Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Gerimis tipis masih menari-nari di udara, memantulkan pendar neon jalanan Kota Jiangcheng yang tak pernah tidur. Di atas trotoar yang tergenang air, seorang pria berpakaian basah kuyup berjalan dengan punggung tegak. Tangan kanannya dengan mantap menyeret dua koper usang, sementara tangan kirinya menggenggam erat jemari mungil yang masih menggigil kedinginan.
Langkah Jiang Muchen terhenti. Ia mendongak, menatap fasad raksasa di hadapannya.
Hotel Grand Jiangcheng.
Bangunan berlantai lima puluh itu menjulang angkuh menembus awan malam. Kaca-kaca keemasannya memantulkan gemerlap kemewahan, menegaskan statusnya sebagai hotel bintang lima paling prestisius di seantero kota. Ini adalah taman bermain para konglomerat, tempat di mana puluhan ribu Yuan dihabiskan hanya untuk sekali makan malam tanpa kedipan mata.
Dulu, Muchen hanya berani menundukkan kepala dan mempercepat langkah setiap kali melewati tempat ini. Namun malam ini, tak ada sepercik pun keraguan di matanya. Atribut Aura Ketenangan Mutlak dari sistem mengalir di pembuluhnya, menyapu bersih sisa-sisa rasa rendah diri dan keputusasaan yang sebelumnya membelenggunya.
'Mulai detik ini, anak-anakku hanya akan menikmati yang terbaik dari yang terbaik. Tidak akan ada lagi yang berani merendahkan mereka.'
Muchen membatin mantap. Ia mempererat genggamannya pada tangan Zihan dan Ziyue, lalu melangkah maju.
Wushhh...
Pintu kaca otomatis bergeser terbuka tanpa suara. Hembusan udara hangat yang membawa aroma lavender premium seketika menyapu wajah mereka, mengusir udara malam yang menusuk tulang.
Lobi itu begitu megah. Lantai marmer putih mutiaranya dipoles sempurna hingga memantulkan bayangan langkah mereka. Tepat di tengah langit-langit, sebuah lampu gantung kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan setiap sudut ruangan.
Ziyue dan Zihan melebarkan sepasang mata bulat mereka. Mulut kecil Ziyue sedikit terbuka. Gadis kecil itu menatap sekeliling dengan takjub, seolah ia baru saja melangkah masuk ke dalam istana sihir di buku dongeng yang sering dibacakan ayahnya.
"Ayah... tempat ini terang sekali," bisik Ziyue sangat pelan, seolah takut suaranya akan memecahkan kemegahan tempat ini. "Apa kita benar-benar boleh tidur di sini?"
"Tentu saja boleh, Sayang." Muchen tersenyum lembut. Ia menunduk, mengusap puncak kepala putrinya yang lembap. "Mulai malam ini, ini akan jadi rumah kita."
Namun, kehadiran tiga sosok basah kuyup itu jelas menjadi pemandangan yang merusak estetika di mata para penghuni lobi.
Beberapa tamu elit yang mengenakan jas bespoke dan gaun malam sutra serempak menghentikan langkah. Bisik-bisik sinis mulai terdengar. Tatapan merendahkan dan jijik langsung tertuju pada koper butut Muchen yang meninggalkan jejak air kotor di atas karpet merah tebal lobi.
Dua petugas keamanan bertubuh tegap yang berjaga di dekat pintu langsung menyadari keributan kecil ini. Raut wajah mereka mengeras. Keduanya saling bertukar pandang, lalu melangkah cepat menghampiri Muchen.
"Maaf, Tuan. Anda sepertinya tersesat. Ini bukan tempat penampungan tunawisma." Salah satu petugas keamanan bersuara parau dan kasar. Tangannya sudah terulur, bersiap mencengkeram bahu Muchen untuk mendorongnya keluar. "Tolong segera tinggalkan tempat ini sebelum kami terpaksa menggunakan kekerasan."
Namun, sebelum ujung jari berotot itu sempat menyentuh kemeja basahnya, Muchen menoleh perlahan.
Mata pria itu menatap lurus ke arah sang petugas. Tidak ada urat leher yang menonjol, tidak ada amarah yang meledak. Hanya ada sepasang mata yang sedingin dasar palung laut, memancarkan tekanan absolut yang tak kasat mata namun mencekik.
Petugas keamanan itu seketika mematung. Tangannya membeku di udara. Jantungnya berdegup kencang seolah instingnya baru saja menyadari bahwa ia telah membangunkan seekor naga yang tertidur. Keringat dingin mendadak merembes dari pelipisnya. Gelandangan di hadapannya ini memancarkan wibawa dan aura mendominasi yang jauh lebih mengerikan dari bos besar manapun yang pernah ia layani.
"Aku kemari untuk menyewa kamar," suara Muchen memecah keheningan. Nadanya datar, namun menggema penuh otoritas. "Apakah Grand Jiangcheng memiliki aturan tertulis yang melarang tamu dengan pakaian basah untuk menyewa kamar?"
"T-tidak, Tuan... T-tapi..." Petugas keamanan itu mendadak gagap. Nyalinya menciut seukuran kacang polong.
"Kalau tidak ada aturan seperti itu, menyingkirlah dari jalanku."
Muchen mengalihkan pandangannya, kembali melangkah maju. Ia benar-benar mengabaikan dua pria berotot yang kini menyingkir kaku, seolah baru saja terbebas dari sihir mematikan.
Dengan punggung tegap, Muchen berjalan lurus menuju meja resepsionis di ujung lobi.
Di balik meja marmer itu, seorang resepsionis wanita bernama Wang Li sudah berdiri dengan tangan bersidekap. Wajahnya yang dipulas riasan tebal berkerut menahan jijik. Ia sudah merangkai rentetan kalimat paling tajam untuk mengusir pria miskin ini kembali ke selokan jalan.
Namun, tepat sebelum Muchen tiba di depannya, seorang pria muda berperut buncit yang mengenakan setelan jas putih mencolok menyela dari samping meja. Pria itu merangkul pinggang ramping seorang wanita berpakaian minim, sementara tangannya yang lain menutupi hidung dengan sapu tangan sutra.
"Astaga, Wang Li! Bau busuk apa ini?" Pria buncit itu mengibaskan tangannya di depan wajah dengan raut berlebihan. "Apakah selokan kota sedang meluap ke dalam lobi hotelmu? Cepat usir pengemis ini! Hidungku yang berharga tidak sudi menghirup bau kemiskinan."
Raut wajah ketus Wang Li seketika berubah menjadi senyuman manis yang menjilat.
"Tuan Muda Sun! Astaga, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas pemandangan yang tidak mengenakkan ini." Wang Li menunduk sopan, sebelum kembali menatap Muchen dengan dagu terangkat tinggi. "Saya akan segera memanggil keamanan untuk membuang sampah ini keluar."
Wang Li memelototi Muchen, mengetuk-ngetuk pena mahalnya di atas meja. "Hei, kau. Apa telingamu sudah tuli? Cepat keluar dari sini! Tempat ini bukan untuk spesies sepertimu. Asal kau tahu saja, harga kamar termurah di sini adalah dua ribu Yuan per malam. Apa kau punya uang sebanyak itu? Koper bututmu itu bahkan tidak akan laku dijual seratus Yuan di pasar loak."
Alih-alih terpancing emosinya, Muchen sama sekali tak bergeming. Ia hanya melirik Tuan Muda Sun dan Wang Li sekilas, menatap mereka layaknya melihat dua ekor lalat got yang sedang berdengung berisik.
"Dua ribu Yuan?" Muchen mengulang nominal itu dengan nada santai. Ia membalas tatapan Wang Li dengan sorot mata meremehkan. "Terlalu murah."
Muchen meletakkan sebelah tangannya di atas meja. "Aku ingin Presidential Suite. Berikan padaku untuk satu bulan penuh."
Keheningan yang canggung langsung menyelimuti area resepsionis itu selama beberapa detik.
"Pfttt—HAHAHAHA!"
Tuan Muda Sun meledak dalam tawa yang begitu keras hingga perut buncitnya berguncang hebat. Ia menunjuk wajah Muchen dengan air mata yang nyaris keluar dari sudut matanya. "Presidential Suite?! Satu bulan?! Hei, gembel! Apa kau sedang mengigau karena kelaparan? Harga kamar itu seratus ribu Yuan per malam! Satu bulan berarti tiga juta Yuan! Apa kau berencana membayarnya dengan memotong kedua ginjalmu?!"
Wang Li ikut mendengus sinis, tak repot-repot lagi menyembunyikan tawa merendahkannya. "Tuan, saya sedang bekerja dan tidak punya waktu untuk meladeni orang gila. Jika Anda tidak memutar tumit Anda sekarang juga, saya akan benar-benar menelepon polisi."
Di saat yang sama, tanpa disadari oleh kerumunan kecil di meja depan, seorang wanita tengah menuruni tangga pualam raksasa dari lantai mezzanine.
Wanita itu mengenakan setelan jas wanita hitam legam yang membalut lekuk tubuh sempurnanya dengan keanggunan mutlak. Rambut sekelam malamnya diikat rapi, mengekspos leher jenjang putih yang dihiasi kalung berlian berpotongan rapi. Wajahnya begitu memukau, namun memancarkan aura sedingin gunung es. Ia memiliki pesona wanita dewasa yang mematikan sekaligus tak tersentuh.
Dia adalah Su Qingxue.
Manajer Umum sekaligus pewaris pemegang saham terbesar Grand Jiangcheng Hotel. Di kalangan elit, ia dijuluki sebagai Dewi Bisnis Kota Jiangcheng wanita yang tak pernah repot-repot melirik pria manapun, sehebat apa pun latar belakang mereka.
Langkah elegan Qingxue terhenti di anak tangga terakhir saat telinganya menangkap keributan di meja resepsionis. Sepasang mata tajamnya menyapu lobi, mengunci punggung Muchen dari kejauhan.
Alis Qingxue sedikit bertaut. Pakaian pria itu memang basah dan lusuh, tapi postur tubuhnya sangat tegak. Ketenangan absolut yang memancar dari siluet punggung itu bukanlah sesuatu yang bisa dipalsukan oleh seorang gelandangan sungguhan. Itu adalah postur seseorang yang terbiasa menginjak-injak dunia di bawah kakinya.
Kembali ke meja resepsionis.
Menanggapi rentetan hinaan Wang Li dan Tuan Muda Sun, Muchen sama sekali tak berniat membalas dengan kata-kata. Tangan kanannya dengan tenang merogoh saku kemejanya yang setengah basah.
Trak.
Sebuah kartu diletakkan perlahan di atas meja marmer putih.
Bukan kartu emas, bukan pula kartu platinum yang berkilau norak. Melainkan sebuah kartu berwarna hitam pekat, elegan dan mengintimidasi. Di sudut kirinya, terukir sebuah lambang perak murni bermotif naga agung yang sedang melilit bola dunia, mendampingi deretan angka yang dicetak dengan presisi tingkat tinggi.