Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sore itu, setelah Gavin pergi menemui seseorang di ruang kerja, Sherly mengajak Dara duduk di teras belakang. Angin sore bertiup sejuk, membuat rasa nyaman dan tenang.
Sherly menuangkan teh hangat ke dalam dua cangkir. "Dara."
"Iya, Ma?" balas sang menantu.
Sherly melirik ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang lain. Kemudian ia mendekat sambil tersenyum penuh arti.
"Mama mau tanya sesuatu," kata Sherly dengan suara pelan.
"Tanya saja, Ma." Dara ikut-ikutan bicara dengan nada pelan.
Sherly mempertemukan kedua jari telunjuknya, lalu mengetuk-ngetukkannya pelan sambil mengangkat kedua alisnya.
"Kamu sama Gavin sudah ... ini belum?" Ia berdeham kecil.
Dara mengerutkan dahi. Tatapannya berpindah dari wajah Sherly ke kedua jari yang saling mengetuk itu.
"Bertengkar maksudnya, Ma?" tanya Dara dengan ekspresi polos.
"Bukan!" Sherly menggelengkan kepala.
"Lalu apa, Ma?" Sang menantu terlihat kebingungan.
Sherly ikut bingung. "Itu, lho..." Wajah wanita paruh baya itu mulai memerah.
"Sudah tidur sebagai suami istri belum?"
Dara langsung mengembuskan napas lega. "Oh ...."
Sherly ikut tersenyum. "Iya. Sudah?"
"Iya, Ma."
"Syukurlah."
Namun, senyum Sherly perlahan membeku ketika Dara melanjutkan ucapannya dengan wajah polos.
"Setiap malam saya tidur duluan di kasur. Kalau Aa Gavin suka ketidur di sofa sambil baca."
Sherly berkedip beberapa kali. "Hah?"
Dara mengangguk mantap. "Kadang kalau Aa terlalu capek, baru langsung tidur di kasur."
Sherly memijat pelipisnya. "Dara."
"Iya, Ma?"
"Itu bukan maksud Mama."
Dara tampak semakin bingung. "Bukan?"
Sherly menutup wajahnya beberapa detik sebelum kembali bertanya dengan suara yang lebih pelan. "Maksud Mama. Kalian sudah menjadi suami istri yang sesungguhnya?"
Dara akhirnya mengerti. Dalam sekejap wajahnya berubah merah sampai ke telinga. Ia menundukkan kepala begitu dalam hingga dagunya hampir menyentuh dada.
"I-i-tu ... belum, Ma."
Sherly berkedip beberapa kali. "Hah?"
Dara mengangguk polos.."Kami memang tidur di kamar yang sama. Tapi belum pernah ...." Dara menggeleng pelan. "Pelukan saja baru sekali. Itu juga tidak sengaja waktu sama-sama ketiduran."
Sherly memejamkan mata sambil menghela napas panjang. Lalu, dia menepuk dahinya sambil bergumam pelan, "Ya ampun, Gavin! kamu ini sebenarnya suami perkasa atau letoy?"
Dara menggenggam ujung bajunya karena malu. "Bukan karena Aa tidak baik. Aku yang masih canggung. Terus Aa juga tidak pernah memaksa."
Sherly tersenyum lembut mendengar jawaban itu. Ia meraih tangan Dara lalu menggenggamnya hangat.
"Gavin memang seperti itu. Sejak kecil dia tidak pernah memaksa kehendaknya kepada siapapun. Kalau begitu, Mama tenang."
Dara mengangkat wajahnya. "Kenapa, Ma?"
Sherly mengusap pelan punggung tangan menantunya. "Karena Mama ingin kalian membangun rumah tangga dengan saling mencintai dan sudah saling siap. Bukan karena keterpaksaan."
Dara mengangguk pelan. "Iya, Ma."
Tanpa mereka sadari, di balik pintu ruang kerja yang sedikit terbuka, Gavin baru saja keluar. Ia sempat mendengar potongan percakapan terakhir mereka. Pria itu hanya menggeleng pelan sambil mengembuskan napas.
"Mama, kenapa malah membahas itu," gumamnya lirih.
Di sisi lain, Sherly yang melihat putranya berdiri di ambang pintu langsung tersenyum jahil. Gavin spontan berbalik hendak pergi, membuat Dara yang menyadari hal itu semakin salah tingkah. Wajahnya memerah seperti tomat, sementara tawa kecil Sherly memenuhi teras rumah, mencairkan sore yang hangat dengan kebahagiaan sederhana keluarga kecil mereka.
Setelah tawa Sherly mereda, suasana di teras kembali tenang. Dara masih menundukkan kepala. Rasa malunya belum juga hilang. Ia bahkan tidak berani menoleh ke arah Gavin yang kini berdiri beberapa langkah dari mereka.
Sherly menyenggol pelan lengan putranya.
"Gavin."
"Iya, Ma."
"Kamu jangan cuma berdiri di situ. Cepat sini!"
Gavin menghela napas pelan. "Iya."
Pria itu berjalan mendekat dengan wajah tetap datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, telinganya yang sedikit memerah tidak luput dari perhatian Sherly.
"Nah," goda Sherly sambil tersenyum, "ternyata bukan Dara saja yang malu."
Gavin berdeham pelan. "Ma."
"Apa?"
"Tidak usah dibahas lagi."
Sherly justru tertawa kecil. "Mama hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja."
"Kami baik-baik saja," jawaban Gavin terdengar singkat seperti biasanya.
Sherly mengangguk pelan. Ia tahu sifat putranya memang tidak suka menjadi pusat perhatian. "Ya sudah. Mama percaya."
Wanita itu kemudian berdiri sambil membawa kedua cangkir teh yang sudah kosong. "Kalian ngobrol saja berdua. Mama mau lihat makan malam sudah siap atau belum."
"Iya, Ma," jawab Dara pelan.
Begitu Sherly masuk ke dalam rumah, suasana mendadak berubah sunyi. Hanya suara burung yang hendak kembali ke sarang dan embusan angin sore yang menemani dedaunan dan ranting pohon.
Dara masih memainkan ujung bajunya. Sementara Gavin berdiri memandang taman.
Beberapa detik berlalu tanpa satu pun membuka suara.
Akhirnya Gavin yang lebih dulu berdeham. "Maaf."
Dara langsung mengangkat kepala. "Kenapa Aa minta maaf?"
"Mama sudah membuatmu malu."
Dara buru-buru menggeleng. "Bukan salah Mama."
"Lalu?"
"Aku saja yang memang pemalu."
Jawaban polos itu membuat sudut bibir Gavin terangkat membentuk senyum tipis. Ia menoleh ke arah Dara.
"Kalau begitu aku juga minta maaf."
"Kali ini kenapa lagi?" Dara semakin bingung.
"Aku juga masih canggung."
Mata Dara membulat. "Aa juga?"
"Iya."
"Saya kira cuma saya." Perempuan itu tersenyum kikuk.
Gavin menggeleng pelan. "Ini juga pertama kalinya aku menjadi suami."
Kalimat sederhana itu justru membuat Dara tertawa kecil. Suara tawanya lembut, tetapi cukup membuat Gavin ikut tersenyum.
"Aa, kita ternyata sama-sama baru belajar."
Gavin mengangguk. "Iya."
Dara mengumpulkan keberanian. "Kalau begitu kita belajar pelan-pelan saja."
Tatapan Gavin melembut. "Benar. Tidak perlu terburu-buru. Asal kita sama-sama nyaman."
"Iya." Dara mengangguk mantap. Hatinya terasa jauh lebih lega.
Sejak awal Dara takut Gavin akan memaksanya menjalani semuanya sebagai kewajiban seorang istri. Namun, kenyataannya pria itu selalu menghargai perasaannya. Hal kecil itu membuat rasa hormat Dara kepada suaminya semakin bertambah.
Malam semakin larut. Sesudah membersihkan diri, Dara duduk di depan meja belajar kecil yang berada di sudut kamar. Di atas meja sudah tersusun beberapa buku pelajaran dasar yang dibelikan Gavin sebagai persiapan kuliah.
Dara membuka halaman pertama dengan semangat. Ia membaca perlahan sambil sesekali mencatat.
Gavin yang baru selesai mandi memperhatikannya dari kejauhan. "Kamu langsung belajar?"
"Iya."
"Tidak capek?"
Dara menggeleng sambil tersenyum. "Aku takut nanti pas kuliah malah ketinggalan."
Gavin berjalan mendekat. Ia melihat tulisan tangan Dara yang rapi memenuhi buku catatan. "Kamu serius sekali."
"Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang Aa berikan."
Mendengar jawaban itu, Gavin terdiam beberapa saat. Dalam hati, ia merasa tidak salah memilih menerima Dara sebagai istrinya. Gadis itu mungkin berasal dari keluarga sederhana. Pendidikan dan kesempatan hidupnya juga terbatas. Namun, semangat belajarnya jauh lebih besar dibanding banyak orang yang pernah ia temui.
Gavin mengusap pelan kepala Dara. "Pelan-pelan saja. Jangan terlalu memaksa diri."
Dara mendongak. Sentuhan lembut itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. "Iya, Aa."
Tanpa sadar, senyum kecil menghiasi wajah mereka berdua.
Malam itu berlalu dengan tenang. Tak ada kecanggungan yang berlebihan. Hanya dua insan yang perlahan belajar saling mengenal, saling memahami, dan menumbuhkan rasa nyaman di dalam rumah tangga yang bermula dari perjodohan. Di luar dugaan mereka, benih-benih cinta mulai tumbuh secara perlahan, tanpa paksaan dan tanpa mereka sadari.