Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Setalah belanja, keduanya kembali ke apartemen Sarah. Sesuai janji, Sarah akan melayani kekasihnya itu dengan baik malam ini
"Makasih yaa mas, aku puas banget belanja nya" Paperbag itu diletakkan diatas sofa
Andra menjatuhkan tubuhnya saking lelahnya, ia tak tahu jika menemani seorang wanita berbelanja akan sangat melelahkan
"Ini mas, aku bawain jus" Sarah datang lalu meletakkan segelas jus jeruk diatas meja
"Makasih yaa sayang" Andra meraih gelas lalu menenggak minuman itu hingga setengah
"Kita pesen makanan aja yaa, aku capek banget"
Andra mengangguk lalu Sarah meraih ponselnya untuk memesan makanan
"Sambil nunggu makanannya dateng, kita bisa satu ronde dulu!" Andra menarik tangan kekasihnya hingga wanita itu kini berada diatas pangkuannya
"Tapi kita mandi dulu! Badan aku lengket banget mas" Keluh Sarah, namun ia terbuai saat tangan lebar itu mulai menyusuri tubuhnya, bahkan Andra sudah melepas blouse yang ia kenakan
"Ini akan cepat sayang, kita lakukan disini saja" Tubuh Sarah dibaringkan diatas sofa, Wanita itu melenguh tatkala bibir tebal Andra terbenam diantara dua benda bulat miliknya
Jika sudah begini maka pasrah adalah jalan terbaiknya, ini sedikit kasar karena Andra harus menyelesaikan permainannya sebelum pesanan makanan mereka tiba
Andra kembali ke kamar setelah mendapatkan pesanannya, sementara Sarah membersihkan dirinya
"Aku siapin makanannya, kamu mandi dulu gih! Nanti kita makan bareng" Ujar Sarah yang baru saja keluar dari kamar mandi
"Selesai makan kita mulai lagi yaa sayang!" Andra menggoda dengan menaikturunkan alisnya
"Iya, udah sana mandi!"
"Padahal tadi aku maunya mandi bareng, tapi maknanya keburu dateng" Sarah hanya menggelengkan kepalanya mendengar gerutuan dari kekasihnya itu
Sementara sang suami bersenang-senang dengan selingkuhnya, Aini dibuat panik karena sejak tadi putrinya ini tidak berhenti menangis
"Ada apa nak? Kasih sakit yaa?" Aini terus menimang bayi empat bulan itu namun tangisan Kasih tak kunjung berhenti
"Astaga, badannya panas banget" Aini benar-benar khawatir, belum lagi sang suami yang tidak bisa dihubungi
Sejak tadi telepon suaminya itu tidak aktif dan Aini tidak tahu berada dimana suaminya itu
Pintu rumah diketuk, dengan cepat Aini menghampiri pintu berharap itu adalah suaminya
"Faris?"
Pemuda tampan itu mengernyit melihat penampilan kakak iparnya yang terlihat kacau
"Ada apa kak? Kasih kenapa?" Faris bertanya karena keponakannya itu terus menangis
"Kasih sakit, Ris. Badannya panas banget" Aini sudah menitihkan air matanya, ia benar-benar khawatir pada putrinya
"Astaga, terus bang Andra kemana?" Tanya Faris
"Mas Andra lembur dikantornya, kakak udah telepon tapi hpnya gak aktif" Melihat kondisi kakak iparnya, Faris begitu prihatin
"Ya udah, biar Faris aja yang nganterin kakak kerumah sakit" Ujar Faris
"Emangnya gak apa-apa, Ris? Kakak takut ngerepotin kamu" Aini tidak enak pada adik iparnya itu
"Udahlah kak Aini gak perlu mikirin itu, sekarang kita bawa Kasih dulu" Aini mengangguk, wanita itu kembali kekamar untuk mengambil tas perlengkapan buah hatinya, ia juga melilitkan kain jarik agar lebih mudah menggendong buah hatinya terlebih ini sudah malam
Aini duduk dibelakang tubuh Faris sambil menggendong buah hatinya yang tubuhnya sangat panas
Faris mengemudi ditengah gelapnya malam, ia khawatir pada keponakannya yang sejak tadi merengek bahkan Aini sudah menangis
Sesampainya dirumah sakit, Aini menggendong putrinya sambil berlari memanggil para tenaga medis
"Tolong anak saya suster! Tolong" Aini memohon
"Silahkan Bu" Aini melangkah dengan cepat, hingga dia masuk kedalam ruang IGD, setelah memastikan putrinya baik-baik saja wanita itu keluar
"Tolong diselesaikan administrasi nya dulu yaa Bu!"
Aini mengangguk, wanita itu keluar dari ruang IGD. Faris yang menyadari perubahan raut wajah kakak iparnya langsung bertanya
"Ada apa kak? Kasih baik-baik aja kan?" Tanya Faris
"Kasih belum bisa ditangani kalau admistrasi nya belum selesai" Jawab Aini dengan cairan bening yang terus membasahi pipinya
"Ada apa kak?"
"Kakak gak punya uang nya, mas Andra juga gak bisa dihubungi dari tadi" Jujur saja Aini benar-benar merasa takut
"Ya udah, biar aku dulu yang bayar admistrasi nya. Kakak tenang dulu yaa!" Faris mengusap lengan kakak iparnya dengan lembut
"Gak usah Ris, kamu pasti banyak keperluan. Nanti biar kakak pulang dulu cari uangnya"
Jelas saja Aini tidak enak jika harus merepotkan adik iparnya ini. Faris hanya seorang mahasiswa yang untuk biaya kuliahnya sendiri ia harus bekerja part time
"Gak apa-apa kak, aku ada uangnya kok, yang penting Kasih ditangani dulu" Pemuda itu tersenyum agar sang kakak ipar tidak lagi cemas
"Makasih yaa Ris, nanti kalau mas Andra pulang kakak ganti uang kamu"
"Iya, pokoknya kak Aini tenang aja"
Pemuda tampan itu berlalu, Faris menuju bagian administrasi agar sang keponakan bisa segera mendapat penanganan sementara Aini duduk di depan ruang IGD
Ditempat berbeda, lebih tepatnya disebuah apartemen mewah di Jakarta, dua insan tengah hanyut dalam permainan cinta mereka
Tubuh Sarah bergerak indah diatas tubuh kekasihnya, entah ini sudah ronde ke berapa. Yang jelas Sarah sudah merasa lelah, sepertinya Andra mengkonsumsi pil untuk membuatnya tahan lama
Suara lenguhan mengisi setiap sudut kamar, Andra sangat menikmati permainan kekasihnya. Tidak ada ruginya ia membeli semua yang Sarah inginkan
"Terus Sarah"
Tubuh Sarah jatuh diatas tubuh kekasihnya, napasnya memburu dengan tubuh basah oleh keringat
"Aku capek banget mas"
"Kalau gitu biar aku yang selesaikan!"
Tubuh Sarah dibalik, sekarang Andra mengambil kendali permainan karena Sarah sudah sangat lelah
Hingga pada akhirnya puncak itu bisa didapatkan, Andra terbaring disamping kekasihnya. Sepertinya malam ini ia tidak sanggup untuk pulang
***
Kasih sudah dipindahkan keruang perawatan, Aini setia menemani putrinya yang saat ini telah terlelap
Sungguh, bagi seorang ibu, hal ini sangat menyakitkan. Rasanya Aini ingin menggantikan posisi putrinya saat ini
Pintu terbuka, Faris masuk sambil membawa dua kantong plastik lalu meletakkannya diatas meja
"Kak Aini makan dulu! Ini aku udah beli makanan. Kakak pasti belum makan"
Melihat penampilan Aini saja, semua orang sudah tau jika wanita ini belum makan, bahkan belum membersihkan diri
"Makasih yaa Faris, tapi kakak belum laper" Tolak Aini yang terus memandangi tubuh lemah putrinya
"Kakak makan dulu! Kalau kak Aini sakit siapa yang rawat Kasih! Biar kita gantian makannya"
Faris membiarkan kakak iparnya itu makan lebih dulu, Aini menurutinya. Faris benar, jika ia tidak makan maka siapa yang akan merawat putri kecilnya terlebih suaminya yang entah berada dimana
"Kamu pulang aja Ris! Biar kakak yang jagain Kasih disini, kamu pasti capek" Ujar Aini saat adik iparnya itu selesai menikmati makan malamnya
"Gak apa-apa kak, biar aku temenin disini! Bang Andra belum dateng takutnya kak Aini butuh sesuatu" Ujar Faris, pemuda tampan itu lalu duduk diatas sofa karena Aini berada dikursi samping brankar
"Tapi kakak gak enak kalau harus ngerepotin kamu"
"Gak repot kok, Kasih kan keponakan aku" Faris meyakinkan kakak iparnya itu, pemuda itu lalu berbaring diatas sofa karena hari sudah sangat larut
Aini menatap wajah pucat putrinya, entah kemana Andra sampai saat ini tidak bisa dihubungi
Pekerjaan apa yang sampai membuat pria itu mematikan ponselnya, kecurigaan ini tidak salah, sepertinya Aini akan mencoba mencari kebenaran itu
nunggu aini kerja gajian anakmu dah mati, di tinggal ke kantor suami mu, kl gk di kasih susu ma Sarah seharian gimana. kok gk mikir to aini ini. saking miskin dah oon nya.