Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Keesokan harinya.
Giwang telah membuat beraneka ragam kue basah dan makanan lainnya. Jualan hanya di depan rumah tanpa harus menjajakan seperti pada saat di kampung.
"Semoga laris," gumamnya.
Satu persatu tetangga penasaran karena ada seorang gadis yang berjualan di depan rumah Bu Ima.
"Silakan Bu," ujar Giwang ramah. Mereka melihat kue yang ada di meja. Dan tidak berapa lama Bu Ima keluar.
"Ini siapa Bu?" tanya seorang wanita ke Ibu Ima.
"Ini keponakan saya dari kampung," sahut Ibu Ima.
"Enggak kuliah?" tanya salah seorang Ibu.
Giwang dan Ibu Ima saling menatap.
"Keponakan saya sudah menikah," sahut Ibu Ima.
"Waduh masih muda kok sudah menikah," timpal seorang Ibu yang bisa menebak kalau Giwang masih sangat muda.
"Namanya di kampung, usia seperti Giwang wajar sudah menikah," bela Ibu Ima.
"Oh namanya Giwang," sahut seorang Ibu lagi.
"Iya Bu," sahutnya.
"Nama yang cantik sama seperti orangnya," timpal seorang Ibu.
"Suaminya mana Bu?" tanya seorang wanita paruh baya ke Ibu Ima.
Ibu Ima menatap Giwang.
"Suami saya sudah meninggal," sahut Giwang datar. Ibu Ima memperhatikan ekspresi Giwang ketika mengatakan itu.
"Innalillahi," ujar semua Ibu-ibu yang ada di situ.
"Sejak kapan meninggalnya?" tanya seorang Ibu.
Giwang diam, dia tidak tau sejak kapan sosok suami yang sangat dicintainya hilang dalam relung hatinya.
"Sejak saya mengandung anaknya," sahut Giwang.
"Ya Allah kasihan banget," ujar Ibu-ibu yang mengira suami Giwang memang telah meninggal.
"Jadi sekarang kamu mengandung?" tanya seorang Ibu lagi.
"Iya Bu," timpal Ibu Ima.
"Berapa usai kandungan kamu?" tanya seorang Ibu.
"Tiga bulan," sahut Giwang yang berusaha tegar menghadapi cobaan dalam hidupnya.
"Kasihan," Ibu-ibu yang ada di situ mulai memborong jualan Giwang, mereka bisa berpikir kalau gadis yang masih belia itu sedang mencari nafkah untuk anak yang di kandungnya. Tidak butuh waktu lama dagangan Giwang ludes.
"Alhamdulillah," ujarnya senang.
Uang yang di dapatnya diberikannya ke Ibu Ima tentunya setelah di potong modal jualan. "Untuk apa ini?" tanya Ibu Ima.
"Untuk Ibu," sahut Giwang.
"Tidak perlu Giwang, ini uang dari hasil keringat kamu," wanita paruh baya itu menolak.
"Ibu, aku tinggal di sini saja sudah membuatku senang, izinkan aku untuk memberi walaupun hanya sedikit," ujar Giwang.
"Tidak Giwang, kamu akan memerlukannya dari pada Ibu," Ibu Ima membalikkan uang itu ke tangan Giwang. "Simpan untuk biaya melahirkan," ujar Ibu Ima.
Giwang tersenyum dia memeluk wanita paruh baya itu. Memeluk seperti Ibunya sendiri.
Dia mengambil toples kaca di dalam lemari dan meletakkan uang itu di sana.
"Kenapa simpan di situ?" tanya Ibu Ima heran.
"Aku akan meletakkan keuntungan jualan di dalam toples, uang itu akan menjadi uang belanja untuk makan kita," jelas Giwang.
"Tapi Giwang?"
"Ibu tenang saja, aku menyisihkan dua puluh ribu untuk aku simpan sebagai biaya melahirkan," jelasnya.
Ibu Ima tidak bisa memaksa Giwang, kehadiran gadis itu membuatnya senang. Hari-harinya tidak habis di taman. Semenjak kehadiran Giwang, Ibu Ima jarang ke taman. Karena rasa sepinya telah terobati dengan hadirnya Giwang.
***
Beberapa minggu kemudian
Paijo telah selesai liburan di kampung halamannya, kini tiba waktunya untuk kembali bekerja.
Sebelum berangkat istrinya Siti berpesan kepadanya untuk menanyakan kabar Giwang ke Agung. Dan dia akan menanyakan itu kepada temannya.
Paijo masuk ke dalam ruangan Agung. Temannya terlihat sibuk di depan meja kerjanya. Agung kaget karena Paijo ada di dalam ruangannya.
"Siapa yang mengizinkan kamu untuk masuk ke ruangan ku!" bentak Agung.
Paijo bingung dengan sikap Agung yang berubah sombong. "Pintunya tidak tertutup," sahut Paijo.
"Jadi jika pintu ini tidak tertutup kamu bisa masuk suka-suka!" bentak Agung sembari menggerakkan tangannya mengusir temannya.
Paijo menghela nafasnya, jika tidak karena istrinya, dia tidak akan sudi menampakkan mukanya di depan Agung.
Paijo mengetuk pintu ruangan ketika ada perintah masuk, dia baru masuk ke dalam ruangan itu.
"Ada apa?" tanya Agung ketus.
"Aku mau menanyakan keadaan Giwang," sahut Paijo.
Seketika wajah Agung berubah. "Bagaimana kabarnya?" tanya Paijo. "Istriku meminta aku untuk menanyakan ini ke kamu," jelas Paijo.
"Bapak," ujar Agung tegas. "Mulai hari ini kamu harus memanggilku Bapak Agung," Agung berbicara cukup sombong.
"Baik Pak," sahut Paijo menahan semuanya. "Bagaimana kabar Giwang?" tanya Paijo lagi.
"Ma mana aku tau!" bentaknya gugup. "Dia kan ada di kampung!" serunya marah.
"Tapi beberapa minggu yang lalu dia ke kota," jelas Paijo.
"Tapi kenyataannya tidak ada," Agung menekan intonasi bicaranya. "Mungkin dia masih di kampung," ujar Agung lagi.
"Tidak ada, selama dia pamit ke sini, kami tidak pernah mendengar kabarnya," jelas Paijo dan segera keluar dari ruangan itu.
Agung senang karena sosok istrinya seperti hilang di telan bumi. Tapi dia teringat tentang perceraiannya yang sampai sekarang belum ada kejelasan.
"Lebih baik aku pergi ke kantor pengacara itu," gumamnya sembari keluar dari ruangannya. "Jangan-jangan mereka mau menipuku, uang konsultasi sepuluh juta tapi sampai detik ini belum ada kejelasan," gerutunya dan langsung melajukan mobilnya.
Paijo merasa khawatir dengan keadaan Giwang. Dia harus mengabari ke istrinya.
"Dek," ujar Paijo dari ujung ponselnya.
"Iya Mas," sahut Siti.
"Giwang tidak ada di sini."
"Apa!" Siti kaget. "Jadi Giwang ke mana Mas?" tanyanya panik.
"Mas juga enggak tau, tadi Mas sudah bertemu dengan Agung tapi dia bilang kalau Giwang di kampung," ujarnya.
Siti panik. "Mas lakukan sesuatu, Giwang sedang mengandung Mas!" teriaknya panik.
"Iya tau, nanti Mas kabari lagi," Paijo memutuskan panggilan itu dan berniat menemui resepsionis yang ada di lobi.
Paijo kenal dengan wanita yang bekerja di situ.
"Eh Mas Paijo," ujar wanita yang bekerja di meja resepsionis.
"Aku mau tanya ada tidak tamu wanita yang mencari Agung," ujarnya.
Wanita itu mengerutkan dahinya memandang Paijo. Pria itu menyebutkan ciri-ciri Giwang beserta tanggal ketika Giwang ke kota.
"Aku lupa Mas," sahutnya.
"Coba lihat di buku tamu," ujar Paijo lagi.
Wanita itu mencoba mencari di buku tamu sesuai tanggal yang di sebutkan pria di depannya.
"Ada namanya Giwang," sahut wanita itu sembari menunjukkan buku tamu ke Paijo.
Menurut Paijo ada titik terang kalau Giwang telah datang menemui Agung.
"Aku ingat, pada saat itu ada seorang gadis belia datang dengan membawa tas. Dia menanyakan Pak Agung karena Pak Agung sibuk, dia menunggu di sana," ujar wanita itu sembari menunjuk sofa yang di duduki Giwang.
"Terus dia ke mana?" tanya Paijo lagi.
"Pak Agung tidak kunjung keluar sampai sore jadi gadis itu di usir keluar oleh sekuriti setelah itu aku tidak tau," jelas wanita itu.
Paijo langsung berlari ke pos sekuriti dan menanyakan tentang Giwang. Beberapa pria di dalam pos tidak ingat siapa saja yang datang ke perusahaan itu.
"Ada apa Paijo?" tanya kepala sekuriti.
"Pak, saya mau tanya kira-kira beberapa minggu lalu ada tidak seorang gadis datang ke sini, mengaku dari kampung dan dia juga mengaku istrinya Agung?" tanya Paijo.
Kepala sekuriti tidak melupakan kejadian itu, dia masih mengingat semuanya dan dia juga yang menyelamatkan gadis itu ketika hampir tertabrak.
"Iya ada, dia datang dua kali ke sini. Pada saat itu pagi buta dia minta izin ke anak buah saya dan menyebutkan seperti yang kamu sebutkan, karena terlalu pagi anak buah saya menyuruhnya menuggu di taman," pria paruh baya itu menunjuk taman yang ada di depan perusahaan mereka.
"Lalu Pak?" tanya Paijo penasaran.
Pria paruh baya itu juga menceritakan sama persis yang di ceritakan wanita yang bekerja di resepsionis.
"Terus Pak?" Paijo penasaran.
"Dia pulang karena kantor sudah tutup dan dia kembali lagi besoknya dengan menggunakan pakaian yang sama, tapi kami tidak mengizinkan dia masuk karena sudah mendapatkan perintah dari Pak Agung," jelasnya. "Jadi dia duduk di situ untuk menunggu Pak Agung," kepala sekuriti menunjukkan tempat Giwang duduk.
"Dan Pak Agung datang dengan Pak Wahyu di situ gadis itu teriak sembari menangis."
"Memangnya apa yang di lakukan Agung?" tanya Paijo penasaran.
"Pak Agung menyerahkan uang seratus ribu ke anak buah saya untuk di serahkan ke gadis itu dan gadis itu harus di usir, dan kamu bisa tau sendiri kemarahan gadis itu ketika mendapatkan perlakukan seperti itu," jelas pria itu.
"Kurang ajar!" teriak Paijo.
"Sebenarnya apa yang di katakan gadis itu benar?" tanya kepala sekuriti.
"Semua benar, Agung telah menikah kalau tau sifatnya seperti ini tidak akan aku bawa dia ke kota," gerutu Paijo menyesali semuanya.
Bersambung...
Bantu vote ya.
Follow Instagram : anita_rachman83
seputar novel hanya di info di instagram.
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!