Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sari terpaku kaku di luar pintu ICU yang samar-samar memperlihatkan kekacauan di dalam.
Lewat kaca bening yang sedikit berembun, matanya menangkap pemandangan yang meremukkan hati dimana Gladys yang ambruk tak berdaya dan dibopong oleh dua orang perawat keluar dari ruangan.
Di sudut lain, Raka masih tersungkur melipat tubuhnya, menangis histeris sembari memeluk erat jasad Dewi yang sudah tak bernyawa.
Garis lurus di layar monitor masih melengkingkan nada kematian yang dingin.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.bisik Sari lirih.
Air matanya menetes keras, membasahi pipinya yang pucat.
Sahabat sekaligus sepupunya yang paling ia sayangi telah pergi untuk selamanya.
Namun, menyadari Gladys yang tergeletak pingsan dalam garapan petugas medis, Sari memaksakan kakinya untuk bergerak.
Mengabaikan rasa lemas yang merayapi tubuhnya, ia berbalik arah dan berlari kencang menyusuri koridor rumah sakit yang panjang.
Langkah kakinya bergema panik, mengejar para perawat yang mendorong brankar Gladys menuju ruang Unit Gawat Darurat.
Perawat dengan terampil memasang selang infus ke punggung tangan Gladys, memastikan cairan mengalir lancar untuk memulihkan kondisinya yang syok berat.
Setelah merapikan tiang infus, perawat itu menatap Sari dan menyentuh bahunya pelan.
"Mbak, tolong temani dan jaga Mbak Gladys di sini, ya. Kondisinya masih sangat lemah," bisik perawat itu lembut.
Sari menganggukkan kepalanya dengan raut penuh kecemasan.
"Iya, Suster. Terima kasih."
Sari menggeser kursi dan duduk di samping brankar Gladys.
Ia menggenggam jemari dingin Gladys, menatap wajah pucat sahabatnya yang masih tak sadarkan diri dengan jejak air mata yang mengering di pipi.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang berat terdengar mendekat.
Raka muncul di ambang pintu UGD. Sosoknya tampak begitu rapuh, matanya sembap dan merah berdarah akibat tangis yang tak terbendung di ruang ICU tadi. Pria itu melangkah perlahan menghampiri bangsal.
Raka berdiri mematung di samping brankar. Ia menatap dalam-dalam wajah sahabat istrinya yang pingsan.
Sosok wanita yang dalam detik-detik terakhir hembusan napas Dewi, telah diikatkan padanya lewat sebuah janji pernikahan yang tak pernah ia sangka.
Menghela napas panjang yang sarat akan duka mendalam, Raka akhirnya memalingkan wajahnya dan menatap Sari.
"Jaga dia, Sari. Aku, harus ke ruang jenazah dulu," ucap Raka dengan suara serak dan berat.
Sari mendongak, menatap iba pada suami almarhumah sepupunya itu.
"I-iya, Mas," jawab Sari lirih, memberikan anggukan penuh simpati.
Raka mengangguk pelan, lalu berbalik arah membelakangi mereka.
Langkah kakinya menyusuri koridor UGD menuju ruang jenazah dan menghadapi kenyataan pahit untuk mengurus kepulangan jasad wanita yang paling dicintainya.
Di depan pintu ruang jenazah yang tertutup rapat, Raka berdiri kaku berhadapan dengan tembok dingin.
Di dalam sana, para petugas sedang memandikan jenazah istrinya.
Suara gemericik air yang samar-samar terdengar dari dalam seolah menjadi ketukan yang kian memperjelas kenyataan pahit dimana istrinya telah tiada.
Dengan jemari yang gemetar dan terasa lemas, Raka merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel.
Ia menggeser layar dan menekan nomor sang ayah, Devandra.
Hanya butuh beberapa kali nada sambung sebelum suara berat ayahnya terdengar dari seberang telepon.
"Hallo, Raka. Bagaimana keadaan Dewi?" tanya Devandra penuh nada cemas.
Raka memejamkan mata erat-erat, menahan sesak yang mendadak menyumbat tenggorokannya.
Suaranya terdengar begitu serak dan serak saat akhirnya berhasil bersuara.
"Dewi sudah meninggal dunia, Pa. Dan setelah dimandikan, Raka akan langsung bawa Dewi ke rumah untuk di shalat kan,"
Hening sejenak menghantam saluran telepon sebelum suara helaan napas berat dan penuh duka dari ayahnya terdengar.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un." ucap Devandra, suaranya bergetar menahan duka.
"Papa akan segera menuju ke rumahmu sekarang juga, Nak."
"Iya, Pa."
Raka langsung mematikan sambungan ponselnya tanpa menunggu balasan lagi.
Ponsel itu ia genggam erat di samping tubuhnya. Pria itu menyandarkan kepalanya ke dinding koridor, lalu kembali terdiam mematung dengan tatapan kosong menatap ke arah pintu ruang jenazah
Sementara itu di ruang UGD, kelopak mata Gladys perlahan-lahan terbuka.
Cahaya lampu ruangan yang putih menyilaukan menyapa retinanya, membuat kepalanya terasa berdenyut berat.
Gladys mengerjapkan mata beberapa kali, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling sebelum menunduk.
Ia melihat punggung tangannya yang telah terpasang jarum infus dengan selang transparan yang mengalirkan cairan penenang.
Seketika, kepingan-kepingan ingatan sebelum ia tak sadarkan diri menghantam benaknya
Isak tangis di ruang ICU, genggaman tangan Dewi yang kian melemah, permintaan terakhir sahabatnya untuk menikahi Raka, hingga suara monitor yang berubah menjadi garis lurus yang melengking panjang.
Tittt.............................
Dada Gladys langsung sesak. Napasnya memburu.
"Gladys, akhirnya kamu sadar juga," ucap Sari dengan suara parau, langsung merapat ke sisi brankar sambil mengusap air mata yang masih membasahi pipinya.
Tanpa memedulikan tubuhnya yang masih sangat lemas, Gladys menatap tajam ke arah Sari. Tenggorokannya terasa tercekat, namun ia memaksakan suaranya keluar.
"Di-dimana Dewi, Sar?" tanya Gladys terbata-bata, suaranya gemetar hebat.
Sari menunduk, menggigit bibirnya dengan berat sebelum menjawab, "Dewi di ruang jenazah... Sebentar lagi mau dimakamkan."
Mendengar perkataan itu, pertahanan Gladys runtuh seketika.
Air matanya kembali tumpah membasahi bantal. Tanpa pikir panjang, ia bergegas bangkit dan memanggil perawat yang kebetulan lewat di dekat tirai pembatas.
"Sus! Suster!" panggil Gladys dengan suara serak.
Seorang perawat wanita paruh baya langsung masuk menghampiri.
"Iya, Mbak? Ada yang sakit? Jangan bangun dulu, kondisi Mbak masih lemah."
"Sus, tolong lepaskan selang infus ini. Saya mohon, Saya mau ke ruang jenazah sekarang," ucap Gladys memohon sambil mencoba menarik plester di punggung tangannya.
Perawat itu menggelengkan kepalanya saat mendengar permintaan Gladys.
"Tapi, Mbak, infus ini belum habis dan kondisi Mbak baru saja sadar dari syok berat."
"Tolong, Sus." potong Gladys dengan isak tangis yang tertahan, tatapannya menyiratkan kepedihan yang teramat sangat.
"Saya harus melihat sahabat saya untuk terakhir kalinya."
Melihat keteguhan dan duka mendalam di mata Gladys, perawat itu akhirnya menghela napas pasrah.
Dengan hati-hati, ia melepaskan plester dan menarik jarum infus dari tangan Gladys, lalu memasangkan plester penutup luka.
"Baiklah, tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya, Mbak," pesan perawat tersebut.
Sari yang melihat itu sigap bergerak. Ia mengambil kursi roda yang berada di sudut ruangan, mendekatkannya ke sisi brankar, dan membantu Gladys berpindah duduk.
Dengan napas yang masih berat dan tangan yang gemetar, Gladys didorong oleh Sari meninggalkan ruang UGD, menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang jenazah—tempat di mana perpisahan abadi dengan sahabat sehidup-sematinya tengah menanti.
Setibanya di depan ruang jenazah, Gladys yang duduk di atas kursi roda didorong perlahan oleh Sari.
Di bangku tunggu koridor, mereka melihat Raka masih duduk terpaku seorang diri.
Pria itu menunduk dalam-dalam, menatap lantai putih yang dingin dengan bahu yang terkulai lemah.
"M-Mas Raka." panggil Sari dengan suara lirih, takut merusak keheningan yang menyelimuti pria itu.
Namun, Raka tidak bergeming. Ia hanya diam membisu dengan tatapan kosong nan hampa, seolah jiwanya ikut melayang bersama kepergian sang istri.
Tak lama kemudian, pintu ruang jenazah terbuka dari dalam. Seorang petugas rumah sakit melangkah keluar menghampiri Raka.
"Keluarga almarhumah? Jenazah Bu Dewi sudah dipindahkan ke mobil ambulans, Pak. Semua prosesi di sini sudah selesai," ujar petugas tersebut dengan nada berduka.
Raka mendongak perlahan, lalu menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanda mengerti.
Tanpa membuang waktu, ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju bagian administrasi untuk menyelesaikan seluruh urusan pembayaran rumah sakit dan ambulans.
Setelah urusan administrasi selesai, langkah kaki Raka membawanya kembali menghampiri Gladys dan Sari.
Pria itu berdiri di hadapan Gladys, menatap sekilas ke arah mata sembab wanita yang kini terdiam kaku di atas kursi roda.
"Ayo, kita pulang ke rumah dulu," ujar Raka dengan suara serak, datar namun tegas.
Gladys mendongak, keningnya mengernyit bingung di sela sisa isak tangisnya.
"Ke rumah? Bukan, langsung ke makam?" tanya Gladys ragu-ragu.
"Kita harus melakukan apa yang diinginkan Dewi untuk terakhir kalinya."
Mendengar kalimat itu, bayangan detik-detik terakhir di ruang ICU kembali berkelebat di benak Gladys—permintaan terakhir Dewi agar ia menikah dengan Raka.
Gladys memejamkan matanya rapat-rapat, meresapi kepedihan dan beban takdir yang kini mengikat pundaknya, sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala tanda setuju.