Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
BAB 12: MENJADI KAKI BAGIMU
Aroma ruang fisioterapi yang dingin bercampur bau minyak terapi menyambut Maya dan Bagas pagi itu. Di tengah ruangan, terdapat sejajar besi pegangan tangan (parallel bars) yang panjang.
Ini adalah minggu keempat sejak Bagas dipindahkan ke ruang rehabilitasi medis untuk memulai latihan berdiri.
"Ayo, Pak Bagas. Hari ini kita coba berdiri dari kursi roda dan bertahan selama sepuluh detik," ujar Mas Rian, fisioterapis muda berbadan tegap yang bertugas mendampingi.
Bagas menatap dua batang besi di hadapannya dengan tatapan gentar. Kakinya yang terkulai di pijakan kursi roda tampak kurus dan tak bertenaga.
"May... aku takut," bisik Bagas serak. Jemarinya mencengkeram lengan baju Maya yang berdiri di sampingnya.
"Kaki aku masih berasa kaya kayu mati. Gimana kalau aku jatuh?"
Maya bertekuk lutut di depan kursi roda Bagas. Ia meraih kedua tangan suaminya, menatap langsung ke dalam manik matanya dengan senyuman hangat.
"Mas Bagas lihat aku," ucap Maya lembut namun penuh penekanan.
"Ada Maya di sini. Maya nggak akan biarkan Mas jatuh. Maya yang bakal jadi kaki Mas hari ini."
Bagas menelan ludah, mengangguk pelan. "Bantu aku, May..."
"Satu... dua... tiga. Angkat badannya, Pak!" aba-aba Mas Rian seraya memegang pinggang Bagas dari sisi kiri.
Bagas memajukan badannya, memegang erat besi pegangan dengan kedua tangannya. Punggungnya menegak, dan otot lengannya membendung beban tubuhnya sendiri.
Maya menopang ketiak kanan Bagas dengan sekuat tenaga, menahan bobot tubuh suaminya yang jauh lebih besar darinya.
"Ughhh!" erang Bagas berat. Wajahnya seketika memerah padam, peluh dingin tetesan dari dahi hingga ke dagunya.
Kedua lutut Bagas berguncang hebat. Saraf kakinya yang mati rasa mendadak menyengatkan rasa nyeri yang menusuk tajam, seolah-olah tulang kakinya diremukkan dari dalam.
"Sakit, May! Sakit banget!" jerit Bagas, matanya membelalak menahan derita. "Nggak kuat, May! Kaki aku mau patah!"
"Tahan, Mas! Tahan sedikit lagi!" seru Maya dengan napas tersengal-sengal. Beban tubuh Bagas menekan bahu dan punggung Maya hingga dadanya serasa sesak, namun kaki Maya tetap menapak kokoh di lantai, menolak untuk bergeser sedikit pun.
"Lihat aku, Mas! Tahan lima detik lagi!"
"Nggak bisa! Aku mau duduk! Lepas!" bentak Bagas histeris karena rasa sakit yang tak tertahankan. Tubuhnya mendadak lemas, tak lagi bertumpu pada besi pegangan.
Brak!
Tubuh Bagas merosot ke bawah. Maya yang menopang dari kanan langsung menahan tubuh suaminya dengan memeluk pinggang Bagas rapat-rapat, ikut terseret jatuh hingga lututnya terantuk keras ke lantai semen.
"Aaghh!" ringis Bagas menahan sakit saat terduduk di lantai.
"Pak Bagas! Bu Maya! Nggak apa-apa?" tanya Mas Rian panik, bergegas menolong mereka berdua.
Bagas memukul lantai dengan kepalan tangannya yang gemetar, air mata frustrasi menyembur deras dari matanya.
"Batu! Kaki aku ini cuma batu! Nggak ada gunanya!" jerit Bagas histeris. Ia menatap Maya yang terengah-engah di sampingnya dengan lutut yang memar.
"Kenapa kamu harus siksa aku kaya gini, May?! Kamu lihat kan aku nggak bisa?! Aku cuma pria cacat!"
Maya menyapu keringat di dahinya, lalu beringsut mendekati Bagas di lantai. Ia sama sekali tidak marah mendengar bentakan suaminya. Dengan lembut, Maya membawa kepala Bagas ke dalam pelukannya.
"Mas Bagas boleh marah, boleh menangis..." bisik Maya di antara napasnya yang memburu. "Tapi jangan pernah bilang kaki Mas nggak ada gunanya. Tadi Mas berhasil berdiri lima detik. Itu kemajuan luar biasa, Mas."
Bagas terisak di pundak Maya, memeluk pinggang istrinya erat-erat. "Tapi kamu kasihan, May... Tubuh kamu sampai lebam-lebam begini gara-gara nahan badan aku. Aku ini cuma nyusahin kamu..."
Maya melingkarkan lengannya di leher Bagas, mencium pelipis suaminya yang basah oleh keringat.
"Mas dengar Maya ya," tutur Maya pelan di dekat telinga Bagas. "Dulu waktu aku jalan sendirian di kegelapan, Mas yang selalu pegang tangan aku dan nuntun aku.
Sekarang saat Mas lagi kehilangan arah, giliran aku yang pegang badan Mas. Biar bahu aku yang memar, biar lutut aku yang sakit, asal Mas nggak menyerah."
Bagas mendongak, menatap mata istrinya yang berkaca-kaca namun memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan. Rasa bersalah dan haru berbaur menjadi satu dalam dadanya.
"Maafin aku, May..." usap Bagas pada pipi Maya yang hangat. "Aku minta maaf udah bentak kamu..."
"Nggak apa-apa, Mas," senyum Maya tulus. Ia memegang tangan Bagas dan mengarahkannya kembali ke besi pegangan. "Ayo... kita coba sekali lagi, ya? Kali ini enam detik."
Bagas menatap istrinya, lalu mengangguk pelan. Dengan sisa-sisa tenaga dan dorongan kasih sayang yang begitu besar dari Maya, Bagas kembali memaksakan kakinya menapak di atas lantai.