NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Di Antara Tugas Kantor

Pagi di Yogyakarta menyambutku dengan sisa-sisa udara sejuk yang perlahan tergantikan oleh terik matahari. Di dalam kamarku, aku memandangi gaun organza sutra berwarna dusty pink yang masih tergantung rapi di pintu lemari.

Senyuman tipis terukir di bibirku tanpa bisa ditahan. Namun, sejurus kemudian aku menepuk pelan kedua pipiku dengan telapak tangan, mencoba menyadarkan diri dari lamunan konyol ini.

"Bab selanjutnya kok aku merasa kami seperti pasangan yang lagi kasmaran, sih?" bisikku pada diri sendiri, menggelengkan kepala panik saat membayangkan wajah Dimas. "Ah, sudahlah! Kenapa jadi mikirin dia terus?"

Aku segera bersiap-siap dan berangkat ke kantor seperti biasa. Aku bekerja di sebuah perusahaan agensi pemasaran berbasis internasional yang berkantor di kawasan perkotaan Jogja. Pemilik perusahaan ini adalah Mbak Dinar seorang wanita karir yang tangguh, tegas, sekaligus bertangan dingin yang sudah kuanggap seperti kakak sendiri.

Sesampainya di kantor, suasana sibuk khas agensi langsung menyambutku. Aku berjalan menuju ruangan Mbak Dinar untuk menyerahkan laporan pekerjaan sebelum mengambil cuti resmi untuk urusan ke Jakarta lusa.

"Pagi, Mbak Dinar," sapa ramahku sambil meletakkan map di meja kerjanya.

Mbak Dinar mendongak dari layar laptopnya, menyesap kopi hitamnya, lalu menatapku dengan sudut mata yang memicing curiga.

"Mei, sini duduk dulu," panggil Mbak Dinar.

Aku duduk di kursi kayu berbusa di hadapannya. Mbak Dinar menyandarkan punggung, memegangi dagunya dengan jari yang rapi terpoles cat kuku merah tua.

"Aku dengar-dengar dari Ibu kamu... kamu dijodohkan ya?" tanya Mbak Dinar blak-blakan. Entah bagaimana ceritanya Ibu sempat menelepon Mbak Dinar, mungkin untuk memastikan aku benar-benar mengambil cuti tanpa beban pekerjaan.

"Eh... iya, Mbak," jawabku agak canggung, mengusap tengkukku yang mendadak terasa hangat.

"Yaa baguslah. Usiamu kan bentar lagi tiga puluh, Mei. Sudah waktunya ada yang dampingi," sahut Mbak Dinar santai. Beliau kemudian mengambil sebuah berkas tebal dari sudut mejanya.

"Ngomong-ngomong soal Jakarta, kebetulan banget. Seminggu yang lalu aku bertemu klien besar dari Jakarta. Mereka mau menggunakan agensi kita sebagai tim pemasaran utama untuk ekspansi produk makanan baru mereka."

Aku menaikkan alis, tertarik. "Produk makanan?"

"Iya. Kliennya ini perusahaan raksasa yang lagi naik daun," jelas Mbak Dinar seraya menggeser berkas itu ke hadapanku. "Nama perwakilannya Pak Arvino. Nah, beliau minta kita mengirimkan satu staf ahli pemasaran untuk bergabung langsung di kantor pusat mereka di Jakarta selama tiga bulan ke depan, untuk menggarap strategi pemasaran produk olahan saus khas Korea yang akan diluncurkan di Seoul."

Aku tertegun sejenak. Arvino? Produk makanan saus Korea?

Nama itu terdengar sangat familier! Bukankah Adam adikku, kemarin sempat menyebutkan nama sahabat Dimas yang bernama Arvino?

"Mbak Dinar mau kirim aku?" tanyaku memastikan.

"Iya. Kamu kan manajer proyek terbaik di sini, Mei. Apalagi lusa kamu bilang ada urusan pribadi ke Jakarta. Sekalian saja, kamu yang gabung dengan Pak Arvino di sana. Gimana?"

Mendengar penawaran itu, mataku seketika berbinar. Kesempatan kerja yang luar biasa ini bertepatan dengan jadwal keberangkatanku ke Jakarta untuk menemui Dimas! Tanpa perlu berpikir dua kali, semangat di dalam dadaku membakar hebat.

"Mau, Mbak! Aku siap berangkat lusa!" sahutku sangat antusias, bahkan suaraku terdengar jauh lebih tinggi dari biasanya.

Mbak Dinar melirikku dengan tajam, matanya menyipit penuh keheranan atas responku yang terlalu bersemangat.

"Tumben... ada apa nih?" tanya Mbak Dinar curiga. "Biasanya kalau disuruh tugas luar kota berbulan-bulan, kamu paling lantang nawar atau minta pertimbangan dulu. Ini kok langsung setuju tanpa tapi?"

Pipiku seketika membakar hebat. Aku tersadar dari kebodohanku. Cara jawabku tadi benar-benar mencerminkan seorang wanita yang tak sabar ingin terbang ke ibu kota demi bertemu dengan kekasihnya!

"E-enggak kok, Mbak! Maksudku... ini kan proyek internasional yang bagus untuk portofolioku," dalihku terburu-buru, mencoba menata kembali keanggunanku yang tercecer.

Mbak Dinar hanya terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya. "Ya sudah. Nanti berkas kesepakatannya aku kirim ke emailmu. Lusa kamu langsung temui Pak Arvino di kantornya."

Aku berpamitan keluar dari ruangan Mbak Dinar dengan langkah seribu.

Di dalam ruangan kerjaku, aku mendudukkan diri di kursi putar, memegangi dadaku yang berdegup kencang. Tuhan, kenapa aku jadi sebegini melayang? batinku meratapi diri.

Usiaku tahun depan sudah tiga puluh tahun. Usia yang dianggap matang dan dewasa. Tapi kenapa sekarang aku bersikap seperti anak baru gede (ABG) yang sedang kasmaran? Ini hanya kencan perkenalan kedua! Bisa saja Dimas bersikap manis kemarin hanya karena dia penasaran padaku, atau sekadar ingin menuntaskan urusan hutang laundry konyol itu.

Tapi... ingatan tentang ciuman di halaman rumah malam itu mendadak melintas liar di kepalaku.

Sentuhan bibirnya yang lembut, dekapannya yang erat, dan detak jantungnya yang berpacu... bayangan itu membuatku langsung salting setengah mati hingga menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan di atas meja kerja.

Di Tempat Lain: Gedung Perkantoran Arjowibowo Group, Jakarta

Sementara itu, di dalam ruang rapat bernuansa modern minimalis di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit Jakarta, aroma kopi mahal dan ketegangan diskusi bisnis memenuhi udara.

Dimas Arjowibowo duduk di ujung meja rapat kayu mahoni, memutar-mutar pena mewahnya di antara jemari. Di sampingnya, Arvino sahabat karib sekaligus Wakil Direktur perusahaan, baru saja menutup presentasi mengenai rencana peluncuran produk makanan saus khas Korea mereka di pasar internasional.

"Jadi, Dim," ucap Vino sambil merapikan dokumen di atas meja, "tim agensi dari Jogja kemarin sudah setuju. Mereka mengirimkan staf ahli pemasaran terbaik mereka untuk bergabung dengan kita selama tiga bulan ke depan. Dia yang akan memimpin tim kreatif untuk strategi peluncuran produk di Seoul nanti."

Dimas mengangguk pelan, pandangannya dingin dan fokus. "Bagus. Pastikan kinerjanya sesuai dengan standar perusahaan kita. Aku tidak mau ada kegetiran sistem dalam proyek Seoul ini."

"Beres," sahut Vino santai. Dia kemudian menyandarkan punggung di kursi, melipat kedua tangannya di dada, dan menatap Dimas dengan tatapan jenaka penuh intrik. "Ngomong-ngomong... gimana perjodohanmu di Jogja kemarin? Lancar?"

Pertanyaan Vino membuat gerakan jemari Dimas yang sedang memutar pena mendadak terhenti.

Dimas menoleh pelan, menatap sahabatnya dengan raut wajah datar yang sulit dibaca. Pria ini memang terkenal sangat tertutup. Soal perasaan, bisnis, atau urusan pribadinya, dia jarang sekali berbagi bahkan kepada Vino yang merupakan teman seperjuangannya sejak kuliah di Singapura.

"Lusa dia akan datang ke Jakarta," sahut Dimas dingin, memotong rasa penasaran Vino secara halus. "Kamu bisa lihat sendiri nanti."

Vino bersiul pelan, menggelengkan kepala. "Dingin amat, Bos. Cewek keraton itu berhasil bikin kamu luluh atau malah bikin kamu makin kaku?"

Dimas tidak mengindahkan godaan sahabatnya. Beliau meraih ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja, membuka kunci layar, dan masuk ke folder galeri foto tersembunyi.

Di layar ponsel mahal itu, terpampang sebuah foto yang diambillah secara diam-diam kemarin pagi jam enam di Ndalem Natakusumah. Foto Maizara yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya wajah polos tanpa riasan, rambut yang sedikit berantakan di atas bantal, dan napas halusnya yang begitu damai.

Sebuah senyuman miring yang sangat tipis dan hangat mengembang di bibir Dimas tanpa disadarinya.

Dimas mengusap layar ponselnya dengan ibu jari, memandangi wajah gadis tumpahan kopi itu. Di dalam hatinya, Dimas sendiri merasa heran dan takjub pada dirinya sendiri. Kenapa pria se-kaku dirinya bisa secara impulsif mendekap dan mencium bibir Maizara di halaman rumah malam itu?

Dia yang biasanya selalu penuh perhitungan dan analitis, mendadak kehilangan kendali hanya karena menatap mata bening Maizara di bawah remang lampu taman.

Apakah ini yang dinamakan siklus berkencan di usia matang? batin Dimas bertanya-tanya. Di mana gengsi dan pertahanan kaku pelan-pelan runtuh oleh kepolosan dan ketegasan wanita yang tepat?

"Woi! Malah senyum-senyum sendiri natap layar HP!" tegur Vino kaget, memukul meja pelan hingga membuat Dimas refleks mengunci kembali layar ponselnya dan menegakkan posisi duduknya.

Dimas berdeham keras, mengembalikan raut wajah dinginnya dalam hitungan detik. "Kembali ke pekerjaan, Vin. Cek lagi berkas kerja sama untuk proyek Seoul."

Vino tertawa berderai melihat kelakuan sahabatnya yang tampak salah tingkah namun berusaha keras menutupinya. Perang dingin, aliansi keluarga, dan kerja sama bisnis ini tampaknya akan membawa mereka ke dalam permainan takdir yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Lusa di Jakarta, takdir mereka berdua akan kembali dipertemukan.

1
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
Adira🍓
Jebollah keperawanan anak orang 🤣🤣 btw sudah berapa wanita yang Dimas jebol perawannya 🤔
NinLugas: 😄😄😄 rahasia
total 1 replies
Adira🍓
Pada akhirnya Dimas yg pegang kendali 🤪🤪
falea sezi
😒kecewa ternyataa dimas cm ngincar perawan🤣🤣🤣 pasti abis ne di tinggalin🤭
NinLugas: hmm...gmn ya 😄✌️✌️
total 1 replies
falea sezi
tunangan uda minta ngeweee... 🤣🤣 yg bner ada dimass elu uda sering nyelup pcr pcr elu jd ketagihan lah si calon istri mu ini perawan darah keraton perawan itu barang di jaga sakral😓
NinLugas: ✌️✌️✌️ sabar2 kak🤭
total 1 replies
falea sezi
curiga pasti alya wanita jalang
NinLugas: bisa jadi kak🤣
total 1 replies
falea sezi
dimas melepas perjaka ma mbk psk apa pacar ya🤭
NinLugas: nnti ketahuan wkwk
total 1 replies
falea sezi
ya gk perjaka denggg🤣 nasib Mei dpet bekas
NinLugas: apes dia wkwk 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!