NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...

​Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.

Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.

​Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.

​Bagaimana kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Pagi, Rabu, 19 Oktober 2016, Arthur Sterling terbangun sebelum alarm ponselnya berbunyi.

Cahaya matahari menembus celah tirai apartemen kecilnya di Queens. Dari luar terdengar suara kendaraan yang berlalu-lalang, diselingi percakapan beberapa orang yang berjalan menuju halte bus. Tidak ada yang istimewa dari pagi itu. Tidak ada berita besar, tidak ada telepon dari investor ternama, dan tidak ada tanda bahwa hidupnya akan berubah dalam waktu dekat.

Namun, Arthur tahu satu hal.

Masa depan tidak selalu dimulai dengan ledakan besar. Terkadang, semuanya berawal dari keputusan-keputusan kecil yang tampaknya tidak berarti.

Ia duduk di tepi tempat tidur, mengambil ponselnya, lalu membuka aplikasi keuangan yang digunakannya untuk memantau investasi.

Aurelia Therapeutics.

Harga saham perusahaan bioteknologi itu masih bergerak dalam rentang yang relatif sempit. Belum ada pengumuman hasil uji klinis yang ditunggunya. Aktivitas perdagangan opsi juga belum menunjukkan perubahan yang cukup besar untuk membenarkan kesimpulan apa pun.

Arthur memandangi layar selama beberapa detik sebelum meletakkan ponselnya.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah menyaksikan orang kehilangan seluruh kekayaannya hanya karena terlalu percaya diri terhadap sebuah prediksi. Ia juga pernah melihat investor cerdas membuat keputusan buruk karena tidak mampu menerima bahwa analisis mereka mungkin salah.

Ia tidak ingin menjadi salah satu dari mereka.

"Kalau ingatanku benar, pengumuman itu seharusnya tidak lama lagi," gumamnya. "Tapi ingatan bukan jaminan."

Ia membuka catatan investasi yang dibuatnya beberapa hari sebelumnya.

Di sana terdapat tiga skenario: hasil uji klinis positif, hasil yang tidak meyakinkan, dan hasil negatif. Ia juga mencatat kemungkinan bahwa berita positif sekalipun tidak akan otomatis menghasilkan keuntungan besar karena harga saham bisa saja sudah mencerminkan sebagian ekspektasi pasar.

Arthur tahu bahwa pilihannya masih berbahaya.

Sebagian besar modal investasinya telah ditempatkan pada opsi beli yang dapat kehilangan seluruh nilainya jika peristiwa yang diharapkan tidak terjadi sesuai perkiraan. Uang yang tersisa harus cukup untuk kebutuhan hidup dan pengeluaran bisnis kecilnya bersama Daniel.

Ia menutup catatan tersebut.

Hari ini, ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.

Pukul sembilan lewat lima belas menit, Arthur tiba di sebuah kedai kopi sederhana tidak jauh dari kampus. Daniel Brooks sudah menunggunya di meja dekat jendela, dengan laptop terbuka dan secangkir kopi yang hampir habis.

"Kau terlambat tujuh menit," kata Daniel tanpa mengangkat kepala.

Arthur menarik kursi di hadapannya.

"Aku tidak tahu kau sudah berubah menjadi manajer operasional yang menghitung setiap menit."

"Aku menghitung setiap menit karena waktu adalah uang."

"Kalau begitu, kau seharusnya berhenti menghabiskan waktu untuk mengeluh."

Daniel mendongak, lalu tertawa kecil.

"Baiklah. Aku mengakui kekalahan pertama hari ini."

Arthur tersenyum tipis.

Percakapan ringan seperti itu terasa sederhana, tetapi justru hal-hal kecil inilah yang membuatnya menghargai kesempatan kedua yang dimilikinya. Dalam kehidupan sebelumnya, kesibukan dan ambisinya perlahan mengikis hubungan-hubungan yang sebenarnya penting.

Kali ini, ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Daniel memutar laptopnya agar Arthur dapat melihat layar.

"Aku menghubungi enam bisnis kemarin. Hasilnya tidak terlalu buruk, tetapi juga tidak bagus."

"Berapa yang tertarik?"

"Dua bersedia mendengarkan penjelasan lebih lanjut. Satu meminta kami mengirimkan proposal. Tiga lainnya menolak sebelum aku selesai bicara."

Arthur mengangguk.

"Bagus."

Daniel mengernyit.

"Bagus? Tiga orang menolak kita."

"Dan tiga orang lainnya tidak langsung menolak."

"Itu cara yang sangat optimistis untuk melihat kegagalan."

"Bukan optimistis. Kita sedang menguji pendekatan penjualan. Sekarang kita tahu bahwa enam calon pelanggan memberi kita informasi yang berbeda."

Arthur menunjuk salah satu nama pada daftar.

"Bisnis binatu ini mengatakan mereka sudah memiliki pelanggan tetap, bukan?"

"Benar."

"Kalau begitu, jangan tawarkan jasa pemasaran secara umum. Cari tahu apakah mereka kesulitan mendapatkan pelanggan baru di hari kerja. Kalau tempat mereka sepi pada Selasa atau Rabu, kita bisa mengusulkan promosi khusus untuk hari-hari tersebut."

Daniel mulai mengetik.

"Dan bagaimana dengan toko roti ini?"

"Mereka mengeluhkan banyak produk yang tidak terjual menjelang tutup toko. Kita bisa membantu mereka menguji promosi menjelang sore, tetapi jangan menjanjikan peningkatan penjualan sebelum kita memiliki data."

Daniel berhenti mengetik dan memandangnya.

"Kau tahu, kadang-kadang aku merasa kita sedang menjalankan perusahaan sungguhan."

"Kita memang menjalankan perusahaan sungguhan."

"Dengan pendapatan dua ratus dolar, tanpa kantor, tanpa karyawan, dan dengan rekening yang mungkin membuat bank merasa kasihan."

"Semua perusahaan punya titik awal."

"Sebagian besar pendiri perusahaan setidaknya memiliki meja kerja yang layak."

Arthur melirik meja kayu yang sedikit goyah di bawah laptop Daniel.

"Kalau bisnis ini berhasil, kau boleh membeli meja yang tidak goyah."

Daniel mengangkat cangkir kopinya.

"Aku akan mengingat janji itu."

Mereka melanjutkan pekerjaan selama hampir satu jam. Arthur menyusun pesan penawaran untuk calon pelanggan, sementara Daniel memperbaiki contoh halaman web dan menyiapkan formulir sederhana untuk mencatat hasil kampanye.

Mereka sepakat untuk tidak menyewa kantor, membeli perangkat baru, atau mengeluarkan uang untuk hal-hal yang belum diperlukan.

Setiap dolar harus memiliki alasan untuk dibelanjakan.

Bagi Arthur, disiplin itu bukan sekadar cara bertahan hidup. Itu adalah fondasi yang kelak membedakan bisnis yang tumbuh secara sehat dari bisnis yang runtuh karena pemiliknya terlalu cepat merasa sukses.

Menjelang siang, Arthur menerima pesan dari Clara Vance.

Clara: Aku sudah membuat rancangan awal tabel arus kas untuk restoran Carter. Kalau kalian punya waktu, aku ingin menunjukkan beberapa hal yang menurutku bisa membantu.

Arthur membaca pesan itu dua kali.

Ia tidak merasa terkejut bahwa Clara mampu mengerjakan sesuatu seperti itu. Sejak pertama kali mereka belajar bersama, ia telah melihat ketelitian dan cara berpikirnya yang terstruktur.

Namun, ada sesuatu yang membuat Arthur berhati-hati.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia terlalu sering menyaksikan orang-orang berbakat kehilangan kesempatan karena kerja mereka dianggap sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan tanpa penghargaan yang layak.

Ia tidak ingin Clara mengalami hal serupa, terlebih jika itu bermula darinya.

Arthur membalas pesan tersebut.

Arthur: Tentu. Daniel dan aku akan senang melihatnya. Tapi sebelum kita menggunakan tabel itu untuk klien, kita perlu membicarakan apakah ini sekadar latihan atau pekerjaan yang ingin kau kembangkan bersama kami. Aku tidak ingin menganggap waktumu sebagai sesuatu yang gratis.

Balasan Clara datang beberapa menit kemudian.

Clara: Aku menghargai itu. Untuk sekarang, aku ingin mencobanya sebagai proyek kecil. Aku juga ingin belajar bagaimana pemilik usaha benar-benar menggunakan data keuangan mereka. Kalau nantinya berkembang menjadi pekerjaan yang lebih besar, kita bisa membicarakan kompensasinya.

Arthur tersenyum ketika membaca pesan itu.

Arthur: Sepakat. Bagaimana kalau kita bertemu di perpustakaan pukul dua siang? Setelah melihat rancanganmu, kita bisa meminta izin Samuel sebelum menggunakannya.

Clara: Baik. Sampai nanti.

Arthur menyimpan ponselnya.

Ia tidak tahu bagaimana hubungan mereka akan berkembang kali ini. Kenangan tentang Clara yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya masih terasa begitu nyata, tetapi bagi perempuan itu, Arthur hanyalah seorang teman kampus yang baru mulai dikenalnya.

Ia tidak berhak menuntut kedekatan hanya karena dirinya telah mengenal masa depan yang belum pernah Clara alami.

Jika ia benar-benar ingin memberikan kesempatan kedua kepada hubungan mereka, ia harus membiarkan Clara mengenalnya dari awal.

Tanpa paksaan.

Tanpa rahasia yang digunakan untuk mengendalikan pilihannya.

Dan tanpa menganggap bahwa akhir cerita mereka sudah ditentukan.

Pukul dua siang, Clara tiba di perpustakaan dengan sebuah laptop dan beberapa lembar catatan.

Ia duduk di seberang Arthur, lalu langsung membuka pekerjaannya.

"Aku mencoba membuatnya sesederhana mungkin," katanya. "Banyak pemilik usaha kecil mencatat pemasukan setiap hari, tetapi tidak selalu memisahkan uang yang benar-benar menjadi keuntungan dari uang yang harus digunakan untuk membayar biaya operasional."

Arthur mengamati tabel di layar.

Terdapat beberapa kolom utama: tanggal transaksi, pendapatan penjualan, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, pengeluaran operasional, dan saldo kas.

Clara juga menambahkan bagian untuk mencatat persediaan yang terbuang serta jumlah transaksi harian.

"Kenapa kau memasukkan persediaan yang terbuang?" tanya Arthur.

"Karena restoran bisa terlihat ramai tetapi tetap kehilangan uang jika terlalu banyak bahan makanan yang tidak terpakai. Kalau kita hanya mencatat pendapatan, kita mungkin mengira bisnisnya sehat padahal biaya sebenarnya terlalu tinggi."

Arthur mengangguk perlahan.

"Itu poin yang bagus."

"Aku juga ingin menambahkan perbandingan antara hari kerja dan akhir pekan. Kalau pendapatan meningkat pada akhir pekan tetapi biaya tenaga kerja dan bahan baku naik lebih besar, pemiliknya perlu mengetahui apakah peningkatan itu benar-benar menguntungkan."

Arthur kembali melihat tabel tersebut.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia telah bekerja dengan analis keuangan yang memiliki gelar tinggi dan pengalaman bertahun-tahun. Sebagian dari mereka mampu membuat laporan yang sangat rumit, tetapi tidak selalu bisa menjelaskan hasilnya kepada pemilik usaha yang tidak memiliki latar belakang keuangan.

Clara mengambil pendekatan yang berbeda.

Ia tidak berusaha membuat tabel itu terlihat canggih. Ia berusaha membuatnya berguna.

"Menurutku, kita tidak perlu memasukkan terlalu banyak metrik sejak awal," kata Arthur. "Kalau Samuel harus menghabiskan satu jam setiap hari hanya untuk mengisi tabel ini, dia mungkin akan berhenti menggunakannya setelah seminggu."

Clara tersenyum.

"Itu juga yang kupikirkan. Untuk tahap pertama, cukup lima menit setelah restoran tutup. Kalau datanya sudah terkumpul, baru kita lihat bagian mana yang perlu dikembangkan."

"Kalau begitu, kita punya dasar yang bagus."

Clara menatapnya sesaat.

"Kau selalu berbicara seolah-olah kita sedang membangun sesuatu yang besar."

Arthur terdiam sebentar.

Ia hampir menjawab bahwa ia memang sedang membangun sesuatu yang akan jauh lebih besar daripada yang bisa dibayangkan Clara. Namun, ia menahan diri.

"Aku hanya berpikir bahwa pekerjaan kecil pun layak dilakukan dengan serius," jawabnya. "Kita tidak perlu tahu seberapa besar hasil akhirnya untuk mulai mengerjakannya dengan benar."

Clara mempertimbangkan jawabannya.

"Aku suka cara berpikirmu."

Kalimat itu sederhana, tetapi bagi Arthur, rasanya seperti sesuatu yang telah lama hilang kembali menyentuh bagian dirinya yang paling rapuh.

Ia hanya tersenyum.

Mereka menghabiskan empat puluh menit berikutnya untuk menyempurnakan tabel tersebut. Clara menyederhanakan beberapa kolom, sementara Arthur menambahkan bagian untuk membandingkan hasil promosi dengan biaya yang dikeluarkan.

Mereka juga sepakat bahwa perubahan penjualan tidak boleh langsung dianggap sebagai akibat promosi. Cuaca, jumlah pengunjung, hari libur, dan faktor lain harus ikut diperhatikan.

Ketika mereka selesai, Clara menutup laptopnya.

"Aku akan mengirimkan versi yang sudah diperbaiki malam ini."

"Terima kasih, Clara."

"Sama-sama. Aku juga mendapatkan sesuatu dari proyek ini."

Arthur mengantarnya sampai ke pintu perpustakaan. Mereka berpisah di koridor kampus, masing-masing menuju kegiatan berikutnya.

Saat melihat Clara berjalan menjauh, Arthur merasakan dorongan untuk memanggilnya.

Untuk mengatakan bahwa ia harus berhati-hati.

Untuk memperingatkannya tentang orang-orang yang belum muncul dalam hidupnya.

Untuk memberitahunya bahwa di masa depan, ada kemungkinan besar ia akan menghadapi sesuatu yang mengerikan.

Namun, semua kata itu tertahan di tenggorokannya.

Ia tidak memiliki bukti yang bisa dijelaskan. Lebih penting lagi, ia belum memiliki hubungan yang cukup dekat untuk meminta Clara mempercayai peringatan yang bahkan tidak dapat ia ungkapkan sumbernya.

Arthur akhirnya membiarkannya pergi.

Untuk saat ini, ia hanya bisa memastikan bahwa ketika Clara membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya, dirinya telah menjadi orang yang layak untuk itu.

Pukul empat lewat sepuluh menit, Arthur menerima email dari Richard Coleman.

Subjek: Tindak Lanjut Analisis Aurelia Therapeutics

Arthur,

Aku telah menyelesaikan pembacaan awal atas laporanmu. Ada beberapa asumsi mengenai valuasi dan risiko yang ingin kudiskusikan lebih lanjut. Analisis tersebut menarik, tetapi beberapa kesimpulanmu membutuhkan pengujian yang lebih ketat.

Apakah kau tersedia untuk bertemu Jumat pukul 16.30? Michael akan bergabung dalam diskusi.

Salam,

Richard Coleman

Arthur membaca email itu dengan saksama.

Ini bukan tawaran pekerjaan.

Bukan pula pengakuan bahwa analisisnya benar.

Namun, Richard bersedia meluangkan waktu untuk membahasnya secara langsung. Bagi seorang mahasiswa tanpa pengalaman profesional di bidang investasi, itu sudah merupakan kesempatan yang patut dihargai.

Arthur segera membalas dan mengonfirmasi kehadirannya.

Setelah itu, ia membuka kembali laporan yang telah dikirimkannya.

Ia tidak ingin datang ke pertemuan berikutnya hanya dengan mengandalkan ingatan masa depan. Richard dan Michael adalah profesional yang terbiasa menguji asumsi. Jika Arthur ingin mendapatkan kepercayaan mereka, ia harus mampu menjelaskan setiap angka dan menerima kritik ketika memang diperlukan.

Ia mulai meninjau ulang estimasi valuasi, asumsi jumlah saham terdilusi, kebutuhan pendanaan perusahaan, serta kemungkinan perubahan harga jika hasil uji klinis tidak memenuhi ekspektasi.

Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.

Sebuah email baru muncul dari alamat yang sama dengan pengirim anonim sehari sebelumnya.

Arthur,

Terima kasih atas jawabanmu sebelumnya. Aku memahami bahwa kau menyatakan hanya menggunakan informasi publik. Aku ingin mengetahui apakah analisismu mempertimbangkan perubahan aktivitas opsi dalam beberapa hari terakhir. Ada beberapa transaksi yang menarik perhatian.

Jika kau bersedia, aku ingin bertukar pandangan mengenai risiko pasar untuk perusahaan bioteknologi berkapitalisasi kecil.

Arthur menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Pengirim itu masih tidak menuduhnya melakukan sesuatu yang salah. Tidak ada ancaman, tidak ada tuduhan tentang informasi nonpublik, dan tidak ada alasan untuk menganggap bahwa orang tersebut mengetahui sesuatu tentang kehidupan Arthur.

Namun, email itu menegaskan satu hal: aktivitas di pasar tidak pernah sepenuhnya luput dari perhatian.

Arthur tidak membalas dengan terburu-buru.

Ia memeriksa kembali pesan sebelumnya, lalu menuliskan jawaban singkat yang tetap berada dalam batas informasi publik.

Terima kasih atas pesannya. Aku memang mempertimbangkan likuiditas dan risiko pergerakan harga dalam analisisku. Namun, aktivitas opsi sendiri tidak cukup untuk membuktikan bahwa suatu hasil tertentu akan terjadi. Aku tidak memiliki informasi nonpublik mengenai Aurelia.

Ia membaca ulang pesan tersebut sebelum mengirimkannya.

Setelah itu, ia menutup email.

Ada kemungkinan pengirim itu sekadar analis yang sedang mencari sudut pandang lain. Ada pula kemungkinan ia sedang mencoba memahami alasan di balik aktivitas pasar yang tidak biasa.

Arthur tidak akan membuat kesimpulan hanya berdasarkan dugaan.

Tetapi ia juga tidak akan mengabaikan kemungkinan bahwa pergerakannya mulai menarik perhatian.

Malam tiba ketika Arthur kembali ke apartemennya.

Ia memanaskan makanan sederhana, lalu duduk di depan meja kecil dengan buku catatan terbuka.

Di halaman pertama, ia menuliskan tiga hal yang perlu diselesaikan keesokan harinya.

Pertama, memperbaiki laporan Aurelia untuk diskusi dengan Richard.

Kedua, menghubungi calon pelanggan baru bersama Daniel.

Ketiga, meninjau tabel keuangan Clara sebelum mereka menggunakannya dalam proyek restoran Samuel.

Ia berhenti sejenak, kemudian menambahkan satu kalimat di bagian bawah halaman.

Jangan biarkan peluang mengubahmu menjadi orang yang tidak kau inginkan.

Arthur menatap tulisan itu cukup lama.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia telah memperoleh hampir semua hal yang bisa dibeli dengan uang. Ia memiliki perusahaan di berbagai negara, pengaruh di pasar keuangan, dan akses kepada orang-orang yang mampu mengubah arah industri.

Namun, ketika ia menoleh ke belakang, tidak semua keberhasilannya terasa seperti kemenangan.

Ada persahabatan yang dibiarkannya menjauh.

Ada kesempatan untuk mencintai yang tidak pernah diambilnya.

Ada tahun-tahun yang dihabiskan untuk mengejar lebih banyak kekayaan, meskipun ia sudah memiliki lebih dari yang bisa digunakannya.

Kali ini, ia masih ingin menjadi kaya.

Ia tidak berniat berpura-pura bahwa uang tidak penting. Uang dapat memberinya kebebasan, membuka pintu yang sebelumnya tertutup, dan menyediakan sumber daya untuk melindungi orang-orang yang berarti baginya.

Tetapi ia tidak akan menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Ia mematikan lampu meja dan berdiri di dekat jendela.

Kota New York terbentang di hadapannya, dipenuhi cahaya dari gedung-gedung dan kendaraan yang terus bergerak. Jutaan orang sedang mengejar tujuan masing-masing, tanpa mengetahui kejadian apa yang mungkin menanti mereka.

Arthur tersenyum tipis.

Ia telah diberi kesempatan untuk kembali ke titik awal, tetapi kesempatan itu tidak berarti bahwa ia bisa mengendalikan segalanya.

Pasar masih dapat bergerak melawan prediksinya.

Bisnis kecilnya masih dapat gagal.

Orang-orang yang ingin ia lindungi tetap memiliki pilihan mereka sendiri.

Dan masa depan yang ia ingat mungkin tidak akan terbentuk dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

Besok, ia akan kembali bekerja.

Bukan karena ia yakin akan menang, melainkan karena ia akhirnya memahami sesuatu yang terlambat dipelajarinya dalam kehidupan pertama.

Kesempatan kedua bukanlah jaminan bahwa seseorang akan mendapatkan akhir yang lebih baik.

Kesempatan kedua adalah peluang untuk membuat keputusan yang lebih baik, bahkan ketika hasilnya belum diketahui.

Arthur menutup tirai.

Di suatu tempat di Wall Street, Richard Coleman sedang menyiapkan pertanyaan untuk pertemuan mereka berikutnya. Di kampus, Clara sedang menyempurnakan tabel keuangan pertamanya. Sementara itu, Daniel mungkin sedang mengirimkan proposal kepada calon pelanggan yang bahkan belum pernah mendengar nama mereka sebelumnya.

Tiga jalan berbeda mulai bergerak menuju masa depan yang belum terbentuk.

Dan di tengah semuanya, Arthur Sterling harus belajar bahwa membangun kerajaan bukan hanya soal mengetahui apa yang akan terjadi.

Terkadang, bagian tersulitnya justru adalah memutuskan apa yang pantas ia lakukan dengan pengetahuan itu.

1
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
saras
keren siiib ceritanya👍👍👍
saras
👍
saras
semangaaaaaat💪💪💪💪💪👍
saras
ssemangat tor
saras
🙏🙏💪
saras
👍
saras
👍💪
saras
👍
saras
novel yang bagus. lanjutkan tor semangat bikin cerita yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!