Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INTEL MILITER
Renzo hanya melirik sekilas pria itu, lalu kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang sempit seakan tak mendengar sepatah kata pun.
Ivan Dragos mengangkat sebelah alisnya. Diiringi denting jeritan rantai besi yang saling beradu, ia melangkah perlahan mendekat ke arah jeruji selnya, menatap tajam ke dalam, meneliti sosok Renzo dengan penuh minat seakan menemukan mainan baru yang menarik perhatiannya.
"Kau sungguh unik..." gumamnya pelan namun terdengar jelas di ruangan sepi itu, "Aku tak sengaja mendengar para sipir berbisik soal lantai lima. Katanya di sini terdapat dua puluh sel khusus — dari nomor 501 hingga 520. Semakin kecil angkanya, semakin berbahaya penghuninya."
Ia tersenyum miring, matanya berkilat di balik remang cahaya.
"Dua sel paling dalam 501 dan 502 sudah lama kosong. Bertahun-tahun tak pernah terisi karena tak ada satu pun narapidana yang dianggap cukup berbahaya untuk mendudukinya."
Ivan tertawa kecil, suaranya berat bergema di lorong batu dingin.
"Tapi lihatlah betapa lucunya takdir. aku dikurung di 501... dan kau, pahlawan perang kebanggaan negara, justru berakhir di 502. Ayo ceritakan padaku, kejahatan sebesar apa yang kau lakukan hingga layak dimasukkan ke tempat ini?"
Renzo tak menanggapi. Ia tetap memejamkan matanya rapat, napasnya teratur tenang, pura-pura telah terlelap seakan tak ada seseorang berdiri di sana menunggunya bicara.
Keheningan kembali meraja. Hanya terdengar tarikan napas mereka berdua dan denting halus rantai besi saat Ivan bergerak sedikit pun.
Alih-alih kesal diabaikan, Ivan justru menyeringai makin lebar, lidahnya menjilat bibirnya perlahan penuh selera.
"Baiklah, tidurlah dulu Beruang Baja... Aku mulai tertarik padamu."
Ia berbalik perlahan menuju ranjangnya sendiri di seberang lorong, meregangkan tubuh kekarnya di atas kasur tipis, lalu menatap langit-langit batu yang gelap remang.
"Sepertinya masa hukuman di sini takkan membosankan seperti yang kukira..." bisiknya pelan diakhiri tawa rendah yang menggema panjang di lorong kosong itu, "Hahahaha..."
***
Sinar pagi berwarna keemasan menerobos masuk melalui jendela kecil yang ukurannya tak lebih besar telapak tangan, jatuh menyebar di lantai batu dingin membawa secercah cahaya keemasan yang tipis namun nyata. Renzo membuka matanya perlahan, hari ini adalah hari pertama sebagai narapidana hukuman mati dimulai. Hari pertamanya hidup di neraka dunia yang bernama penjara.
Tanpa keraguan sedikit pun ia bangkit, melepas bajunha hingga tubuhnya telanjang dada di bawah cahaya pagi itu. Tubuhnya bukan sekadar kekar — otot-ototnya padat keras seperti ditempa dari baja murni, terbentuk garis-garis tajam dan dalam seakan dipahat tangan ahli. Setiap lekuk dan lengkungnya menyimpan kekuatan yang bisa meruntuhkan dinding bata dengan satu pukulan. Siapa pun yang melihatnya tak akan menyangka bahwa di balik wajah tenang ini tersembunyi kekuatan sedahsyat itu.
Tanpa suara, tanpa terburu-buru, ia mulai berlatih di lantai dingin itu. Seratus kali push-up, seratus kali shit-up, seratus kali pull-up Gerakannya halus namun tak henti-henti, seolah latihan fisik ini bukan sekadar kebiasaan belaka — melainkan napasnya, jantungnya, bagian dari dirinya yang tak boleh berhenti berdetak.
Duk.. duk.. duk...
Langkah kaki berat berbaris serempak terdengar mendekat, bergema di setiap sudut lorong batu. Tiga puluh sipir penjara lengkap bersenjata tiba di lantai lima, gerakan mereka tegak dan rapi mengawal dua puluh penghuni sel paling berbahaya turun menuju kafetaria.
Ruang makan itu luas luar biasa, nyaris setara dua lapangan sepak bola. Ratusan meja berderet rapat dihuni ratusan narapidana, sebagian besar bertubuh raksasa berotot menonjol dengan tatapan tajam saling memburu satu sama lain. Udara terasa pekat menahan ketegangan yang bisa meledak kapan saja. Namun tak ada satu pun yang berani bergerak berlebih. Di sekeliling ruangan, sipir berdiri tegak bagai patung dengan tongkat aliran listrik di tangan — sesekali ujungnya memercikkan percikan biru samar, cukup menjadi pengingat bahwa satu gerakan gegabah berarti kesakitan luar biasa.
Renzo menerima nampan sarapannya: sepotong roti kasar, semangkuk bubur encer, dan satu butir telur rebus. Ia berjalan tenang menuju meja kosong di sudut sepi, baru saja duduk dan hendak menyendok buburnya — seseorang menarik kursi di sebelahnya dan duduk seenaknya.
"Makanan pagi ini lumayan juga."
Renzo menoleh sekilas — Ivan Dragos. Ia menggigit roti itu santai lalu tersenyum lebar menampakkan gigi-giginya yang rata dan tajam.
"Bahkan ada telur rebus! Lebih baik dari apa yang pernah makanan di tempat persembunyianku yang dulu."
Renzo kembali menunduk makan, tak menoleh, tak menjawab, seakan tak ada siapa-siapa di sebelahnya.
Ivan tak keberatan diabaikan, ia hanya mengangkat bahu tak peduli. Matanya berkeliling menyapu ruangan luas itu mencari sesuatu yang istimewa, hingga langkah seseorang berhenti tepat di depan meja mereka.
Pria itu berkulit gelap legam, tubuhnya padat kekar, dan di beberapa bagian tubuhnya terlukis jelas tato hati berwarna merah darah.
"Hai kawan," sapa Ivan menyeringai ramah, "Kau penghuni nomor 515, bukan? Tato itu menarik mataku. Apa maknanya?"
Pria berkulit gelam itu menatap sekilas lalu dadanya membusung bangga.
"Setiap hati merah ini mewakili satu nyawa yang kuambil. Laki-laki, perempuan, tak pilih. Dua puluh tujuh nyawa hingga saat ini."
Renzo yang sedari tadi diam perlahan mengangkat alisnya, tatapannya sebentar menatap tato itu lalu kembali ke makanannya.
"Tanpa memandang jenis kelamin? Selera yang... luas," ucap Ivan nada bercanda namun matanya tak tertawa sedikit pun.
Pria itu terkekeh, matanya berbinar liar bangga.
"Dan setiap kali aku selesai membunuh mereka... sebelum kubuang mayatnya, kuambil darah mereka segar-segar untuk tinta tato ini. Setiap tetes darah mereka menjadi bagian dari hatiku selamanya."
Suara terakhirnya jatuh perlahan ke udara. Ketenangan mendadak menyelimuti meja mereka seakan angin pun berhenti berhembus mendengar pengakuan itu.
Ivan menggeleng pelan, senyumnya tak luntur sedikit pun.
"Harus kuakui gayamu unik. Tapi sejujurnya... aku tak menyukainya." Ia menepuk pelan meja mengubah topik seketika, "Sudah berapa lama kau mendekam di sini?"
"Lebih dari setahun."
"Berarti kau hafal seluk beluk tempat ini seperti punggung tanganmu sendiri, ya? Ceritakanlah pada kami seluk beluk tempat ini?"
Pria itu menyeringai lebar menatap mereka berdua bergantian, matanya menyipit tajam menilai.
"Pantas saja kalian terlihat begitu tenang seakan sedang duduk di rumah sendiri. Kalian bukan orang sembarangan — pemimpin geng Black Dragon yang legendaris... dan mantan prajurit nomor satu yang sangat di takuti. Seandainya aku di posisi kalian, sudah lama kurencanakan pelarian dari sini." Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangan di dada, "Tapi kebetulan hatiku sedang baik pagi ini. Jadi... mari kita bicarakan."
Di balik senyum santainya, tatapan Ivan mendingin tajam bagai pecahan es.
"Kau pikir aku tak mengenali wajahmu? Kau yang mengelabui anak buahku hingga anak buahku membocorkan tempat persembunyianku lalu melaporkan markasku pada pasukan militer. Berpura-pura jadi narapidana untuk memantaiku dari dekat? Baiklah... nikmatilah sandiwaramu dulu. Cepat atau lambat, lehermulah yang kupatahkan sebagai balasan." Batin Ivan.
Namun di wajahnya tak terbaca satu pun dari itu. Ia tersenyum mendengarkan cerita pria itu seakan sungguh penasaran.
Sementara di sebelahnya, Renzo tetap menyuap buburnya pelan tenang, tak terganggu sedikit pun. Baginya, di dalam atau di luar tembok penjara... semuanya sama saja. Dunia ini sejak lama hanyalah tempat pembantaian yang berbeda bentuk aturannya.