"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang membawa satu rahasia terbesar. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Saat Rahasia Ziva mulai terkuak, memicu antara benci dan cinta. Apakah Ziva akan benar-benar merajut luka hatinya Rian, atau justru hancur bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegasan Ziva 28.
Detik-detik setelah tombol send itu ditekan terasa seperti eksekusi mati bagi Keysha.
Sepanjang malam dia tidak bisa tidur, terus-menerus mengecek layar ponselnya yang tetap bisu.
Centang dua abu-abu tidak kunjung berubah menjadi biru. Rian, cowok yang dulu selalu membalas pesannya dalam hitungan detik, kini membiarkannya tergantung dalam ketidakpastian.
Sial. Ego Keysha yang telanjur retak kini benar-benar hancur menjadi debu.
Hari Minggu pagi yang cerah biasanya menjadi waktu bagi Rian untuk mengistirahatkan kepalanya dari pelajaran sekolah.
Namun, rumah minimalisnya pagi ini justru sudah dipenuhi aroma harum teh melati dan tumpukan buku kalkulus.
Di ruang tamu yang tenang, Ziva duduk bersila di karpet. Rambutnya dicepol asal-asalan, menampilkan leher jenjangnya yang bersih.
Gadis itu sedang fokus mencocokkan hasil latihan soal mereka, sementara Rian duduk di sofa tepat di sebelahnya, memperhatikan profil samping Ziva dengan senyum tipis yang tak sadar terukir di bibirnya.
Bekerja sama dengan Ziva bukan cuma mendongkrak nilainya, tapi juga pelan-pelan menyembuhkan warisan luka yang ditinggalkan Keysha. Ziva itu tegas, mandiri, dan tidak pernah menuntut Rian menjadi orang lain.
Bzzzt.
Ponsel Rian yang tergeletak di atas meja kaca bergetar.
Layarnya menyala, menampilkan notifikasi WhatsApp dari sebuah nomor yang tidak asing, meski namanya sudah dihapus dari daftar kontak.
Rian meraih ponselnya. Dahinya berkerut dalam saat membaca baris kalimat yang muncul di pop-up layar.
0812-xxxx-xxxx: Rian, gue kangen perhatian dari lu.
Jantung Rian sempat berhenti berdetak selama satu detik penuh. Ingatannya mendadak terlempar pada malam-malam di mana dia memohon agar Keysha membalas pesannya, malam di mana dia kehujanan di depan gerbang rumah Keysha hanya untuk mengantar catatan sejarah, sementara Keysha di dalam kamar sedang tertawa mesra lewat telepon bersama Marvel.
Rian mengembuskan napas berat. Ada rasa sesak yang sempat mampir, namun anehnya, tidak ada lagi debaran romantis seperti dulu. Yang tersisa hanya rasa hambar dan sedikit rasa iba.
Ziva, yang menyadari perubahan atmosfer di ruangan itu, mendongak dari bukunya. Matanya yang tajam langsung menangkap perubahan ekspresi di wajah Rian. "Kenapa, Yan? Dari siapa?" tanya Ziva datar, tapi menyelidik.
Rian agak kikuk. Dia berniat mengunci ponselnya kembali. "Ah, bukan siapa-siapa. Cuma—"
Sret!
Belum sempat Rian menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan dengan gerakan kilat menyambar ponsel dari genggamannya. Ziva. Gadis itu sudah berdiri, merebut ponsel Rian tanpa permisi.
Mata Ziva langsung tertuju pada layar yang masih terbuka. Dia membaca pesan dari Keysha. Tidak ada drama menangis atau interogasi menuduh dari mulut Ziva. Ekspresi wajahnya justru berubah menjadi sangat dingin dan kalkulatif.
Ziva tahu persis seberapa hancurnya Rian saat dijadikan keset kaki oleh Keysha dulu. Dan dia tidak akan membiarkan cowok yang sekarang menjadi partner berharganya itu ditarik kembali ke dalam lubang racun yang sama.
Tanpa sepatah kata pun, ibu jari Ziva bergerak lincah di atas layar ponsel Rian.
Mengetuk profil nomor tersebut, menggulir cepat ke bawah, lalu menekan satu tombol merah dengan mantap,
Blokir Kontak.
Klik.
Nomor Keysha resmi masuk ke dalam daftar hitam.
Rian terbelalak, badannya langsung menegak kaku karena syok. "Ziv?! Lo... lo kok main blokir HP gue?!" suara Rian meninggi, refleks berdiri karena terkejut dengan tindakan nekat dan posesif yang sama sekali tidak dia duga dari seorang Ziva yang biasanya selalu tahu batasan.
Ziva melempar ponsel itu kembali ke sofa dengan santai, lalu menatap lurus ke manik mata Rian tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Gue cuma lagi bersihin sampah yang mau ngotorin fokus lo lagi, Yan. Kenapa? Lo keberatan?"
......................
...***************...
Tbc,