Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pak Wijaya tidak langsung menjawab. Kotak nasi yang remuk di tangannya jatuh ke lantai, dan ia membiarkannya begitu saja.
Matanya bergerak dari wajah Elang ke tangan kanannya yang bersarung, lalu ke kabin truk yang menganga di belakang mereka. Dadanya naik turun dengan teratur, tetapi jari-jarinya masih gemetar halus.
"Kau..." Suaranya serak. Ia berdeham dan mencoba lagi. "Kau menahan truk itu dengan tanganmu."
"Hanya sekali pukul." Elang menepuk lengan kemejanya yang sama sekali tidak berdebu. "Bukan sesuatu yang perlu dibesarkan."
Pak Wijaya menatapnya lagi, lama, seperti orang yang sedang mencocokkan sebuah wajah dengan sebuah nama. Kemudian ia menunduk, dalam, dengan kedua tangan di sisi tubuh.
"Terima kasih. Kalau bukan karena kau, aku tidak akan berdiri di sini."
Para pengawal yang tadi terlambat setengah detik kini mengepung panggung dengan wajah pucat. Salah satu dari mereka membuka mulut seakan hendak meminta maaf, tetapi Pak Wijaya mengangkat satu tangan, dan mulut itu menutup.
Di kejauhan, sirene mulai terdengar.
"Anak muda." Pak Wijaya menegakkan tubuh. "Dengan apa aku bisa membalas ini?"
Elang tidak menjawab dengan kata. Ia melangkah setengah langkah ke depan, mengulurkan tangan kanannya, dan menaruhnya di bahu Pak Wijaya dengan gerakan yang ringan, nyaris ramah. Bibirnya melengkung tipis.
'Jadikan Pak Wijaya bawahanku yang patuh.'
Cahaya biru menyala dari punggung sarung tangannya, hanya sekejap, tertutup lengan jas lelaki itu.
[Permintaan dijalankan...]
[Subjek Wijaya memiliki mental yang sangat kuat. Keberhasilan: 0%]
[Permintaan gagal.]
[Kuota tersisa: 4/5.]
Senyum Elang tidak bergeser sedikit pun. Hanya ibu jarinya yang berhenti bergerak di bahu itu.
'Nol persen.' Ia mencatat angka itu seperti orang mencatat harga barang yang ternyata terlalu mahal. 'Dia benar-benar tidak bisa ditundukan oleh apapun.'
Ia menarik tangannya. Tidak ada rasa kesal, hanya sedikit rasa ingin tahu, dan di bawahnya, rasa hormat yang tidak mau ia akui.
"Aku tidak butuh apa pun, Pak." Elang menurunkan nada suaranya menjadi sesuatu yang datar dan dingin. "Menyelamatkan orang bukan pekerjaan yang harus dibayar."
Pak Wijaya tersenyum. Senyum yang tipis, yang tidak mencapai pipi, tetapi mencapai mata.
"Itu tidak boleh." Ia menggeleng pelan. "Orang yang menolak pembayaran biasanya sedang menunggu sesuatu yang lebih besar. Aku sudah cukup lama di dunia ini untuk mengenali itu."
Elang menaikkan satu alis. Ia tidak membantah.
"Kau akan kuberi sebuah mansion," lanjut Pak Wijaya. "Bukan sebagai hadiah. Anggap saja pembayaran atas nyawa yang kau selamatkan, dan aku tidak menerima penolakan." Ia menepuk bahu Elang satu kali, kuat dan hangat. "Ikut aku. Mobilku di belakang."
Elang menimbang tawaran itu selama dua helaan napas. Dari jauh ia sudah melihat polisi memasuki lobi, orang-orang yang mulai mengangkat ponsel, dan kamera dari lantai dua yang mengarah ke wajahnya.
"Baik," katanya. "Karena Bapak memaksa."
Mobil itu sedan hitam panjang yang jok kulitnya masih berbau baru. Seorang pengawal bertubuh tegap duduk di depan, yang satunya mengemudi. Pintu ditutup dengan bunyi berat, dan seketika kebisingan di luar tinggal desis jauh.
Elang duduk dengan satu kaki bersilang, tangan kanannya di lutut. Di sebelahnya, Pak Wijaya mengusap dahinya dengan sapu tangan lipat. Setelah beberapa saat, ia sadar tangannya masih gemetar, lalu menyimpan sapu tangan itu dalam saku tanpa berkata apa-apa.
Mobil mulai meluncur keluar dari halaman parkir. Dari kaca belakang, mal itu mengecil, dan truk di pintunya tampak seperti mainan yang diremas.
"Kau tinggal di mana?" tanya Pak Wijaya.
"Sementara di kontrakan." Elang menjawab tanpa menoleh. "Dekat rumah kakakku."
"Kakakmu?"
"Mantan kakakku." Ia membetulkan manset. "Aku sedang mengurus itu."
Pak Wijaya tertawa pendek dan hendak menjawab ketika sebuah ponsel berbunyi di saku jasnya. Nadanya nyaring, tanpa jeda, bukan nada panggilan biasa.
Ia merogoh ponsel itu dan melihat layarnya. Wajahnya berubah.
"Ya. Ya, aku di sini." Punggungnya tegak seketika. "Kapan? ... Berapa lama?"
Elang tidak menoleh. Ia hanya melihat ke jendela, dan di kaca itu pantulan wajah Pak Wijaya menyempit pelan-pelan, seperti kain yang diperas.
"Kritis?" Suaranya pecah. Ia menutup mata sebentar. "Jangan lakukan apa pun sampai aku datang. Aku sudah di jalan."
Ia menurunkan ponsel. Tangannya yang tadi gemetar kini diam sama sekali.
"Anak muda." Pak Wijaya menatap Elang, dan untuk pertama kalinya senyumnya hilang seluruhnya. "Maafkan aku. Putriku... dia sedang kritis. Aku harus ke rumah sakit lebih dulu. Mansion itu akan kuurus setelahnya, aku berjanji."
"Tidak apa-apa." Elang mengangguk. Suaranya tidak mengandung belas kasihan, hanya tenang. "Lakukan saja yang perlu Bapak lakukan."
Pak Wijaya mengangguk, lalu menyentuh bahu pengemudi dengan dua jari. Mobil membelok tajam di perempatan, memutar balik, dan ban berdecit di aspal.
Elang bersandar ke jok. Ia menatap lurus ke depan, ke jalan yang kini berganti arah menuju rumah sakit yang kemarin malam hanya ia lihat sebagai foto di layar ponsel.
'Kesempatan...'