Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan Yang Mengguncang Pesta
Udara malam terasa jauh lebih sejuk dibandingkan di dalam ruangan. Angin musim semi bertiup pelan, membawa harum bunga mawar dan melati yang bermekaran di taman kerajaan. Cahaya bulan memantul lembut di atas dedaunan, sementara lampu-lampu kecil yang berjajar di sepanjang jalan setapak menciptakan suasana yang indah sekaligus sunyi.
Elisa melangkah perlahan.
Suara sepatu haknya terdengar pelan menyentuh batu-batu taman. Di tangannya masih tergenggam gulungan surat yang diterimanya beberapa saat lalu.
Semakin dekat.
Semakin sunyi.
Keheningan itu justru membuat bulu kuduknya sedikit meremang. Elisa mulai merasa ada yang aneh, dia membuka pintu rumah kaca perlahan"Permisi."
Tidak ada jawaban
Namun baru dua langkah masuk...
"Nandikara?" Sebuah suara yang sangat dikenalnya membuat Elisa langsung menoleh.
Matanya membulat."Leonardo?"
Di ujung lorong rumah kaca, Leonardo Snow berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku mantel. Tatapan yang biasanya tenang kini dipenuhi kebingungan.
"Kau juga mendapat surat?" tanya Leon sambil mengangkat gulungan surat yang masih berada di tangannya.
Elisa menatap surat itu beberapa saat. Lalu tanpa sadar ia mengangkat surat miliknya."Kau juga?"
Leon mengangguk pelan."Aku diminta datang ke sini karena katanya ada seseorang yang ingin mengatakan sesuatu yang penting."
Elisa mengerutkan kening."Isi suratku juga begitu."
Leon berjalan mendekat."Boleh kulihat?"
Elisa menyerahkan suratnya. Leon membacanya perlahan. Kemudian ia memberikan surat miliknya kepada Elisa. Mereka membandingkan kedua surat itu. Benar saja. Kalimatnya hampir sama. Hanya berbeda sedikit pada cara penyampaiannya.
Beberapa detik mereka hanya saling berpandangan.
Tidak ada yang berbicara. Hingga akhirnya Leon menghela napas pelan."Kurasa kita dijebak." Tebak Leon, yang langsung menyadari keadaan.
Tebakannya tentu bukan hal sembarangan, karena posisi Nandikara yang tiba-tiba menjadi calon Putri mahkota tentu saja mengundang banyak musuh. Apalagi sekarang ini rumor tentang Nandikara yang bukan bangsawan, itu sudah pasti menimbulkan polemik. Pasti banyak yang tidak suka padanya.
Elisa mengangguk pelan."Lebih baik kita kembali." Dia melangkah dengan terburu-buru ingin segera meninggalkan tempat itu, Namun tepat ketika keduanya hendak keluar...
Suara langkah kaki terdengar dari luar. Bukan satu.
Melainkan banyak. Disusul suara perempuan yang terdengar semakin dekat.
"Aku yakin tadi kulihat Lady Winter ke arah sini."
"Benarkah?"
"Cari!"
Jantung Elisa langsung berdegup kencang.
Leon mengernyit."Kita sudah masuk perangkap."
Pintu rumah kaca mendadak terbuka lebar. Ada empat lady berdiri di sana dengan wajah penuh keterkejutan.
Lady Anastasia berada paling depan.
Kipas di tangannya jatuh begitu saja."N-Nandikara?" Tatapannya berpindah kepada Leonardo. Lalu kembali kepada Elisa. Wajahnya perlahan berubah seolah-olah baru saja menyaksikan sesuatu yang sangat mengejutkan."Astaga...."
Suaranya cukup keras hingga semua orang mendengar."Apa yang kalian lakukan, berdua di tempat seperti ini?"
Semua lady langsung membelalakkan mata.
Suasana mendadak hening.
Lalu, kegemparan pun dimulai.
"Tidak mungkin.."
"Lady Winter bersama Tuan Muda Snow?"
"Bukankah dulu Lady Nandikara memang mencintai Tuan Leonardo Snow?"
"Apakah sekarang cinta itu sudah terbalas?"
"Lalu bagaimana dengan Pangeran Erlan?"
Bisikan demi bisikan mulai terdengar.
Elisa menarik napas panjang, dia benar-benar sudah masuk jebakan. Memorinya langsung teringat pada kejadian yang selama ini menimpa Lady Agnes di dalam novel.
Jadi sekarang giliranku?
Di cerita asli, Jasmine Snow dan Nandikara Winter sering menjadi dalang berbagai fitnah. Sekarang, apakah Jasmine kembali bermain di balik layar? Tapi apa pun jawabannya, bukan saatnya memikirkan itu. Yang terpenting sekarang dia harus keluar dari tempat itu.
Elisa segera melangkah menuju pintu. Namun langkahnya terhenti. Tanpa disadari, para lady telah membentuk lingkaran yang menutup seluruh jalan keluar. Tak ada celah sedikit pun.
Elisa mengembuskan napas pelan."Tolong jangan salah paham." Suaranya tetap terdengar tenang."Ini tidak seperti yang kalian bayangkan."
Lady Anastasia yang berdiri di sisi para Lady mengangkat sebelah alisnya."Benarkah?"
Tatapannya bergantian mengarah kepada Elisa dan Leonardo."Lalu mengapa Tuan Muda Snow juga berada di sini?"
Leonardo menghela napas pelan."Kami sama-sama menerima surat."
"Surat?" ulang Anastasia polos.
Leon mengeluarkan gulungan surat dari sakunya."Ada seseorang yang memanggilku ke sini."
Elisa ikut menganggukkan kepala."Aku juga."
Lady Anastasia melangkah mendekat, menatap gulungan surat itu sekilas, lalu tersenyum tipis."Lucu sekali."
"Apa yang lucu?" tanya Elisa.
"Kalian bahkan menyiapkan alasan yang sama." Ucapan itu membuat beberapa lady langsung mengangguk setuju.
"Benar juga."
"Mana mungkin kebetulan seperti itu."
"Aku tidak percaya."
Elisa mulai merasa kesal."Aku tidak sedang berbohong."
"Kalau begitu," sela seorang lady bergaun merah, "mengapa kalian datang sendirian?"
"Karena isi suratnya memang meminta datang sendiri."
"Tunjukkan suratnya."
Elisa langsung menyerahkan gulungan surat itu.
Lady tersebut membacanya sekilas, tetapi bukannya percaya, ia malah tertawa sinis."Surat seperti ini bisa saja kalian buat sendiri."
Beberapa lady ikut tertawa kecil.
Elisa mengembuskan napas panjang."Kalau memang kalian sudah memutuskan aku bersalah, untuk apa bertanya?"
"Karena kami ingin mendengar pengakuanmu."
"Kara!"
Suara yang sangat dikenalnya terdengar dari luar. Suri berlari tergesa-gesa memasuki rumah kaca. Napasnya memburu. Tanpa berpikir panjang ia langsung berdiri di depan Elisa, seolah menjadi tameng bagi adiknya.
"Kalian tidak berhak menuduh tanpa bukti yang kuat."
"Mereka sudah jelas berduaan di rumah kaca." Anastasia masih belum menyerah."Kurang bukti apa lagi, Suri Winter?"
Suri menatap tajam wanita itu."Hanya karena mereka berada di tempat yang sama bukan berarti semua tuduhan kalian benar."
"Kalau begitu jelaskan!"
"Kami tidak wajib menjelaskan apa pun kepada kalian."
Perdebatan mulai memanas. Suara para lady saling bersahutan memenuhi rumah kaca.
Hingga tiba-tiba...
"Cukup!"
Suara berat yang penuh wibawa menggema dari arah pintu masuk. Semua kepala menoleh ke arah yang sama.
Putra Mahkota Erlan berdiri di sana.
Wajahnya tetap datar. Tatapannya dingin. Tanpa tergesa-gesa ia melangkah masuk.
Setiap langkahnya membuat para lady yang semula memenuhi jalan langsung menyingkir secara refleks. Tak seorang pun berani menghalangi jalannya.
Suasana yang semula riuh berubah menjadi mencekam. Tak ada lagi bisikan. Tak ada lagi tawa sinis. Hanya suara langkah kaki Erlan yang terdengar jelas di dalam rumah kaca.
Pria itu berjalan lurus. Tidak menoleh kepada siapa pun. Tatapannya hanya tertuju pada satu orang.
Nandikara.
Pria itu terus berjalan mendekat dengan wajah tanpa ekspresi. Dan seluruh orang yang berada di sana hanya mampu menahan napas, menunggu apa yang akan dilakukan oleh Putra Mahkota selanjutnya
selalu ditunggu episode selanjutnya
kok ini elisanya terlalu lembek dan tetpaku pengen jadi orang baik terlalu naif
padahal udh diperingatkan sama pemilik tubuh aslinya
kok aq yg masih dendam sm singa. jengkel gt.
usir dah usir 😁