NovelToon NovelToon
Masa Berlaku Cintaku Sudah Habis

Masa Berlaku Cintaku Sudah Habis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:62.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.

Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.

Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kiara 34

Pukul 14.00, Kiara sudah berada di dalam ruang kerja Gabriel. Pintu dikunci rapat. Flashdisk milik Raka sudah terhubung ke laptop kerja Gabriel yang terenkripsi khusus.

Di layar monitor, ribuan baris data transaksi keuangan terbuka secara mendetail. Gabriel menggeser kursornya, matanya memantulkan kilatan dingin saat membaca deretan nama rekening tujuan.

"Luar biasa..." gumam Gabriel dengan nada kagum sekaligus geram.

"Tidak hanya dua puluh miliar. Pencucian uang ini mencapai lima puluh delapan miliar Rupiah dalam dua tahun terakhir. Lihat ini, Kiara. Rekening penampungnya terdaftar atas nama istri siri Bambang dan adik kandung Hendra."

Kiara yang berdiri di samping meja Gabriel menunjuk salah satu lampiran email. "Dan ini bukti pamungkasnya, Mas Gabriel. Email dari Bambang yang menyuruh Hendra memotong anggaran keselamatan kerja pabrik daerah untuk menutupi selisih alokasi ke vendor fiktif itu."

Gabriel menyandarkan punggungnya, mengepalkan tangan di atas meja.

"Mereka menumbalkan keselamatan buruh di lapangan demi menggemukkan kantong pribadi. Ini bukan sekedar pelanggaran etika bisnis lagi, ini tindak pidana murni."

Tiba-tiba, telepon genggam Gabriel di atas meja bergetar keras. Nama 'Bambang - Dir. Ops' tertera di layar. Gabriel menatap layar tersebut sejenak, lalu mengangkatnya dan menekan tombol speakerphone.

"Ya, Pak Bambang?" sapa Gabriel santai, suaranya kembali datar dan profesional.

"Gabriel!" suara Bambang terdengar terengah-engah dari seberang telepon, nada angkuhnya yang tadi pagi hilang berganti kekhawatiran yang disembunyikan.

"Saya rasa kita tidak perlu membawa masalah internal ini ke auditor luar atau kepolisian. Ini cuma masalah salah paham administrasi antar divisi. Kita bisa selesaikan ini secara kekeluargaan di ruang saya sekarang."

Gabriel melirik Kiara, disapa dengan senyuman miring dari asistennya itu.

"Selesai secara kekeluargaan, Pak Bambang?" tanya Gabriel dengan intonasi bernada sindiran halus.

"Keluarga mana yang Anda maksud? Apakah termasuk kerabat Anda yang menjadi pemilik vendor cangkang di Surabaya itu?"

Hening seketika di ujung telepon. Suara napas Bambang terdengar kian berat.

"Kamu... dari mana kamu dapat informasi itu?!" bentak Bambang, kepanikannya pecah sepenuhnya.

"Dengar ya, Gabriel! Kamu itu baru pulang dari London! Kamu tidak tahu seberapa kuat posisi saya di dewan direksi! Saya bisa buat kamu didepak minggu ini juga kalau kamu berani hancurkan nama saya!"

Gabriel berdiri dari kursinya, mendekatkan wajah ke arah ponsel. Suaranya turun satu oktaf, sangat dingin dan penuh intimidasi.

"Silakan coba, Pak Bambang," ancam Gabriel tajam.

"Tapi sebelum Anda menyusun surat pemecatan saya, pastikan Anda sudah menyiapkan pengacara terbaik. Karena tepat pukul lima sore nanti, berkas ini tidak hanya sampai di meja Komisaris Utama, tapi juga di meja penyidik Kejaksaan Agung."

Gabriel langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu balasan dari Bambang. Ia melempar ponselnya kembali ke meja. Kiara menatap pimpinannya dengan pendar kagum yang tak tertahan.

"Gertakan yang sangat telak, Pak Gabriel."

Gabriel berpaling menatap Kiara, matanya melunak saat memandang asisten pribadinya.

"Bukan gertakan, Kiara. Kita akan benar-benar mengirimkannya sore ini."

Ia melangkah mendekati Kiara, berhenti tepat satu langkah di hadapannya.

"Terima kasih, Kiara," ujar Gabriel tulus, suaranya hangat membelah ketegangan di ruang kerja itu.

"Tanpa keberanianmu menghadapi Bambang tadi pagi dan kecepatanmu mengamankan data dari Raka, kita tidak akan punya kartu as sekuat ini."

Kiara mendongak, menatap mata cokelat gelap milik Gabriel. "Saya hanya menjalankan peran saya sebagai tim Anda, Mas Gabriel. Seperti yang Anda katakan semalam, kita ada di sini untuk mengeksekusi fakta."

Gabriel tersenyum lebar, senyuman menawan yang membuat jantung Kiara berdesir pelan.

"Siap untuk pertempuran jam lima sore nanti, Kiara?" tantang Gabriel dengan pendar mata jenaka.

Kiara merapikan lipatan blazernya, menyunggingkan senyum percaya diri yang paling memikat. "Saya lahir untuk ini, Mas Gabriel. Mari kita selesaikan permainan mereka."

Sementara di kota yang berbeda, Vino sedang menahan amarah setelah mendengar penuturan dua wanita manipulatif yang dia tolong selama ini.

Bus kota yang ditumpangi Shela dan ibunya perlahan menghilang di balik kepadatan lalu lintas. Di dalam kabin mobil yang makin pengap, Vino masih bergeming. Pengakuan Shela yang tak sengaja ia dengar tadi terus bergema di telinganya, memunculkan rasa jijik yang luar biasa pada dirinya sendiri.

Ponselnya di kursi belakang kembali bergetar. Nama Rendra tertera di layar. Kali ini, Vino mengangkatan panggilan itu tanpa henti, menempelkannya ke telinga dengan tangan yang gemetar hebat.

"Halo, Ndra..." panggil Vino. Suaranya pecah, diiringi isak tangis yang tak lagi mampu ia tahan.

"Vin? Lo kenapa lagi? Lo masih di jalanan?" tanya Rendra di seberang sana, nadanya terkejut mendengar kondisi sahabatnya.

"Gue baru aja liat Shela sama ibunya, Ndra..." rintih Vino, dadanya naik turun menahan sesak.

"Gue... gue denger sendiri Shela ngomong sama nyokapnya. Dia ketawa, Ndra. Dia bilang gue bodoh karena mau-mauan dikibulin pake alasan pingsan sama sakit..."

Rendra menghela napas panjang dari seberang telepon. "Udah gue duga, Vin. Semua orang dari awal udah tahu, cuma lo doang yang kebingungan sendiri sok jadi pahlawan."

"Gue hancur, Ndra! Gue hancur banget!" jerit Vino, memukul setir mobilnya berulang kali sampai tangannya memerah.

"Gue buang Kiara demi cewek parasit kayak gitu! Kiara yang nemenin gue dari nol, yang rela makan di warung pinggir jalan waktu gue belum punya apa-apa, yang selalu bikin teh hangat tiap gue lembur... Gue buang dia cuma demi manipulasi murah!"

"Sekarang lo baru sadar, kan?" tanggap Rendra dingin, tanpa niat memperhalus kenyataan.

"Dulu Kiara kurang sabar apa sama lo? Tiap kali lo batalin janji demi Shela, Kiara cuma senyum dan bilang 'Gak apa-apa, Mas'. Tapi lo malah ngelindur, makin ngelunjak, dan puncaknya lo berbohong soal 'klien luar kota' itu."

"Gue tolol, Ndra! Gue bangsat!" Vino meremas rambutnya kuat-kuat, tangisnya makin pecah di dalam mobil.

"Kalau waktu bisa diputar, gue bakal sujud di kaki Kiara... Gue mau bilang kalau gue penyesal setengah mati!"

"Waktu gak bisa diputar, Vin," potong Rendra pelan namun menusuk. "Masa berlaku lo di hidup Kiara udah habis. Lo sendiri yang bakar jembatan itu sampai tak bersisa."

"Tolong kasih tahu gue, Ndra..." mohon Vino dengan nada memelas yang teramat sangat.

"Di mana Kiara sekarang? Gue tahu Rania bohong soal Surabaya. Please, Ndra... sekali ini aja. Gue cuma mau liat wajahnya dari jauh. Gue gak bakal ganggu dia, gue cuma mau minta maaf..."

Rendra hening sejenak di seberang sana. Suasana hening itu terasa menyiksa bagi Vino, sebelum akhirnya Rendra menjawab dengan tegas:

"Gak bisa, Vin. Gue udah janji sama Kiara. Dan jujur, sebagai sahabat lo, ini hukuman terbaik buat lo. Belajarlah hidup dengan rasa bersalah itu."

Klik.

Panggilan terputus. Vino mematikan ponselnya, membiarkan keheningan menyerap seluruh kesadarannya. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan kotak cincin pertunangan mereka yang sudah kusam. Ditatapnya lingkaran emas putih itu dengan mata yang kabur oleh air mata.

"Ra... maafin aku..." bisik Vino pada kotak cincin di genggamannya.

"Aku kehilangan kamu bukan karena Shela... tapi karena kebodohanku sendiri. Mas sangat mencintai kamu Kiara... Tolong kembali dan maafkan Mas... Beri mas kesempatan ketiga..."

Di dalam ruang sempit kendaraan roda empat yang kini menjadi tempat bernaungnya, Vino menenggelamkan wajahnya di atas setir. Tidak ada rumah untuk pulang, tidak ada keluarga yang mencari, dan yang paling menyakitkan, tidak ada lagi Kiara yang menunggu. Penyesalan itu kini menjelma menjadi gema abadi yang akan terus menyiksanya di setiap helaan napas.

1
Ambu Rinddiany Thea
ih untung nya ga jadi smaa s vino , keluarga s vino ternyata punya saudaranya siluman semua
Sapna Anah
orang tua macam apa kaya gitu mau enaknya aja🤣🤣🤣
Muft Smoker
akhirny mereka udh sah juga ,,
dtggu versi mini kalian yx ,, gx ush byk2 ,,
lngsung kembar 4 aj ,, 🤭🤭
Muft Smoker
perkumpulan para ulet saguu
Ambu Rinddiany Thea
d tunggu malam pertama nya kiara 🤭😂
Ambu Rinddiany Thea: hahaha moal ath mak .. paling ku edina d demo mah 🤣🤣🤣
total 4 replies
Sapna Anah
vino dan Kiara ini ga jelas atu klu no ga d kenal ngapain d angkat klu ga ganti no sja
Sapna Anah
ngapain d telpon samperin aja biar yer bukti oon jdi orang
Muft Smoker
semoga vino bnr2 berubah ,
el 10001
maaf thor Shela ini anak hasil rampasan deh dan juga mamanya parasit kelas atas
el 10001
maaf lagi ya thor sebenrnya si benalu parasit dan bakteri Shela ini nama ibunya yg mana thor maaf nanya karna namanya berubah terus atau dia ini apa🤭🤭🤭🙏🙏🙏🙏
el 10001
maaf thor ini suaminya bu indah yg mana ya pak heru atau pak dimas
karna namanya berubah terus atau dua suami ibu indah ini🤭🤭🤭🙏
Masha 235
si vino harus merubah sifatnya....sifat yg ingin dipuji, yg ingin dianggap pahlawan, sifat yg haus validasi itu dlu...
ryuka
mudah2an bener2 tobat ya kamu vino
Muft Smoker
mending di penjara gx perlu mikir gmna caranya manipulasi org buat dpet duit ,,
di penjara kalian gx perlu mikir bayar kontrakan , gx perlu mikir beli skincare kalo abis , gx perlu mikir bayar Listrik , bayar ini itu ,, di jamin gratis pokokny ,,
Muft Smoker
lempoh ap mak??
Ana Martino
lah, manusia sampah. cocok sekali mereka semua🤭
Dewi Yanti
ya allah ko ada ya laki" ky gt, yg g bisa belajar dr kesalahan sebelumnya.
nely_48
d penjara mending ge dpt mkn n tempat tinggal gratis ath Vino, stela n ibu nya
nely_48
menyesal lg, menyesal lg, tp d ulang deui, d ulang deui,, jd kmh ath Vino ka harus na
nely_48
Vino akhirnya gila jg kau
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!