"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Pemilik Baru Meja Operasi
"Klem pendarahannya sekarang! Jangan sampai tekanan darahnya turun lagi!" seru Naya dari balik masker bedahnya. Matanya menatap tajam ke arah monitor yang terus berbunyi nyaring memecah ketegangan.
"Baik, Dok!" jawab asisten bedah di seberang meja. Tangannya bergerak cepat memberikan alat logam yang Naya minta.
"Beri suction di sebelah sini. Pendarahannya masih lumayan deras. Kita harus tutup sumber utamanya sekarang juga," perintah Naya lagi. Jari-jarinya yang terbungkus sarung tangan karet bergerak lincah dan tanpa ragu. Sebagai Kepala Bedah Umum di RS Medika Jaya, tekanan mempertaruhkan nyawa seperti ini sudah menjadi rutinitasnya.
"Detak jantung pasien mulai stabil, Dokter Naya," ucap dokter anestesi dari sudut ruangan dengan nada lega.
Naya menghela napas panjang dari balik maskernya. Otot-otot bahunya yang tegang perlahan mengendur.
"Bagus. Mari kita selesaikan jahitannya. Kalian luar biasa hari ini, kerja bagus semuanya."
Setelah memastikan semua tanda vital aman, Naya mundur selangkah. Ia membiarkan timnya menyelesaikan tahap akhir penutupan luka. Tubuhnya terasa remuk bukan main.
Sudah hampir dua belas jam ia tidak tidur menatap lampu operasi. Kopi hitam yang ia pesan dari kafe Cita Rasa di lantai bawah pasti sudah sedingin es sekarang, teronggok pasrah di atas meja kerjanya tanpa sempat diminum.
Naya melepas baju operasi luarnya yang penuh bercak darah dan membuangnya ke tempat sampah medis beserta sarung tangan karetnya. Ia melangkah ke wastafel ruang transisi, mencuci tangannya bersih-bersih dari sisa ketegangan barusan. Setelah hanya mengenakan baju jaga standar yang bersih, ia berjalan keluar dari area steril, melepas masker dan penutup kepalanya sambil membuang napas lelah.
Baru saja ia berniat kembali ke ruangan untuk memejamkan mata sebentar, seorang perawat berlari-lari kecil menghampirinya di lorong.
"Dokter Naya! Syukurlah Dokter sudah keluar dari dalam," ucap perawat itu dengan napas tersengal-sengal menahan lelah.
"Ada apa, Suster Rina? Ada pasien gawat darurat masuk lagi ke depan?" tanya Naya sambil menaikkan sebelah alisnya heran.
"Bukan, Dok! Ini soal rumah sakit kita. RS Medika Jaya baru saja diakuisisi secara resmi hari ini! Semua Kepala Departemen diminta segera kumpul di ruang rapat utama. Sekarang juga tanpa terkecuali!"
Naya menghentikan langkahnya yang gontai. "Diakuisisi? Secepat itu prosesnya? Bukannya rumor pergantian manajemen itu baru beredar minggu lalu? Kok tiba-tiba langsung ada rapat hari ini?"
"Aku juga kurang tahu detail pastinya, Dok. Tapi kata orang-orang di depan, CEO barunya turun tangan langsung buat perkenalan dan evaluasi kinerja. Orangnya terkenal galak dan dingin banget, Dok. Dokter mendingan buruan ke sana sekarang, jangan sampai telat dan cari masalah."
Naya memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. "Oke, oke. Aku ganti baju dan cuci muka sebentar ke ruangan. Suruh mereka tunggu lima menit."
"Jangan lama-lama ya, Dok! Semua sudah kumpul di atas!" seru perawat itu sebelum berlalu pergi kembali ke posnya.
Dengan sisa tenaga yang ada, Naya bergegas kembali ke ruangannya. Ia membasuh wajahnya di wastafel pribadinya, lalu mengganti baju jaganya dengan kemeja rapi dan jas snelli putih kebanggaannya.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil. Kantung matanya terlihat sangat jelas, tapi ia tidak punya waktu untuk memoles wajah.
Ada hal yang jauh lebih mendesak sekarang. Rumah sakit tempatnya mengabdi mati-matian selama ini punya penguasa baru.
Sepanjang lorong menuju ruang rapat di lantai atas, suasana terasa sangat berbeda dari biasanya. Beberapa dokter muda dan staf berbisik-bisik tegang di sudut ruangan.
Naya mempercepat langkah kakinya yang memakai sepatu pantofel datar. Saat ia tiba di depan pintu ruang rapat utama, Dokter Hendra dari Departemen Penyakit Dalam langsung menarik lengannya kuat.
"Naya, kamu baru selesai operasi besar ya?" tanya Dokter Hendra dengan suara tertahan dan panik.
"Iya, Dok. Gila banget jadwal hari ini numpuk terus. Ada apa sih sebenarnya di dalam? Siapa perusahaan besar yang mendadak beli rumah sakit kita ini?" keluh Naya sambil memegang kenop pintu bersiap masuk.
"Kamu belum dengar kabarnya? Grup Dirgantara yang ambil alih semuanya. Mereka..."
Ucapan Dokter Hendra terpotong total karena Naya sudah mendorong pintu rapat kayu tebal itu hingga terbuka lebar. Ruangan besar yang biasanya riuh itu mendadak sunyi senyap seperti kuburan. Semua orang sudah duduk rapi di kursi masing-masing, menunduk tegang menatap meja kayu di hadapan mereka tanpa berani bersuara.
Naya menelan ludah kasar, merasa canggung karena menjadi orang terakhir yang menampakkan diri. "Maaf aku terlambat datang, ada operasi trauma darurat tadi di bawah," ucapnya sambil melangkah masuk memecah keheningan.
Namun, langkahnya terhenti seketika di tengah ruangan. Udara dingin dari pendingin ruangan mendadak terasa menusuk tulang.
Di ujung meja rapat oval, tepat di kursi kekuasaan tertinggi, duduk seorang pria berjas mahal dengan potongan sempurna. Pria itu bersandar santai sambil melipat tangan, tapi auranya memancarkan intimidasi yang luar biasa pekat hingga membuat siapa saja merinding.
Perlahan, pria itu mengangkat wajahnya dari berkas di meja. Mata tajam dan sedingin es itu menatap lurus menembus Naya, mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya.
Jantung Naya seolah berhenti berdetak saat itu juga. Napasnya tercekat di tenggorokan, tidak bisa ditarik maupun diembuskan.
Kaki yang menopang tubuhnya mendadak terasa seperti jeli yang kehilangan kekuatan. Wajahnya memucat pasi melihat bayangan masa lalu yang paling ia hindari.
Aksa Dirgantara.
Pria yang masa depannya ia hancurkan tanpa ampun tujuh tahun lalu, kini duduk di sana sebagai CEO baru, menatapnya tajam dengan seringai tipis yang menjanjikan kehancuran mutlak.
semoga km bisa sembuh kembali ,, rasa sakit ini akan terbayar dg kembali ny tangan mu yg berfungsi dg normal
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
lanjuuut kak