Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Sejak tadi Sisi mondar-mandir di ruang tamu sambil menunggu Lyra. Ia perlu bertanya. Ia perlu memastikan. Mungkin saja itu hanya lelucon, tapi melihat sikap Lucien, apa pria itu terlihat seperti tipe yang suka bercanda?
Sisi akhirnya menjatuhkan dirinya ke sofa.
Aduh, hidup ini!
“Kau kelihatan bermasalah, Kak. Ada apa?” tanya Lyra sambil menguap, lalu duduk di sampingnya.
“Jawab aku jujur. Apa Lucien gay?” tanya Sisi serius.
Lyra langsung tertawa terbahak-bahak.
Bipolar. Mirip kakaknya. Bahkan air mata Lyra sampai keluar karena tertawa terlalu keras. Apa Sisi terlihat sedang bercanda? Tidak ada satu pun yang lucu dari pertanyaannya.
Lyra benar-benar jago merusak hari orang.
“Hentikan itu. Jawab pertanyaanku,” kata Sisi kesal.
Lyra akhirnya berhenti tertawa, meski masih menggigit bibir menahan senyum.
“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?” tanyanya.
“Seketarisnya bilang mereka kekasih,” jawab Sisi datar.
Lyra kembali tertawa.
Astaga. Sebentar lagi Sisi benar-benar akan memukul gadis itu.
“Maksudmu Draven?” Lyra akhirnya berkata lebih serius. “Jangan percaya dia. Dia cuma bercanda. Kakakku tidak gay, jadi tenang saja.”
Entahlah.
Lagipula, kalau pun Lucien gay, memangnya kenapa? Itu tidak akan memengaruhi hidup Sisi juga.
Setelah percakapan itu, Sisi naik ke atas. Ia ingin melanjutkan hari santainya. Rasanya seperti baru saja keluar dari penjara. Nikmat sekali rasanya bebas.
Hore!
Satu hore lagi!
Bercanda.
Sisi mandi, tentu saja di kamar mandi suaminya yang luar biasa itu. Toh Lucien sedang tidak ada, jadi kenapa tidak dimanfaatkan? Setelah hampir satu jam, ia keluar dari kamar mandi dengan perasaan ringan.
Ia memilih tank top rajut warna peach dan rok denim dengan ujung mentah. Riasan tipis, rambut dibiarkan bergelombang alami.
Wow, cantiknya aku, puji Sisi dalam hati.
Ia sempat selfie sebelum mengunggahnya ke Instagram.
Keterangan: kencan dengan diriku sendiri.
Dengan perasaan senang, Sisi berkeliling mall dan akhirnya memutuskan singgah di kedai pizza.
Ia benar-benar merindukan pizza. Sisi memang pencinta pizza. Sekarang kalian tahu, kan? Jadi kapan traktir aku?, bercanda.
Sisi sedang asyik menyantap pizzanya sendirian ketika seseorang berdiri di hadapannya.
Dan sialnya...
Itu Jericho.
Hari indahnya hancur seketika.
Penampilan Jericho jauh berbeda dari terakhir kali ia lihat. Pria itu terlihat berantakan, sengsara, dan terluka.
Sisi terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Pergi saja? Terlambat.
Jericho tersenyum pahit.
“Aku tahu kau akan ke sini kalau sedang kencan dengan dirimu sendiri,” katanya pelan.
Tentu saja ia tahu. Mereka sudah saling mengenal sejak SMA.
“Aku cuma ingin santai sendiri. Kau ngapain di sini?” tanya Sisi sambil tetap makan, mencoba mengusir kecanggungan.
“Makan. Memangnya ada kegiatan lain di tempat makan?” jawab Jericho sambil menyeringai.
“Buang air,” jawab Sisi spontan.
Jericho langsung memasang wajah datar.
“Ih,” katanya singkat.
Sisi tertawa.
“Lebay. Seolah kau tidak buang air,” ujarnya sambil menggeleng dan melanjutkan makan.
“Hentikan. Mulutmu jorok. Tidak punya sopan santun,” tegur Jericho.
“Nyenyenye. Terserah. Jarang-jarang bebas begini, masih dilarang,” balas Sisi cemberut.
Jericho justru tertawa lepas.
“Kau benar-benar lucu.”
Sial. Sisi sedikit baper.
“Aku tahu,” jawab Sisi percaya diri.
Mereka tertawa bersama dan akhirnya makan hingga hampir empat kotak pizza habis.
Sisi dan Jericho memang selalu cocok soal makanan. Soal hati?
Bercanda.
***
“Ini cocok buatmu,” kata Sisi sambil menunjukkan sebuah kemeja pada Jericho.
Jericho menggeleng pelan, tanda tidak suka.