NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Ting!

​Suara notifikasi dari ponsel Anton berbunyi.

​Dia membuka layar ponselnya dan melihat sebuah pesan notifikasi masuk dari bank.

​[Rekening Anda telah dikredit sebesar Rp 750.000.000,00 dari Toko Mustika.]

​Anton menatap angka nol di layar ponselnya dengan nafas terengah-engah.

​Uang sebanyak ini bahkan tidak pernah terbayangkan olehnya selama hidup puluhan tahun.

​"Terima kasih atas transaksinya, Mas Anton," ucap Hermawan sambil mengulurkan tangannya dengan ramah.

​"Jika Mas Anton menemukan barang berharga lainnya, jangan ragu untuk datang ke Toko Mustika lagi," tambah Hermawan.

​Anton membalas jabat tangan itu dengan tenang.

​"Tentu saja, Pak Hermawan," jawab Anton santai.

​Dia menoleh ke arah Bella yang masih menatapnya dengan tatapan kagum dan sedikit penasaran.

​"Mbak Bella, terima kasih atas bantuannya," ucap Anton sambil tersenyum manis.

​Pipi Bella mendadak merona merah setelah mendapatkan senyuman dari Anton.

​"S-sama-sama, Mas Anton, itu sudah tugas saya," jawab Bella sedikit gugup.

​Bella bergegas merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama berdesain elegan.

​"Ini kartu nama saya, Mas," ucap Bella sambil menyerahkannya dengan kedua tangan.

​"Kalau Mas Anton butuh bantuan atau ingin menjual barang lagi, bisa langsung menghubungi nomor pribadi saya," tambah Bella.

​Anton menerima kartu nama itu dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya.

​"Pasti," balas Anton singkat.

​Dia berbalik dan melangkah keluar dari Toko Mustika dengan dada terangkat busung.

​Langkah kakinya tidak lagi ragu-ragu seperti tadi pagi.

​Sekarang, dia memiliki modal yang sangat cukup untuk mengubah total penampilannya.

​Anton berjalan menuju sebuah mal mewah yang berada tak jauh dari kawasan pasar antik tersebut.

​Kring!

​Pintu kaca otomatis mal terbuka lebar menyambut kedatangan Anton.

​Namun, belum sempat dia melangkah jauh, dua satpam berbaju hitam mencegat posisinya.

​"Maaf Mas, area ini untuk pengunjung berbelanja," ucap salah satu satpam dengan pandangan meremehkan.

​Dia menatap kemeja usang Anton yang bernoda darah kering dari kejadian semalam.

​"Saya memang ingin berbelanja di sini," jawab Anton dengan nada dingin.

​"Jangan bercanda, Mas," cibir satpam yang satunya lagi.

​"Pakaianmu saja seperti pengemis jalanan, lebih baik kamu keluar sebelum kami usir," tegasnya.

​Anton tidak marah, dia hanya menghela nafas pelan.

​Dia mengambil ponselnya, membuka aplikasi mobile banking, dan memperlihatkan saldo rekeningnya tepat di depan wajah kedua satpam itu.

​Mata kedua satpam itu mendadak melotot seperti mau keluar dari kelopaknya.

​"Tuju ratus... lima puluh juta?!" bisik satpam itu dengan suara tercekat.

​Sikap kedua satpam itu berubah seratus delapan puluh derajat dalam sekejap mata.

​Mereka membungkukkan badan dalam-dalam hingga sembilan puluh derajat.

​"M-maafkan kami, Tuan!" seru satpam itu dengan tubuh gemetar.

​"Kami tidak tahu kalau Tuan adalah orang kaya yang suka tampil sederhana!" tambahnya panik.

​"Silakan masuk, Tuan, selamat berbelanja!" seru satpam lainnya dengan nada penuh penghormatan.

​Anton hanya tersenyum sinis tanpa membalas ucapan mereka dan langsung masuk ke dalam mal.

​"Uang benar-benar bisa mengubah sikap orang dalam sekejap," batin Anton dengan pahit.

​Dia masuk ke sebuah toko pakaian pria ternama dari merek internasional.

​Seorang pelayan wanita langsung menyambutnya dengan sangat ramah setelah melihat gaya berjalan Anton yang begitu percaya diri.

​"Selamat datang Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu dengan sopan.

​"Pilihkan pakaian paling bagus, dari kemeja, celana, sampai sepatu," perintah Anton.

​"Ukuran saya sedang, dan ganti semua yang saya pakai sekarang," tambahnya.

​"Baik Pak, mohon tunggu sebentar!" jawab pelayan itu penuh semangat.

​Satu jam kemudian, Anton keluar dari ruang ganti pakaian.

​Kemeja hitam elegan menempel sempurna di tubuhnya yang atletis, dipadukan dengan celana kain berkulit halus dan sepatu kulit mewah.

​Rambutnya juga telah ditata rapi oleh penata gaya di dalam toko tersebut.

​Anton menatap dirinya di cermin besar.

​Pria lusuh dan kasihan semalam telah sepenuhnya menghilang dari pandangan.

​Kini yang berdiri di sana adalah seorang pria tampan, gagah, dan memancarkan aura ketampanan seorang miliarder muda.

​"Luar biasa Pak, Anda terlihat seperti seorang aktor ternama," puji pelayan toko itu jujur.

​"Berapa total semuanya?" tanya Anton sambil mengeluarkan kartu debit barunya.

​"Totalnya tiga puluh lima juta rupiah, Pak," jawab pelayan itu.

​"Gesek saja," ucap Anton tanpa mengedipkan mata sedikit pun.

​Setelah menyelesaikan pembayaran, Anton melangkah keluar dari mal dengan gaya yang sangat menawan.

​Banyak wanita muda yang berlalu-lalang menoleh ke arah Anton sambil berbisik-bisik kagum.

​Anton mengabaikan tatapan-tatapan itu dan langsung menyetop sebuah taksi di pinggir jalan.

​"Ke dealer mobil mewah terdekat," perintah Anton kepada sopir taksi.

​"Baik, Mas!" jawab sopir taksi meluncurkan kendaraannya.

​Tujuan Anton selanjutnya sudah sangat jelas.

​Dia ingat betul bagaimana Dimas dan Rina membanggakan mobil baru mereka semalam.

​Dia akan membeli mobil yang jauh lebih mahal dan jauh lebih mewah daripada milik Dimas.

​Beberapa menit kemudian, taksi berhenti di depan sebuah showroom dealer mobil sport impor ternama.

​Mobil-mobil mengkilap berharga miliaran rupiah terpajang rapi di balik kaca-kaca besar showroom tersebut.

​Anton melangkah masuk dengan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

​Seorang sales pria berkemeja rapi langsung menghampirinya.

​"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu di dealer kami?" sapa sales tersebut dengan ramah.

​"Aku mencari mobil yang siap pakai hari ini juga," jawab Anton tegas.

​"Tentu saja Pak, mari saya tunjukkan koleksi terbaik kami," jawab sales itu mengarahkan Anton ke tengah ruangan.

​Mata Anton tertuju pada sebuah mobil sport berwarna hitam mengkilap dengan garis bodi yang sangat agresif.

​"Mobil ini menarik," ucap Anton sambil mendekati mobil tersebut.

​"Pilihan yang sangat luar biasa, Pak!" puji sales tersebut dengan mata berbinar.

​"Ini adalah Porsche 911 Carrera terbaru," jelaskannya.

​"Mesinnya sangat tangguh, dan interiornya menggunakan bahan kulit kualitas premium," tambah sales itu semangat.

​"Berapa harganya?" tanya Anton singkat.

​"Harga on the road untuk unit ini adalah tiga koma delapan miliar rupiah, Pak," jawab sales itu.

​Anton terdiam sejenak.

​Saldonya saat ini baru tujuh ratus jutaan, tentu saja belum cukup untuk membeli mobil seharga tiga miliar lebih ini secara tunai.

​"Apakah ada yang harganya di bawah delapan ratus juta tapi tetap terlihat sangat mewah dan sporty?" tanya Anton.

​Sales itu tidak berkecil hati sama sekali.

​"Tentu ada, Pak! Mari ikut saya ke area sebelah," ajak sales itu dengan ramah.

​Dia membawa Anton menuju sebuah mobil sedan sport mewah berwarna merah menyala.

​"Ini adalah BMW Seri 4 Coupé," tunjuk sales tersebut.

​"Tampilannya sangat sporty, bernuansa muda, dan harganya sekitar tujuh ratus dua puluh juta rupiah," jelas sales itu.

​Anton mengamati mobil sedan merah itu dari depan hingga belakang.

​Dia memfokuskan pikirannya dan mengaktifkan [Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1].

​Pandangan Anton menembus kap mesin dan bodi mobil merah tersebut.

​Dia memeriksa komponen mesin, kabel-kabel, hingga struktur dalam kendaraan tersebut untuk memastikan tidak ada cacat pabrik.

​Semua komponen mesin berada dalam kondisi seratus persen sempurna.

​"Mobil ini sangat bagus," batin Anton puas.

​Dia menatap sales di depannya dengan mantap.

​"Aku ambil mobil ini," ucap Anton tanpa ragu.

​"Baik Pak, mau diproses secara kredit atau cicilan?" tanya sales itu menyiapkan berkas.

​"Cash," jawab Anton tegas.

​"Saya akan bayar lunas sekarang juga."

​Sales tersebut terperanjat sampai pulpen di tangannya hampir terjatuh.

​"C-cash Pak? Langsung lunas hari ini?" tanya sales itu memastikan pendengarannya.

​"Iya, urus semua surat-suratnya sekarang, aku mau membawanya pulang hari ini juga," balas Anton santai.

​"Siap Pak! Segera saya proses sekarang juga!" seru sales itu dengan raut wajah sangat gembira.

​Sales itu bergegas mengurus seluruh dokumen kelengkapan mobil dengan kecepatan ekstra.

​Anton duduk di sofa empuk ruang tunggu sambil menikmati secangkir kopi mahal yang disajikan khusus untuknya.

​"Dimas, kamu pamer mobil lima ratus jutaan di depanku kemarin malam," batin Anton sambil tersenyum dingin.

​"Tunggu sampai aku melintas di depan matamu dengan mobil merah ini."

​"Aku ingin melihat bagaimana ekspresi wajahmu dan Rina nanti," bisik Anton pelan.

​Tiba-tiba, suara tawa yang sangat akrab dan sangat bising terdengar dari pintu masuk showroom dealer.

​"Sayang, aku mau beli mobil baru lagi untuk hadiah ulang tahunku bulan depan ya?" ucap suara seorang wanita dengan nada manja yang sangat dikenal Anton.

​Anton menoleh ke arah pintu masuk.

​Matanya menyempit tajam.

​Dua orang yang baru saja masuk ke dalam dealer mobil itu adalah Rina dan Dimas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!