Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Part 22
Di jalan, tepatnya di depan rumah sederhana yang tidak terlalu mewah, Alex menghentikan mobilnya di sana. Di sampingnya, Amanda terdiam dengan menatap rumah itu penuh keraguan. Matanya yang menyiratkan kekhawatiran itu menoleh ke arah Alex, mencoba untuk memastikan kembali keputusannya saat ini.
"Apa aku harus langsung membujuknya pulang?" tanyanya tak yakin.
"Untuk sementara ini, kamu rawat saja dia sampai sembuh. Pelan-pelan, kamu beri dia pengertian." Amanda hanya mengangguk ragu, mencoba mengikuti ucapan Alex kali ini.
"Kalau begitu, kita turun sekarang saja." Mendengar ucapan Amanda itu, yang Alex lakukan justru menggeleng pelan, seolah ingin menolak ajakan Amanda.
"Tidak. Kamu turun sendiri saja, aku masih ada urusan yang harus aku lakukan."
"Tapi, nanti aku dan Cio akan berdua di rumah itu." Amanda menunjuk ragu ke arah rumah Cio, seolah takut akan terjadi sesuatu di sana.
"Cio tidak akan kurang ajar padamu, aku yakin itu. Meskipun cara berbicaranya sedikit ngawur ke kamu, tapi dia akan tetap menghargai kamu sebagai wanita yang harus dijaga." Alex menjawab yakin, seolah ingin menjawab keraguan Amanda akan ketakutannya.
"Bukan begitu," sahut Amanda ragu, karena sebenarnya ia hanya merasa takut kalau hatinya justru semakin terasa aneh bila bersama dengan Cio dan hanya berdua saja di rumah itu.
"Tolong bantu aku kali ini saja, Amanda. Aku sangat mengkhawatirkan kondisi Cio, tapi dia tidak mau pulang, kalau terus-terusan seperti ini, dia akan semakin sakit." Amanda sempat terdiam beberapa saat sampai pada akhirnya mengangguk ragu untuk menjawab permintaan Alex.
"Aku akan mencoba membujuknya. Terima kasih sudah mau mengantarkanku. Aku pergi dulu," ujar Amanda sembari membuka pintu mobil Alex, yang hanya diangguki oleh empunya.
Setelah benar-benar turun dari mobil Alex, Amanda hanya bisa terdiam sembari menatap rumah yang berada di hadapannya itu penuh keraguan. Begitupun saat mobil Alex melaju menjauh, yang Amanda lakukan masih sama, terdiam dan memantapkan hati untuk menemui Cio.
Mungkin, Amanda tidak akan gugup dan ragu seperti ini, andai hatinya tak merasa aneh saat bertemu dengan Cio. Amanda tahu, Cio adalah lelaki baik yang selalu ada untuk membantunya kala Farel merendahkannya. Namun hanya karena alasan sepele itu, Amanda justru merasa nyaman dilindungi tanpa bisa mengungkapkannya secara langsung. Karena setiap bertemu dengan Cio, Amanda selalu bersikap ketus, seolah tak menyukai cara Cio menggodanya. Namun jauh dari semua itu, Amanda justru merasa ingin terus bersama Cio.
Seperti saat ini, Amanda merasa sangat mengkhawatirkan kondisi Cio. Lelaki itu selalu bersamanya setiap pagi di bis, tapi baru tadi pagi lelaki itu tidak datang dan menyapanya, membuat Amanda merasa kehilangan entah karena apa.
Dengan perasaan ragu-ragu, Amanda melangkahkan kakinya ke arah rumah yang tadi Alex katakan milik almarhum mamanya Cio. Setelah sampai di depan pintu rumah itu, Amanda mengembuskan nafas gusarnya sembari memantapkan diri agar terus melanjutkan niatnya. Tangan kanannya kini terulur, mengetuk papan kayu itu secara teratur dengan sesekali menyapa seseorang yang berada di dalamnya.
"PERMISI," teriaknya tanpa tahu bagaimana empunya tengah terlelap di dalam kamar, namun langsung terbangun karena teriakan Amanda yang cukup mengganggu.
"Siapa sih manusia laknat yang datang? Apa dia tidak tahu, kalau aku sedang sakit di sini? Aku kan butuh istirahat," keluh Cio kesal, merasa tidak percaya dengan orang yang berada di luar rumahnya itu karena telah mengganggu waktu istirahatnya.
"Astaga, dia terus mengetuk pintu." Cio bergumam lirih setengah sebal setelah menyadari orang yang berada di depan rumahnya itu terus saja mengetuk pintunya tanpa henti.
"IYA-IYA. SEBENTAR!" Cio berteriak sebisanya meski rasanya itu cukup sulit untuknya yang masih belum membaik tubuhnya.
"Itu pasti Alex. Kenapa dia terus mengetuk pintu, padahal dia tahu aku sedang sakit. Menyebalkan," gerutu Cio kesal sembari melangkahkan kakinya ke arah pintu rumahnya. Sampai saat otaknya berpikir lain, sesuatu hal yang mungkin akan menjadi bencana untuknya sendiri.
"Jangan-jangan orang itu suruhan Papa?" Cio seketika menghentikan langkahnya, merasa tidak bisa percaya begitu saja dengan sembarang orang terlebih lagi ia belum tahu siapa seseorang itu.
"SIAPA?" Cio bertanya ragu-ragu sembari menempelkan telinganya ke arah pintu, mencoba mendengarkan kondisi di luar yang mungkin tidak hanya satu orang di sana.
"Aku Amanda. Buka pintunya!" jawab seseorang itu yang seketika membuat Cio terkejut, terlihat dari caranya menjauhkan telinganya dari sana.
"Amanda," gumamnya tak percaya, merasa cukup bersemangat setelah tahu siapa seseorang yang berada di luar rumahnya itu. Dengan rasa tak sabar, Cio segera membuka pintu itu, memperlihatkan bagaimana Amanda menatap dingin ke arahnya.
"Butuh berapa lama sih untuk membuka pintu? Apa kamu mengelemnya?" Amanda berujar kesal sembari menatap tak suka ke arah Cio yang menyengir.
"Maaf, aku kan lagi sakit. Jadi aku harus berjalan dari kamar ke sini, dan itu tidak mudah untuk kondisiku yang masih lemah." Amanda seketika mengembuskan nafas beratnya, merasa lupa bila Cio kan memang sedang tidak enak badan dan seharusnya ia bisa lebih mengerti hal itu.
"Kamu masih tidak enak badan ya?" tanya Amanda terdengar bersalah sembari menatap iba ke arah Cio yang memang masih pucat bibirnya.
"Iya. Tapi kenapa kamu bisa ada di sini? Kamu tahu dari mana rumahku?" Cio bertanya penasaran, seolah rasa pusingnya itu sudah menghilang setelah Amanda datang.
"Aku tahu dari Alex. Dia juga yang mengantarkan aku ke sini." Amanda menjawab seadanya yang hanya diangguki mengerti oleh Cio.
"Lalu sekarang dia di mana?" Cio menatap ke arah luar rumah, namun tidak ada seorangpun di sana termasuk Alex, temannya.
"Dia sudah pergi."
"Oh begitu? Oh iya, silahkan duduk! Maaf ya, rumahnya sedikit berantakan." Cio mempersilahkan Amanda duduk di bangku yang ia tunjuk sembari memperlihatkan cengiran manis khasnya.