Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Nasib Derita Istri Kuli bangunan
Suara derit timba sumur tua di belakang kontrakan mengiringi pagi yang masih diselimuti embun tipis. Anisa memutar engkol kayu dengan telaten, menaikkan ember berisi air jernih untuk mengisi gentong gerabah di dapur sempitnya.
Setelah menyapu lantai semen yang mulai retak-retak, ia duduk di sudut meja kayu menghadap dompet kain kumal milik mereka.
Di atas meja, tergelar lima lembar uang kertas pecahan dua ribu rupiah dan satu lembar uang kertas lima puluh ribu rupiah yang baru saja ditaruh Burhan sebelum berangkat ke pasar subuh tadi.
Total lima puluh ten ribu rupiah hasil keringat Burhan menaiki galian proyek selokan hingga larut malam kemarin.
Anisa memandangi lembaran uang itu dengan cermat. Matanya berbinar, bukan karena jumlahnya banyak, melainkan karena ia tahu betapa berharganya setiap lembar rupiah itu bagi kelangsungan hidup mereka minggu ini.
Anisa belajar menghemat setiap rupiah yang diberikan Burhan dengannya. Ia mengambil amplop-amplop kertas kecil yang sudah ditulisi dengan pensil: Bayar Listrik, Beras, Uang Kas Gang, dan Belanja Harian.
"Dua puluh ribu untuk beras dua liter... sepuluh ribu masuk simpanan listrik... tersisa dua puluh ribu untuk makan dua hari," gumam Anisa pada dirinya sendiri, menghitung dengan teliti menggunakan jemarinya.
Saat Anisa sedang sibuk memilah uang, suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu kayu depan yang sedikit renggang.
"Assalamualaikum, Anisa!" panggil sebuah suara wanita yang tak asing.
"Waalaikumsalam! Eh, Mbak Sri... masuk, Mbak," sahut Anisa tergesa-gesa merapikan amplop-amplopnya dan membukakan pintu.
Mbak Sri, tetangga kontrakan sebelah yang terkenal ramah dan gemar berdandan, masuk membawa bakul plastik berisi belanjaan dari pasar kaget.
"Lagi ngapain kamu, Nis? Pagi-pagi kok sudah serius banget depan meja?" tanya Mbak Sri seraya melirik amplop-amplop kertas Anisa.
Anisa tersenyum tipis. "Ini, Mbak, lagi membagi uang belanja dari Bang Burhan. Harus dipas-pasin biar cukup sampai akhir minggu."
Mbak Sri menghela napas, menggeleng-gelengkan kepala sambil duduk di bangku kayu. "Aduh, Nis..., tapi kok iritnya kebangetan tapi untuk bayar aja susah.
Itu lima puluh ribu cuma dibagi-bagi begitu saja? Kamu tidak pengin beli sabun cuci muka yang bagus atau bedak wangi?"
Anisa terkekeh pelan sambil merapikan sisa koin di tangannya. "Bukannya tidak mau, Mbak Sri. Tapi kebutuhan dapur sama tagihan kontrakan lebih penting. Kasihan Bang Burhan kalau uang hasil kerja kerasnya habis cuma buat hal-hal yang tidak mendesak."
"Tapi kan suami senang kalau lihat istrinya dandan wangi di rumah, Nis," goda Mbak Sri. "Tadi di pasar kaget ada yang jual baju daster impor murah loh, cuma tiga puluh ribu!"
"Aduh, nanti dulu deh, Mbak," tolak Anisa halus seraya tersenyum manis. "Daster lama Anisa masih bagus-bagus kok. Lagipula, kalau Anisa pakai uang lima puluh ribu ini buat beli daster tiga puluh ribu, besok kita mau makan apa? Masak daster goreng?"
Mbak Sri tertawa lepas mendengar gurauan Anisa. "Kamu ini ada-ada saja! Tapi Mbak kagum sama kamu, Nis. Kalau ibu-ibu lain di gang ini biasanya langsung mengeluh kalau dikasih uang pas-pasan sama suaminya. Lah kamu malah tenang banget."
"Bukan tenang, Mbak, tapi harus pandai memutar otak," jelas Anisa jujur. "Anisa belajar dari ibu di kampung. Ibu bilang, rezeki sedikit kalau dikelola dengan rasa syukur akan terasa cukup, tapi rezeki banyak kalau diturutkan gengsinya tidak akan pernah memuaskan."
Mbak Sri menepuk-nepuk bahu Anisa pelan. "Suamimu beruntung sekali dapat istri seperti kamu, Anisa. Ya sudah, Mbak mau masak dulu. Kalau kamu butuh bumbu dapur yang kurang sedikit-sedikit, minta ke rumah Mbak saja ya, jangan sungkan."
"Terima kasih banyak ya, Mbak Sri," jawab Anisa tulus.
Sepeninggal Mbak Sri, Anisa kembali menatap amplop belanja hariannya. Ia tersenyum kecil, lalu memasukkan lima lembar koin lima ratusan ke dalam botol kaca bekas selai—tabungan rahasia kecilnya untuk keadaan darurat.
Bagi Anisa, menghemat bukan berarti menderita. Menghemat adalah bentuk rasa cintanya kepada Burhan, menjaga setiap tetes keringat suaminya agar tidak terbuang sia-sia di kerasnya kehidupan kota.