Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Kenangan sampai di rumah setelah isya karena tadi dia sempat berhenti di sebuah masjid untuk melaksanakan salat maghrib. Jalanan juga cukup ramai, jadi tidak bisa ngebut.
Terlihat mobil Bima sudah terparkir di depan rumah. Pria itu sudah pulang sejak tadi. Ponsel Kenanga juga mati, lebih tepatnya sengaja dimatikan agar tidak ada yang mengganggu. Dia tidak tahu apakah suaminya tadi mencarinya atau tidak.
"Kamu dari mana saja, Kenanga? Kenapa ponselmu tidak aktif? Aku dari tadi berusaha untuk menghubungimu, tapi tidak bisa," tanya Bima saat melihat sang istri datang, bahkan Kenanga belum sempat mengucapkan salam.
"Assalamualaikum," ucap Kenanga yang sengaja menyindir sang suami yang langsung saja mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
Bima yang menyadari kesalahannya pun jadi merasa kikuk. Namun, pria itu mencoba untuk terlihat biasa saja. Dia tidak ingin terlihat bersalah di mata istrinya karena bagaimanapun juga di sini memang Kenanga-lah yang berbuat salah. Wanita itu pergi tidak bilang-bilang, pulang pun sampai malam.
"Waalaikumsalam. Kamu jawab dulu pertanyaanku. Kamu dari mana saja dan kenapa ponsel mau mati? Biasanya kamu tidak pernah seperti ini."
"Aku ada urusan di luar, Mas. Aku juga sudah bilang pada bibi kalau aku ada urusan dan pulang terlambat. Memangnya bibi tidak bilang sama kamu? Kalau memang mereka tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik, lebih baik cari saja pekerja yang lain. Di luar sana masih banyak orang yang butuh pekerjaan," ucap Kenanga dengan ketus.
Hal tersebut tentu saja membuat Bima terkejut karena sebelumnya Kenanga tidak pernah bersikap seperti itu. Biasanya apa pun kesalahan para pekerjanya wanita itu akan mencoba untuk memaklumi karena tidak mungkin dia membiarkan orang lain kehilangan pekerjaannya.
"Kenapa kamu jadi malah nyalahin bibi? Kamu tidak biasanya seperti ini. Ada sesuatu yang berbeda dari kamu." Bima menatap intens ke arah Kenanga.
"Apanya yang berbeda. Aku merasa sama saja."
"Tidak. Kamu benar-benar berbeda, pasti ini semua gara-gara pergaulan kamu sekarang. Sebaiknya kamu tinggalkan pergaulan kamu itu. Mereka sudah memberikan dampak buruk. Kamu sudah mulai berani melawan dan pulang malam. Kamu juga tidak memberiku kabar sama sekali."
"Pergaulan?" ulang Kenanga. "Pergaulan yang mana? Selama ini aku tidak pernah bergaul dengan orang di luar sana, bahkan dulu saat Davina masih sekolah banyak wali murid yang mengajakku dalam perkumpulan, arisan atau sejenisnya, tapi aku selalu menolak, kenapa? Karena kamu yang selalu melarangku untuk bergaul dengan mereka."
Ya, selama ini Kenanga selalu mengatakan pada semua orang jika dia tidak suka bergaul dengan orang lain. Wanita itu berkata takut ghibah padahal alasan sebenarnya adalah karena Bima yang melarang. Kenanga juga sangat tahu jika tidak semua pergaulan memberikan dampak yang buruk, tapi demi menghargai sang suami pun menurutinya.
"Karena memang pergaulan akan memberikan dampak yang buruk. Buktinya sekarang 'kan kamu jadi seperti ini."
"Tapi nyatanya aku sama sekali tidak bergaul dengan siapa pun karena aku memang tidak memiliki kenangan di sini. Teman-temanku semuanya yang ada di luar kota."
"Mungkin saja mereka sedang berlibur di sini dan bertemu denganmu."
"Sudahlah, Mas, aku tidak mau berdebat denganmu. Aku capek."
Kenanga berlalu begitu saja dengan menahan kekesalannya. Ingin sekali dia mengatakan pada Bima jika dirinya ingin bercerai. Namun, Kenanga tahu jika tidak boleh gegabah. Dia harus mengamankan semua harta miliknya yang dibawa dari saat belum menikah dulu. Kenanga harus memastikan semuanya sudah dibawa pergi, barulah dia berani menentang Bima.
Kenangan membersihkan diri di kamar mandi. Dia ingin menyegarkan diri karena tubuhnya benar-benar lelah. Perjalanan bolak-balik dari rumah orang tuanya benar-benar melelahkan. Baru kali ini Kenanga melakukannya. Biasanya dia akan selalu menginap di rumah kedua orang tuanya, jadi ada jeda untuk beristirahat. Tidak seperti sekarang ini.
Setelah selesai dia keluar dari kamar mandi. Namun, tidak menemukan keberadaan Bima. Mungkin pria itu masih di bawah. Kenanga pun memanfaatkan waktu untuk melihat barang berharga miliknya yang ada di brankas. Setelah dia melihat dengan saksama, alangkah terkejutnya saat tidak mendapati surat kepemilikan mobilnya.
Sudah dia acak-acak seluruh isi brankas tersebut hingga dokumen paling bawah. Namun, tidak juga ditemukan surat tersebut. Kalung berlian pemberian papanya juga tidak ada di sana padahal harganya sangat mahal. Bukan hanya itu, tapi kenangan saat memperoleh kado itu juga sangat berharga.
Kenanga mengepalkan tangannya. Dia curiga jika Bima-lah yang sudah menggunakannya. Tidak ada orang lain yang bisa keluar masuk kamar ini dengan bebas selain Bima dan dirinya. Suaminya itu juga mengetahui sandi brankas miliknya, jadi sudah pasti ini ulah pria itu karena seingatnya dia tidak pernah memindahkannya.
Kenanga memang tidak pernah teliti dengan barang apa saja yang sudah menjadi miliknya. Sekarang setelah satu persatu diteliti ternyata memang ada yang tidak diketahui keberadaannya. Entah sudah berapa banyak emas miliknya yang hilang karena dia pun tidak mengetahui jumlahnya.
Kenanga yang sudah sangat marah turun mencari keberadaan Bima. saya harus mendapatkan kembali barang-barang miliknya semua itu sangat berharga
"Mas Bima ada di mana, Bik?" tanya Kenanga dengan nada tegas.
Bibi yang sedang menyiapkan makan malam pun terkejut dengan suara Kenanga. Tidak biasanya wanita itu bicara dengan nada kasar, hampir berteriak.
"Pak Bima ada di taman samping rumah, Bu."
Tanpa berkata apa pun Kenanga pun berlalu begitu saja. Bibi menatap kepergian Kenanga sambil mengusap dada. Tidak menyangka majikan yang selama ini selalu bersikap lembut bisa marah juga.
Davina yang baru turun pun melihat apa yang dilakukan sang mama. Dia yang penasaran pun mengikuti perginya wanita itu, juga ingin mencari tahu apa yang ingin dilakukan mamanya.
Kenanga mendatangi Bima yang sedang menikmati kopi sambil menghisap rokoknya. "Mas, di mana surat-surat mobilku?" tanya Kenanga membuat Bima yang tadinya duduk tenang pun menegakkan tubuhnya.
"Maksud kamu apa?" Bima berpura-pura tidak mengerti. Dia juga tidak menyangka jika Kenanga bisa mengetahui hal itu. Padahal selama ini istrinya terlihat tidak peduli dengan harta yang dimilikinya.
"Kamu tidak usah pura-pura, Mas. Kamu tahu maksudku. Di mana surat mobilku dan juga kalung pemberian papa. Itu semua milikku sebelum aku menikah dan kamu tidak memiliki hak atasnya."
"Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu. Bukannya kamu yang menyimpannya sendiri, kenapa malah tanya padaku?"
"Karena kamu juga tahu sandi brankas milikku. Cepat katakan di mana barang-barang itu dan lainnya juga."
"Aku benar-benar tidak tahu!"
"Baiklah kalau begitu. Kalau kamu tidak mau mengaku, aku akan melaporkan kasus ini ke kantor polisi sebagai kasus pencurian. Bukan hanya surat-surat mobilku, barang berharga milikku yang lain juga banyak yang hilang."
Bima terkejut pengen apa yang dikatakan Kenanga. Dia pun mulai panik dan tidak ingin nanti masuk penjara. Dirinya pun tidak memiliki pilihan lain selain mengakui kejahatannya.
"Oke, aku mengakui bahwa aku yang mengambil surat mobilmu. Aku sengaja menggadaikannya, tapi kalau perhiasan dan yang lainnya aku tidak tahu."
"Menggadaikannya! Kamu lancang sekali, Mas, menggadaikan barang milikku. Kenapa tidak memakai mobilmu sendiri, kenapa harus pakai mobilku?"
"Kamu tahu sendiri kalau mobilku itu masih dalam tahap cicilan, mana ada surat-suratnya."
"Terus kenapa kamu tidak izin dulu padaku?"
"Aku sengaja tidak bilang agar kamu tidak kepikiran. Nanti juga akan aku kembalikan."
"Aku tidak mau tahu. Aku maunya besok surat mobil sudah ada di rumah dan juga perhiasanku."
"Sudah aku bilang aku tidak tahu di mana perhiasanmu."
"Oh ya! Baiklah, kita akan tahu di mana kalungku kalau aku sudah melaporkannya ke polisi."
"Kamu ini keras kepala sekali sih! Kamu mau lapor polisi bagaimana? Polisi juga pasti tidak akan bisa menemukan keberadaan kalungmu."
"Kamu lupa, Mas, jika kalung pemberian papa itu harganya sangat mahal. Bukan hanya karena kalung itu terbuat dari berlian, tapi keberadaan kalung itu juga bisa terdeteksi karena di dalamnya ada GPS yang tersambung dengan ponsel milik papa. Dengan satu kali panggilan, papa pasti dengan senang hati mau membantuku."
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu