Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Janji dan Kerinduan
Lampu merah di atas kamera Studio Satu Adhyastha Media akhirnya padam, menandakan program berita utama malam itu resmi berakhir setelah siaran langsung selama hampir dua jam.
Suasana studio yang sejak tadi dipenuhi konsentrasi tinggi seketika mencair.
“Tiga, dua, satu... and clear!”
Suara pengarah acara terdengar bersemangat dari balik kaca ruang kontrol.
“Luar biasa, Aura! Rating malam ini kembali menembus rekor! Penyampaianmu sangat berbobot, tenang, dan profesional!”
Aura tersenyum lega. Ia melepaskan clip-on microphone yang terpasang di kerah blazernya, kemudian mengembuskan napas panjang. Ketegangan yang sejak tadi menahan bahunya perlahan luruh.
“Terima kasih,” balas Aura ramah.
Begitu melangkah keluar dari studio, beberapa kru, floor manager, hingga kameramen yang berpapasan dengannya memberikan tepuk tangan kecil dan ucapan selamat.
“Selamat, Mbak Aura!”
“Penampilan malam ini keren sekali!”
Aura membalasnya dengan senyum hangat dan anggukan santun. Ada kebahagiaan kecil yang memenuhi dadanya. Setelah melalui begitu banyak hal, akhirnya ia bisa kembali berdiri di depan kamera bukan sebagai seseorang yang harus membuktikan harga dirinya kepada dunia, melainkan sebagai seorang profesional yang tahu persis apa yang sedang ia perjuangkan.
Namun, langkahnya mendadak melambat.
Di ujung koridor VIP yang relatif sepi, berdiri seorang pria yang begitu dikenalnya.
Reno Adhyastha.
Pria itu bersandar santai pada dinding marmer berwarna gelap dengan kedua tangan berada di dalam saku celana bahan yang dikenakannya. Setelan formalnya masih tampak sempurna, meskipun gurat lelah samar terlihat di wajahnya.
Tetapi begitu pandangan mereka bertemu, ekspresi Reno seketika berubah.
Tatapan dinginnya melunak.
Aura tersenyum tanpa sadar.
Reno benar-benar menepati janjinya.
Ia datang menjemput sendiri setelah siaran Aura berakhir.
Langkah Aura pun menjadi lebih ringan. Ia segera menghampiri sang suami.
“Mas... sudah dari tadi menunggu di sini?”
Reno mengeluarkan salah satu tangannya dari saku, kemudian meraih tangan Aura begitu wanita itu sudah berada di hadapannya.
“Tidak terlalu lama.”
Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Mas hanya tidak mau melewatkan momen melihat istri Mas selesai menjalankan tugasnya.”
Aura terkekeh kecil.
“Padahal Mas bisa saja menunggu di ruang CEO.”
“Bisa.”
Reno mengangguk santai.
“Tapi Mas lebih suka melihatmu langsung.”
Tanpa memperdulikan beberapa staf yang masih berada cukup jauh di koridor, Reno menarik Aura ke dalam pelukan singkat. Lengannya melingkari pinggang sang istri dengan hangat, sementara telapak tangannya mengusap punggung Aura perlahan.
“Kamu hebat sekali malam ini, Sayang.”
Suara baritonnya rendah dan penuh kebanggaan.
“Mas benar-benar bangga melihatmu.”
Aura mendongak.
“Terima kasih, Mas.”
Reno menatap wajah istrinya beberapa detik sebelum memberikan kecupan lembut di kening Aura.
“Ayo pulang.”
Kali ini Aura mengangguk.
“Iya.”
Lexus hitam milik Reno kemudian membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang.
Di dalam kabin yang kedap suara, musik instrumental mengalun lembut. Lampu-lampu kota bergerak seperti garis-garis cahaya di balik kaca jendela.
Sepanjang perjalanan, tangan Reno tak pernah benar-benar meninggalkan Aura.
Jemari mereka saling bertaut di atas konsol tengah.
Sesekali ibu jari Reno mengusap punggung tangan istrinya dengan gerakan kecil yang sederhana, tetapi cukup untuk membuat Aura merasa tenang.
Aura menoleh.
“Mas.”
“Hm?”
“Terima kasih sudah datang.”
Reno meliriknya sekilas.
“Kenapa berterima kasih untuk sesuatu yang memang ingin Mas lakukan?”
Aura tersenyum.
“Karena rasanya menyenangkan sekali tahu ada seseorang yang selalu menunggu kita pulang.”
Reno terdiam sejenak.
Kemudian genggamannya mengerat.
“Selama Mas masih ada, kamu tidak perlu pulang sendirian.”
Kalimat sederhana itu membuat hati Aura menghangat.
Sesampainya di penthouse, pintu lift pribadi terbuka langsung menuju foyer.
Begitu pintu utama tertutup, suasana berubah menjadi jauh lebih tenang.
Aura melepaskan high heels yang sejak tadi membuat kakinya terasa pegal. Ia baru hendak berjalan menuju kamar ketika Reno mendekat dari belakang.
Kedua lengannya melingkar lembut di pinggang Aura.
Aura tersenyum kecil.
“Mas?”
“Sebentar.”
Reno menyandarkan dagunya di bahu Aura.
“Mas mau begini dulu.”
Aura tertawa pelan.
“Memangnya kenapa?”
“Mas rindu.”
“Tadi kita bersama di kantor.”
“Beda.”
“Bedanya apa?”
Reno memutar tubuh Aura perlahan hingga mereka saling berhadapan.
“Kalau di kantor, kamu milik semua orang yang melihatmu di layar.”
Tatapan Reno melembut.
“Kalau di rumah, kamu hanya perlu menjadi Aura. Istri Mas.”
Aura terdiam.
Pipi wanita itu perlahan merona.
“Mas bisa saja membuat aku malu.”
“Sengaja.”
Reno tersenyum.
Ia mengangkat tangan, merapikan beberapa helai rambut Aura yang keluar dari balik hijabnya.
“Karena kamu lucu kalau sedang malu.”
Aura mencubit pelan lengan Reno.
“Jangan menggoda.”
“Tidak bisa.”
Reno kemudian menangkup lembut kedua sisi wajah Aura.
Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat.
Tidak ada kata-kata selama beberapa detik.
Reno menundukkan wajahnya dan mengecup kening Aura dengan lembut.
Satu kecupan.
Kemudian satu lagi di pipi kanan.
Disusul pipi kirinya.
Aura tersenyum kecil.
“Mas...”
“Hm?”
“Kok banyak sekali?”
“Mas belum selesai.”
Reno kembali mendekat.
Kali ini bibir mereka bertemu dalam sebuah kecupan yang lembut.
Singkat pada awalnya.
Namun, ketika Aura tidak menjauh dan justru mengangkat kedua tangannya untuk merapikan kerah kemeja Reno, kecupan itu berubah menjadi ciuman yang sedikit lebih lama.
Hangat.
Pelan.
Penuh kerinduan yang sejak tadi mereka simpan sepanjang hari.
Aura memejamkan mata.
Tangannya perlahan berpindah melingkari leher Reno, sementara Reno menahan pinggangnya dengan hati-hati, memastikan tidak ada gerakan yang membuat istrinya kehilangan keseimbangan.
Ciuman itu akhirnya terlepas.
Reno tidak langsung menjauh.
Kening mereka masih bertemu.
Napas keduanya terdengar sedikit lebih berat, tetapi senyum kecil masih menghiasi bibir mereka.
“Capek?” tanya Reno lembut.
Aura mengangguk.
“Lumayan.”
“Kalau begitu, istirahat.”
Reno mengusap rambutnya.
Namun Aura justru tersenyum.
“Sekarang sudah tidak terlalu capek.”
Reno terkekeh rendah.
“Berarti Mas boleh menyalahkan diri sendiri karena membuatmu tersenyum?”
Aura menggeleng sambil tertawa.
“Mas memang selalu punya jawaban.”
“Karena Mas suamimu.”
Aura kembali tersenyum.
Ia menyandarkan kepala di dada Reno.
“Mas...”
“Hm?”
“Aku bahagia.”
Pelukan Reno mengerat.
“Mas juga.”
Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri seperti itu, saling menikmati keheningan rumah yang akhirnya menjadi tempat mereka pulang.
Namun, momen tersebut tiba-tiba terputus oleh suara dering ponsel yang terdengar nyaring dari atas sofa.
Reno menghela napas pelan.
“Sebentar.”
Ia melepaskan pelukan dan mengambil ponselnya.
Aura berdiri beberapa langkah di belakangnya, masih merapikan rambut dan pakaiannya.
Reno melihat layar ponsel.
Ekspresinya berubah.
Senyum yang sebelumnya menghiasi wajahnya lenyap perlahan.
Nama yang muncul di layar membuat sorot matanya seketika serius.
Dokter Utama RS Adhyastha
Panggilan masuk.
Tengah malam.
Reno langsung mengangkatnya.
“Dok?”
Suara di seberang terdengar serius dan terburu-buru.
Aura yang melihat perubahan wajah suaminya langsung mendekat.
“Siapa....Mas?”
Reno mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar Aura menunggu.
Namun beberapa detik kemudian, wajahnya semakin tegang.
“Apa?”
Aura mulai merasa tidak nyaman.
Reno berdiri tegak.
“Dokter, tenang. Jelaskan kondisi Ibu Salma sekarang.”
Hening beberapa detik.
Kemudian Reno menutup mata sesaat.
Rahangnya mengeras.
“Baik. Kami segera ke rumah sakit.”
Panggilan berakhir.
Aura langsung menggenggam lengan suaminya.
“Mas...”
Reno menatapnya.
Kali ini tidak ada lagi kelembutan yang tadi memenuhi tatapannya.
Yang tersisa hanyalah kecemasan seorang menantu yang sangat menyayangi ibu dari wanita yang dicintainya.
“Dokter dari rumah sakit.”
Suara Reno terdengar rendah.
“Bagaimana Ibu?”
Reno menarik napas dalam.
“Ibu mengalami kondisi kritis dan dokter meminta kita datang sekarang.”
Wajah Aura seketika pucat.
“Ibu...?”
Reno segera meraih tubuh istrinya, menarik Aura ke dalam pelukannya sebelum lutut wanita itu kehilangan tenaga.
“Tenang, Sayang.”
Aura mencengkeram kemeja Reno.
“Mas... kita harus ke sana sekarang.”
“Iya.”
Reno mengusap punggungnya.
“Mas antar kamu.”
Dalam hitungan detik, suasana hangat di penthouse itu berubah menjadi kepanikan.
Reno meraih kunci mobil.
Aura mengambil tasnya dengan tangan gemetar.
Tidak ada lagi waktu untuk memikirkan kelelahan atau malam yang baru saja mereka jalani.
Satu hal saja yang memenuhi pikiran mereka.
"Ibu Salma."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah hari yang begitu indah, Reno dan Aura kembali berlari menghadapi ujian yang tidak pernah mereka duga akan datang.