Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Kamera — Part 2
Sore hari menjelang malam, sesi syuting terakhir untuk hari itu akhirnya selesai.
Alya melangkah masuk ke ruang istirahat khusus dan langsung menjatuhkan dirinya ke atas sofa empuk. "Astaga... capeknya tembus sampai ke tulang."
Arka yang duduk di seberang mejanya hanya tersenyum miring. "Masih mau lanjut jadi artis?"
Alya mendelik menatapnya tajam tapi bercanda. "Pertanyaan konyol macam apa itu?"
"Pertanyaan serius."
Alya berpikir sejenak, menatap ke arah set yang mulai dibereskan oleh para kru, lalu tersenyum tulus. "Masih. Aku bakal tetap milih pekerjaan ini."
"Kenapa? Padahal capek banget."
"Karena meskipun capeknya luar biasa..." Alya menatap mata Arka. "...ada perasaan membanggakan saat sebuah cerita fiksi bisa menjadi hidup dan dirasakan banyak orang cuma gara-gara kerja keras kita."
Arka mengangguk-angguk pelan. Sekarang ia benar-benar mengerti. Alya bukan sekadar mengejar popularitas atau kekayaan dari pekerjaan ini. Perempuan ini murni mencintai seni akting dari dalam dadanya.
Hanya saja... dunia itu juga menuntut bayaran yang sangat mahal darinya. Waktu pribadi, privasi, kebebasan, hingga kehidupan normal yang selalu ia impikan.
Saat Arka bersiap untuk pamit pulang, Alya mengantarkannya hingga ke ambang pintu utama.
"Besok kamu datang lagi kan, Ka?" pancing Alya.
Arka tersenyum tipis. "Belum tentu."
"Lho? Kenapa?"
"Kan aku statusnya mahasiswa, tugas akhirku belum kelar."
Alya memutar bola matanya. "Alasan."
"Memang alasan yang sangat valid."
Alya tertawa lepas. "Ya sudah deh."
Arka melangkah keluar. Namun baru tiga langkah menjauh, ia membalikkan badannya kembali.
"Alya."
"Ya?"
Arka menatapnya hangat. "Kerja bagus hari ini."
Alya tertegun di tempatnya. Senyum paling tulus terbit di wajahnya. "Terima kasih, Arka."
Arka melambaikan tangan lalu benar-benar berjalan pergi meninggalkan area lokasi syuting.
Alya masih berdiri di ambang pintu untuk waktu yang cukup lama. Kalimat sederhana dari Arka terus bergema di kepalanya.
Bukan pujian manis dari penggemar. Bukan analisis dari kritikus film. Bukan pula basa-basi dari produser yang ingin memanfaatkan namanya. Hanya ucapan singkat dari seorang Arka. Tapi efeknya sukses menghangatkan dadanya sepanjang malam.
Malam harinya, Arka duduk di meja belajarnya. Laptop menyala menampilkan dokumen draf skripsinya yang belum terselesaikan.
Namun, konsentrasinya terus terdistraksi oleh bayangan proses syuting dan senyuman Alya tadi sore.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ada beberapa notifikasi pesan baru dari nomor tidak dikenal yang tadi sore menghubungi. Pesan yang sama, menuntut konfirmasi mengenai hubungannya dengan Alya.
Arka memilih untuk mengabaikan dan menghapus obrolan itu.
Ia kemudian membuka ruang obrolannya dengan Alya. Pesan terakhir di sana sangat sederhana.
Alya: Hati-hati di jalan ya, Ka.
Arka: Kamu juga. Jangan lupa istirahat.
Arka meletakkan ponselnya kembali dengan layar menghadap ke bawah.
Namun baru saja tangannya kembali menyentuh keyboard laptop, ponselnya bergetar kencang. Layarnya kembali menyala.
Bukan pesan dari Alya. Melainkan pesan baru dari nomor tak dikenal lainnya.
Nomor Tidak Dikenal: Kami sudah mengetahui bahwa Anda adalah mahasiswa dari Universitas Bina Bangsa.
Tubuh Arka seketika menegang kaku di kursinya. Matanya membelalak menatap layar.
Sebelum ia sempat mencerna ancaman tersebut, pesan susulan berikutnya masuk dengan sangat dingin.
Nomor Tidak Dikenal: Dan saat ini tim kami sedang melacak latar belakang keluarga Anda di Surabaya dan Jakarta.
Ekspresi santai di wajah Arka perlahan musnah total. Rahangnya mengeras.
Untuk pertama kalinya sejak insiden ini bermula, ini bukan lagi sekadar rumor mengenai foto kencan seorang aktris. Seseorang dari media atau agen rumor sedang berusaha mengupas privasinya secara brutal.
Seseorang sedang berusaha membongkar rahasianya sebagai putra tunggal pemilik Skysea Group.
Arka menatap layar ponselnya dalam keheningan yang mencekam.
Di tempat lain pada saat yang bersamaan... Alya juga sedang terduduk kaku di tepi tempat tidurnya, menatap layar ponselnya sendiri.
Sebuah pesan singkat tapi bertekanan tinggi baru saja dikirimkan oleh Mbak Rini, manajernya.
Mbak Rini (Manajer): Besok pagi kamu harus ke kantor agensi jam 8 tepat. Pihak manajemen dan direksi perlu bicara sangat serius soal identitas cowok bernama Arka ini. Isu ini mulai menggoyang kontrak sponsor utama film barumu.
Dua orang dari dua dunia yang berbeda itu belum menyadari... bahwa takdir yang awalnya hanya dipertemukan oleh hujan dan kebetulan sederhana, kini mulai menyeret mereka masuk ke dalam pusaran badai yang sangat besar.
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!