang, menyapu seluruh ruangan dengan ketenangan seorang raja yang sedang menginspeksi wilayahnya.
Tidak ada sedikit pun jejak "pemuda udik" dari desa. Bima terlihat seratus kali lebih berwibawa dibandingkan para tuan muda konglomerat yang lahir dari keluarga kaya raya.
"I-itu tabib pribadinya? Cih, dia lebih terlihat seperti pangeran daripada seorang dokter," bisik salah seorang nyonya sosialita sambil mengipasi wajahnya yang tiba tiba merona.
Clara yang mendengar bisikan bisikan bernada kekaguman dari para wanita di ruangan itu justru mengeratkan gandengannya pada lengan Bima. Ia sedikit mengangkat dagunya dengan bangga, seolah mendeklarasikan kepada seluruh dunia bahwa pria luar biasa ini adalah miliknya.
Pak Herman berjalan menuju panggung utama dan memberikan sambutan singkat yang disambut tepuk tangan riuh. Setelah turun dari panggung, berbagai elit bisnis langsung mengerumuni keluarga Herman untuk memberikan selamat.
Di tengah suasana hangat itu, sebuah suara tawa yang keras dan terkesan meremehkan membelah kerumunan.
"Hahaha! Luar biasa, luar biasa! Selamat atas kesembuhan putri Anda, Herman."
Kerumunan otomatis terbelah. Tuan Surya, pimpinan konsorsium saingan, melangkah maju dengan sebatang cerutu Kuba di tangannya. Di belakangnya mengekor beberapa pengusaha yang menjadi sekutunya, termasuk Rico, pemuda sombong yang tangannya nyaris dipatahkan oleh Bima di pusat perbelanjaan tempo hari.
Melihat Bima, wajah Rico seketika pucat dan ia buru buru bersembunyi di balik punggung ayahnya.
"Terima kasih, Surya," jawab Pak Herman dingin. Ia tahu betul pria di hadapannya ini adalah ular berbisa.
Tuan Surya mengalihkan pandangannya pada Bima, menatap pemuda itu dari atas ke bawah dengan tatapan menghina.
"Jadi, ini tabib ajaib yang dirumorkan itu?" cibir Tuan Surya dengan suara yang sengaja dikeraskan agar seluruh ballroom mendengarnya. "Kudengar kau berasal dari desa antah berantah. Aku penasaran, sertifikat medis dari universitas mana yang kau miliki? Ataukah kau hanya seorang dukun kampung penipu yang kebetulan berhasil mengelabui keluarga Herman yang sedang putus asa?"
Suasana ballroom mendadak tegang. Banyak yang menahan nafas melihat provokasi terang-terangan ini. Pak Herman mengernyitkan dahi, bersiap meledak marah membela Bima.
Namun, sebelum Pak Herman sempat membuka suara, Bima melangkah maju satu langkah. Ekspresinya sangat datar, tak terpengaruh sedikit pun oleh hinaan itu.
"Saya tidak memiliki sertifikat dari universitas mana pun, Tuan Surya," jawab Bima dengan nada tenang dan sopan.
Tuan Surya tersenyum penuh kemenangan. "Sudah kuduga! Kau hanya penipu..."
"Namun," potong Bima, suaranya sedikit lebih berat, memancarkan resonansi yang membuat dada setiap orang yang mendengarnya bergetar. "Ilmu medis saya mampu melihat hal yang bahkan tidak bisa dideteksi oleh mesin rumah sakit paling canggih milik Anda."
Bima menatap lurus tepat di bola mata Tuan Surya.
"Misalnya, saya bisa melihat bahwa Tuan Surya saat ini sedang mengalami penyumbatan darah parah di kuadran kanan atas perut Anda. Liver Anda sudah memasuki tahap awal sirosis akibat konsumsi alkohol berlebih dan temperamen Anda yang tidak terkendali. Selain itu, tangan kiri Anda pasti sering kesemutan setiap jam tiga pagi, menandakan katup jantung Anda mulai melemah," papar Bima dengan sangat fasih.
Bima tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih terasa seperti tamparan keras. "Jika Anda tidak berhenti mengisap cerutu itu dan menurunkan amarah Anda malam ini juga, saya prediksi Anda akan terkena serangan stroke dalam waktu kurang dari tujuh hari. Apakah dokter dengan sertifikat internasional Anda sudah memberitahukan hal ini?"
Hening. Ballroom itu benar-benar sunyi senyap hingga suara jarum yang jatuh pun mungkin bisa terdengar.
Wajah Tuan Surya berubah dari merah padam karena marah, lalu menjadi pucat pasi bagaikan mayat. Tangannya yang memegang cerutu mulai gemetar hebat.
Semua yang dikatakan Bima adalah kebenaran mutlak! Tuan Surya memang sering terbangun kesakitan di jam tiga pagi, dan ia merahasiakan gejala mematikan itu bahkan dari istri dan dokter pribadinya agar harga saham perusahaannya tidak anjlok. Bagaimana mungkin pemuda ini mengetahuinya hanya dengan satu pandangan?!
Terdengar bisik bisik keterkejutan dan tawa tertahan dari para elit lainnya yang melihat Tuan Surya mati kutu dan dipermalukan di depan umum.
"K-kau... beraninya kau mengutukku!" geram Tuan Surya dengan suara gemetar, berusaha menutupi rasa paniknya.
Merasa kehilangan muka, Tuan Surya membuang cerutunya dengan kasar lalu berbalik pergi meninggalkan kerumunan tersebut sambil menghentakkan kakinya.
Saat melewati bayangan pilar besar di sudut ruangan, Tuan Surya melirik tajam ke arah pelayan berpakaian hitam yang sedang memegang nampan berisi botol minuman. Ia memberikan sebuah anggukan kecil yang mematikan.
Di tengah kerumunan yang kembali kondusif memuji Bima, Bima tiba-tiba mengerutkan keningnya. Indra penciumannya yang telah diperkuat oleh tenaga dalam menangkap sebuah anomali.
Udara malam yang seharusnya wangi oleh parfum mahal dan mawar putih, kini tercemar oleh aroma manis yang sangat tipis. Sangat halus, nyaris tak tercium, namun Bima mengenalinya. Itu adalah Bunga Kematian Ungu, bahan dasar racun neurotoksin yang mematikan.
"Clara," bisik Bima cepat sambil menarik tubuh gadis itu merapat ke perlindungannya. "Jangan minum apa pun malam ini. Pesta ini baru saja berubah menjadi ladang pembantaian."