NovelToon NovelToon
Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Identitas Tersembunyi / Mafia / Tamat
Popularitas:3.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.

Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.

Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?

"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"

Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.

"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Arabelle akhirnya kembali ke ruang makan. Langkahnya ringan, dan bahkan ada sedikit senyum puas di wajahnya.

Hal itu langsung membuat Theo dan Alya saling pandang. Mereka sudah membayangkan berbagai kemungkinan.

Theo langsung mengernyit. "Kok balik?"

Ara berhenti melangkah. "Lah memangnya kenapa?"

Alya ikut bersuara. "Aku kira Kak Elang lempar kamu dari lantai dua."

Ara menatap keduanya beberapa detik, lalu tertawa kecil.

"Kalian terlalu percaya diri..."

Nathan yang mendengar itu ikut berkomentar santai.

"Setuju."

Theo dan Alya langsung diam. Entah kenapa mereka merasa sedang dikeroyok. Ara lalu melihat sekeliling, meja makan sudah bersih. Lantai juga sudah rapi, para pelayan sedang membereskan sisa peralatan makan.

Nathan berdiri dari kursinya. "Aku ke kamar."

Ara hanya mengangguk santai. "Oh."

Sama sekali tidak curiga, bahwa kamar yang dimaksud Nathan adalah kamar yang sekarang ditempatinya.

Mohan yang berdiri di belakang Nathan ikut bangkit.

"Kalau begitu saya pamit pulang, Tuan."

Nathan mengangguk. "Hati-hati."

Mohan kemudian membungkuk sopan kepada Ara.

"Selamat malam, Nyonya Ara."

"Selamat malam, Pak Mohan."

Tak lama kemudian Mohan pergi meninggalkan rumah. Melihat suasana mulai aman, Theo dan Alya saling pandang.

Lalu berdiri bersamaan. "Kami juga pergi." Ujar Theo cepat.

"Ada PR." Tambah Alya.

Ara mengangkat alis.

"Jam segini?"

"PR penting." Kata Theo.

"Sangat penting." Sambung Alya.

Padahal keduanya sebenarnya takut. Takut kalau beberapa detik lagi Arabelle menyuruh mereka mencuci piring.

Sebelum Ara sempat membuka mulut, Theo dan Alya langsung kabur nyaris berlari menuju tangga.

Ara menatap punggung mereka, lalu bergumam,

"Aneh, kenapa mereka lari?"

Ara menoleh ke arah para pelayan.

"Oh iya."

Semua pelayan langsung menegakkan badan.

"Besok sarapan."

Mereka bersiap mencatat, Ara mulai menyebutkan menu.

"Susu."

Para pelayan mengangguk.

"Telur rebus."

Beberapa pelayan mulai terlihat gugup.

"Roti gandum."

Keringat dingin mulai muncul.

"Dan buah alpukat."

Seketika beberapa pelayan membulatkan mata.

Ara mengernyit. "Kenapa?"

Tidak ada yang langsung menjawab. Akhirnya salah satu pelayan memberanikan diri.

"Nyonya..."

"Hm?"

"Nona Alya membenci telur rebus."

Ara diam dan pelayan itu melanjutkan.

"Dan Tuan Theo tidak suka alpukat."

Ara tetap diam, Pelayan lain mencoba membantu.

"Mungkin lebih baik menu seperti biasanya saja."

"Apa biasanya?" Tanya Ara.

"Sosis, kentang goreng, nugget dan roti manis."

Ara menatap mereka lama, sampai para pelayan mulai gugup.

"Apa kalian sedang menyiapkan sarapan?"

Para pelayan saling pandang.

"Atau menu ulang tahun anak TK?"

Ara menghela napas.

"Telur rebus."

"Tapi Nyonya—"

"Telur rebus."

"Baik..."

"Alpukat."

"Baik..."

"Susu."

"Baik..."

"Roti gandum."

"Baik, Nyonya."

Ara menyilangkan tangan.

"Kalau mereka tidak suka?"

Para pelayan menelan ludah, Ara menjawab sendiri.

"Berarti mereka harus belajar."

"Tapi—"

"Tidak ada tapi." Nada suaranya tegas.

"Kalau dari kecil cuma makan yang disuka. Besarnya jadi pemilih."

Para pelayan langsung diam, Ara menunjuk dapur.

"Besok pagi menunya tetap sama." Tidak ada yang berani membantah lagi.

"Siap, Nyonya."

Ara mengangguk puas.

"Nah begitu." Lalu ia berbalik menuju tangga. Meninggalkan para pelayan yang kini mulai merasa iba.

Arabelle sudah menghilang dari dapur. Suara langkah kakinya tidak lagi terdengar. Begitu memastikan wanita itu benar-benar pergi, suasana dapur yang tadinya sunyi perlahan mulai ramai. Beberapa pelayan saling bertukar pandang. Lalu salah satu pelayan bagian makanan mendengus kesal.

"Aku benar-benar nggak habis pikir."

Pelayan lain menoleh. "Kenapa lagi?"

"Dia itu baru datang satu hari."

Pelayan wanita itu meletakkan lap dapurnya dengan kesal.

"Baru satu hari!" Ulangnya.

"Tapi sudah berani mengatur menu makan malam, mengatur sarapan, mengatur Tuan Muda, Nona Muda, bahkan mengatur kita."

Beberapa pelayan langsung saling pandang.

"Pelan-pelan kalau bicara." Bisik salah satu dari mereka.

"Memangnya salah? Dia cuma perempuan udik yang baru datang dari luar. Berani sekali menyuruh-nyuruh kita."

Salah satu pelayan senior langsung mengernyit.

"Jangan bicara seperti itu."

"Kenapa?"

"Karena beliau istri Tuan Nathan."

Suasana mendadak sedikit sunyi. Pelayan senior itu melanjutkan,

"Mulai sekarang beliau nyonya rumah ini."

"Tetap saja." Bantah pelayan wanita tadi.

"Aku sudah bekerja di sini hampir delapan tahun."

"Sedangkan dia?" Wanita itu mendengus.

"Baru satu hari, dan lihat saja kekacauan yang dibuatnya."

Beberapa pelayan mulai terlihat tidak nyaman. Pelayan senior menatap ke arah pintu dapur.

"Tadi Tuan Nathan tidak marah."

Semua orang langsung diam.

"Tuan Elang membanting mangkuk. Tuan Theo mengeluh. Nona Alya mengeluh. Tapi Tuan Nathan tidak menghentikan Nyonya Ara."

Pelayan wanita itu terdiam. Nathan terlihat membiarkan semua yang dilakukan Arabelle. Bahkan, beberapa kali terlihat menahan senyum.

"Justru itu aneh." Gumam seseorang.

Pelayan senior mengangguk. Ia sudah bekerja cukup lama di rumah itu. Nathan bukan tipe pria yang membiarkan orang sembarangan mengatur anak-anaknya. Apalagi orang yang baru dikenalnya tetapi Arabelle berbeda.

Pelayan wanita itu tetap tidak puas. "Pokoknya aku tidak suka. Dia terlalu banyak mengatur. Kita harus membuatnya tidak betah di sini."

Seketika beberapa pelayan langsung menoleh.

"Kamu gila?"

"Kalau ketahuan Tuan Nathan bagaimana?"

Pelayan wanita itu mendengus.

"Tuan Nathan kerja seharian. Beliau tidak akan tahu."

"Tapi—"

"Aku tidak peduli." Ia menyilangkan tangan.

"Wanita itu harus tahu kalau rumah ini bukan miliknya."

Mereka mulai merasa Arabelle bukan tipe wanita yang mudah diusir. Pikiran itu membuat beberapa pelayan merinding sendiri.

1
Siti Saadah
🤣🤣🤣
Creslivia 💫
Itu pembantu kenapa gak dari dulu dipecat sih? heran
Creslivia 💫
Apakah Reno kembali ?
Anonim
Dasar ulat kekep...jelmaan ulat bulu mau coba" rusak rumah tangga orang... belum move on ka apa... cih cih cih parah amat
Sri Murtini
gool
Siti Aisyah
salah lawan atuh klo mau mengintimidasi ara mah...gak akan ngaruh 😄
Siti Aisyah
karya cerita mu bgs sekali thor...bikin penasaran gak bosen baca nya.dan penasaran dgn bucin nya nathan kayak nya seruu..
ibu tiri rasa bestie...yg tdk mdh mendidik anak sambung yg sdh pd besar..menghempaskan prediksi tentang ibu tiri yg jahat..kasihan elang baru merasakan cinta sdh hrs patah hati krn incarannya sdh mau menikah...auto jd ceo yg dingin seperti kulkas 11 pintu hahahahaa...
bravo thor aku suka semua karya mu..the best..love u sekebon mawar orang lain...
Aisyah Alfatih: maksih kakak 💞 btw nama kita sama 🤏
total 1 replies
Siti Aisyah
kasihan elang baru merasakan cinta sdh dibuat patah hati...😭😭
Siti Aisyah
prosedur orang kayak sangat berbelit...ngapain nunggu 3thn....apa orangtua itu gak pernah merasakan rindu gitu...apa gak pernah muda..hadeuuh..sulit banget pemikiran orang kaya mah..😞
Siti Aisyah
itu tak akan terjadi kenzo, dady mu sdh kalah ...seri jadi nya...smg bsk keputusannya menguntungkan ara dan keluarga baru nya..😍👍
Siti Aisyah
aku pendukung pertama yg mendoakan nathan..smg diberi kelancaran dlm usaha nya mengejar cinta nya pd ara...😍😍
Siti Aisyah
iiiih....aku ikutan stres..tegang banget apalagi kaki theo kembali kambuh...entah apa jadi nya....bila keluarga nya mendengar kabar ini
Sri Murtini
teletabis
Siti Aisyah
saingan berat mu adalah alex tuan nathan...jd berusaha nya hrs lbh ..
Siti Aisyah
ini mah ibu tiri rasa bestie
Siti Aisyah
dari awal aku gak percaya theo yg melakukan nya...dia nakal remaja bkn kriminal...sedih nya sampai nyesek ini..😭😭
Sri Murtini
kocak abis si alya
Siti Aisyah
waaah...salah paham nih
Siti Aisyah
apa bener theo yg melakukannya...??
Siti Aisyah
uuuhh...nyesek nya menembus layar..😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!