Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Pengakuan Publik dan Bayang-Bayang Baru
Ciuman hangat di bawah terpaan angin malam Pelabuhan Barat itu menjadi penanda berakhirnya drama sabotase kapal pesiar *The Sovereign*. Dalam kurun waktu kurang dari dua jam, tim hukum dan intelijen Vane Group bergerak cepat menuntaskan sisa-sisa pengikut *Vance Syndicate* serta menyerahkan Elena Vanderbilt ke pihak berwajib atas tuduhan terorisme maritim dan peretasan sistem navigasi.
Keesokan harinya, seluruh media nasional dan internasional kembali diguncang oleh berita utama. Gambar Julian Vance yang digiring oleh otoritas maritim serta kehancuran lini bisnis *Vanderbilt Corp* menjadi topik hangat di seluruh stasiun televisi.
Namun, topik yang paling menyedot perhatian publik adalah konferensi pers dadakan yang digelar oleh Adrian Vane di lantai teratas Gedung Vane Group pada siang harinya.
Ratusan wartawan dari berbagai media ternama berkumpul di ruang pers yang megah. Cahaya lampu *flash* kamera menyilaukan ruangan tanpa henti.
Di atas panggung utama, Adrian duduk di kursi tengah dengan jas hitamnya yang sangat rapi dan berwibawa. Dan tepat di samping kanannya, duduk Aura Valeria Vane.
Aura mengenakan gaun terusan warna biru *navy* yang sangat elegan, dengan cincin berlian biru keluarga Vane melingkar indah di jari manisnya. Wajahnya tenang, memancarkan pesona seorang wanita nomor satu yang tak tergoyahkan.
Seorang wartawan senior dari majalah bisnis internasional mengangkat tangannya dan bertanya lewat mikrofon.
"Tuan Vane! Ada rumor yang beredar bahwa pernikahan Anda dengan Nona Aura Valeria awalnya adalah pernikahan perjanjian untuk menutupi perselisihan bisnis. Apakah itu benar? Dan bagaimana Anda menanggapi keterlibatan Nona Aura dalam pembongkaran skandal investasi serta insiden di Pelabuhan Barat kemarin?"
Seluruh ruangan mendadak hening. Para wartawan menahan napas, menantikan jawaban dari sang CEO Mafia yang biasanya sangat tertutup soal kehidupan pribadinya.
Adrian memajukan tubuhnya sedikit ke arah mikrofon. Pandangan matanya yang tajam menatap lurus ke arah para wartawan, lalu ia menoleh sebentar melirik Aura yang duduk di sampingnya.
"Mengenai awal pernikahan kami..." suara Adrian yang berat, dalam, dan berwibawa bergema melintasi pengeras suara ruangan, "...perjanjian atau bukan, itu adalah urusan pribadi kami. Namun hari ini, saya ingin menegaskan satu hal di depan seluruh publik."
Adrian mengulurkan tangan kanannya, menggenggam jemari Aura di atas meja dengan sangat erat dan mantap di depan kamera ratusan wartawan.
"Aura Valeria Vane bukan sekadar istri saya secara hukum," tegas Adrian dengan nada posesif yang pekat dan mutlak. "Dia adalah mitra sejajar saya, penasihat strategis utama Vane Group, dan satu-satunya wanita yang memegang kendali penuh atas hidup saya. Siapa pun yang berani menyentuh, mengancam, atau mencoba mengganggu kedudukannya... akan berhadapan langsung dengan seluruh kekuatan Vane Group."
*Flash! Flash! Flash!*
Suara jepretan kamera bergemuruh hebat di seluruh ruangan! Para wartawan berebut mengambil foto momen pengakuan publik yang sangat fenomenal tersebut. Pernyataan tegas dari Adrian resmi mengukuhkan posisi Aura sebagai Ratu tak tergoyahkan di puncak takhta Vane Group.
Aura melirik Adrian dari samping. Dada wanita itu berdesir hangat. Di balik sifat dingin dan berbahaya sang CEO Mafia, cara Adrian melindunginya di depan dunia membuat pertahanan diri agen elit dalam jiwanya meleleh sepenuhnya.
Aura mendekatkan wajahnya ke mikrofon di depannya. Bicaranya langsung mengalir secepat senapan mesin dengan percaya diri yang membara!
"Dan sekadar tambahan untuk rekan-rekan media," cecar Aura secepat kilat tanpa ragu, "kalau ada lagi kompetitor atau mantan-mantan yang berniat main drama sabotase seperti kemarin... lebih baik kalian simpan energinya! Karena aku tidak akan segan-segan meratakan saham dan karier kalian dalam waktu kurang dari lima menit!"
Para wartawan tertegun sejenak oleh kecerocosan cepat dan tajam milik Aura, sebelum akhirnya ruang pers dipenuhi oleh tepuk tangan riuh atas keberanian sang Nyonya Vane!
Setelah konferensi pers yang melelahkan itu selesai, Adrian dan Aura melangkah menuju ruang kerja pribadi di lantai teratas.
Aura mendudukkan tubuhnya di sofa kulit yang empuk, menyandarkan kepalanya sambil menarik napas lega. "Hah... bicara di depan ratusan wartawan ternyata lebih menguras energi daripada melumpuhkan tiga pembunuh bayaran!"
Adrian melangkah mendekat, membawa segelas air hangat lengkap dengan sedotan ramah lingkungan yang dipesannya khusus. Pria itu berlutut dengan satu kaki di hadapan Aura, menyerahkan gelas itu pada istrinya.
"Minumlah perlahan, Istriku," ujar Adrian lembut dengan sudut bibir terangkat tipis. "Aku tidak mau ada insiden tersedak di hari kemenangan kita."
Aura melotot geli. "Aku sudah tahu cara minum yang benar, Tuan CEO konyol!" meski begitu, Aura tetap menerima gelas itu dan menyesapnya perlahan.
Adrian menatap wajah Aura yang tenang, jemarinya yang hangat mengusap pipi halus istrinya. "Terima kasih, Aura... sudah mau berdiri di sampingku di depan seluruh dunia."
Aura meletakkan gelasnya di meja, lalu menatap lurus ke mata gelap Adrian. Senyuman manis yang tulus terukir di bibirnya.
"Aku kan sudah janji," bisik Aura pelan, bicaranya melunak. "Aku tidak akan ke mana-mana. Lagipula... kalau aku pergi, siapa yang bakal menyelamatkanmu dari ancaman musuh-musuhmu yang kurang imajinasi itu?"
Adrian terkekeh renyah, lalu menunduk dan mengecup bibir Aura dengan sangat hangat dan penuh cinta.
Namun, di tengah suasana damai dan penuh kehangatan itu... sebuah ketukan terburu-buru di pintu ruang kerja memecah konsentrasi mereka.
*Ketuk! Ketuk! Ketuk!*
Asisten pribadi Adrian melangkah masuk dengan raut wajah yang sangat tegang dan pucat. Di tangannya, ia memegang sebuah dokumen rahasia bersampul merah dengan logo khusus—lambang **Keluarga Utama Vane dari Eropa**.
"Tuan Besar... Nona Muda..." ujar asisten itu dengan suara bergetar ragu. "Maaf mengganggu. Ada pesan darurat dari Markas Besar Eropa."
Adrian berdiri, raut wajahnya seketika berubah menjadi sangat dingin dan serius. "Ada apa?"
"Tuan Tua Vane—kakek Anda—baru saja mendapat laporan soal pengakuan publik hari ini," terang sang asisten. "Beliau menolak mengakui Nona Aura sebagai menantu utama keluarga Vane dan telah mengutus Dewan Tetua serta sepupu Anda, **Lukas Vane**, untuk terbang ke kota ini malam ini."
Aura menyipitkan matanya, naluri taktisnya langsung mencium bau konflik baru yang lebih besar.
"Lukas Vane?" gumam Aura.
"Lukas adalah kandidat penerus lain yang didukung oleh Kakek," jawab Adrian dingin, matanya berkilat bahaya. "Dia pria yang licik dan menghalalkan segala cara untuk merebut posisiku."
Aura berdiri dari sofa, merapikan gaun biru *navy*-nya dengan gerakan anggun dan percaya diri. Bicaranya langsung menyambar secepat senapan mesin dengan senyum menantang yang membara!
"Kakek dan sepupu licik dari Eropa?" Aura terkekeh sinis. "Baguslah! Aku memang sedang bosan! Mari kita lihat... seberapa hebat Dewan Tetua Eropa itu menghadapi menantu yang bicaranya secepat senapan mesin dan jago mematahkan tulang ini!"
Adrian menatap Aura yang berdiri penuh semangat di sampingnya. Kekehan bangga meluncur dari dada bidang sang CEO Mafia. Pria itu merangkul pinggang Aura dengan erat, menarik wanita itu rapat padanya.
"Badai baru dari Eropa akan datang, Istriku," bisik Adrian di dekat earlobe Aura. "Apakah kamu siap menghancurkan mereka bersamaku?"
"Selalu siap, Suamiku," balas Aura mantap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘