Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.
Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.
Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Dingin yang Berubah
Bab 2
Suara langkah kaki terdengar mendekat dari luar pintu. Setiap langkahnya berat, teratur, seolah setiap hentakan membuat lantai kamar ikut bergetar pelan. Jantung Elena berdegup kencang sampai rasanya mau melompat keluar dari dada. Ia menelan ludah susah payah, tangan yang memegang gelas air masih gemetar pelan.
"Nyonya, Tuan sudah datang," suara pelayan terdengar berhati-hati dari balik pintu.
"I... iya, suruh masuk," jawab Elena, berusaha sekuat tenaga agar suaranya terdengar tenang, tidak bergetar, tidak terdengar takut seperti perasaannya sekarang.
Pintu terbuka perlahan.
Seorang pria bertubuh tinggi besar melangkah masuk. Setelan jas hitam yang ia kenakan rapi sekali, tidak ada satu pun lipatan yang berantakan. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan garis wajah yang tegas, rahang yang tajam, dan sepasang mata yang... dingin. Sangat dingin. Seolah tidak ada sedikit pun perasaan yang tersisa di sana. Itu Leonid. Pria yang di ingatan masa lalu, baru saja hampir menghukum mati istrinya sendiri.
Ia berhenti tidak jauh dari tepi tempat tidur, menatap lurus ke arah Elena. Tatapan itu tajam, seolah bisa menembus apa saja yang ada di pikiran orang yang ia lihat. Elena tidak berani membalas tatapan itu terlalu lama, ia hanya menunduk pelan, meremas ujung seprai dengan tangan yang tersembunyi di balik selimut.
"Kau sudah bangun," suaranya berat, rendah, tidak ada nada lembut sedikit pun.
"Iya..." jawab Elena pelan.
Leonid melangkah maju satu langkah lagi. Matanya menyapu wajah Elena lekat-lekat, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang. "Kau terlihat berbeda."
Darah seolah berhenti mengalir sejenak di tubuh Elena. Ia mengangkat wajah perlahan, mencoba tersenyum tipis yang sama sekali tidak terasa tulus. "Maksudnya bagaimana? Aku... aku hanya merasa sedikit pusing saja tadi."
Leonid diam saja sebentar, lalu tangannya terulur. Elena menahan napas, siap-siap kalau saja tangan itu akan mencengkeram lehernya seperti yang ada di bayangan masa lalu. Tapi tangan itu hanya mendarat pelan di atas keningnya. Telapak tangannya besar, hangat, tapi sentuhannya sama sekali tidak lembut.
"Tidak demam," ucapnya pelan, lalu menarik tangannya kembali. "Jangan ulangi lagi perbuatan bodohmu itu. Aku tidak akan memaafkanmu untuk kedua kalinya."
Kalimat itu terucap begitu tenang, tapi ancamannya terasa begitu nyata menusuk ke tulang. Elena mengangguk pelan, air mata hampir saja menetes tanpa sadar. "Aku janji... aku tidak akan melakukannya lagi."
Leonid menatapnya lagi lama sekali, seolah tidak percaya dengan ucapan yang begitu lembut keluar dari mulutnya. Selama ini wanita itu selalu menjawab dengan nada tinggi, membantah, atau diam saja dengan tatapan sinis. Tapi sekarang? Ia melihat ketakutan yang tulus di mata istrinya, bukan rasa takut karena ketahuan berbuat salah, melainkan rasa takut kehilangan sesuatu yang berharga.
"Minum obatnya," ucapnya singkat, lalu berbalik sedikit ke arah pelayan yang masih menunduk diam di sudut ruangan. "Siapkan makanan ringan. Dan panggil dokter sebentar untuk memeriksanya."
"Baik, Tuan." Pelayan itu segera mundur keluar ruangan.
Saat hanya tinggal mereka berdua, suasana kembali hening. Hanya suara napas mereka yang terdengar. Leonid duduk di kursi sofa yang ada di samping tempat tidur, tidak terlalu dekat, tapi tidak terlalu jauh. Ia menatap ke arah jendela yang tertutup tirai tebal, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.
Elena memberanikan diri menatapnya diam-diam. Di balik wajah yang terlihat bengis dan tidak peduli itu, ada kesepian yang dalam. Ia ingat bayangan di kepalanya—bagaimana Leonid dulu mencintai Elena dengan tulus, memberikan segalanya, tapi balasannya hanyalah pengkhianatan dan kekejaman pada anaknya sendiri. Hati pria ini pasti sudah hancur berkeping-keping, tapi ia menutupinya dengan sikap yang lebih dingin dan keras.
"Kenapa kau menatapku?" tanya Leonid tiba-tiba tanpa menoleh.
Elena tersentak kaget, segera memalingkan wajah. "Maaf... aku hanya... aku hanya merasa bersalah."
Leonid berbalik menatapnya kembali. "Bersalah? Kau tidak pernah merasa bersalah pada siapa pun. Termasuk pada anakmu sendiri."
Kalimat itu terasa seperti tamparan keras. Elena merasakan perih yang tajam di dada, bukan karena takut, tapi karena kasihan pada anak kecil yang tidak berdosa itu. Ia mengangkat wajah, menatap lurus ke mata Leonid dengan air mata yang akhirnya menetes jatuh.
"Aku tahu aku salah... aku tahu aku sudah jahat sekali pada Alvaro. Tapi mulai sekarang... aku janji tidak akan menyakitinya lagi. Aku akan merawatnya, aku akan menjadi ibu yang baik untuknya."
Leonid terdiam. Matanya melebar sedikit, terkejut mendengar janji yang tidak pernah keluar dari mulut Elena sebelumnya. Selama ini Elena selalu menganggap anak itu sebagai beban, atau alat untuk mendapatkan perhatian darinya. Tapi ucapan ini... terasa begitu tulus. Seolah ada orang lain yang berbicara di dalam tubuh istrinya.
"Kau berjanji?" tanyanya pelan, suaranya sedikit bergetar, seolah takut berharap pada sesuatu yang mungkin sia-sia.
"Aku berjanji," jawab Elena tegas, menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Demi apa pun, aku tidak akan menyakiti anak itu lagi."
Belum sempat Leonid menjawab, pintu kamar terbuka kembali. Seorang pelayan masuk membawa nampan berisi susu hangat dan roti, diikuti oleh sosok kecil yang berjalan pelan di belakangnya.
Alvaro.
Anak itu berjalan dengan langkah yang ragu-ragu, kepalanya menunduk dalam, kedua tangan kecilnya meremas ujung baju tidurnya yang agak lusuh. Wajahnya pucat, matanya sembab seolah baru saja menangis lama. Saat ia melangkah masuk, matanya melirik sekilas ke arah tempat tidur, lalu segera menunduk lebih dalam saat melihat sosok ibunya yang menatapnya.
Elena merasakan hatinya teriris sakit melihat anak itu. Di usia empat tahun, seharusnya ia bermain, tertawa, merasakan kasih sayang. Tapi yang ia dapatkan hanyalah ketakutan dan kesepian.
"Alvaro..." panggil Elena pelan.
Anak itu tersentak kaget, tubuhnya gemetar pelan. Ia mundur selangkah, siap untuk lari atau menerima bentakan seperti biasa.
Jantung Elena rasanya hancur melihat itu. Ia turun dari tempat tidur, berlutut perlahan di lantai agar tingginya setara dengan anak itu. Ia tidak berani bergerak cepat, takut membuat Alvaro makin takut.
"Maafkan Mama..." ucapnya dengan suara yang lembut dan penuh penyesalan. "Mama tidak akan marah lagi... bolehkah Mama melihatmu sebentar?"
Alvaro mendongak perlahan, matanya yang besar menatap ragu ke arah ibunya. Ia melihat sesuatu yang berbeda di sana—bukan kemarahan, bukan kebencian, melainkan air mata dan pandangan yang penuh kasih sayang. Ia melirik ke arah ayahnya, Leonid yang masih diam terpaku melihat kejadian itu.
Perlahan, dengan langkah yang masih gemetar, Alvaro melangkah satu langkah ke depan.
"Mama... tidak marah?" suaranya kecil sekali, hampir tak terdengar.
"Tidak, sayang... Mama tidak akan marah lagi," Elena mengulurkan tangannya perlahan. "Sini... mendekatlah pada Mama."
Ragu-ragu, tangan kecil itu menyentuh jari-jari Elena. Saat merasakan sentuhan hangat yang tidak menyakiti, Alvaro akhirnya berani melangkah mendekat. Elena langsung merangkul tubuh kecil itu pelan, memeluknya erat seolah takut anak itu akan hilang. Alvaro kaget sejenak, lalu perlahan ia membalas pelukan itu dengan pelukan yang malu-malu, menempelkan wajahnya ke dada ibunya dan menangis pelan.
Leonid berdiri diam di tempat yang sama. Matanya terasa panas, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia melihat dua orang yang paling ia sayangi di dunia ini berpelukan. Melihat perubahan yang begitu drastis pada istrinya, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ada harapan kecil yang tumbuh di hatinya yang beku.
Mungkin... mungkin masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Bersambung...