Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Lidah Rossi mendadak membeku. Kata-kata Rowan yang meluncur tanpa keraguan itu seolah menjadi palu pengadaian yang mengesahkan kehancuran masa depannya.
Rossi kehabisan kata. Dia benar-benar terjebak dalam jaring yang ditenun oleh keadaannya sendiri. Nasibnya malam ini benar-benar habis.
Bagaimana mungkin dia akan menikah dengan pria asing yang baru beberapa puluh menit lalu ia temui di balik kegelapan parkiran?
Rencana impian masa depannya yang cerah—kebebasan yang selalu ia impikan saat meringkuk di kamar sempit desa pengasingannya di Central Valley—lenyap seketika. Mimpinya untuk kuliah, mencari pekerjaan yang layak, dan menata hidup mandiri kini terkubur oleh realita yang menghantamnya bertubi-tubi.
Namun, di tengah kecamuk pikirannya yang hancur, sebuah sensasi aneh yang sejak tadi mengintip di balik kesadarannya mulai merayap naik dan membesar.
Rasa panas yang mulanya terasa seperti gerah biasa, kini berpindah secara agresif menuju area intim di bagian bawah tubuhnya.
Denyutan halus yang melelahkan mulai terasa di sana, menciptakan rasa tidak nyaman yang begitu asing sekaligus membakar. Rossi tidak mengerti kenapa tubuhnya menjadi seperti ini sejak tadi.
Apakah karena cuaca malam yang mendadak berubah? Atau karena stres berat yang menghantam mentalnya?
Rossi berusaha menggerakkan posisi duduknya di atas kursi kulit mobil, bergeser ke kiri dan ke kanan, merapatkan kedua pahanya demi mencari kenyamanan yang tak kunjung datang.
Namun, semakin ia bergerak, gesekan kain gaunnya justru menyulut gelombang panas yang makin hebat. Rasa panas ini... adalah sesuatu yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Itu bukan sekadar rasa hangat dari demam, melainkan seperti desakan biologis yang liar, membakar habis akal sehatnya dari dalam.
"Kau kenapa?" tanya Rowan, memecah keheningan saat ia selesai memarkirkan mobil sport-nya di area parkir basal sebuah gedung apartemen mewah yang sangat sepi.
Rowan telah memutuskan untuk membawa gadis ini ke apartemen pribadi milik kakak tertuanya—sebuah unit Penthouse tersembunyi yang jarang ditempati dan bebas dari jangkauan media maupun intaian keluarganya.
"A-aku... aku tidak tahu," jawab Rossi dengan napas yang mulai terengah-engah. Wajahnya yang semula pucat kini merona merah padam. "Panas... Ah, kenapa ini panas sekali?!"
Dengan jemari yang gemetar dan tidak terkontrol, Rossi melepas jas milik Rowan yang menutupi tubuhnya. Rasa terbakar di kulitnya membuat keberadaan pakaian terasa seperti siksaan. Bahkan, jemarinya mulai bergerak liar ke bagian belakang punggungnya, berniat membuka gaun tipisnya demi mencari udara segar.
Rowan menoleh, dan saat matanya menangkap pupil mata Rossi yang membesar serta napasnya yang memburu tak beraturan, pemahaman mendadak menyengat otaknya.
Meskipun ini adalah situasi yang belum pernah ia hadapi secara langsung, sebagai pria dewasa yang hidup di lingkaran atas kota metropolitan, Rowan sangat paham dengan gejala ini.
"Oh, shit!" desis Rowan dengan umpatan kasar yang jarang keluar dari mulutnya. "Kau dicekoki obat perangsang!"
Rasa jijik dan amarah Rowan pada orang-orang yang mengejar gadis ini semakin membumbung tinggi. Mereka tidak hanya menjualnya, tetapi juga meracuni tubuhnya agar gadis ini tidak bisa melawan saat diserahkan pada pembelinya.
Dengan cepat, Rowan Vale-Knight keluar dari pintu pengemudi. Ia melangkah lebar memutari kap mobil, membuka pintu penumpang, dan langsung merengkuh tubuh mungil Rossi yang sudah lemas dan bersuhu tinggi. Ia memapah sekaligus menggendong setengah tubuh gadis itu, melangkah cepat menuju area lift khusus penguji.
"Bertahanlah!" ucap Rowan tegas di samping telinganya.
"Oh, tidak... ini terlalu panas, Tuan... tubuhku... sakit..." desah Rossi pasrah, menyandarkan kepalanya yang berat di dada bidang Rowan. Bau maskulin dari tubuh pria itu justru makin memicu kewarasannya untuk runtuh.
Pintu lift terbuka di lantai paling atas. Mereka sampai di dalam apartemen yang luas dan hening. Rowan membawa Rossi melintasi ruang tamu yang gelap menuju kamar utama.
Tanpa membuang waktu, Rowan mendudukkan Rossi di tepi ranjang berukuran king-size.
"Langsung mandi ke dalam kamar mandi utama," perintah Rowan, berusaha menjaga suaranya tetap rasional. "Aku yakin kau akan mendingan setelah berendam di air dingin."
Rossi menggelengkan kepalanya dengan kacau. Air mata frustrasi menetes di pipinya yang panas. "Oh tidak... ini panas sekali. Aku rasa... aku tidak akan puas walaupun hanya dengan berendam..."
Deg.
Mendengar perkataan polos namun sarat akan godaan yang terlontar dari bibir gadis itu, Rowan terdiam sejenak. Langkah kakinya membeku di atas karpet tebal.
Tentu saja. Rowan tahu benar bagaimana kerja zat kimia berbahaya itu. Hanya berendam air dingin tidak akan pernah bisa menghilangkan efek dorongan hormon yang telah meracuni aliran darahnya. Gadis ini akan tersiksa sepanjang malam, bergulat dengan hasrat asing yang menuntut penyelesaian.
Di dalam kegelapan pikiran Rowan, sebuah dorongan lain muncul. Keputusasaan, kemarahan pada Cathez, janji pernikahan yang baru saja ia ucapkan, dan kebutuhan mendesak untuk memiliki garis keturunannya sendiri bertaut menjadi satu.
"Bagaimana kalau malam ini aku meminta balasannya? Soal pernikahan? Kita bisa meresmikan dokumennya besok."
"T-tuan... aku... aku tidak mau..." lirih Rossi, sisa-sisa kesadarannya mencoba mempertahankan benteng pertahanan terakhir, meski tubuhnya sendiri mengkhianatinya dengan bergerak mendekati sumber hangat di depannya.
Rowan berlutut di hadapan Rossi, menggenggam kedua tangan gadis itu yang terasa membakar. Matanya menatap lurus, memancarkan keseriusan yang tidak main-main.
"Aku berjanji akan membesarkan anak kita dengan baik," ucap Rowan dengan nada rendah, dalam, dan mengikat. "Aku berjanji akan menikahimu besok. Kau akan tersiksa sepanjang malam jika aku tidak melakukan ini. Bukankah kau merasa sangat panas di area sana? Aku akan membantumu..."
Belum sempat Rossi menyusun kata-kata untuk menjawab, Rowan sudah lebih dulu memangkas jarak. Pria itu mendekat dan langsung membungkam bibir Rossi dengan sebuah ciuman yang dalam.
Mmmh...
Sentuhan bibir Rowan seperti menyiramkan bensin ke dalam kobaran api di dalam tubuh Rossi.
Rasa panas yang menyiksa itu mendadak menemukan salurannya. Di sela-sela ciuman yang menuntut dan membakar itu, Rossi menahan napasnya, lalu berbisik lirih di antara kehabisan udara, "Rossi... Namaku Rossi, Tuan... Aku mohon, jangan bayangkan istrimu saat bersamaku..."
Rowan mengangguk pelan di sela ciuman yang tak berhenti menyapu bibir manis itu.
Rasa hormat yang tersisa pada istrinya di Bel Air telah hangus. Dengan gerakan yang penuh kehati-hatian namun pasti, Rowan merebahkan tubuh mungil Rossi di atas empuknya ranjang.
Di bawah remang cahaya lampu tidur, Rowan menatap wanita di bawahnya. Pria itu mengambil napas panjang, lalu berbisik di samping telinga Rossi—mengucapkan janji yang terasa sakral di tengah situasi gila ini.
"Aku, Rowan Vale-Knight... bersumpah akan menjagamu, menjamin hidupmu, dan menjadikan anak yang kau lahirkan dari rahimmu sebagai pewaris tunggal dari namaku."
Rossi, yang pakaiannya sudah terlepas sepenuhnya di bawah kendali pengaruh obat dan dorongan alami tubuhnya, menatap wujud pria di atasnya dengan mata sayu yang dipenuhi kepasrahan.
Di sela desahan halus dari tubuhnya yang kini telanjang bulat, Rossi menjawab dengan nada lirih namun terdengar sangat tegas di dalam sunyinya kamar:
"Dan aku... Rossi Widmer... bersumpah menyerahkan diriku dan rahimku untukmu, Tuan..."
Setelah janji mandiri itu terucap di antara mereka, Rowan tak lagi memikirkan Cathez, tidak lagi mengingat mansion mewah Vale-Knight, ataupun konflik yang menunggunya besok.
Yang ada di hadapannya hanyalah seorang wanita yang kini menjadi takdir barunya.
Rowan menunduk, menyapukan ciumannya turun dari leher mulus Rossi hingga ke bagian tubuhnya yang gemetar. Sentuhan demi sentuhan Rowan yang berhati-hati membuat napas Rossi semakin memburu.
Obat perangsang itu mendorong kepekaan kulit Rossi hingga ke tingkat tertinggi; setiap gesekan terasa seperti sengatan listrik yang memabukkan.
Saat Rowan perlahan memosisikan tubuhnya dan mulai menyatukan diri mereka, ia merasakan hambatan yang begitu nyata.
Sebuah dinding pertahanan alami yang rapat dan belum pernah tersentuh oleh pria mana pun.
Rowan menahan pergerakannya seketika. Matanya membelalak pelan, menatap wajah Rossi yang meringis menahan rasa sakit yang mendadak menyeruak di antara rasa panasnya.
Pria itu tertegun. Bersegel. Gadis ini benar-benar masih utuh.
Sebuah rasa haru dan penyesalan yang mendalam menyelusup ke dalam dada Rowan. Ia mendekatkan wajahnya, mengusap keringat di dahi Rossi, lalu mengecup kening gadis itu dengan sangat lembut.
"Maafkan aku..." bisik Rowan lirih, suaranya sarat akan emosi yang jujur. "Kau memang bukan yang pertama untukku... tapi aku ucapkan terima kasih, karena aku yang pertama untukmu."
Ingatan Rowan melayang sejenak pada Cathez—istrinya itu bukan lagi wanita murni saat mereka menikah dulu, dan Rowan tidak pernah memermasalahkannya. Namun menemukan kejujuran dan kemurnian ini pada Rossi—seorang gadis yang sempat ia sangka wanita malam—menghantam hatinya dengan rasa hormat yang luar biasa.
Dengan penuh kelembutan, Rowan melanjutkan penyatuan itu secara perlahan, membimbing Rossi melewati rasa sakit pertamanya hingga berganti menjadi gelombang kenikmatan yang memabukkan.
Desahan demi desahan lembut lolos dari bibir Rossi yang tak lagi sanggup menahan sensasi luar biasa yang menguasai seluruh sarafnya.
"Ah... Rowan..." desah Rossi tanpa sadar memanggil nama pria itu untuk pertama kalinya.
"Ahh... Rossi..." balas Rowan, menyebut nama gadis itu di antara helaan napasnya yang berat dan liar.
Di puncak gairah yang membakar malam itu, ketika seluruh efek racun kimia bercampur dengan penyatuan fisik mereka yang intens, Rossi yang berada di ambang kesadaran dan kepasrahan mendongak. Jemari mungilnya mencengkeram bahu kokoh Rowan.
"Apakah... apakah aku akan hamil besok?" gumam Rossi polos dengan suara parau.
Rowan terkekeh pelan di atas tubuhnya, sebuah senyuman hangat terukir di wajahnya yang basah oleh keringat sebelum kembali mengecup bibir Rossi dengan dalam.
"Bodoh..." bisik Rowan gemas. "Kau tidak akan hamil hanya dalam semalam."
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰