NovelToon NovelToon
Di Bawah Kendali Asisten Suami

Di Bawah Kendali Asisten Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.

‎‎Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.

‎Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
‎

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Belum sempat kata-kata Alina tuntas terucap, tiba-tiba ketukan pintu terdengar jelas. Kali ini bukan pelan, melainkan cukup nyaring hingga membuat keduanya tersentak.

‎"Sayang? Kamu sudah selesai belum?" suara Nova terdengar dari luar pintu ruang ganti, terdengar cemas sekaligus penasaran. "Kamu lihat Revan gak? Tadi Mama suruh nunggu di sini, tapi ini kok nggak ada anaknya... ke mana ya dia?"

‎‎Wajah Alina seketika pucat pasi, matanya melirik panik ke arah pintu lalu kembali menatap Revan yang masih berdiri dekat di hadapannya. Pria itu justru menyeringai tipis, seakan menikmati kegugupan yang melanda wanita itu, tanpa sedikit pun terlihat ingin menjauh.

‎‎Alina buru-buru mendorong dada Revan, memberi isyarat dengan mata agar pria itu bersembunyi dulu di balik tirai ruang ganti yang tebal. Namun Revan malah menggeleng pelan dan menaikkan satu alisnya seolah tidak cemas sama sekali.

‎‎"Kau—" desis Alina.

‎‎Ia menarik napas panjang berusaha menenangkan debarnya yang masih tak beraturan sebelum menjawab dengan suara yang sengaja dibuat senormal mungkin.

‎‎"Ma... Aku... aku belum selesai. Sebentar lagi ya!" serunya, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya.

‎‎"Lalu Revan ke mana, Sayang? Tadi Mama pikir dia menunggumu di sini," tanya Nova lagi dari balik pintu.

‎‎Alina menelan ludah, pikirannya berputar cepat menyusun kebohongan yang terdengar masuk akal.

‎‎"Eh... itu... Revan tadi pamit pergi ke toilet dulu, Ma! Katanya cuma sebentar kok," jawab Alina sedikit meninggikan suaranya, berharap ibunya percaya.

‎‎Nova mengangguk di luar sana. "Oalah, begitu rupanya. Kirain hilang ke mana."

‎‎Lalu Alina menambahkan dengan nada yang sedikit memohon, berusaha mengalihkan perhatian ibunya agar tidak menunggu di depan pintu itu.

‎‎"Ma... sambil menunggu aku selesai, Mama tolong belikan aku minuman dingin sebentar ya? Aku tiba-tiba sangat haus sekali, mungkin karena udara di dalam butik ini agak panas." ucapnya sambil melirik ke arah Revan yang masih tampak tenang-tenang saja.

‎‎Nova tertawa kecil di luar sana. "Ya ampun, kamu ini... Ya sudah, Mama belikan dulu. Kamu jangan terburu-buru ya, santai saja. Nanti kalau Revan balik, suruh tunggu di area depan saja, jangan hilang lagi."

‎‎"Siap, Ma!" seru Alina lega mendengar suara langkah ibunya perlahan menjauh.

‎‎Baru saja suara langkah kaki Nova benar-benar hilang, Alina langsung meluruhkan bahunya, napasnya keluar panjang seakan beban berat baru saja terangkat dari dadanya. Punggungnya bersandar lemas ke dinding cermin, tangan kanannya menepuk-nepuk pelan dadanya yang masih naik turun hebat.

‎‎"Ya Tuhan... lemas rasanya," gumamnya pelan, matanya menatap Revan dengan tatapan setengah kesal setengah lega. "Kau lihat kan? Hampir saja ketahuan."

‎‎Revan terkekeh pelan, langkah kakinya terdengar mendekat lagi, tenang, santai, seakan tidak ada yang terjadi sesaat tadi. Ia menyandarkan satu bahunya ke dinding di samping pintu ruang ganti, menatap Alina dengan sorot mata yang masih menyimpan senyum menggoda itu.

‎‎"Kau berbohong cukup meyakinkan untuk seseorang yang biasanya jujur, Nyonya," bisiknya rendah, nada bicaranya lembut namun terdengar penuh arti. "Minuman dingin, katanya... Padahal yang membuatmu panas itu bukan suhu ruangan, kan?"

‎‎Alina mendengus, pipinya yang tadi sempat sedikit memucat kini kembali memerah. Ia berusaha terlihat tegas meski suaranya masih terdengar sedikit bergetar.

‎‎"Jangan banyak omong, Revan. Cepat keluar dari sini sebelum Mama benar-benar kembali dengan minumannya," ucapnya tegas, menunjuk pintu dengan dagunya. "Dan jangan ganggu aku lagi, paham?"

‎‎Revan mengangkat kedua bahunya seakan menyerah, namun senyum di bibirnya tidak kunjung hilang.

‎‎"Baik, Nyonya. Saya keluar," ucapnya sopan, lalu melangkah menuju pintu. Namun sebelum ia membukanya, ia berhenti sejenak, menoleh sedikit ke belakang tanpa menatap Alina langsung. "Tapi ingat... saya tidak akan berhenti hanya sampai di sini."

‎‎Suaranya rendah dan berat, tapi setiap kata terdengar begitu jelas dan menancap di hati Alina. Pintu ruang ganti terbuka sedikit, lalu tertutup kembali pelan, menyisakan wanita itu sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa begitu sempit dan panas.

‎‎Alina terpaku di tempatnya, tubuhnya lemas seakan baru saja berlari maraton. Ia menatap pintu yang baru saja ditutup Revan, napasnya tercekat, dan kata-kata pria itu terus berputar di kepalanya seperti mantra yang tak mau hilang.

‎‎"Saya tidak akan berhenti hanya sampai di sini..."

‎‎Apa maksudnya? Apa yang sebenarnya ingin ia lakukan? Dan yang lebih penting... apa yang sebenarnya pria itu rasakan terhadapnya?

‎‎Alina menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengusir segala pikiran yang mulai kacau itu. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan diri.

‎‎"Kendalikan dirimu, Alina..." bisiknya pada pantulan dirinya di cermin. "Kau istri Rafael. Kau punya janji pernikahan yang harus dijaga. Revan itu... hanya asisten. Jangan biarkan pria itu mendekat apalagi sampai menyentuhmu lagi."

-

-

‎‎Setelah memilih gaun dan menyelesaikan transaksi pembayaran, mereka melangkah keluar dari pintu kaca butik yang berkilau itu, sinar matahari siang menyilaukan mata sejenak. Nova berhenti sejenak, wajahnya tiba‑tiba tampak cemas seolah teringat hal penting yang terlupakan.

‎‎"Sayang, Mama baru teringat ada janji makan siang dengan teman‑teman Mama. Mama harus pergi sekarang," ucapnya sambil mengusap lengan Alina dengan lembut. "Kamu makan siang sama Revan saja ya. Mama pergi dulu."

‎‎"Baiklah, Ma. Hati‑hati di jalan," jawab Alina sambil melambaikan tangan.

‎‎Sopir membukakan pintu belakang mobil untuk Nova. Setelah mobil ibunya itu melaju perlahan dan hilang di keramaian jalan, udara siang yang terasa gerah mulai menyentuh kulit Alina. Perutnya tiba‑tiba berkerut lapar, pikirannya masih teringat kejadian tadi di ruang ganti yang membuat dadanya sesak. Ia berbalik menatap Revan yang berdiri di samping mobil, tatapannya tampak tenang namun ada kilatan yang sulit dibaca di matanya.

‎‎"Aku lapar," ucap Alina dengan nada yang masih sedikit tegang. "Bisa bawa aku ke restoran terdekat? Aku belum mau pulang ke rumah."

‎‎Revan mengangguk perlahan, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis. "Tentu, Nyonya. Silakan naik." Ia membukakan pintu belakang mobil dengan gerakan yang sopan, namun matanya tidak melepaskan pandangan dari wajah Alina saat wanita itu melangkah masuk ke dalam mobil.

‎‎Mobil melaju menyusuri jalan kota yang ramai, melewati deretan toko dan gedung perkantoran yang penuh aktivitas siang hari. Sepuluh menit kemudian, kendaraan itu berhenti di depan restoran mewah dengan jendela kaca besar dan taman kecil di depannya. Begitu keduanya masuk ke dalam, hawa sejuk beraroma mentega, steak panggang dan sedikit wangi wine menyambut mereka, diiringi denting pelan alat makan dan alunan musik jazz yang lembut.

‎‎Alina berjalan di depan, matanya bergerak menyapu ruangan luas itu, lalu tiba‑tiba langkahnya terhenti. Di meja sudut yang sedikit tersembunyi, Rafael sedang duduk bersandar pada sandaran kursi. Wajah pria yang selalu tampak dingin dan kaku di rumah itu kini tampak santai, bahkan tersenyum lebar sambil menatap wanita yang duduk berhadapan dengannya. Itu senyum yang belum pernah dilihat Alina selama dua tahun mereka menikah, senyum yang hangat dan tulus, seolah semua beban hilang begitu saja.

‎‎Dada Alina tiba‑tiba terasa sesak, napasnya terhenti sejenak. Matanya mulai berkaca‑kaca, rasa kecewa yang selama ini disembunyikan perlahan menusuk hatinya. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah maju menuju meja itu, langkahnya tegas meskipun kakinya sedikit gemetar karena emosi yang meluap‑luap. Revan mengikuti di belakangnya, langkahnya tenang namun matanya terus mengamati setiap gerak‑gerik Rafael dan wanita didepan sana itu.

‎‎Senyuman Rafael seketika lenyap begitu ia melihat sosok Alina mendekat. Ia segera bangun dari kursinya dengan gerakan terkejut, matanya beralih sebentar ke arah Revan yang berjalan di belakang istrinya, lalu kembali menatap wajah Alina yang tampak pucat dan mata yang sudah mulai basah.

‎"Sayang? Kamu ada di sini?" sapa Rafael, suaranya terdengar sedikit cemas dan tidak siap.

‎‎Alina tidak menjawab sepatah kata pun. Tatapannya tertuju penuh pada wanita yang duduk di hadapan suaminya itu. Wanita itu pun bangun perlahan, rambut panjangnya terurai rapi, senyum ramah tersungging di bibirnya.

‎‎‎‎"Ini Amara, model yang terpilih untuk peluncuran merek baru perusahaan kita." ucap Rafael, berusaha menenangkan suasana yang tiba‑tiba tegang. "Kami sedang membicarakan rencana pemotretan bulan depan, jadwal dan konsepnya masih banyak yang harus disesuaikan."

‎‎Amara mengulurkan tangan ke arah Alina dengan senyum sopan. "Senang rasanya bisa bertemu denganmu, Nyonya Mahendra. Aku sudah banyak mendengar tentang kamu dari Rafael."

‎‎Alina masih diam, matanya menatap tangan itu tanpa bergerak. Di belakangnya, Revan berdiri diam, matanya mengamati perubahan ekspresi wajah Alina yang mulai bergetar karena menahan air mata.

-

-

-

Bersambung...

1
Mia Camelia
ayo revan rebut Alina yukk🤣🤣🤣
Aisyah Ranni
Wajar aja si Andika menyesal ternyata itu dia,bisa jadi dia yg slengki dengan ibu Rafael, mengulang kejadian si Rafael dengan Amara.dan Andika gak tau Revan anak kandungnya sendiri
MamDeyh
Woooow ternyata sodara tiri merekaaaa
MamDeyh
Diiih GK jelas
Mia Camelia
rasakan kau raphael tamparan sang ayah, semoga raphael mau melepaskan Alina😭
🔥Violetta🔥: Semoga y kak 😁
total 1 replies
Ervina Ardianto
Kl baca smp sini berarti awalnya Revan pura2 jd asisten Rafael ada hubungannya dg masa lalu yg blm selesai antar ortu/kakeknya Rafael & Revan. Sementara ttg Alina, di luar rencana dia, bs ketemu lg tp sdh jd istri org.
Maybe gt🤭
🔥Violetta🔥: Wah tebakan kakak ini sesuatu 👏👏👏👍😁
total 1 replies
Mia Camelia
revan gentleman banget sih, bogem si raphael di tempat, ngliat raphael lama2 kaya pecundang😒
Ervina Ardianto
Rafael msh lolos nih. Mertuanya ga liat tontonan & ga denger omongan Revan ke Rafael. Jgn lama2 author, nungguin Revan membuka jati diri dia yg sbnrnya 😊
MamDeyh
Repaaan kamu kelepasan 😅
🔥Violetta🔥: rem-nya blong 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
sumpah raphael tuh pembawa sial banget sih, bikin Alina jatuh bgtu😔😔😔
🔥Violetta🔥: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Revan mana Revan..mungkin sekarang saatnya membuka semua 🤭
🔥Violetta🔥: Lagi bertapa dulu dia kak... 🤭🤭🤣
total 1 replies
MamDeyh
Nah kan.. Laki egois. Plin plan. Gajebo
🔥Violetta🔥: Omelin aja,,, omelin kak 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Ada hubungan dg masa lalu berarti nih. Revan uda kenal Alina lbh dl dari Rafael , yg msh gelap hubungan ortu Revan & Rafael, knp Alina ga tau / blm sadar ttg Revan (di masa lalu) & Revan bs kecolongan, Alina nkh sm Rafael.
MamDeyh
Ahhhh lagi dong kak.....
Mia Camelia
Alina kapan cerai nya thor 🤭🤭🤭pingin ngeliat Alina dan revan SAH🤭😁
🔥Violetta🔥: Nanti kak 🤭 author nya juga udah gak sabar 🤭🤭🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
"Menikah karena perjodohan tapi hati suami masih di masa lalu" itu klasik yang tidak pernah gagal. Saya langsung bisa merasakan bagaimana hampanya Alina.
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.

Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.

cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰
MamDeyh
Aduhhhh aku dag dig dug deeeer daiaaaaa/Curse//Curse/
🔥Violetta🔥: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Adira🍓
O...o... kamu ketahuan 🤣🤣🤣🤣
Adira🍓
Pandai kali ngegombal mulut kau ini Revan 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Terlalu jujur jawabanmu Bang 🤣🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Maklum, rem-nya blong kak 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!