Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — Orang Dalam yang Salah
.
Hari yang dinantikan Bara akhirnya tiba. Sejak pagi, ia sudah bersiap dengan setelan jas terbaiknya. Meskipun kondisi keuangan perusahaannya masih jauh dari kata aman, hari itu ia berusaha menunjukkan penampilan seorang pengusaha muda yang penuh keyakinan. Di dalam tas kerjanya tersimpan proposal tender yang telah dipersiapkan timnya selama beberapa hari terakhir.
Vanya yang berdiri di samping mobil tampak tidak kalah percaya diri. Setelah mengorbankan banyak hal untuk memastikan Hendrik bersedia membantunya, ia yakin perusahaan Bara akan mendapatkan kesempatan besar. Bahkan, ia sudah membayangkan bagaimana pria itu akan memandangnya setelah mereka berhasil memenangkan proyek tersebut.
“Semua dokumen sudah kamu periksa?” tanya Vanya sambil melirik tas yang dibawa Bara. “Jangan sampai ada yang tertinggal.”
Bara mengangguk mantap. “Sudah. Aku juga meminta bagian pengembangan bisnis memeriksanya dua kali. Seharusnya tidak ada masalah.”
“Bagus. Kamu tidak perlu terlalu khawatir. Aku sudah berbicara dengan Pak Hendrik dan dia berjanji akan membantu kita,” ujar Vanya, berusaha menghilangkan keraguan yang masih terlihat di wajah Bara.
Bara mengembuskan napas lega. “Aku berharap kali ini kita benar-benar mendapatkan kabar baik. Kalau tender ini berhasil, setidaknya kita bisa bernapas sedikit lebih lega.”
“Percayalah kepadaku. Aku tidak akan membiarkan semua usaha kita sia-sia,” jawab Vanya dengan senyum tipis sebelum mengajak Bara masuk ke mobil.
Perjalanan menuju gedung Danuarta Global Corporation berlangsung tanpa banyak percakapan. Sesekali Bara memeriksa kembali jadwal acara di ponselnya, sementara Vanya sibuk memastikan Hendrik sudah berada di lokasi. Ia ingin semuanya berjalan sesuai rencana, terlebih setelah uang seratus juta rupiah dan juga tubuhnya yang diberikannya kepada pria itu menjadi taruhan besar bagi mereka.
Setibanya di gedung tersebut, keduanya langsung menuju aula tempat para peserta tender berkumpul. Beberapa perwakilan perusahaan tampak berbincang sambil memeriksa dokumen masing-masing. Bara sempat merasa gugup melihat banyaknya peserta yang hadir, tetapi Vanya terus meyakinkannya bahwa mereka masih memiliki peluang besar.
Bara seketika menghentikan langkahnya ketika melihat sepasang pria dan wanita sedang berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Wanita itu mengenakan setelan elegan dengan penampilan sederhana, tetapi pembawaannya terlihat jauh lebih percaya diri daripada sebelumnya. Wajah yang sangat dirindukan oleh Bara.
“Mentari?” panggil Bara spontan sambil berjalan menghampiri perempuan itu.
Mentari yang sedang berbicara dengan Titan menoleh sekilas. Begitu melihat Bara mendekat, gadis itu mundur setapak, menjaga jarak di antara mereka.
Langkah Bara terhenti melihat sikap mentari yang seperti itu, tetapi pria itu tetap berusaha agar bisa bicara dengan Mentari.
“Mentari, akhirnya aku bertemu denganmu. Aku sudah mencoba menghubungimu, Kenapa nomorku kamu blokir? Aku datang ke rumahmu, tetapi penjaga mengusirku,” ucapnya dengan sedikit kesal. “Aku ingin meminta maaf atas semua yang terjadi. Bisakah kita bicara sebentar?”
Mentari menatapnya tanpa perubahan ekspresi. “Tidak ada yang perlu dibicarakan, Bara. Jangan menggangguku.”
Wajah Bara berubah mendengar jawaban singkat dari Mentari. Ia ingin menjelaskan kesalahannya, tetapi Titan yang berdiri di samping Mentari merentangkan sebelah tangannya mencegah Bara mendekat.
“Mentari, aku sungguh menyesal,” lanjut Bara, mengabaikan rasa kesal yang muncul di wajah Mentari. “Aku tahu aku salah karena tidak membelamu malam itu. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”
“Kesempatan untuk apa?” Mentari mengangkat alis. “Apa Menurutmu aku akan membiarkan sekretaris mu itu terus merendahkan aku?”
Bara ingin membantah, tetapi tidak mudah menemukan jawaban yang bisa meyakinkan Mentari. Sebelum ia sempat berbicara lagi, Vanya segera menghampirinya dan menarik lengannya pelan.
“Sudahlah, Bara. Jangan terus merendahkan harga dirimu,” kata Vanya sambil memasang senyum yang dibuat-buat.
Bara menatap Vanya dengan raut tidak senang, tetapi perempuan itu tidak memberinya kesempatan untuk menyela. Ia malah menggenggam pergelangan tangan Bara dengan erat.
“Percayalah padaku, setelah acara ini selesai dan perusahaan kita berhasil memenangkan tender, Mentari sendiri yang akan datang mencarimu. Saat itu nanti kamu bisa berdiri dengan bangga di depannya,” lanjut Vanya agar Bara berhenti mengejar Mentari.
Mentari hanya tersenyum tipis. Ia sudah terlalu mengenal sikap Vanya yang begitu manipulatif.
Melihat Mentari tidak menanggapi perkataannya, Vanya semakin terlihat percaya diri. “Kamu lihat saja nanti, Bara akan lebih sukses tanpa kamu. Selama ini kamu selalu merasa menjadi orang penting di samping Bara. Sekarang, lihat saja. Dia masih bisa berdiri dan berjuang tanpa kehadiranmu.”
Mentari menoleh kepadanya dengan tatapan datar. “Oh, ya?” balasnya cuek. “Baiklah, aku ingin melihatnya.”
Senyum Vanya pudar mendengar kata-kata mentari yang seolah meremehkan dirinya. Namun, sebelum sempat membalas, perhatian Vanya teralihkan oleh kedatangan seorang pria berjas gelap yang berjalan memasuki aula.
“Itu Pak Hendrik,” bisik Vanya kepada Bara dengan wajah berbinar. Ia segera merapikan pakaiannya, lalu menyambut pria tersebut dengan senyum lebar. “Tenang saja, kita hanya perlu menunggu hasil yang baik.”
Bara ikut menoleh, berharap kedatangan Hendrik benar-benar menjadi pertanda hal baik bagi mereka.
Vanya melangkah mendekati Hendrik dan menyapanya dengan ramah. “Selamat pagi, Pak. Kami sudah menunggu kedatangan Bapak sejak tadi.”
Hendrik semula menyambutnya dengan ekspresi pongah. Namun, ketika pandangannya bergerak melewati bahu Vanya dan jatuh pada Titan yang berdiri bersama Mentari, wajahnya seketika kehilangan warna.
Langkahnya melambat. Senyum yang tadi tersungging di bibirnya menghilang, digantikan kegugupan yang berusaha disembunyikannya. Lalu pria berperut buncit itu sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat.
“Pak Hendrik, ada apa?” tanya Vanya ketika melihat perubahan wajah pria itu. “Bapak terlihat pucat. Apa ada masalah?”
Hendrik tidak segera menjawab. Matanya masih tertuju pada Titan. Dalam hatinya ia menyesali Vanya yang mendekat ke arahnya. Jangan sampai Tuan Titan tahu bahwa dirinya baru saja menerima suap.
Vanya salah mengartikan kegugupan itu. Ia mengira Hendrik sedang merasa tidak nyaman karena melihat mereka berbicara dengan orang yang tidak dikenalnya. Tanpa menyadari situasi sebenarnya, ia malah kembali menyindir Mentari.
“Lihatlah Mentari,” ucap Vanya sambil mengangkat dagunya tinggi. “Yang ada di sampingku ini adalah Pak Hendrik salah satu petinggi Danuarta Global. Kamu tahu itu artinya kan?”
Hendrik langsung menoleh tajam kepada Vanya. “Nona Vanya, sebaiknya Anda berhenti bicara,” tegurnya dengan suara tertahan.
Namun, Vanya justru tertawa kecil, menganggap Hendrik sedang berusaha menjaga suasana profesional. Ia bahkan semakin berani melontarkan ejekan yang membuat wajah Hendrik bertambah pucat.
“Oh, iya. Siapa yang kamu bawa itu? Oh, jangan-jangan dia itu foto model yang kau sewa untuk memanas-manasi Bara, ya?” sindir Vanya sambil memandang Mentari dengan senyum mengejek. “Kamu menggantikan Bara yang seorang CEO muda dengan CEO abal-abal? Selera kamu benar-benar rendah.”
Bara tidak ikut tertawa. Ia justru merasa tidak nyaman karena Mentari sama sekali tidak terpengaruh dengan kata-kata Vanya. Apalagi melihat senyum miring di wajah Mentari dan Titan.
Sementara itu, Hendrik mulai berkeringat dingin. Ia kembali berusaha menghentikan Vanya dengan memberi isyarat agar perempuan itu diam. “Nona Vanya Jangan bicara sembarangan,” bisik Hendrik, kali ini dengan wajah tegang.
Tetapi Vanya terlalu sibuk menikmati keyakinannya sendiri. “Kenapa Bapak terus menyuruh saya diam? Kita sedang membicarakan urusan tender, bukan urusan pribadi mereka.”
Hendrik mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Mulut Vanya benar-benar sudah tak bisa ditolong.
*
*
*
Beberapa menit kemudian, panitia mengumumkan bahwa acara tender akan segera dimulai. Para peserta diminta memasuki aula utama dan menempati tempat duduk sesuai dengan undangan masing-masing.
Bara segera mengajak Vanya menuju kursi peserta. Vanya mengangguk dan mengikuti langkah Bara dengan kepala tegak. Namun, langkah Vanya mendadak terhenti ketika melihat susunan tempat duduk di bagian depan aula.
Di sana, Titan dan Mentari duduk bersama jajaran dewan direksi Danuarta Global Corporation. Beberapa petinggi perusahaan terlihat menyapa Titan dengan hormat sebelum mengambil tempat masing-masing, sementara Mentari duduk di sebelah pria itu dengan begitu santai. Mentari memang tidak memiliki peran apa-apa dalam acara itu. Kehadirannya semata-mata karena memenuhi undangan Titan.
Vanya mengerutkan kening melihat pemandangan itu. Otaknya berputar berusaha mencari penjelasan yang masuk akal.
“Kenapa mereka bisa duduk bersama petinggi Danuarta?” tanyanya lirih.
.
Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣