NovelToon NovelToon
Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.

Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.

Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Keesokan paginya, rumah sudah kembali sibuk sejak matahari belum benar-benar tinggi.

Annisa berdiri di dapur menyiapkan sarapan seperti biasanya. Aroma nasi goreng dan telur dadar memenuhi ruangan, sementara teh hangat sudah tersaji rapi di meja makan. Namun, Haikal yang baru turun dari lantai atas hanya mengambil tas kerjanya terburu-buru.

“Aku berangkat sekarang,” ucapnya singkat.

Annisa langsung menoleh. “Mas, sarapan aja dulu.”

“Nggak usah.” Haikal memakai jam tangannya cepat. “Aku sarapan di kantor aja. Ada meeting pagi.”

Annisa mengangguk pelan meski sedikit kecewa. “Kalau begitu aku ambilkan bekal—”

“Nggak perlu ribet.” Jawaban Haikal selalu singkat akhir-akhir ini.

Seolah berbicara lebih lama dengan istrinya saja membuat pria itu malas. Saat Haikal berjalan menuju pintu depan, Annisa segera menyusul. Seperti kebiasaan seorang istri pada suaminya, Annisa mengangkat tangan ingin bersalaman sebelum Haikal pergi bekerja. Namun, belum sempat tangannya disentuh, ponsel Haikal berdering.

Pria itu langsung melihat layar ponselnya dan wajahnya berubah lebih hidup. Tanpa ragu Haikal mengabaikan tangan Annisa yang menggantung di udara begitu saja.

“Iya?” jawabnya cepat sambil tersenyum kecil.

Annisa terdiam.

“Aku sudah jalan,” lanjut Haikal dengan nada yang jauh lebih lembut dibanding saat berbicara dengannya. “Sarapan di tempat biasa?”

Entah apa jawaban dari seberang sana, tetapi Haikal tertawa kecil setelahnya.

“Iya, iya. Tunggu aku.”bPria itu terus berbicara di telepon bahkan sampai keluar rumah menuju mobilnya.

Dari ambang pintu, Annisa hanya bisa diam memandangi punggung suaminya. Senyum Haikal terlihat begitu bahagia pagi itu. Senyum yang sudah sangat jarang Annisa lihat saat pria itu bersamanya.

Hati Annisa terasa aneh. Tetapi, dirinya mencoba menepis pikiran buruk yang mulai muncul.

Mobil Haikal pergi meninggalkan rumah. Annisa masih berdiri membeku di depan pintu sampai suara teriakan Lasmi terdengar dari arah dapur.

“Annisa!”

Wanita itu tersentak.

“Kalau suami sudah pergi jangan malah bengong! Cepat cuci piringnya!” bentak Lasmi lagi. “Dasar tidak berguna!”

Annisa menahan napas sejenak sebelum akhirnya berjalan menuju dapur.

Tumpukan piring kotor masih memenuhi wastafel. Sementara Lasmi berdiri santai sambil memilih-milih tas di ponselnya, sama sekali tidak berniat membantu.

“Ibu…” panggil Annisa pelan.

Lasmi menoleh malas. “Apa lagi?”

Annisa menggenggam ujung bajunya pelan.

“Aku juga belum sarapan dari pagi.” Suaranya terdengar lelah. “Apa Ibu nggak mau bantu aku cuci piring dulu?”

Bukannya iba, Lasmi malah langsung membentak keras. “Kurang ajar kamu ya sekarang!” hardiknya tajam. “Berani nyuruh mertua kerja?”

Annisa langsung terdiam. “Aku cuma bilang—”

“Kamu itu menantu!” potong Lasmi sinis. “Kerjaan rumah memang tugas kamu!”

Wanita itu lalu mengambil dompetnya dengan wajah kesal.

“Lagian aku malas.” Lasmi mengibaskan tangan. “Siang ini aku mau shopping sama teman-temanku.”

Setelah berkata begitu, Lasmi mengeluarkan selembar uang lalu meletakkannya kasar di meja dapur.

“Nanti masak ayam gulai buat makan malam.”

Annisa spontan melihat uang itu, dua puluh ribu rupiah. Keningnya langsung berkerut bingung.

“Bu…” Annisa mengangkat uang itu perlahan. “Ini nggak cukup buat beli ayam.”

Lasmi langsung mendecak kesal seolah Annisa sengaja mencari masalah.

“Kamu itu bisanya ngeluh terus!”

“Tapi harga ayam sekarang mahal…”

“Pintar-pintarlah ngatur uang!” bentak Lasmi. “Atau jangan-jangan selama ini kamu cuma numpang makan di rumah ini?” Ucapan itu membuat dada Annisa terasa panas.

Padahal, selama ini dirinya sering memakai uang pribadinya untuk kebutuhan rumah tanpa pernah bicara. Tetapi, di mata Lasmi, dirinya tetap salah.

“Kalau nggak cukup, ya cari cara!” lanjut Lasmi ketus. “Jangan sedikit-sedikit minta uang!”

Setelah itu wanita tersebut langsung pergi meninggalkan dapur begitu saja. Annisa berdiri diam sambil menatap lembar uang dua puluh ribu di tangannya. Pelan-pelan, matanya mulai memanas lagi.

Bukan karena uangnya tetapi karena dirinya diperlakukan serendah itu di rumah suaminya sendiri. Annisa langsung mengejar Lasmi sampai ke ruang tamu.

“Ibu, tunggu dulu,” katanya dengan napas sedikit memburu.

Lasmi menoleh tidak sabar. “Apa lagi sih?”

Annisa menggenggam uang dua puluh ribu itu erat.

“Gaji Mas Haikal semuanya kan dipegang Ibu…” suaranya mulai melemah. “Annisa nggak punya uang tambahan buat belanja.” Ucapan itu justru membuat wajah Lasmi berubah sinis.

“Oh jadi sekarang kamu mau nyalahin ibu?”

“Aku nggak nyalahin, Bu. Tapi uang segini memang nggak cukup buat beli ayam.”

Lasmi langsung tertawa mengejek.

“Makanya jadi perempuan itu jangan cuma bisa makan uang suami, kerja!”

Annisa mengerutkan kening.

“Selama ini aku juga sering pakai uang pribadi aku buat kebutuhan rumah.”

“Uang pribadi?” Lasmi mendecak. “Memangnya kamu punya apa?” Kalimat itu membuat kesabaran Annisa mulai retak.

“Aku juga manusia, Bu…” suaranya bergetar menahan tangis. “Aku capek terus diperlakukan begini.”

Lasmi melipat tangan di dada. “Kalau capek ya pisah saja dari Haikal.”

Annisa membeku. Lasmi melanjutkan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Buat apa anak ku mempertahankan perempuan mandul?” katanya dingin. “Nanti aku carikan perempuan lain yang bisa kasih keturunan.”

Air mata Annisa langsung jatuh.

“Bu, jangan ngomong seperti itu…”

“Kenapa? Salah?”

“Annisa sudah berusaha jadi istri yang baik.” Suara Annisa mulai meninggi karena tak kuat lagi menahan sakit hati. “Aku setia sama Mas Haikal, aku ngurus rumah ini setiap hari, meskipun aku diperlakukan seperti pembantu!”

Lasmi langsung melotot. “Berani kamu melawan ibu?”

“Aku cuma mau Ibu sedikit menghargai Annisa, Bu!”

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Annisa hingga tubuh wanita itu terjatuh ke lantai. Annisa memegangi pipinya yang terasa panas.

Matanya membesar tidak percaya. Sementara Lasmi berdiri sambil menunjuk wajah menantunya dengan penuh amarah.

“Jangan pernah naik suara di depan Ibu!” bentaknya keras. “Kamu cuma numpang hidup di rumah ini!”

Air mata Annisa terus jatuh, Lasmi belum selesai.

“Ingat posisi kamu!” hardiknya lagi. “Kalau Haikal mau buang kamu kapan saja, tidak ada yang akan membela perempuan tidak berguna seperti kamu! Paham?!"

1
Wardah Hasibuan
bagus
anisa
sadar👍
Dwi Indirawati
alhamdulillah akhirnya Annisa keluar dri keluarga itu🥲☺️
Dwi Indirawati
nah ini namanya Annisa pemberani😄akhirnya haikal cerai juga sma Annisa.. karma menanti mu Haikal🤣
Dwi Indirawati
Haikal enak, bangt, makan buah impor dri pak Darto ayah annisa🤣 nah gitu dong Annisa tampar emely yg nyembelin🤭🥲
Dwi Indirawati
pak Darto kurang pengawasan nih, sehingga Annisa mender🥲🤭oh yampun klo ada undangan pasti haikal ajak di emely bukan Annisa dan pak Darto pasti akan sangat marah🤣
Dwi Indirawati
pak Darto emng kurang ni🤭seharusnya suruh orng untuk mata mata in Annisa dan Haikal 🤨😁
Dwi Indirawati
nah bagus ni Annisa klo di cerai'in sm haikal buat apa sama suami yg main tangan ✋🥲
Dwi Indirawati
Emily ini bisa bngt bikin sandiwara🤭agar haikal marah sm Annisa yasudah klo haikal cerai'in Annisa gpp toh Annisa kaya papa Darto gitu loh🤣🤣
Dwi Indirawati
tinggalkan haikal nissa kembali lah dngn papah Darto hidup mu kembali berjaya jika kembali ke papa Darto, 😁
Dwi Indirawati
kasian banget Anisa🥲 blm mkan tapi masih disuruh mmh mertuanya🥲.. mending ke papa Darto nis minta maaf kesalahan yg meninggalkan orng tua nya lebih pilih haikal 🤨🤭
Dwi Indirawati
bagus cerita nya aku suka☺️walaupun anisa tidak melawan akan tetapi, ada ayah nya dibalik anisa diam pak Darto akan sangat, kecewa dngn menantu nya krna annisa lebih pilih haikal dri pada keluarga nya☺️😍😇
Dwi Indirawati
wah hidup haikal bakal hancur ni oleh pak Darto😁
Dwi Indirawati
yaallah anisa terlalu lemah dan baik 😁orng mah mertua , atau suami kaya gitu lawan aja,🤣😁
Dwi Indirawati
haikal emng ga pantas sma annisa.. semoga stlh ini Annisa bisa bahagia bersama yg lain🤭☺️
Dwi Indirawati
pasti dokter itu suruhan suaminya atau mertua anisa ☺️yaampun kasian bngtt jadi Anisa 🥲🥲
Salfa Putri Aji
geram betul bacanya saking geramnya bacanya aku skip2 biar ndak emosi
Rohandi sinaga
rumit
Munas Tuti
paraaah Emran...ngasi kejutan tp kebablasan
Munas Tuti
waaah siapa ya yg nyulik Annisa ?
Munas Tuti
kasian pak Rendra....gara2 ulah anaknya ikutan susah jg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!