🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Minggu, 2 November, acara networking yang dijanjikan sebagai “kecil” tetap memakai papan nama. Ruang rapat hotel di Kuningan disekat menjadi beberapa meja bundar, setiap meja delapan kursi, kartu tempat duduk ditulis dengan tinta yang terlalu rapi untuk obrolan santai. Di pintu, Sari hanya menyerahkan Alina satu kalimat sebelum berbalik ke jadwal lain.
“Anda di meja tiga. Pak Adrian juga. Tidak ada pidato.”
Alina masuk tanpa badge. Di kartu mejanya tertulis konsultan eksternal, di bawah nama, tanpa keterangan tambahan. Adrian sudah duduk dua kursi dari kartu itu, bukan di sampingnya. Di antara mereka ada analis dari dana pensiun yang hanya mengangguk dan segera berbicara pada orang di kirinya tentang jalur truk, bukan tentang lobi Menara. Kursi di sisi lain Alina terisi seorang staf pendamping yang tidak memperkenalkan diri panjang-panjang. Dua kursi dari Alina, kartu nama Vanya Kusuma berdiri tegak.
Vanya datang tidak terlambat. Blazer terang, senyum yang sudah selesai sebelum ia duduk, gelas air yang ia minta tanpa melihat daftar. Ia menempatkan tas di sandaran, lalu melihat sekeliling meja seperti orang yang menghitung kursi yang masih bisa dipakai, bukan seperti orang yang mencari teman.
“Selamat,” katanya kepada Adrian, cukup keras untuk didengar analis di antara mereka dan dua orang di meja sebelah yang memang sedang tidak punya bahan. “Saya dengar ada perkembangan pribadi yang menenangkan pasar. Bagus untuk stabilitas.”
Beberapa kepala berpaling, lalu pura-pura kembali ke roti. Adrian tidak mengoreksi kata perkembangan pribadi di ruangan yang sudah mendengar. Mengoreksi sekarang akan menjadi pernyataan. Ia juga tidak mengiyakan lebih dari yang perlu.
“Terima kasih,” katanya.
Vanya tidak terlihat kecewa dengan jawaban sesingkat itu. Ia memutar gelas seperempat putaran dan menoleh ke Alina. Senyumnya tetap. Pilihan katanya yang bergerak.
“Dan Anda. Konsultan yang cukup cepat mendapat kepercayaan. Saya harap temuan Anda benar-benar untuk deal, bukan untuk hal lain.”
Analis di antara mereka tiba-tiba menemukan alasan untuk membaca catatan di ponsel. Alina tidak mengisi jeda dengan tawa.
“Temuan saya untuk angka yang bersih,” katanya. “Selebihnya bukan urusan saya.”
“Angka yang bersih selalu urusan banyak orang,” jawab Vanya, masih halus. “Kusuma juga sedang melihat Pesisir. Kami tidak keberatan persaingan yang rapinya kelihatan. Yang kami keberatan, kalau kerapian itu hanya etalase.”
“Etalase bukan pekerjaan saya.”
“Bagus. Pekerjaan yang cepat naik biasanya punya pemilik. Saya hanya ingin tahu pemiliknya deal-nya, atau narasi yang kebetulan menempel di deal.”
Adrian meletakkan kartu acara yang tidak ia butuhkan. “Temuan yang relevan dengan transaksi akan lewat jalur yang sudah ada. Bukan lewat meja ini.”
Vanya mengangguk, seolah itu jawaban yang ia mau simpan, bukan jawaban yang menutupnya. Ia mengangkat gelas sedikit. Air, bukan anggur. Gerakannya cukup untuk dilihat, tidak cukup untuk memaksa orang lain ikut mengangkat.
“Semoga kerja sama Anda berdua berlangsung lama. Atau setidaknya cukup lama sampai closing.”
Tidak ada yang menabrakkan gelas. Analis itu tersenyum karena tidak tahu harus apa. Alina tidak mengangkat gelasnya. Adrian mengangguk sekali, dan itu bisa dibaca sebagai terima kasih atau sebagai penolakan yang sopan. Vanya tampaknya tidak butuh kepastian yang mana. Matanya sudah selesai menghitung: siapa yang duduk di antara mereka, siapa yang tidak menoleh, siapa yang menjawab pendek, siapa yang menolak memperluas kalimat.
Pembicaraan meja kembali ke depo dan masa sewa, dipimpin orang yang memang bertugas memimpin sesi. Mikrofon kecil di tengah meja ternyata hidup. Adrian tidak mendekatinya. Vanya juga tidak pada menit pertama. Ia ikut, kompeten, tidak merebut giliran. Ia bertanya tentang klausul karyawan enam bulan dengan nada yang sama seperti orang menanyakan cuaca yang sudah ia ketahui.
“Kalau Mahendra menahan item lama, apakah jendela closing yang kalian sebut ke pasar masih angka yang sama?” tanyanya, sopan, kepada meja, bukan hanya kepada Adrian.
“Jendela tidak berubah hari ini,” jawab Adrian. “Item yang ditahan bukan pengumuman gagal.”
Analis dana pensiun di antara Adrian dan Alina merasa perlu membantu. “Memang menenangkan, ya, kalau yang mendampingi sudah jelas orangnya. Pasar tidak suka wajah asing di data room.”
Alina menatap kartu namanya sendiri, yang hanya menulis konsultan eksternal. “Wajah saya tidak bertugas menenangkan pasar. Angka yang tidak bohong yang bertugas itu. Kalau pasar butuh wajah, itu bukan lingkup kontrak saya.”
Vanya tersenyum pada pilihan kata analis itu, bukan pada Alina. “Wajah dan angka sering datang bersamaan. Tidak apa-apa kalau kalian belum mau memisahkannya di meja ini.”
“Sudah dipisahkan,” kata Adrian. “Sejak kalimat pertama.”
Tidak ada yang berdebat lebih jauh. Tuan rumah, yang namanya tidak perlu diingat karena ia hanya menjaga waktu, memindahkan giliran ke masa sewa depo. Vanya mendengarkan tanpa memotong ketika Alina menjelaskan bahwa item historis ditahan dan tidak dihapus. Pulpennya menulis satu baris di buku yang tidak ia tunjukkan. Alina melihat pulpen itu bergerak dan tidak membungkuk untuk membaca. Dua kursi di antara mereka terasa lebih dekat daripada jaraknya, karena kalimat Vanya tidak butuh berpindah tempat untuk sampai.
Setengah jam kemudian Vanya berpindah meja. Perpindahannya rapi. Ia menyebut nama seseorang di meja lima, tersenyum pada tuan rumah yang tidak penting untuk diingat, dan meninggalkan kartu mejanya tetap berdiri. Dari meja lima, suaranya tidak lagi mencapai mereka. Tawa kecilnya juga tidak. Yang tertinggal hanya kalimat selamat yang sudah terlanjur didengar lebih dari dua orang.
Alina mencondongkan badan setengah jengkal, tidak lebih, dan berbicara hanya untuk Adrian.
“Dia menghitung.”
“Saya tahu,” jawab Adrian. “Biarkan dia menghitung. Kita jaga aturan kita.”
“Ia memakai kata stabilitas di ruangan yang penuh orang deal. Itu bukan ucapan selamat.”
“Bukan. Dan kita tidak membalas dengan kata yang bisa ia bawa pulang.”
Alina menatap gelas yang tidak ia angkat. Di meja lima, Vanya sudah duduk, tetapi punggungnya masih setengah mengarah ke meja tiga, seperti orang yang belum selesai menghitung walaupun sudah pindah tempat. Analis dana pensiun di antara Adrian dan Alina akhirnya berani bertanya, pelan, hanya karena keheningan terasa salah.
“Jadi perkembangannya tidak mengubah timeline?”
“Tidak mengubah timeline,” kata Adrian. “Dan tidak ada perkembangan yang saya jelaskan di sini.”
Analis itu mengangguk, lega karena mendapat kalimat yang bisa ia catat tanpa merasa ikut gosip. Alina tidak mengoreksi kata perkembangan. Mengoreksi akan menghidupkannya. Ia membalik kartu acara yang tidak ia butuhkan dan menunggu sesi ditutup oleh orang yang memang bertugas menutup.
“Kalau ia tanya lagi soal pemilik temuan,” kata Alina, masih hanya untuk Adrian, “jawaban saya tetap angka. Jangan Anda tambahi.”
“Tidak.”
“Ia memakai kata stabilitas di ruangan yang penuh orang deal. Itu bukan ucapan selamat.”
“Bukan. Dan kita tidak membalas dengan kata yang bisa ia bawa pulang.”
Alina menatap gelas yang tidak ia angkat. “Kalau ia tanya lagi soal pemilik temuan, jawaban saya tetap angka. Jangan Anda tambahi.”
“Tidak.”
Mereka tidak membuat adegan. Sesi berakhir pada waktu yang tercetak di kartu. Adrian berdiri ketika tuan rumah mengucapkan terima kasih. Alina mengembalikan kartu namanya ke atas meja, bukan ke tas. Di pintu, Vanya sudah lebih dulu berbicara dengan orang dari dana pensiun. Ia tidak menyusul mereka. Ia hanya mengangkat dagu, senyum yang sama, seperti orang yang menandai bahwa hitungannya belum ditutup.
Di luar, panas Kuningan menempel di jas. Mobil Adrian dan taksi Alina tidak sejalur. Mereka berhenti hanya sampai trotoar, jarak satu langkah lebih jauh dari bahu, karena trotoarnya sempit dan aturan nomor tiga tidak sedang diuji kamera.
“Foto tidak diulang hari ini,” kata Adrian.
“Tidak ada yang minta,” jawab Alina. “Dan saya tidak menawarkan. Kalau ia sudah menghitung di dalam, kita tidak memberinya angka baru di pintu.”
Adrian mengangguk. “Sampai Senin, pekerjaan. Bukan meja.”
Alina masuk ke taksi. Dari kaca, ia masih melihat Vanya di dalam lobi hotel, gelas baru di tangan, dikelilingi orang yang mau mendengar kata stabilitas. Senyum itu tidak membesar. Vanya tidak melihat ke arah kaca. Ia sudah mendapat yang ia perlukan dari meja tiga: satu ucapan selamat yang didengar orang lain, satu jawaban pendek, satu konsultan yang menolak melebar, dan satu gelas yang tidak ditabrakkan. Sandiwara yang semula terasa seperti tutup rumor sekarang terasa seperti permainan yang sudah ada lawannya. Lawan itu tidak berteriak. Ia duduk dua kursi jauhnya, mengucapkan selamat, dan pulang dengan jumlah yang tidak ia bacakan kepada siapa pun.