NovelToon NovelToon
ME | Possessive BadBoy

ME | Possessive BadBoy

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Fantasi Isekai / Nikahmuda
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Smarrr

Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.

Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Tuk.

Nadia menyetik dahi Jay yang sudah pasti sebenarnya tak terasa karena jari-jari Nadia yang kecil.

"Awww.. sakit sayang," rengek Jay berpura-pura.

"Mana ada sakit? Jari aku kecil gini, mau begoin ya?" Tegas Nadia yang tak bisa di bohongi.

Jay menyibak rambutnya yang menutupi jidatnya dan mendekatkan ke arah istrinya.

"Yang kenceng sayang."

"Ihh... Pinter banget sih, pengertian."

Nadia cengengesan lalu menekuk dua jarinya untuk bersiap menyentil dahi Jay dengan kencang, bahkan Nadia mengadakan ritual meniup jarinya agar bisa lebih kencang lagi

"Hah.. hah." Tiup Nadia dan..... CUP!

Nadia malah mencium kening Jay. Dan membuat jay terkejut.

"Sayang nggak salah kan?" Jay memastikan.

"Maaf, harusnya tadi aku ikut aja nggak sih?" Suara Nadia bahkan terdengar bergetar.

"Ehh... Kok mau nangis? Kalau kamu ikut malah kamu juga ikut kenapa kenapa sayang, bagus aku sendirian."

Jay menarik lengan Nadia, mengenggam erat kedua tangan Nadia.

"Kamu udah nggak marah?" Tanya Jay kemudian.

"Masih, tapi kasian sama kamu, lecet-lecet begini, kan jadi nggak ganteng lagi, masa suami aku nggak ganteng?"

Rengek Nadia.

"Astagaaa... Suami kamu masih ganteng sayang, ini cuma lecet dikit, nanti kalau lecetnya ilang juga ganteng lagi, emang sekarang nggak ganteng?" Tanya Jay mencari keberadaan kaca.

"Mau ngapain nyariin kaca?"

"Mau ngaca, masa sih udah nggak ganteng?" Jay penasaran dengan apa yang Nadia katakan.

"Masih ganteng kok," kata Nadia keceplosan.

"Hemmm.... Kamu jahilin aku ya?" Jay menarik pinggang Nadia dan menggelitikinya.

geli. Sampai cewek itu tertawa karena tak tahan dengan rasa

"Jay geli ih, seneng banget sih gelitikin?" Protes Nadia dan Jay semakin mendekatkan wajahnya.

Tapi tiba-tiba.... Brak! Pintu ruangan terbuka lebar. Dan terlihat ketiga sahabat Jay jatuh ke lantai.

"Ngapain kalian?" Tanya Jay dengan nada ketus.

"Nguping ya?" Imbuhnya bertanya.

"Hehe hehe hehe..." Ketiganya hanya cengengesan dan kembali keluar. Tapi tak lama kemudian pintu kembali terbuka.

"Gue udah telepon pengawal buat jagain kalian disini, kita pulang dulu, kalau ada hal penting telepon aja ya," kata Arnold yang langsung mendapatkan perintah pergi oleh Jay dengan gerakan tangan.

"Sia lan lo ya, udah ada bini aja gue di lupain," cibir Arnold yang langsung menggandeng Jesica juga Arga.

"Jesica aja nggak usah gue juga," protes Arga lalu menghempaskan tangan Arnold.

Ketiga sahabat Jay sudah pulang, dan di depan pintu sudah ada empat bodyguard yang berjaga-jaga.

"Harus banget pake bodyguard?" Tanya Nadia.

"Mau nggak mau sayang, kondisinya lagi tidak memungkinkan kalau nggak ada yang jagain kita."

Nadia manggut-manggut mengerti.

"Lanjut?"

"Apaan" Nadia bingung.

Jay memonyongkan bibirnya, membuat kode pada Nadia agar melanjutkan aksi yang gagal baru saja.

"Lagi sakit juga mesum aja heran!" Ketus Nadia mendorong da da Jay.

Jay memanyunkan bibirnya, "Nggak usah di manyun-manyunin, makanya, habis makan minum obat," Nadia mulai berkutat dengan makanan dari rumah sakit.

"Itu nggak ada rasanya makanannya," keluh Jay yang tak pernah suka dengan makanan rumah sakit.

"Mau protes?" Dengan cepat Jay menggelengkan kepalanya. "Enggak!" Jawab Jay tak berani mengelak.

"Apa? Jay selamat?" Teriak Jams mengepalkan kedua tanganya.

Jams merasa gagal selalu gagal jika ia ingin menghancurkan jayden.

"Siapa yang ada di belakang dia? hingga dewi fortuna selalu berpihak kepadanya?" Jams marah dan murka, keadaa yang awaknya tenang kini berubah dengan cepat menjadi gelap dan suram.

"AAArrrggg.....!!!" teriak Jams mengacak seluruh ruangan kerjanya.

Dan tak lama kemudian Jodi datang dengan langkah tegasnya, masuk ke dalam ruangan Jams yang saat ini sungguh seperti kapal pecah.

Jodi menarik sudut bibirnya saat kakinya baru saja perpijak pada ruangan itu. "Kamu marah karena gagal lagi? atau marah karena aku akan menghukum mu?" tegas Jodi dan Jams hanya bisa terdiam.

la terlalu takut dengan papanya yang sudah seperti psiko itu, Jams tertunduk tak berani menatap mata Jodi sedari datang tadi, ia bahkan merutuki dirinya karena bertidak ceroboh.

"Kenapa diam?atau keduanya benar semua?" tegas Jodi lagi kemudian duduk di kursi kebesaran Jams.

"Jams mengaku salah, harap papa memaafkan.," tukas Jams harap - harap cemas.

"Maaf? Kenapa kata maaf terlalu mudah kalian ucapkan? kamu bahkan bergetar, ck."

Jams terdiam, tak ada satu kata pun yang kelar lagi dari bi birnya.

"Kamu ahu, kamu adalah satu satunya harapan keluarga Mahendra untuk saat ini, karena Jay memilih untuk mengasingkan diri, kamu harusnya berterimakasih padanya, bukan malah mencari perkara dan berakhir hancur seperti saat ini karena rencana yang kamu lakukan gagal total kan? aku pikir kamu akan menajdi pintar stelah Jay pergi dari rumah, tapi kamu terlihat seperti bukan anak adri Jodi Mahendra, dengan segala kecerobohan mu itu."

"Jams siap menerima hukuman dari papa, apapun itu."

"Ck. dan kamu benar-benar memebuat kesabaran ku menjadi setipis tisu."

"Bukankah kesabaran mu selalu seperti ini jika kita melakukan salah sedikit saja? kamu bahkan selalu menghukum kita layaknya kita seekor anji ng!" Jam menggerutu dalam hati, perasaanya sudah teralu sakit mengingat semua perilaku Jodi pada dirinya.

Tidak, bahkan bukan hanya ada dirinya, Jams juga tahu bagaimana ia memperlakukan Jay sama persisnya dengan dirinya, tapi Jay memeilih untuk peri dari keluarga psiko ini, sayangnya Jams belum memiliki kemampuan untuk itu, padahal Jams adalah kakak dari dari Jayden. Tapi diirnya masih terlala pengecut dan berlindung di balik kekuasaan keluarga Mahendra.

Sretttt.... Jodi menarik gesper yang ia kenakan, dan

berjalan mendekati Jams.

Sementara Jams sudah sangat bergetar, buliran keringat terlihat membasahi wajahnya, padahal suhu di ruangan itu terasa sangat dingin.

Sret...!

Satu kali cam bukan di daratkan ke badan Jams. Sampai

membuat pria itu meringis kesakitan.

Jams menahan dengan mengeratkan giginya. Setiap kali cam buk yang sukses mendarat di di badanya, menggores kulit dan begitu perih

sampai akhirnya Jodi pergi setelah ia puas melakukan hal yang biasa ia lakukan ketika murka pada anak - anaknya.

"Eugghh..." Jams meringis kesakitan, badanya ambruk ke bawah, tanganya mengepal menahan sakit.

"Tuan, anda tidak apa-apa?" tanya asisten Jams yang bernama Marcel.

"Panggil dokter," titah Jams dan Marcel bergegeas mengghubungi dokter keluarga mereka setelah ia membopong badan Jams ke atas sofa.

Nafas Jams terlihat terengah, ia benar-benar murka, dia juga menyalahkan Jay atas lukanya kali ini lagi, karena gara-gara Jay lah dia haus merasakan sakit yang luar biasa.

"Jay!!! lo liat gimana gue nanti ngebalas lo! lo harus merasakan apa yang udah gue rasakan!" desis Jams.

Di pagi hari di rumah sakit.

"Aku pulang dulu ya, kamu nggak apa-apa kan di rumah sakit sendirian?" tanya Nadia yang sudah bangun pagi ini.

"Kamu mau kemana?"

"Mau sekolah lah Jay, kok masih tanya, aku udah bolos terus tahu," keluh Nadia.

"Home scholing aja, lagian suami lagi sakit juga malah

mau di tinggal sekolah sih?"

"Siapa suruh nikahin anak sekolahan? pake nyamar lagi jadi anank sekolahan juga, akhirnya nggak tahan kan?" cibir Nadia.

Jay masih saja cemberut, ia tak mau jika Nadia akna meninggalkan dirinya seorang diri di rumah sakit.

1
S.Marrr
Halloweeww gGuysss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!