Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Makan Siang
'Apa nih? Tiba-tiba banget ngajak makan siang?' batin Rania, jantungnya berdebar tak karuan.
'Jangan langsung iyain ya, Rania. Harus jual mahal.' bisik hatinya.
Namun...
"Aku nggak ada waktu, sih. Tapi kalau Pak Arkan maksa, ya... terpaksa bisa,m." jawab Rania, sok kalem.
"Saya nggak maksa, Rania." bantah Arkan datar.
"Ya udah, aku nggak ada waktu." balas Rania tegas, mengangkat dagu sedikit.
Arkan menghela napas. "Oke, saya maksa. Ada waktunya?"
Rania hampir tertawa. Arkan mengalah? Ajaib. Zidan harus tahu kalau Daddy-nya bisa ngalah sama orang. Terlebih sama orang yang baru dikenalnya.
Namun, Rania tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tetap kalem. "Di mana?" tanyanya pura-pura malas.
"Nanti saya kirimkan lokasinya." jawab Arkan.
Rania mengangguk paham. Setelah itu, Arkan pun berpamitan pulang.
"Dada, Tante!" teriak Kenzie yang duduk di pangkuan Arkan sambil melambaikan tangan pada Rania. Kaca mobil Arkan memang diturunkan.
Rania membalas lambaian tangan Kenzie sambil tersenyum.
Mobil yang dikemudikan Nathan perlahan meninggalkan rumah Rania.
"Cieee... diajakin makan siang nggak tau?" goda Karina begitu Rania masuk ke dalam rumah.
"Apaan sih?" balas Rania dengan wajah sedikit memerah, mencoba bersikap biasa tapi gagal total.
"Udah keliatan banget mukanya senyum-senyum sendiri. Ngaku deh, pasti seneng, kan?" goda Karina lagi sambil menyengir jahil.
Rania mendelik, tapi ujung bibirnya masih sulit dikendalikan. "Nggak usah halu, ah. Itu cuma makan siang biasa, Kar."
"Makan siang biasa, tapi sampai bikin bestie gue nggak bisa berhenti senyum. Jangan-jangan lu udah naksir duluan, nih?"
"Enggak!" sahut Rania cepat, terlalu cepat malah. Membuat Karina tertawa keras.
Rania baru saja merebahkan diri di sofa ketika Karina menyahut dengan nada menggoda. "Ra, tapi bokapnya Zidan beneran ganteng. Tipe gue banget, sayangnya udah jadi kandidat lu." kekeh Karina.
"Ambil aja kalau mau." balas Rania asal, mencoba bersikap cuek.
"Nggak ah. Gue nggak mau jadi teman makan teman." Karina menggeleng tegas, tapi tawanya jelas menunjukkan kalau dia masih berniat menggodanya.
Rania mengubah topik. "Ngomong-ngomong, kita makan apa, nih?"
"Makan?" ulang Karina dengan nada menggoda. "Bukannya lu udah kenyang makan kegantengan Daddynya Zidan?"
"Kar, stop!" Rania melotot galak, tapi itu hanya membuat Karina tertawa lebih keras.
"Duda semakin di depan." celetuk Karina cepat.
"Karinaaaaa!" geram Rania sambil mengangkat bantal, siap melemparkannya ke arah Karina. Namun, sebelum aksi itu terlaksana, ponselnya berdering. Nama Mama Galang terpampang di layar.
"Ya, Mbak." jawab Rania dengan nada kalem.
"Galang nggak jawab telepon Mbak, Ra. Dia ke mana?" suara lembut dari seberang membuat Rania langsung fokus.
"Belum pulang, Mbak. Kayaknya basket sama Zidan. Kenapa, Mbak?" tanya Rania balik.
"Nggak, dia tadi minta duit. Mbak tanya berapa, tapi belum dijawab."
"Oh, nanti aku tanyakan, Mbak."
"Yaudah, kamu baik-baik aja, kan?"
"Baik banget, Mbak. Lagi dipepet duda tajir, Mbak, Si Rania!" teriak Karina dari belakang dengan sengaja.
Rania menoleh cepat ke arah Karina dengan mata melotot. "Karina! Mulut lu itu ya!" semprotnya sambil melempar bantal ke arah sahabatnya yang malah tertawa ngakak.
"Hah? Duda tajir?" Suara mama Galang terdengar bingung tapi juga penasaran.
"Jangan didengerin, Mbak. Karina emang suka ngaco. Aku baik-baik aja, kok." Rania berusaha mengabaikan Karina yang masih cekikikan di sebelahnya.
"Oh, yaudah kalau kamu baik-baik aja. Kalau nanti ketemu Galang, bilangin dia telepon Mbak, ya."
"Iya, Mbak. Nanti aku bilangin."
Setelah sambungan telepon terputus, Rania menatap Karina dengan tatapan mengancam. "Kalau lu ngomong sembarangan lagi, gue nggak bakalan kasih camilan kesukaan lu selamanya."
Karina mengangkat tangan seolah menyerah. "Oke, oke. Gue berhenti. Tapi jujur ya, Ra... Lu tuh ketahuan banget lagi seneng. Bahkan telinga lu udah merah." goda Karina lagi sambil menunjuk telinga Rania.
Rania buru-buru menutupi telinganya sambil mendesah. "Apaan, sih. Udah, mikirin makan aja! Laper!"
"Yaudah, pesen pizza yuk. Terus sambil makan, lu cerita lengkap soal si Duda Tajir itu. Oke?" Karina menatap Rania dengan mata berbinar jahil.
Rania hanya bisa menggeleng, tapi tetap mengeluarkan ponselnya untuk memesan pizza.
...****************...
"Kenzie senang?" tanya Nathan, melirik sekilas pada anak itu.
Kenzie mengangguk mantap. "Besok aku pulang sekolah main lagi." jawabnya ceria.
"Besok Tante Rania nggak bisa, ada acara." sahut Arkan.
"Ke mana?" tanya Kenzie polos, mendongak pada Arkan.
"Daddy nggak tahu." Arkan menggeleng dengan ekspresi datar.
Bohong banget si Mas Duda ini. Padahal jelas-jelas Rania akan makan siang dengannya.
"Yah..." desah Kenzie kecewa.
"Kamu main sama Om Nathan aja. Memang nggak mau?" tanya Nathan tapi tetap fokus mengemudikan.
"Om nggak kerja?"
"Kerja. Tapi bisa jemput kamu" jawab Nathan sambil melirik ke Arkan yang pura-pura sibuk melihat ponselnya.
"Aku nggak mau sama Oma..." lirih Kenzie, nyaris tak terdengar.
Arkan tanpa sadar mengepalkan tangannya. Dia sudah menginterogasi Wati secara pribadi dan mengetahui fakta bagaimana Rosa memperlakukan Kenzie di belakangnya.
"Kamu jangan ngarang cerita, ya, Wati. Saya nggak akan tinggal diam kalau kamu fitnah
Mommy saya." tekan Arkan tegas.
"Saya berani bersumpah, Pak. Bu Rosa yang duluan kasar sama Kenzie. Ada rekaman di HP saya. Saya nggak sengaja ngerekam waktu Bu Rosa marahin Kenzie." jawab Wati, suaranya gemetar tapi penuh keyakinan.
Ingatan itu masih segar di benak Arkan, membuat hatinya terasa sesak. Selama lima tahun sejak Kenzie lahir, apakah anak sekecil itu sudah diperlakukan kasar oleh ibunya? Kenapa Arkan sama sekali tak menyadarinya?
Arkan tahu betul bagaimana Rosa membenci ibu kandung Kenzie dan Zidan, tapi melampiaskan kebencian itu pada seorang anak kecil yang tak bersalah sungguh keterlaluan.
"Saya minta bukti-buktinya kalau memang Mommy saya kasar ke Kenzie." ucap Arkan dengan nada serius.
Wati mengangguk cepat. "Ada beberapa yang saya titipkan ke suami saya, Pak. Soalnya takut ketahuan sama Bu Rosa. Saya akan minta suami saya kirim ke Bapak."
Arkan hanya mengangguk. Sebelum pergi, dia mengingatkan Wati bahwa proses hukum akan tetap berjalan. Namun, meski begitu, Arkan akan memastikan Wati menerima uang pesangon yang layak.
Mobil yang dikemudikan Nathan berhenti di garasi besar rumah baru Arkan. Arkan keluar dari mobil sambil mengendong Kenzie, sementara satu tangannya menenteng tas kecil milik anaknya.
"Ini rumah siapa, Daddy?" tanya Kenzie penasaran, matanya mengamati rumah besar yang belum pernah dilihatnya.
"Rumah kita." jawab Arkan datar. "Mulai sekarang, kita akan tinggal di sini."
"Bukan rumah yang lama?" Kenzie mengerutkan kening, bingung.
"Bukan. Kita pindah ke sini" ujar Arkan, suaranya tetap tenang.
Nathan mengikuti di belakang mereka sambil memeriksa ponselnya, tampak sibuk tapi tetap waspada.
"Sama Abang juga?" tanya Kenzie, memastikan.
"Iya, dong. Masa Abang nggak diajak." jawab Arkan sambil tersenyum tipis.
"Oma?" tanya Kenzie pelan, nyaris berbisik.
"Oma tetap di rumah lama. Dia nggak akan ikut kita." balas Arkan, menatap serius pada putranya, mencari reaksi yang muncul dari wajah mungil itu.
"Beneran?" Mata Kenzie membesar dengan binar bahagia yang tak bisa disembunyikan. Wajah cerianya membuat dada Arkan terasa sesak.
Arkan tercekat. Jadi, sesenang itu putra kecilnya berada jauh dari Rosa? Sejauh apa ibunya memperlakukan Kenzie dengan buruk selama ini?
Perasaan bersalah menghantam Arkan, tapi ia tahu ini adalah keputusan yang benar. Kenzie butuh lingkungan yang aman dan nyaman dan Arkan akan memastikan anaknya mendapatkan itu.
"Kamu nggak suka sama Oma?" tanya Arkan hati-hati. Namun, putranya hanya menunduk dan memilih diam.
Arkan menghela napas lalu mengecup puncak kepala Kenzie. "Nggak usah dipikirkan. Sana istirahat, lihat kamarmu sama Mbak." suruh Arkan sambil menurunkan Kenzie dari gendongannya.
Arkan sudah memastikan pelayan kepercayaannya ikut pindah. Sayangnya, pelayan itu pulang setiap sore, jadi tidak tahu apa yang terjadi dengan Kenzie di malam hari saat masih tinggal bersama Rosa.
Setelah memastikan Kenzie baik-baik saja, Arkan melangkah menuju ruang kerjanya bersama Nathan.
"Ar, banyak anak kolega yang mau daftar jadi bini lu. Mereka udah kirim CV ke gue, udah gue forward ke lu." lapor Nathan sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
Arkan mengangguk paham. "Untuk pengasuhnya Kenzie, gimana? Lu udah dapat balasan dari agen?"
Nathan menggelengkan kepala. "Ada beberapa data yang gue terima, tapi menurut gue kurang cocok. Lu mau cek sendiri?"
Arkan menggeleng. "Gue percaya sama penilaian lu. Kalau lu bilang nggak cocok, berarti memang nggak cocok."
"Kalau gitu, kenapa nggak lu minta Rania aja jadi pengasuhnya Kenzie?" Nathan mengusulkan tiba-tiba. "Bukannya dia pengangguran? Lu tinggal bayar gede, dan Kenzie pasti senang."
Arkan menatap Nathan dengan alis terangkat. Ide itu memang terasa masuk akal, tapi... apa Rania akan mau menerima tawarannya?