NovelToon NovelToon
Kaisar Naga Bela Diri

Kaisar Naga Bela Diri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?

Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 27

DONG—! DONG—! DONG—!

Tiga dentang Lonceng Perang Perunggu dari puncak tertinggi Akademi Kekaisaran Tianhe menggema membelah langit malam Provinsi Cangzhou. Suaranya begitu berat dan menggetarkan jiwa hingga burung-burung malam di hutan bambu berjatuhan dari dahan karena ketakutan.

Di halaman Vila Bambu Merah yang mulai dilalap api, Qin Mu berdiri di tengah genangan darah yang mendesis.

Ia mendongak, menatap ke arah timur. Di kejauhan sana, dua pilar asap hitam pekat membubung tinggi ke langit malam yang gelap. Pilar asap pertama muncul dari lereng utara Akademi Kekaisaran, sedangkan pilar asap kedua membakar langit tepat di jantung Kota Provinsi Cangzhou arah tempat Paviliun Awan Emas milik Keluarga Su berdiri!

Mata hitam Qin Mu turun kembali ke telapak tangannya, menatap Lempeng Perunggu Hitam bergambar Mata Satu di atas Bulan Sabit yang baru saja ia ambil dari kantung mayat Wei Tian, beserta sepucuk surat perintah bersandi yang terselip di baliknya.

"Saat bulan mencapai puncak, Kepala Cabang Sekte Bayangan Darah akan memancing Yan Zhen keluar ke Tebing Utara. Habisi gadis utusan Tianxuan di dalam akademi, dan dukung Cabang Pertama Keluarga Su meratakan Paviliun Awan Emas malam ini juga. Jangan biarkan satu pun benih yang menghalangi rencana Tuan Agung tetap bernapas."

Udara di sekitar Qin Mu mendadak terasa sedingin es.

Selama ini ia mengira Klan Wei dan Sekte Bayangan Darah hanya bergerak demi dendam lokal dan perebutan wilayah perbatasan. Namun lempeng Mata Satu ini membuktikan bahwa mereka semua hanyalah bidak dari sebuah tangan raksasa yang sedang menyapu bersih siapa pun yang menghalangi cengkeraman mereka di Provinsi Cangzhou!

"Instruktur Yan Zhen adalah orang yang menahan petinggi Klan Wei agar tidak mengeroyokku secara terbuka, dan Su Ruyan adalah jalur pasokan sumber dayaku," gumam Qin Mu dengan suara datar namun tajam. "Jika mereka berdua tumbang malam ini, aku akan kembali terpojok sendirian."

Qin Mu tidak bergerak karena belas kasihan; ia bergerak karena perhitungan dingin bahwa miliknya dan sekutunya tidak boleh disentuh oleh siapa pun tanpa seizinnya!

Qin Mu mengetukkan kakinya ke lantai batu yang berlumuran darah.

Bayangan hitam di bawah kakinya kembali terbelah dan berdiri tegak menjadi wujud Klone Bayangan. Karena tubuh asli Qin Mu baru saja menembus dan menetap di Tahap Tengah Qi Gathering, kekuatan Klone Bayangannya pun ikut terdongkrak naik, kini memancarkan aura Tahap Awal Qi Gathering!

Qin Mu menyerahkan satu bilah pedang rampasan milik Wei Tian dan separuh dari kantung racun serta bendera formasi kepada klonenya.

"Kembali ke Lembah Murid Baru lewat jalur hutan belakang," perintah Qin Mu singkat kepada bayangannya sendiri. "Bantu Han Lie, dan awasi pergerakan di sekitar kediaman Bai Shuang. Aku akan ke pusat kota."

Klone Bayangan itu mengangguk tanpa suara, lalu tubuhnya melesat mundur dan lenyap menyatu dengan kegelapan hutan bambu menuju Akademi Kekaisaran, sementara tubuh asli Qin Mu membalikkan badan melesat bagaikan anak panah hitam membelah malam menuju gerbang Kota Provinsi Cangzhou!

Di saat yang bersamaan, di Tebing Utara Akademi Kekaisaran, langit malam seolah runtuh oleh benturan energi tingkat tinggi.

DUAAAAR—!

Sebuah pukulan Qi berwarna merah darah berbentuk tengkorak raksasa menghantam perisai formasi lereng utara hingga hancur berkeping-keping. Pohon-pohon pinus di sekitar tebing tercabut dari akarnya dan hancur menjadi serbuk kayu.

Di tengah kawah batu yang hancur, Instruktur Yan Zhen berdiri dengan jubah militer hitam yang robek di bagian bahu. Di tangannya, sebilah tombak besi berat berlumuran darah memancarkan cahaya perak menyilaukan dari ranah Core Formation Awal.

Namun wajah pria paruh baya yang biasanya keras bagaikan batu karang itu kini tampak sangat suram. Di belakang kakinya, tiga orang instruktur akademi telah tewas dengan tubuh mengering seperti mumi.

Dan di udara di hadapannya, melayang dua sosok yang mengepungnya dari depan dan belakang.

Sosok pertama di depan adalah pria paruh baya berjubah sutra merah bersih dengan sepasang mata hitam kelam tanpa bagian putih Kepala Cabang Sekte Bayangan Darah yang datang langsung memimpin serangan malam ini! Sedangkan sosok kedua yang menutup jalur mundur Yan Zhen adalah seorang kakek berjubah perak resmi Akademi Kekaisaran: Tetua Wakil dari Aula Penegak Hukum, seorang ahli Core Formation yang ternyata adalah dalang pengkhianat yang selama ini melindungi Diaken Ma dan Sekte Bayangan Darah dari dalam!

"Sun Tua! Jadi kau tikus busuk yang membuka segel pertahanan luar akademi malam ini?!" raung Yan Zhen, suara sang veteran medan perang menggelegar menahan murka sambil memutar tombaknya hingga memicu badai angin. "Kaisar memberi klanmu kehormatan selama tiga generasi, dan kau menjual gerbang akademi kepada anjing-anjing Bayangan Darah?!"

Tetua Wakil Sun hanya tersenyum dingin tanpa sedikit pun rasa malu. "Kehormatan kekaisaran tidak bisa memperpanjang umurku yang tinggal dua puluh tahun lagi, Yan Zhen. Tapi pil dari 'Tuan' di balik Sekte Bayangan Darah bisa membantuku menembus Core Formation Akhir! Kau terlalu keras kepala. Sejak kau membunuh Pengurus Zhao dan ikut campur urusan Klan Wei di gerbang kemarin, kau sudah masuk ke dalam daftar kematian!"

"Tidak perlu banyak bicara dengannya," sela Kepala Cabang Sekte Bayangan Darah dengan suara datar yang mengiris tulang. "Penatua Kepala akademi kalian sedang dipancing oleh formasi ilusi di gunung belakang. Dalam satu batang dupa, bunuh Yan Zhen di sini, sementara anak buahku di bawah membereskan gadis Tianxuan itu dan membakar habis lembah murid baru sebagai pengalih perhatian!"

BOOM! BOOM!

Dua ahli Core Formation itu menerjang serentak! Lautan darah beracun dan rantai besi spiritual menghantam dari dua arah.

Yan Zhen tidak mundur selangkah pun. Mata sang mantan komandan perbatasan itu memerah darah, mengenang mendiang Penatua Luo yang pernah menyelamatkan hidupnya. "Ingin membunuhku dalam satu batang dupa?! Majulah! jika tulangku hancur malam ini, aku akan menyeret salah satu dari kalian ke liang kubur!"

Tombak besi di tangan Yan Zhen meledak dengan Niat Perang yang membakar langit, mengunci kedua ahli Core Formation itu di puncak tebing dalam pertarungan hidup dan mati yang mengguncang seluruh gunung!

Sementara langit di atas Tebing Utara terbakar oleh pertarungan para raksasa Core Formation, neraka yang sesungguhnya tumpah ke Lembah Murid Baru di lereng bawah.

Puluhan kultivator bayaran berjubah hitam dari Sekte Bayangan Darah menerobos masuk melalui celah formasi yang rusak. Mereka melempar obor api ke gubuk-gubuk kayu dan menebas siapa pun murid baru yang berlarian keluar dalam kepanikan demi menciptakan kekacauan massal agar perhatian penjaga Gerbang Dalam terpecah.

"Lari! Sekte sesat menyerang akademi!"

"Tolong! Jangan ke arah utara, di sana banyak pembunuh!"

Ratusan murid baru yang dua hari lalu masih bersikap sombong di tangga ujian kini berlarian turun gunung sambil menangis ketakutan, meninggalkan senjata mereka.

Namun di jalur tanjakan sempit menuju deretan sepuluh gubuk teratas, satu sosok bertubuh kekar justru berdiri melawan arus pelarian bagaikan batu karang di tengah sungai yang banjir.

Han Lie.

Pemuda berusia lima belas tahun itu bertelanjang dada. Pakaian atasnya telah robek oleh sabetan pedang, memperlihatkan otot-otot punggung dan dadanya yang dipenuhi bekas luka bakar tungku pandai besi serta darah segar yang bercampur keringat.

Di belakang punggung Han Lie adalah Gubuk Nomor Dua miliknya, dan Gubuk Nomor Satu milik Qin Mu yang pintunya tertutup rapat. Han Lie tahu Qin Mu sedang pergi keluar akademi malam ini. Jika orang-orang ini menerobos naik dan mendobrak Gubuk Nomor Satu, kepergian rahasia Qin Mu akan terbongkar, dan gubuk yang mereka perjuangkan dengan darah akan hancur!

"Han Lie! Kau gila?! Cepat lari turun ke alun-alun utama!" teriak salah satu murid baru yang berlari melewatinya. "Mereka semua kultivator Qi Gathering! Kau bahkan tidak punya bakat spiritual, kau hanya mengandalkan otot fana!"

Han Lie meludah darah ke tanah, kedua tangannya mencengkeram gagang martil besi seberat empat puluh kati yang kini sudah penyok di beberapa sisi karena berbenturan dengan belasan senjata.

"Otot fana?" Han Lie menyeringai kasar, matanya yang cokelat tajam menyala bagaikan bara api di dalam tungku pandai besi ayahnya. "Sejak umur enam tahun, saat anak-anak klan bangsawan tidur di atas kasur sutra dan meminum sup obat, aku mengayunkan palu besi sepuluh ribu kali sehari sampai telapak tanganku berdarah dan mengelupas puluhan kali!"

Di depannya, empat pembunuh Sekte Bayangan Darah yang berada di Tahap Awal dan Tengah Qi Gathering melangkah naik sambil menjilat pedang mereka yang berlumuran darah murid lain.

"Bocah pandai besi yang bersama target utama di tambang tadi siang!" seru salah satu pembunuh itu dengan mata berkilat kejam. "Bunuh dia dan bakar gubuk nomor satu di belakangnya!"

Keempat kultivator itu menerjang maju, melepaskan empat tebasan bilah Qi merah yang merobek tanah tanjakan!

Han Lie tidak memiliki Cincin Giok Retak seperti Qin Mu. Ia tidak memiliki garis keturunan kuno, dan meridiannya terlalu sempit untuk menyerap Qi dengan cepat. Satu-satunya hal yang ia miliki adalah disiplin mengerikan yang ditempa dari penderitaan manusia biasa yang menolak tunduk pada takdir!

"Kalian pikir hanya karena kalian bisa memuntahkan sejumput Qi, kalian lebih tinggi dariku?!"

Han Lie meraung menggelegar hingga pembuluh darah di leher dan dahinya menonjol keluar seperti cacing besi! Dalam momen hidup dan mati itu, seluruh kelelahan dan ribuan ayunan martil selama sembilan tahun hidupnya meledak di dalam otot dan tulangnya mendorong paksa fisik murninya menembus batas terakhir menuju Puncak Penempaan Tubuh!

Otot lengan Han Lie menggembung keras. Ia tidak menghindar dari empat bilah Qi merah itu. Ia mengayunkan martil godamnya dalam satu putaran penuh yang membawa beban ribuan kati tenaga murni!

BOOM—! KRAK!

Hantaman martil Han Lie menghancurkan bilah Qi di depannya seperti kaca, lalu terus melaju menghantam pedang dan dada pembunuh pertama hingga tulang rusuk pria itu remuk menembus punggungnya!

Namun di saat yang sama, dua pedang dari pembunuh di sisi kiri dan kanan berhasil menyayat paha dan bahu Han Lie hingga darah menyembur deras, sementara pembunuh keempat melompat ke udara menusukkan tombak pendeknya lurus menuju ubun-ubun Han Lie yang sedang kehilangan keseimbangan!

Han Lie menggertakkan giginya, bersiap menahan tusukan itu dengan bahunya.

Namun tepat sebelum ujung tombak itu menyentuh kepalanya, bayangan rumpun bambu di sisi kiri jalan tanjakan tiba-tiba bergerak.

Srek!

Seutas kawat baja tipis yang nyaris tak terlihat melesat dari balik kegelapan bambu, melilit leher pembunuh keempat di udara, lalu dengan satu tarikan dingin yang brutal, leher pembunuh itu patah berderak dan tubuhnya ditarik jatuh ke dalam semak-semak!

Dua pembunuh yang tersisa tersentak kaget dan menoleh ke arah hutan bambu.

Dari balik bayangan pohon bambu yang bergoyang tertiup angin malam, Mo Cang melangkah keluar perlahan. Wajah pemuda itu tetap datar dan pucat seperti patung kayu, sementara tangan kanannya memegang belati tipis yang meneteskan darah segar.

Namun ketika salah satu pembunuh Sekte Bayangan Darah yang tersisa melihat gaya langkah kaki Mo Cang dan cara ia memegang belati dengan tiga jari terbalik, mata pembunuh itu membelalak lebar di balik topengnya.

"Teknik Langkah Hantu Perbatasan...?! Tunggu! Nomor Tujuh?!" suara pembunuh itu berubah menjadi bisikan tak percaya. "Kau... kau anjing pembunuh yang kabur dari Kamp Yatim Piatu Bulan Sabit tiga tahun lalu! Jadi kau bersembunyi di Akademi Kekaisaran?!"

Mendengar nama Kamp Yatim Piatu Bulan Sabit, untuk pertama kalinya sejak muncul di akademi, mata Mo Cang yang selalu kosong dari emosi manusia itu berkedut dingin.

Ingatan tentang sebuah lembah bersalju di perbatasan kerajaan yang dipenuhi ribuan anak yatim korban perang yang dipaksa saling membunuh di bawah panji Mata Satu dan Bulan Sabit melintas di kepalanya. Ia masuk ke akademi ini dengan identitas palsu hanya demi satu tujuan: mendapatkan kekuatan yang cukup untuk kembali ke perbatasan dan menghancurkan mesin perang yang telah menelan kampung halamannya!

"Orang mati," ucap Mo Cang dengan suara serak yang sedingin es di dasar jurang, "tidak seharusnya mengenali wajah lama."

Sebelum pembunuh itu sempat meniup peluit sinyalnya untuk melaporkan keberadaan Mo Cang, satu sosok bayangan hitam lainnya tiba-tiba melompat keluar dari bayangan pohon tepat di belakang kedua pembunuh tersebut Klone Bayangan Qin Mu yang baru saja tiba di Lembah Murid Baru!

Sring! Jleb!

Tanpa sepatah kata pun, Klone Bayangan Qin Mu menebas putus kedua kaki pembunuh di sebelah kanan, sementara Mo Cang melesat bagaikan hantu dan menancapkan belatinya tepat ke tenggorokan pembunuh yang mengenalinya tadi hingga tewas seketika!

Han Lie terengah-engah sambil menopang tubuhnya dengan gagang martil. Ia menatap Mo Cang, lalu menatap sosok Qin Mu (Klone Bayangan) yang berdiri diam di dalam bayangan tanpa berbicara.

"Kalian berdua datang tepat waktu," Han Lie menyeka darah dari sudut bibirnya sambil menyeringai lelah. "Ayo ke atas! Keributan terbesar ada di dekat Paviliun Tamu tempat gadis Sekte Pedang Tianxuan itu menginap!"

Sementara itu, tiga li jauhnya dari akademi, tepat di jantung Kota Provinsi Cangzhou, malam yang tadinya gemerlap telah berubah menjadi lautan api dan kepungan baja.

Seluruh jalan utama di sekitar Paviliun Awan Emas telah ditutup secara paksa oleh ratusan pengawal bersenjata lengkap yang mengenakan zirah hitam berlambang Cabang Pertama Keluarga Su, bercampur dengan belasan pembunuh bayangan berjubah gelap.

Di luar gedung paviliun berlantai empat itu, kubah cahaya kuning keemasan dari Formasi Pelindung Paviliun tampak berkedip-kedip redup dan dipenuhi retakan parah akibat dihantam terus-menerus dari luar. Puluhan pengawal setia Cabang Ketiga telah terkapar bersimbah darah di tangga depan.

Di teras lantai dua yang menghadap ke halaman depan, Su Ruyan berdiri dengan punggung tegak lurus.

Gaun sutra biru mudanya telah robek di bagian ujung dan ternoda jelaga asap, namun wajah gadis berusia lima belas tahun itu tetap tenang dan dingin. Di tangannya, ia memegang sebuah Piringan Giok Pengendali Formasi, sementara jari-jarinya yang lentik terus menggeser kepingan Batu Roh dengan perhitungan cepat untuk menambal bagian kubah pelindung yang hampir pecah.

"Nona Ketiga, Batu Roh cadangan di ruang bawah tanah tinggal tersisa sepuluh persen!" lapor kepala pengawal tuanya yang berlengan satu dengan wajah berlumuran darah. "Jika paman Anda terus menghantam titik pusat formasi bersama tetua dari Sekte Bayangan Darah itu, perisai ini akan hancur dalam dua puluh tarikan napas!"

Di halaman luar, tepat di depan gerbang yang hancur, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh gemuk namun memancarkan tekanan buas dari ranah Tahap Awal Foundation Establishment Su Kuang, adik kandung dari Paman Pertama Su Ruyan sekaligus ayah dari Su Heng yang kemarin dilumpuhkan oleh Qin Mu di tangga ujian!

Dan di samping Su Kuang, berdiri seorang tetua bungkuk berjubah merah tua dari Sekte Bayangan Darah yang juga berada di ranah Tahap Awal Foundation Establishment!

"Su Ruyan! Keponakanku yang pintar!" suara Su Kuang menggelegar menembus retakan perisai formasi, matanya merah menyala oleh dendam karena putranya menjadi cacat. "Pengawal kota tidak akan datang malam ini karena Komandan Garnisun Barat sudah menerima bagiannya! Serahkan Stempel Induk Jalur Dagang Cangzhou, tanda tangani surat pernikahan dengan Klan Wei, dan serahkan informasi tentang bocah gembel bernama Qin Mu yang memotong urat kaki putraku kemarin! Jika kau menyerah sekarang, Paman masih akan menyisakan nyawamu untuk melayani keluarga Wei!"

Su Ruyan menatap ke bawah dari balkon lantai dua. Meski berhadapan dengan dua ahli Foundation Establishment yang sanggup meremukkan tubuhnya dengan satu jari, suara gadis itu tetap jernih dan tajam bagaikan denting sempoa emas.

"Paman Kedua, bekerja sama dengan Sekte Bayangan Darah untuk membantai cabang keluargamu sendiri di tengah ibu kota provinsi... apakah Paman pikir jika aku menyerahkan stempel itu, orang-orang berjubah merah di sampingmu akan membiarkan Keluarga Su tetap hidup setelah malam ini?"

Kata-kata tajam Su Ruyan membuat wajah beberapa pengawal Cabang Pertama di belakang Su Kuang sedikit berubah ragu.

Namun Su Kuang justru tertawa kejam. "Tidak usah mencoba mengadu domba kami dengan lidah dagangmu! Hancurkan sisa perisainya sekarang!"

DUAAAAR—!

Su Kuang dan Tetua Sekte Bayangan Darah itu menghantamkan telapak tangan berlapis Qi cair Foundation Establishment mereka secara bersamaan ke kubah cahaya kuning tersebut!

KRAAAAK—! PRANG!

Kubah formasi pelindung Paviliun Awan Emas akhirnya pecah berkeping-keping menjadi hujan serpihan cahaya! Gelombang kejutnya menghempaskan piringan giok di tangan Su Ruyan hingga hancur dan membuat gadis itu terhuyung mundur menabrak pilar kayu, darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang pucat.

"Tangkap gadis itu hidup-hidup, dan bunuh semua pelayan Cabang Ketiga tanpa sisa!" perintah Su Kuang sambil melompat naik melewati tangga depan yang runtuh.

Para pengawal Cabang Ketiga yang terluka langsung membentuk barisan terakhir di depan Su Ruyan dengan pedang bergetar, sementara Su Ruyan secara diam-diam telah menyelipkan sebilah belati beracun di balik lengan bajunya bersumpah lebih baik menggorok lehernya sendiri daripada dijadikan boneka pernikahan politik bagi orang-orang yang menghancurkan hidupnya!

Su Kuang dan Tetua Bayangan Darah itu melompat naik ke balkon lantai dua. Tangan besar Su Kuang yang diselimuti Qi kuning langsung terulur untuk mencengkeram leher Su Ruyan.

"Tidak ada keajaiban yang akan menyelamatkanmu malam ini, Keponakanku! Bahkan harimau bayaran yang kau banggakan di ujian akademi kemarin pasti sudah mati dicincang oleh Wei Tian!"

Namun, tepat ketika jari-jari Su Kuang hanya berjarak tiga inci dari leher Su Ruyan—

SWOOOSH!

Sebuah benda bulat yang dibungkus kain brokat biru berlumuran darah tiba-tiba melesat turun dari kegelapan atap lantai empat Paviliun Awan Emas bagaikan meteor, menghantam tepat ke pergelangan tangan Su Kuang dengan kekuatan yang begitu besar hingga membuat tangan pria Foundation Establishment itu terpental ke samping!

Gedebuk... gluduk...

Bungkusan kain brokat biru itu jatuh menggelinding di atas lantai kayu balkon di antara Su Ruyan dan Su Kuang. Ikatan kainnya terbuka, memperlihatkan kepala Wei Tian yang matanya masih melotot beku dalam kematian, ditemani oleh Lempeng Identitas Emas Klan Wei yang berlumuran darah!

Seluruh balkon dan halaman Paviliun Awan Emas langsung membeku dalam keheningan yang mematikan.

Su Kuang dan Tetua Sekte Bayangan Darah tersentak mundur setengah langkah, menatap kepala Wei Tian di lantai dengan wajah pucat tak percaya. "W-Wei Tian...?! Bagaimana mungkin—?!"

Di atas bubungan atap melengkung lantai tertinggi Paviliun Awan Emas, di bawah latar bulan sabit yang tertutup asap kebakaran, sesosok pemuda berjubah hitam berdiri tenang menatap ke bawah.

Angin malam meniup jubahnya yang berbau kabut darah. Di kedua tangannya, sepasang Bilah Kembar Taring Hantu perlahan memudar menjadi transparan di dalam bayangan malam, sementara suara dingin pemuda itu menggema turun ke seluruh halaman paviliun:

"Nona Su, maaf aku sedikit terlambat. Tadi di jalan, aku harus membereskan beberapa ekor anjing Klan Wei lebih dulu... dan sepertinya, masih ada dua ekor lagi di sini yang belum sempat kukirim ke neraka."

1
Am Mi
up
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
Asta Hariadi
bagus, ceritanya menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
Sang_Imajinasi: oke lanjut 4 bab
total 4 replies
Budi Wahyono
biasanya tokoh jahat ketika mau mati,ada aja yg nyelametin...
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Begin Bae
/Determined/
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
ibarumbung
keren 👍👍👍👍👍
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!