NovelToon NovelToon
Sinyal Terakhir

Sinyal Terakhir

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Fantasi / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

SINYAL TERAKHIR

Sinopsis

Tahun 2487.

Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?

Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.

Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 – Perintah Prioritas

Tahun 2487.

Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) menguasai ratusan sistem bintang yang tersebar di beberapa lengan Galaksi Bima Sakti. Jaringan gerbang antarbintang memungkinkan perjalanan yang dahulu memerlukan puluhan tahun kini dapat ditempuh dalam hitungan jam atau hari, tergantung jaraknya.

Ekspedisi ilmiah menjadi bagian penting dari perkembangan peradaban manusia. Setiap tahun puluhan armada diberangkatkan untuk memetakan wilayah baru, mencari sumber daya, dan meneliti planet yang berpotensi dihuni.

Tidak semua ekspedisi berhasil kembali.

ESS Horizon sedang berlabuh di Orbit Kallista, salah satu pangkalan luar angkasa terbesar milik PPM.

Kapal sepanjang hampir dua kilometer itu baru menyelesaikan misi survei selama delapan bulan di wilayah pinggiran galaksi. Lambungnya masih dipenuhi bekas debu antarbintang yang belum sempat dibersihkan.

Di dek komando, para teknisi sibuk mematikan sistem navigasi dan mengunduh data misi.

"Mesin warp dinonaktifkan."

"Reaktor memasuki mode siaga."

"Transfer data dimulai."

Suara laporan terdengar bergantian.

Kael berdiri di depan jendela utama sambil memperhatikan lalu lintas kapal di luar pangkalan.

"Kelihatannya kita akhirnya bisa libur," kata seorang perwira sambil melepas sarung tangannya.

Kael menoleh.

"Itu kalau markas tidak punya rencana lain."

Perwira itu tertawa.

"Kau selalu curiga."

"Bekerja di armada membuatku belajar satu hal."

"Apa?"

"Kalau semuanya terlihat tenang, biasanya pekerjaan baru sedang menunggu."

Belum sempat perwira itu menjawab, suara AURA memenuhi ruang komando.

"Wakil Kapten Kael, Anda dipanggil ke ruang komunikasi prioritas."

Kael menghela napas pendek.

"Nah, benar kan?"

Ruang komunikasi hanya diterangi cahaya dari layar holografik.

Beberapa detik kemudian, sosok seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun muncul.

Seragam hitam dengan lambang bintang emas di bahunya menunjukkan bahwa ia adalah anggota Dewan Armada.

"Laksamana Rowan."

Kael memberi hormat.

"Silakan duduk, Kael."

Nada bicara Rowan tenang, tetapi wajahnya terlihat serius.

"Bagaimana hasil misi terakhir?"

"Seluruh data survei sudah dikirim. Tidak ada kontak dengan peradaban asing maupun aktivitas yang mencurigakan."

"Bagus."

Laksamana tidak langsung melanjutkan pembicaraan. Ia membuka sebuah berkas di depannya.

"Liburmu dibatalkan."

Kael tersenyum kecil.

"Saya sudah menduganya."

"Kau tidak ingin tahu alasannya?"

"Tetap ingin."

"Kami akan membentuk ekspedisi baru."

"Ke mana?"

"Belum bisa saya jelaskan sekarang."

"Rahasia?"

"Prioritas tertinggi."

Kael mengangguk.

Kalau Dewan menggunakan istilah prioritas tertinggi, berarti informasi itu hanya boleh diketahui oleh orang-orang tertentu.

"Berapa lama saya punya waktu untuk bersiap?"

"Dua hari."

"Hanya dua hari?"

"Ya."

"Itu berarti kapalnya sudah dipilih."

"Benar."

"ESS Horizon?"

Laksamana mengangguk pelan.

Satu jam kemudian Kael keluar dari ruang komunikasi.

Di koridor, Darius sedang menunggunya.

"Wajahmu tidak kelihatan seperti orang yang baru dapat cuti."

"Cuti dibatalkan."

"Aku tahu."

Kael berhenti berjalan.

"Kau tahu?"

"Tadi AURA mengirim pemberitahuan. Semua perwira diminta tetap berada di pangkalan."

"Ada misi baru."

"Sepertinya begitu."

Darius memasukkan kedua tangannya ke saku seragam.

"Semoga kali ini bukan survei asteroid lagi."

Kael tertawa pelan.

"Kalau sampai Dewan turun tangan langsung, rasanya bukan misi biasa."

Sementara itu, di Kompleks Riset Biologi PPM yang berada di sisi lain Orbit Kallista, seorang wanita sedang berdiri di depan meja laboratorium.

Puluhan layar transparan menampilkan hasil analisis mikroorganisme dari planet yang baru ditemukan beberapa minggu sebelumnya.

"Dokter Lyra."

Seorang asisten masuk tergesa-gesa.

"Ada panggilan dari Dewan."

Lyra mengangkat kepala.

"Dewan?"

"Ya."

"Asisten saya yang membuat janji?"

"Tidak."

"Kalau begitu pasti bukan soal penelitian."

Ia melepaskan sarung tangan laboratorium, lalu berjalan menuju ruang komunikasi.

Sesampainya di sana, layar holografik langsung menyala.

Laksamana Rowan muncul dengan ekspresi yang sama seperti ketika berbicara dengan Kael.

"Dokter Lyra."

"Laksamana."

"Kami membutuhkan keahlian Anda."

"Untuk penelitian apa?"

"Bukan penelitian."

"Lalu?"

"Ekspedisi."

Lyra terdiam beberapa detik.

"Saya bukan anggota armada."

"Itulah sebabnya kami menghubungi Anda."

"Apa yang akan diteliti?"

"Jawaban itu akan Anda terima setelah bergabung dengan tim."

Lyra tidak langsung menjawab.

Ia terbiasa menerima undangan penelitian, tetapi tidak pernah direkrut untuk sebuah ekspedisi militer.

"Laporan lengkap akan dikirim dalam satu jam."

"Berapa lama misi ini?"

"Kami belum tahu."

Malam itu, di pusat data PPM, sebuah berkas digital diberi status OMEGA.

Hanya dua belas nama yang tercantum sebagai penerima akses.

Nama pertama adalah Kapten Idris.

Nama kedua adalah Kael.

Nama ketiga adalah Lyra.

Sembilan nama lainnya masih dirahasiakan.

Di halaman terakhir berkas hanya ada satu kalimat.

Tujuan ekspedisi: Galaksi Asterion.

Di bawahnya terdapat catatan tambahan.

Alasan keberangkatan akan dijelaskan setelah seluruh anggota tim berkumpul.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!