NovelToon NovelToon
Sinar Aluna & Dua Pelindung Hati

Sinar Aluna & Dua Pelindung Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

✨ Sinopsis

Aluna adalah gadis cantik dan agak nakal yang tumbuh dalam kemewahan, namun yang paling berharga baginya bukan harta, melainkan dua sahabat yang selalu ada di sisinya sejak kecil: Orion — tampan, tenang, bijaksana, & pintar; serta Rexy — ganteng, tegas, sedikit tengil, namun berhati emas & menjadi pelindung setia keduanya. Ketiganya anak dari keluarga terpandang, tumbuh bersama, berjanji tak akan pernah terpisahkan.

Namun seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Baik Orion maupun Rexy sama-sama menyayangi Aluna lebih dari sekadar sahabat. Ketika hati Aluna akhirnya harus membuat pilihan sulit, ia menyadari bahwa memilih satu berarti menyakiti yang lain.
Di antara cinta & persahabatan, di antara kebersamaan & pengorbanan, ketiganya belajar: cinta sejati tidak harus memiliki, & persahabatan tulus adalah harta yang abadi selamanya. Sebuah kisah hangat tentang perjalanan hati, keikhlasan, & kebersamaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Kecil yang Tersimpan

Senin pagi itu, sekolah baru aja dimulai. Aluna berjalan masuk ke gerbang sambil senyum-senyum sendiri, tangan kanannya memegang tas ransel, tangan kirinya menyentuh saku bagian dalam jaketnya. Di sana, terasa ada benda kecil yang dingin — liontin bulan bintang yang dia temukan di tasnya pasca liburan kemarin.

Sejak pagi dia udah berencana mau tanya ke mereka berdua. Tapi entah kenapa, tiap kali mau buka mulut, kata-katanya selalu tertahan di tenggorokan. Rasanya kayak kalau dia tanya, sesuatu yang indah bakal rusak.

Di kantin, seperti biasa mereka duduk di meja pojok. Rexy datang duluan, meletakkan nampannya agak keras di meja.

"Heh, kok dari tadi melamun terus? Hilang dompet atau hilang akal nih?" goda Rexy sambil duduk di hadapan Aluna.

Aluna tersentak, langsung menarik tangan yang tadi meraba saku jaketnya. "Eh, nggak kok. Cuma… mikirin tugas matematika tadi. Susah banget gila."

Rexy mengangkat sebelah alisnya. "Matematika? Kamu nggak mungkin pusing soal matematika, itu kan keahlian Orion. Jangan bohong deh, wajahmu nggak bisa menyembunyikan sesuatu."

Belum sempat Aluna jawab, Orion datang sambil membawa tiga botol minuman. Dia meletakkan botol susu cokelat di depan Aluna — persis seperti yang Aluna suka.

"Ini buat kamu. Tadi aku lewat kantin, kebetulan ada yang jual. Pasti haus kan?" ucap Orion lembut, lalu duduk di sebelah Aluna.

Aluna menatapnya sekilas. Matanya mencari sesuatu di wajah Orion. Apakah dia yang memberikannya? Kalau iya, kenapa nggak ngomong apa-apa? Atau justru Rexy?

"Makasih ya, Rio. Kamu baik banget hari ini, ada yang mau kamu bilang nggak?" tanyanya hati-hati.

Orion tersenyum tenang. "Harus ada alasan khusus ya kalau aku baik sama kamu? Aku kan selalu kayak gini."

Rexy mendengus pelan, menyodok nasinya dengan sendok agak kasar. "Dia emang selalu paling jago ngomong manis. Aku juga bisa kok beliin kamu minum, tinggal bilang aja nggak usah pake basa-basi segala."

Aluna tertawa kecil, tapi hatinya makin bingung. Dia memutuskan untuk menyimpan rahasia itu dulu. Mungkin nanti, saat waktu yang tepat.

Beberapa hari berlalu, dan benda kecil itu perlahan jadi rahasia pribadinya sendiri. Dia mulai memakainya diam-diam di bawah baju seragam, jadi nggak ada yang tahu. Rasanya kayak punya jimat rahasia yang bikin dia merasa dilindungi, seolah ada seseorang yang selalu memikirkan dia bahkan saat dia nggak sadar.

Suatu sore, saat mereka bertiga sedang menunggu hujan reda di teras depan sekolah, Aluna tanpa sadar memainkan rantai di lehernya yang sedikit keluar dari kerah bajunya. Orion yang duduk di sebelahnya melirik sekilas, lalu matanya terhenti sejenak. Tapi dia nggak langsung bertanya. Dia cuma diam, bibirnya sedikit tersenyum, lalu menatap ke arah hujan di depan mereka.

Sementara itu, Rexy yang berdiri di dekat tiang teras, sesekali melirik ke arah Aluna. Dia sepertinya menyadari sesuatu yang berbeda, tapi dia juga memilih diam. Kadang dia terlihat seperti ingin bertanya, tapi selalu menelan kembali kata-katanya.

Aluna bingung. Apakah mereka berdua sama-sama tahu? Atau justru nggak ada yang tahu dan dia berimajinasi sendiri?

Saat hujan mulai reda, Rexy berdeham pelan. "Hei, kalian… aku mau bilang sesuatu. Tapi jangan ketawa ya."

Aluna menoleh, matanya berbinar penasaran. "Bilang aja, kami nggak akan ketawa. Janji deh."

Rexy menggaruk belakang lehernya yang nggak gatal, menatap tanah dengan telinga yang mulai memerah. "Sebelum liburan selesai… aku sempat masuk ke kamarmu sebentar. Waktu kamu lagi asyik ngobrol sama Tante Mira di bawah. Aku… aku mau taruh sesuatu di meja belajarmu. Tapi pas aku sampai di sana, aku nggak jadi. Aku takut kamu aneh, atau nggak suka, atau malah dikira aku terlalu berlebihan. Jadi aku pulang aja."

Aluna terdiam. Jantungnya berdetak kencang. "Kamu mau taruh apa, Rex?"

"Ng… nggak penting kok. Lupakan aja. Itu cuma hal kecil, nggak sebanding sama yang kalian berdua punya," jawab Rexy cepat, lalu langsung melangkah pergi ke arah gerbang seolah malu mengaku lebih jauh.

Aluna menatap punggung Rexy yang menjauh, lalu menoleh ke Orion. Dia terkejut melihat Orion menatapnya dengan tatapan yang lembut banget, tapi ada sedikit kesedihan di sana.

"Rio… kamu tahu sesuatu kan?" tanyanya pelan.

Orion menghela napas pendek, lalu tersenyum tipis. "Lun, ada hal-hal yang lebih indah kalau tetap jadi rahasia. Bukan karena takut ketahuan, tapi karena saat kita tahu pasti siapa yang melakukannya, semuanya akan berubah. Kadang ketidakpastian itu yang bikin hati terus berdebar, kan?"

"Jadi kamu nggak mau bilang?"

"Bukan nggak mau bilang. Tapi aku mau kamu yang temukan jawabannya sendiri, saat kamu siap. Liontin itu ada di hatimu sekarang, bukan cuma di lehermu. Itu yang paling penting, bukan siapa yang memberikannya," ucap Orion bijaksana, lalu berdiri dan menepuk pelan bahu Aluna. "Aku duluan ya, sampai ketemu besok."

Tinggallah Aluna sendirian di teras itu, menyentuh liontin di dadanya. Dia sadar sekarang — mungkin ada lebih dari satu rahasia di antara mereka bertiga. Mungkin bukan cuma satu orang yang menyimpan perasaan lebih. Mungkin keduanya sama-sama menyayanginya, dengan cara yang berbeda, dan keduanya memilih untuk menjaganya tanpa mengharapkan balasan saat ini.

Dan untuk pertama kalinya, Aluna menyadari bahwa dia bukan cuma bingung siapa yang harus dipilih. Dia juga takut — takut menyakiti salah satu dari mereka, takut kehilangan persahabatan yang sudah terjalin begitu lama. Rahasia kecil di lehernya itu hanyalah awal dari banyak rahasia besar yang perlahan mulai terungkap.

 

Pertanyaan untuk kamu:

Malam harinya, Aluna duduk di meja belajarnya sambil memandangi pantulan dirinya di cermin — liontin itu berkilau lembut di lehernya. Dia berpikir keras: kalau bukan Rexy yang memberikannya, berarti Orion? Tapi kenapa dia begitu tenang saat melihatnya memakainya? Atau… adakah kemungkinan lain yang belum terpikirkan oleh Aluna?

Menurutmu, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang menaruh liontin itu di tas Aluna, dan mengapa dia memilih untuk tetap diam tanpa mengakuinya? Ceritakan ya! 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!